NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Malam semakin larut. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan dari halaman belakang rumah besar Juragan Darmawan. Setelah seharian menjalani prosesi akad, menerima tamu, dan mengikuti rangkaian acara pernikahan yang panjang, rasa lelah akhirnya mengalahkan rasa canggung yang sejak tadi menyelimuti pasangan pengantin baru itu.

Dara masih duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ujung selimut. Sesekali ia menguap pelan, lalu buru-buru menutup mulutnya.

Gavin yang duduk di sofa tak luput memperhatikan hal itu. "Kamu mengantuk?" tanyanya.

Dara tersenyum malu. "Sedikit. Aku tidak terbiasa tidur agak larut."

Gavin mengangguk pelan. "Aku juga."

Suasana kembali hening. Tidak ada lagi rasa kikuk seperti beberapa jam sebelumnya.

Gavin berdiri, lalu mengambil bantal dan selimut cadangan yang sudah disiapkan pelayan. Melihat itu, Dara langsung ikut berdiri.

"Den Gavin mau tidur di sofa?"

"Iya."

"Tidak usah. Tempat tidurnya besar, kita bisa tidur di sini." Dara menggeleng pelan.

Ucapan itu membuat Gavin terdiam beberapa saat.

Dara buru-buru menambahkan dengan wajah memerah. Ia semakin salah tingkah.

"Maksud aku hanya tidur saja, bukan yang lain."

Melihat kepanikan istrinya, Gavin hampir kembali tertawa. Namun, kali ini ia berhasil menahannya.

"Tenanglah. Aku mengerti."

Dara mengembuskan napas lega.

Mereka pun naik ke tempat tidur yang ukurannya cukup luas. Dara memilih berbaring di sisi paling pinggir. Sedangkan Gavin menjaga jarak di sisi seberangnya. Di antara mereka masih tersisa ruang yang cukup lebar. Tak ada satu pun yang berani bergerak. Keduanya sama-sama menatap langit-langit kamar.

"Selamat malam, Den," ucap Dara pelan.

"Selamat malam."

Tak lama kemudian, napas Dara mulai terdengar teratur. Gavin menoleh sekilas. Gadis itu ternyata sudah tertidur. Ia tersenyum tipis.

"Benar-benar mudah tidur," gumam Gavin pelan.

Tak lama kemudian, rasa lelah yang sejak tadi ditahannya juga membuat kedua matanya perlahan terpejam.

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai. Burung-burung berkicau riang di halaman rumah.

Gavin mengerjapkan mata perlahan. Ia mengangkat tangan untuk mengusap wajahnya. Namun, tangannya justru menyentuh sesuatu yang lembut. Alisnya langsung berkerut.

Perlahan Gavin menundukkan kepala. Matanya seketika membulat. Entah sejak kapan Dara tertidur dalam pelukannya. Kepala gadis itu bersandar di dadanya. Salah satu tangan Dara bahkan melingkar di pinggangnya, sementara selimut yang semula membatasi mereka kini sudah kusut di bawah kaki.

Gavin langsung membeku. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Otaknya berpikir keras. Bukankah mereka tidur berjauhan? Lalu, bagaimana bisa menjadi seperti ini?

Belum sempat menemukan jawabannya, Dara bergerak pelan. Gavin refleks menahan napas.

Perlahan mata Dara terbuka. Beberapa detik gadis itu hanya menatap kosong ke arah dada Gavin. Lalu pandangannya naik ke wajah pria itu. Mereka saling bertatapan.

Wajah Dara perlahan berubah merah. Ia baru menyadari posisi mereka.

"Astaga!" serunya pelan.

Dengan gerakan cepat Dara langsung melepaskan pelukannya, lalu bergeser menjauh sampai hampir jatuh dari tempat tidur.

"Ma-af!" ucapnya gugup. "A-ku tidak sengaja."

Gavin masih berusaha mencerna keadaan. "Kamu ...."

Dara menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. "Aku punya kebiasaan memeluk guling kalau tidur."

