Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selesai Boleh Pulang
Di atas ranjang, Frina sedang berjuang setengah mati menahan sesak napas yang hebat. Wajah wanita paruh baya itu mulai membiru karena kekurangan oksigen.
"Bunda!" teriak Arka histeris.
Seluruh persendian di tubuh Arka mendadak lemas seketika. Dia berlari kencang mendekati ranjang, mengabaikan rasa pening di kepalanya sendiri.
Mata Arka membelalak sempurna saat melihat selang oksigen yang tadinya terpasang di hidung sang bunda kini sudah terlepas berantakan. Tidak hanya itu, monitor mesin ventilator di samping nakas juga dalam keadaan mati total.
"Bunda... Bunda denger Arka? Bertahan, Bun! Tolong bertahan!" pekik Arka dengan suara bergetar hebat.
Otaknya mendadak blank. Rasa emosi sisa perdebatan dengan ayahnya di parkiran tadi langsung bercampur aduk dengan rasa takut kehilangan yang teramat sangat.
Kedua tangan Arka gemetar hebat saat mencoba memasangkan kembali selang oksigen ke hidung bundanya. Namun, rasa panik membuat tangannya terus meleset. Frina sudah terlanjur kehilangan kesadaran dengan dada yang naik turun secara tidak beraturan.
Dengan frustrasi, Arka memukul tombol darurat (nurse call) di dinding berkali-kali tanpa ampun.
"DOKTER! SUSTER! CEPET KE SINI! BUNDA SAYA NGGAK BISA NAPAS!" teriak Arka sekencang-kencangnya ke arah pintu luar. Suaranya pecah karena panik. Jantungnya berdegup sangat kencang, mencekik dadanya dengan rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
Tidak berselang lama, terdengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah koridor.
Cklek!
Pintu terbuka lebar. Seorang dokter spesialis dan tiga orang perawat langsung berlari masuk membawa peralatan darurat.
"Dek, tolong mundur dulu! Kami harus mengambil tindakan medis sekarang!" titah sang dokter dengan nada mendesak.
"Dok, selamatin bunda saya, Dok! Tadi bunda saya baik-baik aja!" cerocos Arka panik. Dia bahkan nekat menahan lengan baju sang dokter dengan tatapan memohon.
"Iya, Mas, kami mengerti. Tapi tolong Mas keluar dulu sekarang, jangan mengganggu jalannya pemeriksaan!" bentak salah satu suster sambil menarik tegas tubuh Arka menjauh dari ranjang.
"Nggak! Saya mau di sini nemenin bunda saya!" tolak Arka keras kepala. Tangisnya hampir pecah karena ketakutan.
"Mas Arka, tolong kerja samanya! Kalau Mas di sini, kami kesulitan bertindak!" suster yang lain ikut berteriak, mencoba menyadarkan cowok itu.
Dua orang perawat pria akhirnya turun tangan. Mereka langsung memegangi pundak Arka dan mendorong tubuh bongsor cowok itu secara paksa ke arah pintu luar.
"Lepas! Saya bilang lepasin saya!" Arka memberontak. Tenaganya menguat karena dipicu rasa takut dan panik yang luar biasa. Namun, pintu kamar VIP itu tetap ditutup dan dikunci dari dalam tepat di depan wajahnya.
Brak!
Arka tertinggal sendirian di koridor rumah sakit yang sepi. Napasnya memburu pendek-pendek. Kedua tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menatap nanar pintu di hadapannya dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.
...----------------...
Di sisi lain koridor, Lintang berjalan kembali menuju kamar rawat dengan sekresek jeruk yang dia tenteng pelan.
"Harusnya gue nggak kalap ngabisin buah rumah sakit, kan malu sama Bunda mertua," gumam Lintang menyalahkan diri sendiri.
Namun, sedetik kemudian dia merengut untuk membela diri. "Ya tapi kan gue nggak bisa kalau nggak ngunyah. Gue kan udah izin, kata Bunda 'makan aja'. Pas udah gue makan, Bunda malah nyariin."
Langkah kaki Lintang mendadak melambat begitu mendekati ruang rawat Frina. Alisnya mengernyit dalam.
"Lah? Itu Arka ngapain di depan pintu gitu? Katanya mau ngisi bensin?"
Perasaan Lintang mendadak tidak enak. Dia mempercepat langkahnya.
"Arka. Lu kenapa di luar? Bunda kenapa?" tanya Lintang beruntun begitu sampai di depan cowok itu.
