Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*24
Asha duduk perlahan di atas ranjang. Sementara Irza sibuk membuka kancing kemeja yang sedang ia kenakan. Sontak, saat Asha menoleh, matanya langsung membulat.
"Za! Kamu mau ngapain?"
Irza mengangkat wajahnya. Tangan yang sedang memegang kancing langsung tertahan.
"Buka kemeja. Terlalu gerah karena sudah dipakai cukup lama."
"Tapi-- "
"Ha?"
"Gak. Ngapain buka di sini? Ah, tidak. Sekarang, ada aku. Kamu gak .... " Asha tiba-tiba menggantungkan kalimat yang baru saja ia ucapkan.
Kalimat itu tergantung karena ia bingung harus bicara seperti apa pada Irza. Karena Asha sadar, bagaimanapun, Irza adalah pria dewasa. Meskipun dia gemulai, tapi dia juga pasti punya pikiran dan perasaan. Sudah cukup pria itu dianggap tidak punya perasaan oleh sebagian orang selama ini. Dia tidak ingin dirinya juga ikut-ikutan dari sebagian orang tersebut.
"Itu .... " Asha kembali berucap. Namun sayangnya, sama saja. Kata itu kembali ia gantungkan.
"Hm?"
"Anu .... "
"Mau bilang kalau ini bukan tempat buka baju ya, Sha." Irza berujar pelan tanpa emosi sedikitpun.
Anak itu tidak marah. Ia bahkan tersenyum kecil. "Jangan cemas. Aku gak akan buat kamu gak nyaman kok dengan kehadiran ku. Aku buka kemeja, karena aku masih punya baju dalaman, Sha. Jadi, gak akan bikin kamu risih."
Seketika, Asha merasa tak nyaman sendiri. Sungguh, dia menyesali akan apa yang baru saja ia katakan. Karena ucapan Irza itu benar. Pria gemulai itu tidak memperlihatkan tubuhnya. Saat kemeja ia buka, baju kaos putih masih tersisa sebagai penutup dari tubuhnya itu.
"Ha ... a-- aku ... maksudku ... bu-- bukan begitu. Anu .... " Sha jadi gelagapan dan malu sendiri. Sungguh, dia merasa sangat canggung sekarang.
Irza kembali tersenyum kecil. "Lupakan saja, Sha. Oh iya, katanya kamu lelah. Istirahatlah."
Asha hanya bisa mengangguk pelan. Perlahan, tangannya menggapai hiasan kepala yang masih melekat. Seketika, gadis itu mengeluh karena saat di tarik, rambutnya juga ikut tertarik karena nyangkut pada sebagian tusukan dari perhiasan tersebut.
"Aduh."
"Sha. Kamu kenapa?"
"Sakit."
"Kenapa?"
"Rambutku sakit."
"Ya Tuhan. Boleh ku bantu?"
Asha mengangguk pelan dengan raut pasrah.
"Iy-- iya. Boleh."
Irza mendekat, lalu menyentuh kepala Asha dengan lembut. Saat itu, dengan jarak yang sangat dekat, Sha bisa mencium aroma tubuh Irza yang masih saja harum. Padahal, mereka sudah seharian sibuk melakukan rangkaian pesta pernikahan. Tapi, aroma pria ini masih saja tetap segar, bahkan masih sangat wangi. Aromanya harum lembut sedikit menenangkan.
Saat Sha sibuk menikmati aroma wangi tubuh Irza, tangan Irza berusaha melepaskan hiasan yang melekat di kepala Asha dengan sangat hati-hati. "Sabar sebentar ya, Sha. Aku harus hati-hati agar kamu gak sakit. Sebentar ... saja."
"Iya. Gak papa. Aku cukup sabar kok, Za."
Tangan Irza sontak berhenti sesaat. Sudut bibirnya langsung tertarik mengukir senyum kecil. Suara lembut yang baru saja menyentuh telinga Irza adalah pemicunya. Suara lembut Asha mampu menyentuh lalu menghangatkan hati Irza dengan sangat baik.
'Dia, bisa bicara sangat lembut juga padaku,' ucap Irza dalam hati sambil terus mempertahankan senyum manisnya. 'Ini indah. Dan harapan ku untuknya semakin besar sekarang.'
Hanya karena kata-kata dengan nada lembut, Irza bisa menambah semangat dalam hati untuk terus membuktikan pada orang yang ia cintai, kalau dia layak untuk berdiri di samping si pujaan hatinya ini.
"Sha .... "
"Hm?"
