"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rani
Radini pergi dalam keadaan marah, bahkan Hatta merasa heran dengan Radini yang terlihat berbeda dengan Radini yang dia lihat dulu, Radini yang sekarang lebih kasar dan pemarah bahkan tidak segan segan melakukan kekerasan.
"Ya ampun Kenanga, Cici sampai ketakutan tadi kamu akan di bawa ke polisi, untung saja juragan Hatta melihat saat kamu di dorong nyai Radini" ucap Cici menghampiri Kenanga.
"Kenanga juga takut ci, tadi Kenanga pikir Kenanga akan di marahi juragan Hatta karena membuat istrinya marah" jawab Kenanga
"Ayo kamu masuk ke dalam dulu, obati bibir kamu biar Cici telepon Sadam untuk jemput kamu ke sini" ajak Cici
"Telepon mas Sigit saja ci, mas Sigit ada di sawah Om Bintang bersama Dirga" ucap Kenanga dan Cici mengangguk.
Setelah menelpon Sigit, Cici mengobati bibir Kenanga dengan obat antiseptik yang ada di tokonya, itu dia lakukan karena Kenanga tidak mau di obati ke puskesmas dan tidak mau ke rumah sakit.
Sepuluh menit menunggu Sigit sudah sampai di toko Cici dengan wajah khawatir, dia juga bersama Dirga karena mereka sudah selesai mengecek sawah yang akan mulai di bajak satu minggu lagi bahkan Dirga juga membantu Sigit merendam benih padi yang akan di jadikan bibit karena Herman masih tidak di perbolehkan bekerja oleh Bintang.
"Innalillahi Kenanga, kenapa tidak telepon aku tadi?" tanya Sigit
"Handphone Kenanga ketinggalan di warung kopi mas, tadi juga kejadiannya cepat sekali" jawab Kenanga yang langsung di peluk Sigit saat Sigit sampai.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sigit mengusap bibir Kenanga yang terluka dengan mata memerah karena marah istrinya di lukai seseorang.
Kenanga lalu menceritakan semuanya pada Sigit, tentang dia yang datang untuk membeli beberapa barang dan tiba tiba saja bertabrakan dengan Radini sampai Radini terjatuh dan berpura pura kakinya terkilir, Kenanga juga menceritakan tentang bagaimana Radini menamparnya karena Kenanga mengancam Radini yang terus mengatakan kalau Kenanga adalah wadah mati yang di isi oleh sosok tak kasat mata.
"Kenapa Radini terus mengatakan itu, padaku juga dia mengatakan itu" ucap Sigit
"Mungkin karena kak Kenanga pernah mati suri makanya dia mengatakan itu" ucap Dirga
"Pasti karena itu" jawab Sigit
Sigit berterima kasih pada Cici yang sudah menjaga Kenanga, dia dan Dirga juga langsung memilih untuk kembali ke rumah Bintang karena Kenanga ingin lanjut bekerja meskipun bibirnya terluka.
Sepanjang pulang, Sigit terus khawatir pada istrinya itu, Sigit bahkan meminta Badaruddin untuk membalas perbuatan Radini meskipun itu beresiko mungkin Luca akan membuat Badaruddin terluka karena Badaruddin juga marah putrinya di perlakukan tidak pantas oleh Radini.
"Astagfirullah Kenanga" kaget Dimas langsung menghampiri Sigit dan Dirga yang baru keluar dari dalam mobil.
"Itu ulah Radini kak, Radini benar benar memperlihatkan sifat aslinya sekarang" ucap Dirga
"Benar benar keterlaluan" ucap Gibran
"Sudah di obati Cici ko, ini juga tidak sakit" ucap Kenanga
"Tidak sakit bagaimana, kamu terluka, aku saja tidak pernah memukul kamu tapi dia! dia sudah membuat kamu terluka, Kenanga ku terluka" kesal Sigit
"Mas..."