Perempuan itu mengintip malu-malu dari balik jemarinya. "Sepertinya semalaman aku mengira Den Gavin itu guling."

Beberapa detik kamar dipenuhi keheningan. Lalu, terdengar helaan napas pelan dari Gavin. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia benar-benar tidak tahu harus tertawa atau merasa bingung.

Melihat Gavin tidak marah, Dara semakin malu. "Aku benar-benar minta maaf."

"Tidak apa-apa," jawab Gavin singkat.

Meski wajahnya tetap tenang, dalam hati ia masih heran. Ternyata istrinya memiliki kebiasaan tidur yang cukup unik.

"Lalu, jangan panggil aku "Den Gavin" lagi. Panggil saja Gavin."

"Tapi, itu tidak sopan," kata Dara.

Dari usia mereka terpaut jauh. Lalu, Gavin adalah suaminya yang harus dipanggil dengan penuh rasa hormat.

"Bebas kamu mau panggil aku apa, asal jangan Den Gavin."

Dara terdiam. Dia bingung harus memanggil suaminya apa.

Tak lama kemudian, Dara sudah berada di dapur. Meski pelayan rumah menawarkan bantuan, ia tetap ingin memasak sendiri.

"Aku ingin belajar mengenal selera makan keluarga ini," kata Dara sambil tersenyum.

Salah seorang pelayan mengangguk hormat. "Nyonya muda memang baik."

Dara tersipu mendengar pujian itu.

Pagi itu Dara memutuskan memasak nasi uduk. Aroma santan yang dimasak bersama serai, daun salam, dan daun pandan perlahan memenuhi dapur.

Di atas kompor lain, bubur ayam untuk Juragan Darmawan dimasak dengan api kecil agar teksturnya lembut dan mudah dicerna. Sesekali Dara mencicipi kuahnya.

"Lumayan," gumamnya. Dara berharap masakannya sesuai selera penghuni rumah.

Beberapa saat kemudian, seluruh keluarga berkumpul di ruang makan. Juragan Darmawan datang dengan langkah pelan sambil bertumpu pada tongkat.

"Aduh, pinggangku masih sakit," ucap Juragan Darmawan lirih sambil meringis.

Sherly langsung membantu menarikkan kursi. "Ayah jangan banyak bergerak dulu."

"Iya-iya." Juragan Darmawan duduk sambil meringis.

Dara segera meletakkan semangkuk bubur hangat di hadapannya. "Ini untuk Kakek."

Juragan Darmawan mengendus aroma bubur itu. "Wah, harum sekali. Terima kasih, Nak."

Dara tersenyum kecil. "Sama-sama."

Tak lama kemudian, sepiring nasi uduk tersaji di depan Gavin dan Sherly.

Sherly memandang hidangan itu dengan mata berbinar. "Dara, kamu yang memasak?"

Dara mengangguk. "Iya, Ma. Aku tidak tahu selera keluarga di sini, jadi memasak yang sederhana saja."

Sherly tersenyum hangat. "Justru masakan rumahan seperti ini yang paling dirindukan."

Wanita paruh baya itu mengambil sedikit nasi uduk, lalu mencicipinya. Beberapa detik kemudian matanya membesar. "Enak!"

Dara tampak lega. "Benarkah, Ma?"

"Iya. Bumbunya pas. Nasinya juga pulen."

Pipi Dara langsung memerah karena malu. "Aku senang kalau Mama suka."

Sherly tersenyum. "Kamu biasa belajar memasak dari siapa?"

"Almarhum Nenek dan beberapa ibu-ibu tetangga," jawab Dara.

Sherly mengangguk pelan. "Luar biasa."

"Dulu waktu seusiamu, aku pernah membuat nasi gosong sampai satu panci." Sherly tertawa kecil.

Dara spontan tertawa kecil.

"Masa, Ma?" Gavin merasa tak percaya

"Iya. Papamu sampai makan sambil minum air banyak karena asin."