"Sudah selesai."
"Oh, makasih udah bantuin."
"Gak papa. Oh iya. Ee ... Sha."
"Hm? Apa?"
"Anu, bolehkah kasih aku kesempatan untuk selalu ada di dekat kamu?"
Sha terdiam beberapa detik. Suasana di ruangan itu langsung hening bak udara juga berhenti bergerak. Namun, itu tidak berlangsung lama. Karena detik berikutnya, Sha yang awalnya menatap wajah Irza langsung mengalihkan pandangannya dengan cepat.
"It-- itu ... tergantung situasi."
"Tergantung situasi? Maksudnya gimana, Sha?"
"Iya ... kalau situasinya memungkinkan, mungkin boleh. Tapi jika tidak, ya sebaliknya."
"Baiklah. Aku mengerti. Terima kasih untuk kesempatannya ya, Sha. Aku sangat bersyukur karena telah kamu berikan kesempatan untuk hadir dalam hidupmu."
"Ah, it-- itu ... anu, aku harus ke kamar mandi buat ganti baju."
Asha beranjak dengan cepat. Sungguh, itu adalah cara agar ia bisa segera mengakhiri obrolannya dengan Irza saat ini. Bukan tidak ingin bicara lagi. Hanya saja, dia tidak ingin terlalu banyak bicara agar pembicaraan itu tidak terlalu berlarut hingga menyentuh ke bagian hati. Untuk saat ini, menghindar adalah pilihan yang paling baik bagi Asha.
*
Setelah cukup lama di kamar mandi, Sha akhirnya keluar. Kali ini, pakaiannya sudah berbeda. Gaun yang ia kenakan sudah digantikan oleh baju tidur sederhana yang cukup nyaman untuk di pakai.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, matanya langsung melihat Irza yang saat ini sudah berbaring di atas lantai samping ranjang. Kamar itu ternyata tidak sama dengan yang mereka bayangkan sebelumnya. Tidak ada sofa di dalam kamar tersebut.
Sungguh, para mama ternyata sangat nakal. Bisa-bisanya mereka tidak membiarkan ada sofa di kamar tersebut agar pasangan pengantin baru ini tidak tidur terpisah dengan nyaman.
Awalnya, Asha ingin mengabaikan keadaan tersebut. Tapi sayangnya, nurani Sha tidak menginginkannya. Nurani itu berontak, membuat hati langsung merasa tak nyaman.
"Za. Kamu ... masih belum tidur, bukan?"
"Hm? Iya. Belum."
"Kamu ... yakin mau tidur di lantai, Za?"
"Iya. Kamu tenang aja, Sha. Aku gak papa. Di sini cukup nyaman kok. Jangan khawatir."
"Kaku bohong, Za."
"Ha? Nggak kok. Di sini-- "
"Mana ada lantai nyaman. Yang ada dingin. Apalagi untuk tuan muda kayak kamu, Irza."
"Itu ... Sha-- "
"Naiklah." Potong Asha dengan cepat. "Untuk malam ini, kita bisa berbaring tempat tidur. Aku gak papa kok. Lagian, tempat tidur ini sangat besar. Kita berdua, bisa tidur bersama."
Irza langsung bangun dari baringnya.
"Apa? Kamu yakin?"
"Iya. Tentu saja. Kita bisa berbagi ranjang. Lagian, kan nggak lucu kalo esok pagi kamu sakit gara-gara tidur di lantai, Za."
"Aku-- "
"Naiklah. Ayo!"
Irza pun akhirnya mengalah. Enggan dan canggung memang. Tapi hatinya bahagia bukan kepalang. Mimpinya untuk tidur di samping Asha akhirnya terwujud juga. Meskipun ia sadar dan sangat tau kalau gadis itu pasti sedang sangat terpaksa untuk satu ranjang dengannya.
"Terima kasih," ucapnya pelan sedikit berbisik.
"Hm. Istirahatlah. Kamu juga pasti sangat lelah."
Selesai berucap, Sha langsung membelakangi Irza. Sedangkan Irza, pria itu menatap punggung Sha dengan tatapan penuh kasih.
'Asha. Aku tidak akan janji dengan kata-kata kalau aku akan buat kamu nyaman dan selalu bahagia saat bersama dengan ku. Tapi, aku akan berusaha dengan sekuat tenaga, kalau aku akan buat kamu bahagia, Sha. Aku akan bahagiakan kamu. Sekuat tenaga aku.' Irza bicara dalam hati dengan mata yang terus menatap punggung Asha.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi