NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obsession

Hari itu Serena libur.

Sementara Revan tidak. Jadwal rapatnya padat sejak pagi, tapi ia tetap bersikeras menjemput Serena.

"Kantor gue sepi hari ini. Lo ikut aja, Na. Daripada di apartemen sendirian," katanya sambil membuka pintu mobil untuk Serena.

Serena awalnya menolak, tapi Revan membujuknya agar mau ikut dengannya.

"Gue nggak tenang kalau lo nggak ada di deket gue."

Akhirnya Serena menyetujui untuk ikut. Tapi sebelum itu. Klik'. Revan memasangkan kalung liontin di leher Serena.

Serena reflek meraba liontin itu di dadanya. Bentuk nya seperti hati, tapi ada lubang kunci di tengah nya.

"kuncinya ada sama gue. Ini sebagai simbol bahwa lo itu punya gue" bisik nya di belakang telinga Serena.

Meski Revan menganggap itu sebagai tanda cinta nya. Tapi sebenarnya itu adalah rantai kepemilikan yang mencekik leher nya.

 

Sampai di gedung perkantoran Revan, suasana lobi sudah sepi. Hanya beberapa karyawan yang masih lalu lalang menyelesaikan pekerjaan.

Revan menggenggam tangan Serena, membawanya melewati resepsionis yang langsung menunduk hormat.

"Naik ke ruang gue dulu. Gue ada telepon sebentar, habis itu kita ke kantin," ujar Revan pelan sambil menepuk punggung tangan Serena.

Serena mengangguk. Ia duduk di sofa lobi sambil memainkan ujung sweaternya, menunggu Revan yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan karena ponselnya bergetar.

Revan mengangkat panggilan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Serena.

"Iya, gue di lobi. Lima menit lagi naik."

Tapi langkahnya terhenti.

Matanya menangkap sesuatu dari sudut ruangan.

Di seberang lobi, seorang pegawai pria yang baru keluar dari ruang meeting berhenti berjalan. Tatapannya tertuju pada Serena.

Bukan tatapan sopan biasa. Ada senyum tipis di bibirnya, matanya menyapu Serena dari atas ke bawah, perlahan, seolah sedang menilai.

Rahang Revan mengeras seketika.

Nada suaranya di telepon berubah dingin.

"Tahan dulu. Gue ada urusan."

Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban, lalu berjalan cepat ke arah pegawai itu.

"Pak Andri, benar?" suara Revan datar, profesional, tapi tajam.

"Kita pernah membahas standar perilaku karyawan di sini. Termasuk menjaga batas profesional terhadap tamu dan rekan kerja."

Karyawan itu pucat. "Pa-pak Revan, saya-"

"Tatapan Anda tadi melewati batas," potong Revan tegas.

"Sebagai perwakilan perusahaan, Anda membawa nama kantor. Saya tidak mentoleransi perilaku yang membuat tamu merasa tidak nyaman di lingkungan kerja kami."

Ia menoleh ke arah HRD yang baru saja keluar dari lift.

"Bu Maya, proses terminasi Pak Andri mulai hari ini. Berikan surat resmi sesuai prosedur. Pastikan akses dan perlengkapannya dicabut sore ini."

"Baik, Pak Direktur."

Perintah itu diucapkan tanpa ragu. Tanpa emosi berlebih, tapi setiap orang yang mendengar tahu kalau Revan tidak sedang bercanda.

Pegawai itu menelan ludah, wajahnya memutih. Ia menoleh ke Serena seolah berharap gadis itu membelanya, tapi Serena hanya diam, menunduk, takut membuat keadaan makin buruk.

"Pak Revan. Saya minta maaf, saya tidak bermaksud -"

Tanpa memberi ruang untuk debat, Revan berbalik. Ekspresinya kembali datar, tapi aura marahnya masih terasa.

Ia berjalan kembali ke Serena, nada suaranya berubah pelan saat menatap gadis itu.

"Serena, sini."

Serena bangkit dan mendekat. Revan menggenggam tangannya, membawa Serena ke arah lift tanpa menjelaskan apa-apa di depan orang lain.