Juragan Darmawan langsung ikut menyela. "Bukan cuma itu. Waktu pertama kali bikin sayur kamu garamnya lupa dimasukkan." Pria tua itu terkekeh.

Sherly langsung memijat dahinya. "Ayah. Itu kejadian puluhan tahun lalu. Masih saja diingat."

Juragan Darmawan tertawa puas. "Kesalahan menantu itu wajib diingat. Supaya nanti bisa diceritakan ke cucu."

Mereka semua tertawa. Bahkan Dara ikut menutup mulutnya sambil tersenyum. Suasana meja makan yang semula terasa asing perlahan berubah hangat.

Di tengah obrolan itu, Sherly kembali menoleh kepada Dara. "Kamu tidak perlu sungkan tinggal di rumah ini. Anggap saja rumah sendiri."

Dara mengangguk pelan. "Terima kasih, Ma. Aku akan berusaha belajar."

Sherly menggeleng sambil tersenyum. "Bukan belajar menjadi orang lain. Tetaplah menjadi Dara. Perempuan sederhana yang sopan dan tulus."

Kalimat itu membuat hati Dara terasa hangat. Sudah lama sekali tidak ada orang yang menerima dirinya tanpa syarat.

Di ujung meja, Gavin sejak tadi lebih banyak diam. Sesekali ia menyendok nasi uduk buatan istrinya. Rasanya sederhana, namun hangat. Entah karena memang masakannya enak. Atau karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, meja makan rumah kakeknya dipenuhi percakapan, tawa, dan kehangatan yang membuat rumah besar itu terasa benar-benar hidup kembali.

Diam-diam, sudut bibir Gavin terangkat membentuk senyum tipis. Tak seorang pun menyadarinya.

Kecuali Juragan Darmawan yang diam-diam melirik cucunya sambil tersenyum penuh arti. "Sepertinya cucuku mulai menikmati kehidupan barunya," gumam pria tua itu dalam hati.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
Risma Hye Chan
sudah aku ksih vote yaa kak aku bacanya sampe nangis
Ummee
Dara dan Gavin poloosss sekaliii, ya Allah lucunya...
Ummee
suruh bulan madu aja Ma...
Aditya hp/ bunda Lia
rasain kau anak lampir berasa jadi korban padahal kamu penjahatnya
Ita rahmawati
mantab dara,, orang seperti Kiara SM ortunya emang harus dikasih faham walaupun GK akan berubah sih tp segknya mereka harus dibantah biar GK makin makin 😏
Ita rahmawati
ucul bgt sih mereka berdua 🤣🤣
Ita rahmawati
payah lah kalo masih sm2 polos mah,,harusnya lgsg tubruk kan 🤣🤣
Mutaharotin Rotin
gitu Dara,balas ucapan Kiara biar tau rasa 👍👍👍
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut 🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹
Risma Hye Chan
lucu banget mrka brdua sumpah wkwkwk
Nar Sih
istri kecil mu yg polos pinter kan ,jdi kmu bnr,,beruntung dan pilihan jodoh yg tepat untuk mu gavin👍🥰
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰🥰
Nar Sih
hahaha😂😂kencan ala internet sedang di mulai
Sugiharti Rusli
semoga cakrawala berpikir kamu semakin bertambah dengan melihat siapa Dara sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
kamu benar Vin, kamu ga salah pilih istri, karena di balik kepolosan dan sifat sederhana Dara, dia pribadi yang kuat dan pantang menyerah oleh keadaan,,,
Nar Sih
psngn yg bnr,,bikin ngakak ,gavin dan dara yg sama,,msih polos
Sugiharti Rusli
jadi sebetulnya sejak kecil Dara sudah struggle sendiri, dan mereka hanya mendampingi kan sebagai orang dewasa
Sugiharti Rusli
dan sejak dulu Dara bahkan tidak pernah menikmati hasil kerjanya sendiri dan diberikan oleh paman dan bibinya kan,,,
Sugiharti Rusli
rumah itu milik kakeknya, jadi dia juga memiliki hak yang sama buat tinggal sebagai pengganti ortunya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!