Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Saat Tara sibuk melamun, suara pintu kamar mandi terbuka memecah lamunannya.
Kenzo melangkah keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Rambutnya masih basah, beberapa tetes air jatuh ke bahunya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Tara sedang memandang ke arahnya.
Tara yang spontan mengangkat kepala seketika membeku. Tatapannya tanpa sengaja berhenti pada sosok Kenzo yang berdiri beberapa langkah di depannya. Baru setelah menyadari apa yang dilakukannya, Tara buru-buru mengalihkan pandangan.
Kenzo menghentikan gerakannya sejenak.
"Aku pikir kamu udah pergi ke kamar anak-anak," ucapnya tenang.
Tara menarik napas panjang. "Aku perlu bicara."
Kenzo mengangguk singkat, "ada apa?"
Ia berjalan menuju lemari pakaian, mengambil satu set piyama, lalu mengenakannya dengan tenang sebelum kembali menoleh ke arah Tara.
"Katakan!"
Tara mengangkat ponselnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku soal tuntutan yang melibatkan anak-anakku?" Nada suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya.
Kenzo menatapnya tanpa berkedip. Perlahan ia membalikkan badan hingga membelakangi Tara lagi.
"Mereka juga anak-anakku," jawabnya tegas. "Kalau kamu lupa." Kini Kenzo kembali berbalik setelah menutup lemari dengan benar. Ucapan itu membuat Tara terdiam sesaat.
"Aku tidak pernah bilang mereka bukan anakmu," balas Tara. "Tapi sebagai ibu mereka, aku berhak tau sejak awal. Bukan mengetahuinya dari berkas perkara."
Kenzo melangkah mendekat beberapa langkah.
"Justru karena kamu ibu mereka, aku menunjukmu sebagai pengacara dalam kasus ini."
"Tetapi kamu tidak berdiskusi denganku."
"Aku sudah mengambil keputusan sebagai ayah mereka."
Tatapan keduanya saling bertemu. Suasana kamar yang semula tenang berubah dipenuhi ketegangan.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Mateo dan Alisya," lanjut Kenzo dengan suara rendah namun penuh penegasan. "Siapa pun orangnya."
Tara mengepalkan ponselnya. "Kalau begitu, jelaskan satu hal lagi."
Kenzo mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa Farhan?"
Nama itu membuat ekspresi Kenzo berubah serius. Senyum tipis yang sempat menghiasi wajahnya lenyap seketika.
"Kamu mengenalnya?" Pertanyaan itu meluncur pelan, tetapi terasa jauh lebih tajam daripada nada suaranya.
Tara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kenzo dalam diam. Kenzo tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Tara.
"Farhan..." ulangnya pelan. "Apa dia mantan kekasihmu?"
Tara terdiam.
"Atau..." Kenzo melanjutkan dengan nada yang semakin rendah, "dia calon suamimu di masa lalu?"
Pertanyaan itu tepat mengenai sasaran. Napas Tara tercekat, bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu pun kata-kata yang berhasil keluar. Tatapan Kenzo yang begitu tajam seolah mampu membaca setiap perubahan ekspresi di wajahnya.
Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban. Kenzo mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras. Perlahan ia melangkah mendekati Tara hingga jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa senti.
"Tara," ujarnya pelan namun penuh penekanan. "Jangan lupa perjanjian kita."
Tara mengangkat wajahnya menatap pria itu.
"Selama kamu masih berstatus istriku, aku nggak akan membiarkan ada pengkhianatan di antara hubungan kita ini."
Tanpa sadar, tangan Kenzo mencengkeram lengan Tara. Genggamannya tidak sampai melukai, tetapi cukup kuat untuk menghentikan Tara yang hendak mundur.
"Aku tidak berselingkuh!" bantah Tara, berusaha melepaskan tangannya.
"Kalau begitu, jawab pertanyaanku."
"Tidak semudah itu!" Tara menarik lengannya sekuat tenaga.
Namun, di saat yang sama, Kenzo masih mempertahankan keseimbangannya sambil memegang lengan Tara. Tarikan yang saling berlawanan membuat keduanya kehilangan pijakan.
"Tuan Kenzo!" Bentak Tara, tetapi tubuh mereka malah terjatuh bersamaan ke atas ranjang yang empuk. Kasur memantul pelan akibat benturan itu. Selama beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.
Tatapan mereka kembali bertemu dari jarak yang jauh lebih dekat. Tara dapat mendengar napas Kenzo yang masih memburu, sementara Kenzo menangkap jelas raut terkejut di wajah wanita itu.
Tak ada yang menyadari bahwa pintu kamar, yang sejak tadi tidak tertutup rapat, perlahan bergerak terbuka dari luar.
Seseorang berdiri di ambang pintu. "Mommy... Daddy?"
Suara kecil itu membuat keduanya membelalak bersamaan.
anknya di biarin aja
bini nya tangannya ga mau dilepas 🫣🤣🤣
dasar...mantan jomblo 40 th🙄
aku suka keributan ini
asal kau di sisi ku dan memegang erat tangan ku
semua akan baik baik saja 😍