Arka menoleh pelan. Sorot matanya begitu dingin, tajam, dan menyiratkan kemarahan yang tertahan. "Lu kemana aja?"
Lintang mengangkat sedikit kresek di tangannya, mencoba tersenyum kaku. "Gue beli jeruk, soalnya Bunda minta—"
"LU NINGGALIN BUNDA SENDIRIAN?!"
Bentakan keras Arka menggema di koridor sepi itu, membuat Lintang tersentak mundur karena terkejut. Jantungnya berpacu cepat.
"SELANG OKSIGEN BUNDA LEPAS, LU TAHU NGGA?!" Arka berteriak dengan urat-urat leher yang menegang sempurna. Matanya memerah.
Tubuh Lintang langsung lemas seketika. Kantong plastik di tangannya mendadak terasa begitu berat.
"Ya... kan gue beli jeruk karena Bunda mau jeruk. Gue nggak kepikiran kalau... kalau jadi begini..." cicit Lintang dengan suara yang bergetar hebat.
"Lu bisa minta tolong gue sekalian, Lintang! Nggak perlu ninggalin Bunda sendirian!" Arka mengerang geram, mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi.
Arka menunjuk pintu yang tertutup rapat di belakangnya dengan tangan yang gemetar. "Lihat sekarang! Bunda sesak napas parah gara-gara selang oksigennya lepas!"
Tes.
Air mata Lintang luruh begitu saja membasahi pipinya. Rasa sedih, takut, dan bersalah langsung menghantam dadanya hingga sesak luar biasa.
Jadi, ini semua salahnya?
"Gue... gue beneran nggak tahu kalau selang oksigen Bunda bakal lepas..." lirih Lintang di sela isak tangisnya.
Arka mengacak rambutnya frustrasi, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding rumah sakit yang dingin. "Kalau aja gue nggak keluar... kalau aja gue langsung balik..." gumam Arka penuh penyesalan.
Lintang menunduk dalam. Tatapannya kosong tertuju pada buah jeruk yang dia tenteng. Semua terasa begitu tiba-tiba.
Kenapa selangnya bisa lepas? Apa Bunda nyerah? Kenapa... batin Lintang menjerit pilu.
Cklek.
Suara pintu yang terbuka memutus ketegangan di antara mereka. Dokter Fandy melangkah keluar dari dalam ruangan dengan wajah yang tampak begitu lelah.
Arka langsung menegakkan tubuhnya, memburu sang dokter. "Gimana keadaan Bunda, Dok?!"
Dokter Fandy tidak langsung menjawab. Beliau menghela napas berat, menatap Arka dan Lintang bergantian dengan tatapan prihatin yang amat dalam.
"Bunda kamu mengalami kekurangan oksigen dalam waktu yang cukup lama. Dan... kami sudah melakukan yang terbaik semaksimal mungkin," Dokter Fandy menjeda kalimatnya sejenak.
Suasana koridor mendadak hening mencengkam, menyisakan suara detak jantung Arka dan Lintang yang berdegup kencang menanti putusan akhir.
Dokter Fandy menepuk bahu Arka pelan, lalu menggeleng lemah. "Beliau... sudah wafat."
Deg.
Pernyataan itu bak bom besar yang dijatuhkan tepat di atas jantung Arka. Menghancurkan seluruh pertahanannya hingga berkeping-keping.
"Nggak. Nggak mungkin! Tadi Bunda masih bisa godain saya, Dok! Bunda masih ngobrol sama saya! Nggak mungkin sekarang Bunda... Bunda..." Arka tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Lidahnya mendadak kelu.
Dokter Fandy menatap Arka dengan tatapan bersimpati, lalu menepuk bahu cowok itu pelan. "Saya tahu ini berat, Mas Arka. Tapi Ibu Frina sudah dinyatakan meninggal dunia pada pukul 14.45 tadi. Kami akan memberikan waktu sebentar untuk keluarga, sebelum perawat mempersiapkan jenazah beliau."
Tangis Arka runtuh seketika. Tanpa memedulikan ucapan dokter lagi, dia melengos begitu saja, menerobos masuk ke dalam ruangan. Lintang yang tubuhnya sudah gemetar hebat pun ikut melangkah masuk di belakangnya.
Di dalam ruangan, atmosfer mendadak terasa begitu dingin dan mencekam.
Di atas ranjang VIP itu, Frina sudah terbujur kaku. Sehelai kain putih tampak sudah menutupi seluruh tubuh hingga wajah wanita paruh baya itu.
