Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Meeting pagi
“Baiklah, sudah hadir di sini semua. Kita akan memulainya.”
Adinata menganggukkan kepalanya dengan singkat ketika pandangan Hanung Hardiyanto—sang papa menatap ke arahnya. Dia hadir di sini karena memenuhi undangan sang kakek—Hardiyanto yang meminta semua anak dan cucunya menghadiri rapat pagi ini.
Dan Adinata akan selalu menghadirinya. Dia hadir karena dia ingin terlihat. Terlihat lebih baik dan terdepan dibandingkan dengan sepupunya.
“Rapat kali ini tidak lain membahas tentang warisan untuk anak dan cucu saya.” Kakek mengawali pembicaraan. “Umur semakin tua tidak memungkinkan untuk saya selalu ikut serta mengurus perusahaan.”
“Saya akan meminta Garto untuk mengurus surat waris selagi saya masih hidup.”
Adinata menatap sang kakek yang berbicara dengan penuh keyakinan di depannya.
“Kakek perlu melakukannya agar di masa depan, kami tidak akan saling bertengkar untuk mengambil bagian yang kakek sudah berikan.” Adhyaksa—sepupu laki-laki Adinata yang berselisih 2 tahun dengannya. Ambisinya tidak jauh berbeda dengan ambisi yang dibawa Adinata.
Adhyaksa adalah lawan bagi Adinata. Kedudukan mereka terlihat sama di mata sang kakek.
Adhyaksa sudah berkeluarga. Mereka berada di posisi yang sama karena keluarga kecil Adhyaksa pun terancam oleh para tetua yang ikut campur urusan keluarga anak-anak mereka, tapi keluarga kecil Adhyaksa tetap bertahan. Itu yang menjadi penyebab Adinata mendengus di dalam hatinya.
Andai saja dia tidak berpisah dengan Nadine. Sungguh Adinata tersiksa berjauhan dari Nadine. Walau hanya perceraian palsu, tapi Adinata akan benar-benar kalap jika Nadine benar-benar meninggalkannya.
Omong-omong, Adinata belum mendengar kabar Nadine. Dia harus segera bertanya dengan Gerry setelah rapat ini berakhir.
Adinata menatap sang kakek yang terdiam menatap anak dan cucunya yang saling melempar opini tajam. Berbeda dengan Adinata yang memilih diam dan hanya menyimak seperti orang yang tidak membutuhkan. Tapi ini hanya intrik belaka, Adinata tidak mungkin menolak warisan keluarga. Dia akan menguasai warisan ini untuk menghapus aturan yang sangat merugikan yang dibuat oleh sang kakek.
“Si tua ini memang tidak pernah berpikir dengan perasaannya,” batin Adinata.
“Maaf menyela.” Ucapan Adinata menghentikan suara-suara yang saling bersahutan. “Kalau masih ingin bertukar opini, silahkan cari tempat lain. Di sini hanya untuk mendengarkan ucapan Kakek Hardiyanto sebelum pensiun, bukan mendengarkan opini pribadi yang memberi keuntungan untuk orang-orangan.”
Kakek tersenyum tipis menatap Adinata. Tatapannya tersirat rasa bangga terhadap salah dari 2 cucunya yang menjadi sumber kebanggaannya. Adinata dan Adhyaksa. Walau di lubuk hatinya menyimpan perasaan cemas jika suatu saat dirinya tiada dan mereka berambisi besar untuk menyerang antar lainnya. Salahkan dirinya karena berhasil menyimpan ambisi untuk kedua cucu laki-laki yang dia rawat di masa kecil mereka.
Kakek menghela napasnya. “Aku hanya ingin berbicara sedikit. Beberapa waktu kedepan aku akan menaruh orang suruhanku untuk mengawasi kinerja kalian semua selama di perusahaanku. Aku akan memberikan kalian semua posisi yang sama sampai aku menemukan satu-satunya yang akan mewarisi kekayaanku.”
Paman Manunggal tertawa. “Anak dan cucumu tidak hanya 1, Papa. Bagaimana mungkin kamu hanya mewariskan seluruh kekayaanmu untuk salah satu dari kami?”
“Keputusanku sudah aku pertimbangkan. Hanya akan ada 1 cucuku yang akan memimpin perusahaan ini, sedangkan sisanya, aku akan meminta dia untuk memberikan secara sukarela.”
Keluarga Hardiyanto penuh dendam antar lainnya karena harta dan keegoisan orang tua mereka yang mendidik mereka dengan cara keras untuk selalu bersaing dengan saudara mereka.
Adinata harus memutuskan rantai ini sebelum memulai kebahagiaan baru untuknya dan Nadine serta keluarga kecilnya. Dia akan membawa keluarga kecilnya dengan penuh harapan aman dan nyaman. Tidak ada orang tua, nenek ataupun keluarga besarnya yang runyam. Hanya keluarga kecil Adinata.
“Aku keberatan, Papa.” Sang papa mengangkat tangannya dengan tinggi ke atas. “Keputusanmu akan menimbulkan ketidakadilan bagi kami. Kami juga bekerja keras untuk perusahaan, tapi apa mungkin perjuangan kami tidak dihargai?”
“Hanung, kamu ini sangat berambisi sekali dengan hartaku? Tidak lupa ‘kan kalau kamu hampir membuat perusahaanku bangkrut kalau saja aku tidak menarik investor baru.”
Adinata menolehkan kepalanya untuk menatap sang papa yang duduk di sampingnya. Dia hanya menatap dengan diam tanpa berniat memberikan belaan untuk sang papa. Hubungan mereka tidak sedekat itu walau mereka terikat.
“Aku tidak lupa. Aku selalu menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk kedepannya.”
Manunggal menatap sang adik. “Hanung, rupamu memang sangat tebal. Walau aku setuju dengan opinimu.”
“Papa, seharusnya warisan papa bagi dengan adil untuk kami. Dengan bagian yang lebih besar untuk anak dan menantu, sedangkan seperkecil dari bagian lainnya, diberikan untuk cucu dan cucu menantu. Lalu untuk cicit, jadikan 1 saja dengan orang tuanya.”
“Itu lebih tidak adil, Papa,” ucap Adhyaksa menjawab sang paman. “Pembagian secara adil berarti dibagi sama rata antara anak, menantu, cucu dan menantu serta para cicit.”
Adinata menatap 2 sepupu laki-lakinya yang hanya diam. Sang kakek memiliki 3 anak laki-laki, Manunggal, Hanung dan anak angkatnya, Basuki. Cucu yang dimiliki adalah Adhyaksa, Miranda, Adinata, Kamila, Kanista dan cucu angkatnya, Binawa dan Jenaka yang hanya mendengarkan dengan diam.
Yang didatangkan hari ini hanya pihak laki-laki dari keluarga Hardiyanto tidak dengan pihak perempuan.
“Hak papa saya untuk menentukan keputusannya, Adhyaksa.”
“Papa memang tidak ingin mengalah.” Adhyaksa menggelengkan kepalanya.
Adinata tertawa kecil di dalam hatinya. Keluarganya akan segera hancur dari dalam.