NovelToon NovelToon
Lembayung Di Batas Timur

Lembayung Di Batas Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.

Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.

Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Kondisi yang kontras dan ironis

Ivy sudah bersiap dengan jas miliknya yang ia dekap saja di lengan.

Alurnya, ia ditemani Arsa, Gege dan Gabriel akan pergi ke salah satu sekolah dasar yang ada di dekat sana, tepatnya di daerah perbatasan.

Ema Flo tak membiarkan mereka sendirian, meski di sekolah sana sudah ada Bu Santi menanti, ia tetap meminta ema Waro mendampingi dan mengantar. Dari raut wajah ema Flo tersirat sesuatu yang janggal dan berulang kali mengucap lirih, hati-hati.

Letaknya memang tak terlalu jauh dari sana bahkan di sepanjang jalan Ivy dan kawan-kawan berpapasan, berjalan bersama dengan beberapa anak dengan seragam merah putihnya.

Perjalanan yang cukup seru, meski jalanan sedikit berliku. Yeah, berliku sebab, tekstur jalanan yang tak mulus, seringkali berbatu, konturnya yang naik turun, serta matahari yang sudah mulai terik dan angin membawa gersang.

Ada canda, ada bincang dan interaksi hangat meski sedikit canggung dan kaku sebab terkendala bahasa.

Gege beberapa kali menelan salivanya sulit, melirik dengan ringisan saat menemukan seragam yang kusut dan dekil, emblem SD Tut Wuri Handayani yang miring, sobek bahkan tak ada apalagi logo merah putih, tak bisa lebih parah lagi oleh sepatu usang nan jebol.

Apa lagi ini....

Sendal, Vy...ringis Gege melengkungkan bibirnya dengan mata yang telah berkaca-kaca, saat ia meributkan sepatu bermerk, saat ia sering ngambek hanya karena tak bisa membeli sepatu yang cocok dengan pakaiannya, mereka justru...

Ivy menghela nafasnya berat melihat kenyataan ini.

Gege menurunkan kipas kecil dari wajahnya, merasa malu dan tertampar. Jaraknya hanya 1,5 kilo saja ke arah sekolah perbatasan.

Bukan bel dengan simphony Mozart atau Beethoven. Hanya sebuah besi yang dibuat menggantung di plafon salah satu sisi bangunan dan dipukul oleh besi tua lainnya hingga suaranya cukup nyaring memanggil langkah anak-anak itu untuk berlarian.

Teng

Teng

Teng...

Mereka yang semula berjalan santai kini mempercepat langkah setengah berlari menyongsong bangunan berjuluk, sekolah kebanggaan.

(Bagimu negri....jiwa raga kami...)

Langkah Ivy dan kawan-kawan terhenti sejenak mendapati kondisi yang lagi-lagi membuat mereka melolong di tempat.

Bangunan sederhana, usang dan jauh dari kata mewah. Garis-garis retak terdapat di hampir sebagian besar bangunan, cat merah putih pudar hampir tak terlihat jika bangunan itu memiliki warna.

Hanya ada pohon borogondolo yang menaungi menjadi payung untuk berteduh anak-anak di kala jam istirahat atau pulang sekolah. Ada pot-pot yang terbuat dari ember bekas cat ukuran 5 kilo yang ditumbuhi beberapa tanaman apotik hidup serta bunga liar di tata di setiap garis antara lapangan dan selasar kelas sebagai pembatas. Namun sedikitnya itu bisa mempercantik tampilan sekolah, memberi warna hidup diantara gersang dan kesederhanaan. Juga pohon nipah yang masih muda-muda daunnya melambai-lambai saat ia tertebak angin atau tangan-tangan usil anak-anak.

Bendera negri berkibar di bawah teriknya cuaca di pucuk tiang tua yang ada di lapangan. Sungguh kenyataan dan perbedaan yang ironis serta kontras dengan gedung-gedung sekolah di dekat pemerintahan.

Gege refleks memegang tangan Gabriel, merasa....

"I feel it Ge...i feel it..." salivanya tertelan sulit.

Sorot mata Arsa mengernyit kritis di bawah lindungan pad topi, "sekolah ini, apa hanya satu-satunya, ema?"

Ema Waro, kulit-kulit senjanya adalah saksi hidup dan bukti nyata dari keterbatasan kehidupan di desa pelosok dan perbatasan, "untuk SD iya. Untuk SMP, bahkan kami harus menempuh perjalanan sedikit lebih jauh lagi, bukan di kawasan sini tapi lebih ke arah kabupaten, begitupun dengan SMA."

"Mari..." ema Waro mempersilahkan kembali anak KKN untuk berjalan, satu yang menjadi perhatian Ivy saat ini dan sejak tadi...ema Waro yang melingkarkan parang bersarung di pinggangnya. Ia hanya berpikir positif saja, mungkin selepas ini ema akan pergi berkebun.

Dengan mengeratkan sling tas di kedua pundaknya, Ivy berjalan bersama lagi. Keempat mahasiswa berjas almamater UNJANA ini berjalan kompak bersama ema semakin memperpendek jarak.

