Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
***
Satu minggu telah berlalu sejak insiden di gang sempit dan konfrontasi dengan Kakek Atmaja. Mansion Hadiwinata tampak tenang di permukaan, namun di balik layar, Raditya telah memperketat keamanan hingga ke level militer. Panggilan Sayang yang diminta Nadia memang dijalankan oleh Raditya, meski dengan nada kaku yang sering kali membuat Nadia tertawa geli. Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah undangan fisik berbahan beludru hitam dengan ukiran emas tiba di meja kerja Raditya.
Pengirimnya bukan orang sembarangan: Nyonya Sekar Hadiwinata.
"Mas yakin kita harus datang?" tanya Nadia sambil mematut dirinya di depan cermin besar.
Ia mengenakan empire-waist gown berwarna midnight blue yang menjuntai indah, menyamarkan perut buncitnya yang kian menonjol namun tetap memancarkan keanggunan seorang ratu. Di jarinya, cincin warisan nenek buyut Hadiwinata berkilau, seolah memberikan kekuatan tambahan.
Raditya berdiri di belakangnya, membantu memasangkan syal bulu di bahu Nadia. Wajahnya datar, namun matanya yang tajam menatap pantulan Nadia di cermin. "Mama saya jarang mengadakan acara seperti ini di hotel publik kecuali ada sesuatu yang ingin dia buktikan. Dan fakta bahwa dia meminta pengawalan minimal demi privasi keluarga sudah cukup menjadi sinyal bahaya."
"Lalu kenapa kita tetap pergi?" Nadia berbalik, menatap suaminya.
Raditya mengelus pipi Nadia dengan punggung jarinya. "Karena jika kita menghindar, mereka akan berpikir kita takut. Selain itu, saya ingin tahu seberapa jauh Siska bisa memanipulasi ibu saya setelah kekalahan Wijaya."
"Hati-hati, Mas," bisik Nadia. "Mama mungkin ibumu, tapi Siska adalah ular yang tidak punya rumah. Ular seperti itu lebih berbahaya karena tidak punya beban."
"Saya tahu, Sayang," ucap Raditya. Pengucapan kata Sayang itu masih terdengar sedikit dipaksakan, namun ketulusan di matanya tidak bisa dibantah.
**
Hotel Grand Majestic malam itu dijaga ketat, namun sesuai permintaan Sekar, tim keamanan internal Raditya dilarang masuk ke area ballroom pribadi. Hanya Raditya, Nadia, dan Aldi yang diizinkan berada di dalam.
Begitu pintu ganda terbuka, aroma parfum mahal dan suara denting gelas kristal menyambut mereka. Nyonya Sekar berdiri di tengah ruangan, tampak mempesona dengan kebaya modern berwarna perak. Di sampingnya, Siska berdiri dengan gaun merah menyala, tampak seperti api di tengah pesta yang tenang.
"Raditya, Nadia! Akhirnya kalian datang," sapa Sekar dengan senyum yang dipaksakan. Ia melangkah mendekat, matanya sempat melirik cincin di jari Nadia cincin yang seharusnya menjadi miliknya jika Raditya tidak langsung memberikannya pada Nadia.
"Selamat malam, Ma," jawab Raditya kaku.
"Malam, Ma. Terima kasih sudah mengadakan acara ini untuk calon cucu Mama," ucap Nadia dengan nada bicara yang sangat sopan dan lembut, seolah-olah dia tidak tahu bahwa mertuanya itu sempat mencoba mencelakainya.
Siska maju selangkah, senyumnya tampak berbisa. "Wah, Kak Nadia... kamu terlihat sangat sehat ya? Padahal kemarin katanya ada insiden kecil di jalan? Syukurlah bayinya tidak apa-apa. Kamu harus lebih hati-hati, jangan sering keluar sendirian, apalagi ke tempat kumuh hanya demi martabak."
Nadia tersenyum miring, menatap Siska tepat di mata. "Terima kasih perhatiannya, Siska. Tapi selama ada Pawang yang hebat di samping saya, tempat paling berbahaya sekalipun terasa seperti taman bunga. Benar kan, Mas?"
Raditya hanya mengangguk singkat, lengannya melingkar posesif di pinggang Nadia. "Kita duduk sekarang."
Makan malam dimulai dengan suasana yang sangat tegang. Nyonya Sekar mencoba mencairkan suasana dengan membicarakan persiapan kelahiran, namun Siska terus-menerus melemparkan provokasi terselubung.
"Tante Sekar, bukankah sayang sekali jika warisan Hadiwinata nanti jatuh ke tangan yang salah jika... yah, jika ada sesuatu yang terjadi?" Siska memutar gelas wine-nya. "Maksud saya, banyak sekali rumor di luar sana tentang kesehatan janin yang lahir dari situasi... penuh tekanan."
Nyonya Sekar tampak ragu. Ia menatap Nadia yang sedang dengan tenang memotong daging steak-nya. "Siska benar, Raditya. Mamah hanya ingin memastikan semuanya terkendali."
Raditya meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras. "Mamah, acara ini untuk syukuran, bukan untuk sesi konsultasi medis palsu dari orang luar."
"Orang luar?" Siska tertawa kecil, meski matanya berkilat marah. " Mas Raditya, kita tumbuh besar bersama. Aku hanya peduli."
"Peduli atau sedang menyiapkan orang bayaran di luar pintu itu, Siska?" tanya Nadia tiba-tiba, suaranya tenang namun tajam.
Ruangan itu seketika hening. Nyonya Sekar membelalak. "Nadia! Apa maksudmu?"