Arka melangkah mendekat dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya. Kedua kakinya terasa semakin lemas, seolah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri.
"Bunda..." lirih Arka. Suaranya pecah, berganti menjadi isakan pilu.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Arka menarik kain putih itu ke bawah. Begitu melihat wajah sang bunda yang sudah memucat dan memejamkan mata rapat-rapat, seluruh pertahanan Arka runtuh total.
Bruk!
Kedua lutut Arka menghantam lantai rumah sakit dengan keras. Dia bersimpuh di samping ranjang, mencengkeram sprei kasur itu dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"BUNDA! BANGUN, BUN! JANGAN BERCANDA KAYA GINI!" teriak Arka histeris, suaranya menggema memecah keheningan kamar VIP.
Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi. Cowok tegap yang biasanya selalu terlihat kuat itu kini menangis meraung-raung layaknya anak kecil yang kehilangan arah.
"Arka mohon, Bun... bangun... Arka cuma punya Bunda! Arka nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Bunda!" pekik Arka frustrasi. Dia memeluk tubuh kaku bundanya, menenggelamkan wajahnya di dada sang bunda yang sudah tidak lagi berdetak.
"BUNDAAA!!! JANGAN TINGGALIN ARKA!!! BUNDAAAA!!! AAAAAAAARRGHH!!!"
Teriakan pilu Arka begitu menyayat hati, penuh dengan keputusasaan yang teramat dalam.
Lintang yang menyaksikan hal itu langsung membekap mulutnya sendiri.
Dia terisak tanpa suara. Kedua tangannya membekap mulut rapat-rapat, namun air matanya terjun deras membasahi pipi hingga menetes ke lantai dingin rumah sakit. Dadanya naik-turun menahan sesak yang teramat sangat.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Lintang merogoh saku, lalu membuka ponselnya. Begitu menemukan nama sang mami, dia langsung menekan tombol panggil.
"Mami..." panggil Lintang begitu sambungan terhubung. Suaranya terdengar sangat parau dan tersendat.
"Lintang? Kenapa, sayang? Ini Mami lagi di jalan otw balik ke rumah sakit sama Papi," ujar Ilna di seberang telepon dengan nada santai.
"Bunda, Mi..." Lintang kembali terisak, membuat kalimatnya menggantung di udara.
Jantung Ilna mendadak berdegup agak kencang menangkap nada aneh dari anak kandungnya itu. "Bunda Frina kenapa, sayang?"
"Bunda... meninggal, Mi..." cicit Lintang pilu.
"Hah? Jangan bercanda kamu, Lintang! Nggak lucu!" Di dalam mobil yang sedang melaju, tubuh Ilna mendadak menegang sempurna. Detak jantungnya berpacu cepat, menolak memercayai kalau sahabat terbaiknya sejak SMP itu sudah tiada.
"Lintang nggak bercanda, Mami... Bunda beneran udah meninggal..." Tangis Lintang akhirnya pecah seada-adanya. Dia tidak sanggup lagi menahan beban kenyataan ini sendirian.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... Ya Allah... Frina... Sahabat Mami..." Isak tangis Ilna langsung meledak histeris di seberang sana. Suara tangisannya terdengar begitu rapuh karena kehilangan belahan jiwanya sejak remaja.
"Nak..."
Suara di telepon mendadak berganti menjadi suara berat Leno. Papi Lintang itu langsung mengambil alih ponsel karena kondisi istrinya yang sudah menangis histeris di kursi sebelah.
"Papi..." adu Lintang dengan suara parau kepada sang ayah.
"Kamu tunggu di sana ya, Nak... Papi sama Mami bentar lagi nyampe. Kamu harus kuat nemenin Arka," ujar Leno mencoba menenangkan, meski suaranya sendiri terdengar bergetar menahan syok.
"Iya, Pi..." ujar Lintang lirih.
Tut.
Sambungan telepon terputus. Lintang perlahan menurunkan ponselnya dengan tatapan kosong. Di depannya, dia melihat pemandangan yang begitu menyayat hati.
Suara isakan Arka perlahan berubah menjadi bisikan yang begitu kosong, rapuh, dan kehilangan arah.
"Bunda... jiwa Arka ikut mati sama Bunda..."
Setelah kalimat pilu itu lolos dari bibirnya, tubuh bongsor Arka mendadak limbung.
Pegangannya pada sprei kasur terlepas begitu saja, sebelum akhirnya cowok itu ambruk dan kehilangan kesadarannya di lantai rumah sakit yang dingin.