Langkah kaki-kaki kecil nan bahagia itu, tak mengenal kata cemburu...mungkin, karena mereka tak tau di luar sana aroma perbedaan begitu kontras.

Mereka yang ada di lapangan asik berkejaran memburu si kulit bundar yang terbuat dari plastik dan beberapa kali harus dibenarkan karena kulitnya yang penyok. Lalu ada seruan menggiring dari seorang guru lelaki, "ayo, masuk dulu! Belajar!"

"Yang jadwalnya pulang, pulang!" teriaknya lagi, gerombolan kecil itu berhamburan saling berlomba mengambil tas masing-masing, jangan ditanya bagaimana kondisinya yang jelas bukan Dior ataupun channel.

Beberapanya bertubrukan dengan Ivy dan kawan-kawan sesekali saat tak melihat arah langkah.

Bu Santi tersenyum melihat kedatangan mereka, "Ema Waro! Kak Ivy!"

"Bu,"

Dialah Bu Santi, salah satu tenaga pendidik yang kebetulan sedang ditugaskan di sini, dan kemarin sempat bertemu dengan anak-anak KKN ini di balai dusun Tanjung komodo.

"Bu," ada salim takzim dan jabatan tangan yang diberikan.

"Mari masuk...sebentar saya titip anak-anak pada pak Lucas."

Sembari menunggu sejenak diantara riuh kondisi kelas, Ivy menjatuhkan tatapnya pada satu ruangan di pojok kiri, ia baru saja notice itu kosong tak berpenghuni dengan sorot cahaya yang masuk dari langit-langit serta jendela bolongnya, "itu kelas tidak dipakai, kah ema?"

Pandangan mereka lantas melihat ke arah tunjuk Ivy, "ah, ya sepertinya tidak. Ee...2 tahun lalu atapnya ambruk, sudah mengajukan pada pemerintah, tapi sampai sekarang belum juga ada tanggapan. Pernah dibetulkan dengan bahan hasil swadaya warga tapi setahun yang lalu sempat terjadi sengketa tanah adat, bangunan sekolah dirusak...sampai sekarang belum kembali dibetulkan."

Keempatnya kembali memandang penuh kode. Terlebih Ivy, oke...rasa penasarannya terjawab kenapa emang membawa parang bersarung itu, "jadi ema, konflik sengketa tanah itu apakah masih berjalan sampai sekarang, maksudnya belum menemukan titik temu?"

Ema Waro mengangguk ragu. Namun...."mmh ya."

Gege menghela nafasnya yang mendadak sesak.

"Jadi maksudnya keselamatan anak-anak disini, harus belajar di bawah bayang-bayang konflik sengketa tanah begitu, ema?" kini Gabriel yang bertanya, miris...Ema Waro mengangguk lagi untuk kesekian kalinya.

Disaat ia sempat-sempatnya tertidur di kampus, anak-anak disini justru harus belajar dalam keadaan was-was.

Lalu Bu Santi kembali dengan senyuman ramahnya, rambutnya dicepol satu ciri khas guru.

"Mari, mengobrol di ruang tata usaha saja ya, karena kami tidak punya ruang kantor."

Arsa mengangguk, "tak apa-apa Bu, dimana saja."

Ivy melirik Gege yang tak berkutik sedikit pun hanya berjalan kemana Arsa berjalan.

.

.

.

.

1
Daisy❤️HilVi
waduuuh mual2 vy
Daisy❤️HilVi
itu juga prince loh vy, prince judes🤣eh judas
Danistha
nah kan judas..udah di bilangin sm kapten big boy sebelumnya 😂😂
Turwaty suketi
Tamu istimewa vy
vy awas anak ora trauma🤣
Rini
🤣🤣🤣
Bunda Idza
mabok pasti Vy....kalo aq lavender Campur AC langsung bikin badmood
Nurs_tars
janagn2
lia hahahihi
ahhh🤣🤣🤣
Nurs_tars
perlu digelar karpet merah vy🤣
Elly Maryani
😅😂😂 👻 disiang bolong ya vy,,ibu2 semangat bgt mau ketemu istri kapten sampai disamperin kerumah😅pesonamu emang g maen2 vy, sampai bocil aja takut
widi
bau judas blm mandi vi🤣
lia hahahihi
kasian si jomblo
lia hahahihi
setan gondrong 🤣🤣🤣🤣
Nick_Hen
apakah Ivy lagi pakai masker putih 🤣
isni afif
😍😍😘😻😻😘😍😘😘
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
minta tips dan trik sama para umi umi aja vy
Wanda
ngakak banget bayangin ekspresi bocil beneran dan bocil ivy😅
isni afif
lanjut teh.....⚘️⚘️⚘️
dyah EkaPratiwi
🤣🤣🤣🤣 dikirain hantu vy
Astrid Kucrit
oalah vy....vy.....🤣 ngibrit anak orang 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!