Seluruh lobi hanya bisa menunduk saat Revan membawa Serena masuk ke dalam lift, meninggalkan satu karyawan yang berdiri kaku dengan wajah pucat.

Di dalam lift

Pintu lift tertutup. Hening.

Hanya ada suara musik lift pelan dan napas Revan yang masih sedikit berat.

Serena berdiri di sampingnya, menunduk. Ia tahu Revan marah, tapi kali ini berbeda. Marahnya lebih terkontrol, lebih seperti seorang pemimpin yang menegakkan aturan.

Walaupun begitu Serena tidak menyangka bahwa Revan akan bertindak sejauh ini. Dia benar-benar tidak ingin siapa pun mendekati Serena, bahkan hanya sekadar melihat.

Serena mulai merasa takut pada sikap Revan yang terlalu obsessed.

Revan menoleh. Saat melihat wajah Serena yang cemas, otot di rahangnya mengendur.

"Maaf ya, Na. Gue nggak seharusnya bikin suasana jadi kayak tadi."

Serena masih menunduk, dia bahkan tidak berani menatap Revan.

Revan menghela napas panjang. Ia menarik Serena sedikit lebih dekat, lalu memeluknya pelan, sambil menyandarkan dagunya ke atas kepala Serena.

"Gue benci kalau ada orang yang ngeliat lo seakan lo bukan milik gue. Gue benci harus jelasin ke orang lain kalau lo itu punya gue."

Serena terdiam. Kata-kata itu keras, tapi caranya mengucapkannya pelan, hati-hati.

"Aku nggak ke mana-mana, Kak. Aku di sini."

Revan mengangguk pelan. Tangannya mengusap punggung tangan Serena sekali.

"Gue tahu. Makanya gue nggak bisa tenang kalau lo nggak ada di deket gue."

Pintu lift terbuka di lantai kantornya.

Revan mengurangi pelukan nya, tapi genggamannya pada tangan Serena tidak dilepas.

Serena mengikuti langkah Revan keluar dari lift.

Pintu ruang kerja tertutup dengan bunyi pelan. Klik.

Begitu masuk ke dalam ruang kerja nya, Revan langsung melepaskan jasnya dan melemparnya ke sandaran kursi. Dasi dilonggarkan setengah.

Serena masih diam dengan bibir pucat nya. Dia duduk kaku di sofa kulit, tangannya meremas ujung sweater.

Revan sadar. Dia tidak duduk di meja kerjanya, melainkan berjongkok di depan Serena. Sejajar.

"Kenapa diem, Na?" suaranya pelan, bukan perintah. "Ada yang salah?"

Serena menggeleng cepat. "Nggak, Kak. Aku... aku cuma kaget aja."

Rahang Revan mengeras. Tanpa bertanya lagi, punggung tangannya langsung nempel ke dahi Serena. Dihitung 3 detik. Pindah ke pipi.

"Anget." Gumamnya.

Serena langsung mundur sedikit. "Aku nggak demam, Kak. Sumpah. Cuma gugup aja tadi."

Revan tidak menjawab. Dia langsung berdiri dan mengambil HP dari meja.

"Maya." Panggilnya. Nada datar. "Batalin semua rapat gue hari ini. Pindahin ke besok atau minggu depan. Semua."

"Pak, tapi ada meeting sama investor Jepang sebentar lagi dan-"

"Batal." Potong Revan tegas. "Gue ada urusan lebih penting sekarang."

Telepon ditutup.

Serena panik mendengar semua itu. Dia berdiri dari sofa. "Kak Re, jangan! Jangan batalin rapat itu cuma gara-gara aku. Aku baik-baik aja, sumpah!"

"Aku bisa nunggu di sini diem. Aku bisa pulang sendiri nanti. Jangan karena aku, Kak..."

Suara Serena bergetar. Dia benar-benar tidak mengerti dengan maksud Revan.

5 menit lalu Revan memecat orang di lobi. Sekarang dia ingin membuang ratusan juta hanya karena bibirnya pucat?

"Serena."

Revan melangkah maju. tidak ada kemarahan. atau bentakan. Tapi tiap langkahnya membuat Serena ingin mundur.

"Denger ya." Tangannya naik, jempolnya mengusap bibir Serena yang pucat. "Gue kenal lo bukan baru kemarin. Gue liat lo dari tadi di lift. Nafas lo pendek. Tangan lo dingin. Dan lo diem. Ada sesuatu yang salah kan?

Serena terdiam. Dadanya sesak. Bukan karena takut. Tapi karena bingung.

Ini pria yang sama yang 1 jam lalu membuat 1 karyawan nya menangis di lobi.

Tapi sekarang... dia membatalkan dunia nya hanya karena seorang gadis.

"Lo nggak perlu ngerti, Na. Lo cuma perlu di sini. Sama gue. Sekarang."

Revan duduk di karpet, bersandar ke sofa. Kepalanya di sandarkan ke paha Serena pelan.

Hening.

Hanya terdengar suara napas Revan yang mulai tenang, dan AC kantor yang dingin.

Serena tidak berani bergerak. Meski pahanya mulai merasa pegel, karena kepala Revan masih nyender di situ. Namun ia tetap bertahan. Matanya Revan terpejam. terlihat seperti orang yang sedang kelelahan.

Dari sudut ini Serena dapat melihat wajah Revan yang polos. Sudah lebih terlihat seperti anak kecil dari pada direktur perusahaan.

Jari Revan masih menggenggam tangan Serena. Erat. seperti takut melepaskan.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketokan pelan dari pintu.

Serena langsung kaku. Dia ingin membangunkan Revan, tapi tidak sempat.

Astaga apa yang akan di pikirkan orang jika melihat ini.

Pintu Terbuka.

"Pak Revan." Panggil Maya pelan dari celah pintu. "Pak, maaf ganggu. Ini dokumen tanda tangan-"

Kata-katanya berhenti di tengah.

Maya menbeku di ambang pintu. Matanya melebar sedikit.

Astaga.

Di depannya, Pak Direktur yang biasanya duduk tegak di balik meja, sekarang tidur seperti anak kecil di sofa. Di atas pangkuan Serena. Selimut nutupin setengah badan mereka.

Serena merasa ingin menangis saat itu juga. Wajahnya merah padam. Dia menarik selimut lebih tinggi, nutupin kaki.

Tapi sebelum Serena sempat bicara apa-apa...

Revan tidak membuka matanya. Tapi tangannya langsung bergerak. Menarik selimut itu, lalu menutupi paha Serena lebih rapat.

Suaranya serak. Rendah. Bahaya, dengan ekspresi datar.

"Keluar."

Maya segera sadar dia tidak seharusnya ada di situ. "Eh, iya Pak. Maaf Pak, saya-"

"Gue bilang keluar." Revan akhirnya membuka mata. Tatapannya dingin, tidak terlihat mengantuk sama sekali. "Tutup pintu. Sekarang."

Klik.

Pintu tertutup kencang setelah maya keluar.

Hening lagi.

Revan akhirnya melepas genggaman di tangan Serena. Dia kemudian duduk, merapikan rambutnya yang acak-acakan. lalu natap Serena.

Lama.

"Maaf ya, Na." Suaranya kembali merendah. ibu jarinya ngusap pipi Serena yang merah. "Dia nggak tau aturan."

Serena masih tetap menunduk. tidak berani menatap. "Aku... aku malu, Kak..."

Revan menatap nya beberapa detik kemudian tertawa kecil. Tanpa suara. Tapi bahunya bergetar.

Dia mengangkat dagu Serena dengan dua jari. memaksa Serena untuk menatap nya.

"Denger ya." ibu jarinya mengusap bawah mata Serena. "Malunya sama gue aja. Nangis atau marah itu cuma boleh lo lakuin ke gue"

Suaranya turun jadi bisikan.

"Sama orang lain. Nggak perlu. Karena lo... cuma punya gue, yang boleh liat lo kayak gini cuma gue."

Serena terdiam. Dadanya terasa sangat sesak.

Apa ini sudah terlalu jauh?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!