"Aku akan membalas orang itu Kenanga, aku tidak terima kamu di perlakukan seperti ini!" ucap Sigit
"Jangan mas, itu yang di inginkan Luca, tarik kembali ayah karena nanti ayah akan terluka, untuk saat ini kita hanya bisa menunggu senjata itu selesai di buat" bujuk Kenanga
"Iya Sigit, minta Badarudin pulang atau rencana kita akan gagal, kita sedang berusaha mencari cara mengalahkan iblis itu" ucap Sahara
"Baiklah" jawab Sigit mengusap kembali batu di kalungnya supaya Badaruddin tertarik untuk pulang dan masuk ke dalam kalung Sigit lagi.
"Aku tidak akan memaafkan dia Kenanga, tapi aku senang kamu juga melukai tangannya sampai terkilir" ungkap Sigit mengecup kening Kenanga.
"Dia marah sekali pas mau tampar Kenanga terus Kenanga pelintir dia dengan gerakan yang mas ajarkan kalau ada orang jahat" ucap Kenanga
"Istriku memang pintar" ungkap Sigit
"Hihihihi... Sahara juga pintar loh" ucap Sahara ikut memeluk Sigit tapi langsung di tarik Dimas.
"Ish... peluk sedikit saja tidak boleh" keluh Sahara yang sekarang malah memeluk Dirga
"Hantu ini benar benar tidak mau rugi" ucap Restu dan Panji terkekeh.
•••••••••••••••
Di tanah Radini.
Argadana dan Anggadana sudah sejak semalam duduk di atas pohon pinus yang ada di jalan depan rumah Radini, mereka tidak bisa masuk karena pagar gaib di sana benar benar kuat bahkan Argadana yang memiliki kemampuan untuk melihat setiap isi di dalam rumah sama sekali tidak bisa menembus rumah Radini.
"Pagarnya benar benar kuat, bahkan meskipun si Iblis tidak ada di sini, auranya tetap bisa terlihat dan mengelilingi rumah iblis itu" ucap Argadana
"Kamu benar, kita bahkan tidak bisa membuat lubang kecil di tempat ini" jawab Anggadana
"Tapi Angga, aku merasa laki laki bernama Roman itu adalah orang baik, lihat tidak pas mereka pulang dalam keadaan marah setelah di tolak Opa Bintang? Ibunda mengedipkan mata padanya dan dia tersenyum tapi setelah di lirik nenek sihir itu dia langsung mendatarkan wajahnya" ucap Argadana
"Aku juga merasa seperti itu" jawab Anggadana.
"Hei, siapa kalian? kenapa bisik bisik ngomongin ayah Lani! belisik, kalian belisik sejak semalam!" tanya suara seorang anak perempuan terdengar di telinga Argadana dan Anggadana.
Keduanya saling tatap, mereka tidak melihat siapapun tapi suara anak itu begitu jelas terdengar di tambah sepertinya anak itu usianya masih di bawah mereka karena cadel.
"Hei bocah! kamu di mana? kenapa beraninya sembunyi, kalau tanya itu harus saling berhadapan!" gerutu Anggadana karena mengira suara itu adalah suara jin.
"Tidak bisa, Lani tidak bisa kelual kalena di sini banyak hantu, kata ayah Lani halus tetap di kamal" jawab anak itu yang ternyata adalah Rani.
Rani memang punya kemampuan unik, dia bisa mendengar semua suara mahluk halus yang ada di luar kamarnya, bahkan manusia juga bisa dia dengar dengan jelas. Mungkin itu karena dari sejak ibunya hamil, ibunya terus di paksa untuk melakukan ritual mistis supaya anak anak Roman bisa kembali di jadikan tumbal, tapi yang lahir justru Rani dan dia tidak punya tanda lahir yang menjadi syarat tumbal Radini.
"Di kamar? kamar mana?" tanya Argadana
"Kalian mahluk peltama yang bisa bicala dengan Lani, biasanya kalau Lani ajak bicala makluk lain meleka akan kabul" ucap Rani
"Iya lah kabur, kamu tidak kelihatan" ucap Anggadana
"Kamu penghuni rumah Iblis itu?" tanya Argadana
"Iya, namaku Lani, anaknya ayah Loman" jawab Rani membuat dua anak Sahara itu terkejut.
"Lani?"
"Ish.. Bukan... Lllani"
"Oh.. Rani?"
"Iya"