Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan di Sarang Serigala
Malam yang dinanti pun tiba. Sebuah mobil Rolls-Royce hitam mewah membelah jalanan kota menuju sebuah mansion bergaya kolonial klasik di kawasan elit perbukitan. Mansion tersebut adalah kediaman utama Keluarga Wijaya, salah satu dinasti bisnis tertua yang kekuasaannya hampir menandingi Alister Group.
Di dalam mobil, Keyra duduk dengan jemari yang saling bertautan erat di atas pangkuannya. Malam ini, ia tampak teramat memukau dalam balutan gaun malam emerald green berbahan beludru sutra yang mewah dengan potongan off-shoulder, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang indah. Riasan wajahnya dibuat sedikit lebih tajam dengan lipstik merah gelap, memancarkan aura wanita bangsawan yang berani.
Devan yang duduk di sampingnya menyadari kegugupan wanita itu. Ia mengulurkan tangan kekarnya, menyusupkan jemarinya di sela-sela jemari Keyra, lalu meremasnya lembut untuk memberikan kekuatan.
"Jangan takut," bisik Devan, suaranya yang berat terdengar begitu menenangkan di tengah keheningan malam. "Kamu tidak datang ke sini untuk dihakimi. Kamu datang ke sini bersamaku, sebagai orang yang paling berkuasa atas diriku. Angkat kepalamu, Keyra."
Keyra menoleh, menatap sepasang mata elang Devan yang memancarkan keyakinan mutlak. Ia mengembuskan napas panjang dan tersenyum. "Aku tidak takut, Devan. Selama ada kamu di sampingku, aku siap menghadapi apa pun."
Saat mobil berhenti tepat di depan lobi mansion, belasan pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat. Devan turun terlebih dahulu, lalu dengan gestur yang sangat jantan, ia mengulurkan tangannya untuk menuntun Keyra keluar dari mobil. Begitu pintu aula utama dibuka, seluruh pasang mata yang ada di dalam ruangan besar itu langsung tertuju pada mereka.
Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati kuno, duduk seorang pria tua berambut putih dengan tongkat berkepala perak. Dialah Tuan Besar Wijaya, kakek Devan dari pihak mendiang ibunya. Di sebelah kanannya, duduk seorang wanita muda berwajah cantik oriental dengan gaun desainer papan atas yang tampak sangat anggun. Wanita itu adalah mentari baru di keluarga Wijaya, putri angkat yang dulu sempat dijodohkan dengan Devan, bernama Valerie Wijaya.
Suasana makan malam itu mendadak hening dan mencekam. Aura intimidasi tingkat tinggi saling berbenturan di udara. Devan menuntun Keyra mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan sang kakek tanpa berniat untuk membungkuk hormat sedikit pun.
"Lama tidak bertemu, Tuan Besar Wijaya," ucap Devan, nadanya begitu dingin tanpa ada kehangatan hubungan keluarga sama sekali.
Tuan Besar Wijaya mengetukkan tongkat peraknya ke lantai marmer dengan pelan, menciptakan gema yang tegas. Matanya yang tajam langsung beralih dari Devan menuju sosok Keyra yang berdiri tegak di samping cucunya. "Jadi, ini alasan mengapa kamu menolak semua undangan pernikahan yang aku atur lima tahun lalu, Devan? Kamu mengabaikan putri dari keluarga terhormat demi seorang wanita yang... kudengar latar belakangnya hanya seorang pekerja kelas bawah?"
Kalimat sindiran yang sangat tajam itu membuat beberapa kerabat keluarga Wijaya yang hadir di sekitar meja makan mulai berbisik-bisik sinis, menatap Keyra dengan pandangan merendahkan. Namun, Keyra tidak gentar. Ia tidak lagi menjadi Keyra yang dulu menangis saat dihina oleh Arkan dan Mentari. Ia adalah wanita yang telah ditempa oleh badai kehidupan.
Sebelum Devan sempat bersuara dengan amarahnya yang mulai menyulut, Keyra terlebih dahulu melangkah maju setengah langkah. Ia menatap lurus ke arah mata Tuan Besar Wijaya dengan senyuman tenang yang teramat berkelas.
"Latar belakang saya mungkin memang dimulai dari bawah, Tuan Besar Wijaya," ucap Keyra, suaranya terdengar jernih, tegas, dan bergema penuh percaya diri di dalam aula tersebut. "Namun, di bawah kepemimpinan saya saat ini, lini kosmetik mewah Alister Group berhasil mencetak rekor penjualan tertinggi dalam sejarah korporasi hanya dalam waktu satu bulan. Saya percaya, Tuan Devan memilih pendamping hidup bukan berdasarkan silsilah keluarga yang bisa dibeli dengan uang, melainkan berdasarkan kapabilitas dan kesetiaan yang tidak bisa dinilai dengan materi."
Mendengar jawaban telak dan cerdas dari Keyra, seluruh ruangan seketika bungkam. Bisik-bisik sinis para kerabat langsung terhenti. Tuan Besar Wijaya tampak sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa wanita yang ia anggap remeh memiliki keberanian dan kecerdasan selevel ini dalam berdiplomasi.
Valerie Wijaya yang duduk di samping kursi utama mengepalkan tangannya di bawah meja. Wajah cantiknya berkedut menahan rasa iri yang membakar dadanya. Ia berdiri dari kursinya, mencoba memecah dominasi Keyra. "Karier di dunia bisnis bisa hancur kapan saja jika tidak didukung oleh jaringan sosialita yang kuat, Nona Keyra. Di dunia elit ini, nama besar keluarga adalah segalanya."
Devan Alister langsung melirik tajam ke arah Valerie, kilatan matanya begitu mematikan hingga membuat wanita itu refleks mundur selangkah. Devan mempererat rangkulannya di pinggang Keyra, menegaskan posisinya di hadapan semua orang.
"Nama besar Alister Group sudah lebih dari cukup untuk menopang seluruh dunia di bawah kaki Keyra," tegas Devan, suaranya bergemuruh penuh ancaman mutlak. "Aku membawa Keyra ke sini bukan untuk meminta penilaian atau persetujuan dari siapa pun di ruangan ini. Aku datang hanya untuk memperingatkan kalian semua; Keyra adalah calon istriku, calon Ratu di Alister Group. Siapa saja yang berani mengusik atau merendahkannya, berarti sedang menyatakan perang terbuka denganku dan seluruh aset Alister Group."
Setelah mengucapkan kalimat yang sangat mengerikan bagi kelangsungan bisnis Keluarga Wijaya tersebut, Devan membalikkan tubuhnya. Tanpa memedulikan hidangan mewah yang belum tersentuh di atas meja, Devan menuntun Keyra untuk berjalan keluar dari mansion tersebut dengan langkah yang begitu angkuh dan perkasa.
Di dalam aula, Tuan Besar Wijaya hanya bisa terdiam sembari menggenggam erat tongkat peraknya, sementara Valerie menatap punggung Keyra dengan pandangan penuh dendam yang membara. Mereka sadar, Devan Alister yang sekarang tidak lagi bisa dikendalikan, dan wanita di sampingnya bukanlah mangsa yang mudah untuk dihancurkan.