Nadia meletakkan serbetnya di meja. "Ma, Siska membujuk Mama mengadakan acara di sini karena dia tahu sistem keamanan di hotel ini memiliki celah di lantai servis. Dia ingin membuat kekacauan agar Mas Raditya tampak gagal melindungi keluarganya, dan Mama bisa mengambil alih kendali perusahaan kembali."
Siska berdiri, wajahnya merah padam. "Kamu gila! Tante, lihat bagaimana dia menuduhku!"
"Aldi," panggil Raditya rendah.
Aldi melangkah maju dari bayang-bayang ruangan, memegang sebuah tablet. "Maaf Nyonya Sekar, tapi kami mendeteksi pergerakan sepuluh orang asing di koridor servis lantai ini. Mereka membawa peralatan yang tidak seharusnya ada di pesta keluarga. Dan semua instruksi mereka berasal dari satu nomor... milik Siska."
Nyonya Sekar menatap Siska dengan pandangan tidak percaya. "Siska? Kamu bilang ini untuk membantu saya bicara baik-baik dengan Raditya!"
Siska menyadari bahwa permainannya berakhir. Ia tidak lagi berpura-pura lembut. Ia tertawa keras, tawa yang terdengar sangat frustrasi. "Membantu Anda? Tante, Anda itu sudah tua dan lemah! Anda membiarkan wanita jalang ini merebut posisi Anda! Jika aku tidak bisa memiliki Mas Raditya, maka tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya!"
Siska memberi isyarat dengan tangannya. Tiba-tiba, lampu ballroom berkedip-kedap. Pintu samping terbuka paksa, dan beberapa pria bersenjata tajam masuk.
"Raditya!" jerit Sekar, bersembunyi di bawah meja.
Raditya dengan cepat menarik Nadia ke belakang tubuhnya. Tangannya merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan senjata api hitam kecil yang selalu ia bawa. "Aldi, amankan Nadia ke ruang safety! Sekarang!"
"Tidak, Mas! Aku tidak mau pergi!" Nadia mencengkeram kemeja Raditya. Jiwa Aurelia-nya memberontak. Dia tidak mau hanya menjadi beban.
"Nadia, dengarkan saya! Kali ini bukan tentang masalah kecil! Pergi sekarang!" Raditya berteriak, suaranya penuh otoritas.
Nadia menatap mata Raditya yang penuh dengan amarah iblis namun juga ketakutan akan kehilangan. Ia mengangguk lemah. Aldi segera menarik Nadia menuju pintu rahasia di balik panggung.
Di dalam ballroom, suara tembakan mulai terdengar. Raditya bergerak seperti bayangan yang mematikan. Ia tidak peduli jika ini adalah hotel mewah; siapa pun yang berani mengancam Nadia di depan matanya harus musnah.
Siska mencoba melarikan diri di tengah kekacauan, namun ia terhenti saat melihat Raditya berdiri di depannya dengan wajah bersimbah darah lawan, namun matanya tetap dingin menatapnya.
"Siska," panggil Raditya, suaranya terdengar seperti vonis mati. "Saya sudah memberikanmu banyak kesempatan karena kenangan masa kecil kita. Tapi malam ini, kamu sudah melangkah terlalu jauh."
" Mas Radit, tolong... aku hanya mencintaimu!" tangis Siska jatuh berlutut.
"Cinta tidak membunuh anak yang belum lahir, Siska," ucap Raditya. Ia memberi kode pada anak buahnya yang baru saja merangsek masuk setelah menjebol pintu utama. "Bawa dia ke gudang bawah tanah. Jangan biarkan dia mati, tapi pastikan dia tidak pernah ingin melihat cahaya matahari lagi."
Setelah kekacauan mereda, Raditya berlari menuju ruang safety. Ia menemukan Nadia sedang duduk di sana, memegangi perutnya dengan wajah pucat namun matanya tetap tajam.
"Nadia!" Raditya menjatuhkan senjatanya dan langsung memeluk istrinya. "Kamu luka? Bayinya?"
Nadia menggeleng, ia membenamkan wajahnya di dada Raditya yang masih terasa panas. "Kita baik-baik saja, Mas. Tapi Mama..."
Raditya melirik ke arah pintu di mana Nyonya Sekar sedang dipapah keluar oleh pelayan dengan wajah hancur karena malu dan takut. "Mama saya harus belajar bahwa pilihannya memiliki konsekuensi. Mulai besok, dia akan dipindahkan ke vila di puncak dengan penjagaan 24 jam. Dia tidak akan pernah keluar dari sana lagi."
Raditya mengangkat dagu Nadia, mencium keningnya dengan penuh perasaan. "Maafkan saya karena perjamuan ini menjadi berdarah."
Nadia tersenyum tipis, merapikan rambut Raditya yang berantakan. "Setidaknya sekarang ulat keket itu sudah benar-benar hilang, Mas. Sekarang... bisakah kita pulang? Aku mau lanjut tidur yang tertunda."
Raditya terkekeh, meski tangannya masih sedikit bergetar karena adrenalin. "Apapun untukmu... Sayang."
Malam itu, perjamuan beracun yang dirancang untuk menghancurkan mereka justru menjadi paku terakhir di peti mati musuh-musuh mereka. Sang Naga dan Permaisurinya kini benar-benar tidak terkalahkan.
***
Bersambung
udh tau pnya suami singa plus posesif,tp msih aja d goda....gliran kna terkam,lemes....🤭🤭🤭
mskpn kaku ky papan,tp trnyta d blakang rmntis bgt....bnr2 udh kna virus bucin akut....
baby udh ga sbr ktmu ortu badas y....
sbr y....