Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.
Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.
Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Pertemuan yang Kembali Terjalin
Seminggu setelah kabar itu tersebar luas, suasana di lingkungan bisnis maupun pergaulan kota mulai berubah. Banyak orang yang tadinya tidak mengenal nama Daffa Aditya, kini mulai membicarakannya dengan penuh rasa hormat. Namun bagi Laras, hal terpenting bukanlah seberapa besar namanya kembali, melainkan bahwa ia tahu Daffa dan Sari berada dalam keadaan yang baik dan aman.
Suatu sore, sebuah undangan resmi datang ke kediaman Pratama. Undangan itu dikirimkan dari perusahaan yang baru saja dibangun kembali oleh Daffa, untuk meresmikan berdirinya kembali serta memperkenalkan pemimpin barunya kepada khalayak luas.
“Kau ingin ina, Laras?” tanya Arga Muda saat menyerahkan undangan itu kepada cucunya. “Kakek dan Ayahmu juga berniat datang. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara kembali secara layak.”
Jantung Laras berdegup kencang. Apakah ia benar-benar akan segera bertemu kembali dengan orang yang selama ini ia nanti-nantikan itu?
“Saya ingin datang, Kek,” jawab Laras dengan senyum yang mulai kembali terlihat di bibirnya.
Sementara itu, Rian yang juga mendengar kabar tentang undangan itu, merasa hatinya semakin berat. Ia menyadari bahwa kehadiran Daffa akan mengubah segalanya. Namun ia tetap berniat hadir juga, bukan untuk menghalangi, melainkan untuk melihat dengan jelas siapa pemuda yang telah menguasai hati Laras sedemikian rupa.
Hari peresmian pun tiba. Gedung pertemuan yang megah itu dipenuhi oleh banyak tokoh penting dan orang-orang terpandang. Laras datang bersama keluarganya dengan pakaian sederhana namun anggun, matanya terus memandang ke sekeliling ruangan mencari sosok yang ia rindukan.
Tepat saat acara inti dimulai, pintu utama terbuka lebar. Seorang pemuda melangkah masuk dengan sikap yang tenang, tegas, namun tetap memancarkan kerendahan hati yang dalam. Wajahnya masih sama seperti yang diingat Laras, namun kini terlihat lebih dewasa dan matang. Itu adalah Daffa.
Saat mata mereka bertemu di seberang ruangan, seolah seluruh keramaian di sekitar mereka lenyap seketika. Hanya ada mereka berdua yang terasa hadir di saat itu juga. Daffa berhenti sejenak, memberikan senyum tipis yang penuh makna ke arah Laras sebelum melanjutkan langkahnya ke atas panggung.
Dalam pidatonya, Daffa tidak berbicara banyak tentang harta atau kesuksesan yang kini ia miliki. Ia justru bercerita tentang arti perjuangan, tentang menjaga amanah, dan tentang satu harapan yang selalu menuntunnya untuk tidak pernah menyerah meski keadaan terasa paling sulit sekalipun.
“Dan saya sadar,” ucap Daffa di akhir ucapannya, sambil kembali menatap ke arah Laras, “bahwa kesuksesan yang sesungguhnya belum sempurna jika saya belum bisa menepati janji yang pernah saya ucapkan dengan tulus di bawah langit senja yang indah.”
Hadirin yang hadir mungkin tidak sepenuhnya mengerti makna kalimat itu, namun Laras mengerti betul apa maksudnya. Air mata bahagia mulai menggenang di pelupuk matanya.
Setelah acara selesai dan sebagian besar tamu mulai berpamitan, Daffa segera berjalan menghampiri keluarga Pratama. Ia menyapa Ayah, Ibu, dan Kakek Laras dengan penuh rasa hormat sebagaimana seharusnya.
“Terima kasih telah berkenan hadir,” ucap Daffa dengan sopan.
“Kami yang seharusnya bangga melihat perjuanganmu yang luar biasa, Nak,” jawab Arga Muda sambil menepuk bahu Daffa dengan tulus. “Kami memohon maaf jika dulu kami pernah menilai dirimu dari apa yang terlihat saja.”
“Maaf itu tidak perlu, Kek. Saya sangat mengerti kehati-hatian yang Bapak dan Kakek lakukan demi melindungi Laras,” jawab Daffa rendah hati.
Kemudian pandangannya beralih kepada Laras yang berdiri diam di sampingnya. Tidak ada kata-kata yang terucap untuk sesaat, namun tatapan mereka menyampaikan segala hal yang tidak sempat terucap selama perpisahan itu.
“Terima kasih telah menungguku,” ucap Daffa pelan namun penuh ketulusan.
“Aku tahu kau pasti akan kembali,” jawab Laras dengan senyum yang tulus bahagia.
Di sudut ruangan lain, Rian melihat semua itu dengan jelas. Ia sadar bahwa ia tidak akan pernah bisa menggantikan tempat yang ada di hati Laras. Dengan hati yang ikhlas, ia pun mendekat kepada mereka berdua.
“Selamat atas kesuksesanmu, Mas Daffa,” ucap Rian dengan tulus. “Saya melihat betapa besar cinta dan ketulusan kalian berdua. Saya sadar bahwa hati tidak bisa dipaksa. Saya berjanji akan mundur dengan baik hati, dan tetap mendoakan kebahagiaan kalian berdua.”
Daffa dan Laras saling berpandangan lalu tersenyum penuh rasa terima kasih atas kebesaran hati Rian. Hari itu menjadi awal yang baru, di mana segala keraguan, kesalahpahaman, dan penghalang perlahan mulai terhapus sepenuhnya.
(Bersambung ke Bab 32)