Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.
Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.
"Jangan menyesal setelah aku pergi."
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Disa berlari menuruni tangga. Senyum lebar menghiasi wajah ayunya. Sebuah benda pipih berukuran kecil yang biasa disebut alat tes kehamilan tergenggam erat di tangannya.
Hai ini adalah hari anniversary pernikahan mereka yang kedua. Ini akan menjadi kejutan yang paling mengejutkan untuk suaminya, Cakra.
"Mas .... " Disa membuka pintu. Menyambut kepulangan Cakra dengan senyum yang sama seperti biasa. Namun, apa yang dia lihat di depan matanya, memudarkan senyumnya perlahan.
Cakra, suaminya, tidak sendirian. Ada perempuan lain bersamanya yang sangat Disa kenal. Risa, sahabat Disa. Masalahnya, tangan Risa sedang menggamit erat lengan Cakra. Itu yang membuat dada Disa seketika dialiri rasa panas.
Siapa pun yang melihat kedekatan mereka yang begitu intens, akan dengan mudah menebak jika keduanya memiliki sebuah hubungan. Tapi, kan, Risa sahabatnya!
"Hai, Dis," sapa Risa dengan senyum ramahnya seperti biasa. Namun Disa, kali ini melihat senyum itu dengan rasa muak.
"Risa, kanapa kamu datang ke sini sama Mas Cakra?" tanya Disa.
Risa menoleh ke arah Cakra, seolah mempersilakan pria itu untuk memberi penjelasan kepada Disa yang kepalanya sudah dipenuhi tanda tanya. Apakah dia mulai mencium bau-bau pengkhianatan?
"Disa," Cakra mulai bicara sambil melirik Risa sekilas. "Mungkin ini akan mengejutkan kamu, tapi sekarang ini sudah waktunya kamu tahu. Sebenarnya aku sama Risa sudah menikah siri sejak tiga bulan yang lalu dan sekarang Risa sedang hamil anak aku."
Deg! Bagai disambar petir di siang bolong, sesuatu telah menghantam telak di dada Disa. Ia mendadak kesulitan bernapas.
"Maksud kamu? Mas, jangan bercanda!" teriak Disa. Dengan sekali sentakan ia melepaskan tangan Risa dari lengan suaminya. Kemudian menarik Cakra sedikit menjauh dari Risa.
"Kalian cuma mau prank aku, kan?! Iya kan?" Disa menatap Cakra dan Risa bergantian, mencari-cari kebohongan di mata keduanya. Mereka terlalu sering bercanda, tetapi Disa pikir candaan mereka kali ini sungguh keterlaluan.
"Kita enggak sedang prank kamu, Dis," Risa menjawab dengan diiringi tatapan prihatin. Tetapi ada senyum kemenangan kecil yang tersinggung di bibir tebalnya.
"Maaf kalau selama ini kami berkhianat di belakang kamu, tapi ... aku dan Mas Cakra, suami kamu, saling mencintai," Risa tersenyum tipis mengusap perutnya yang rata. "Aku hamil, Dis. Aku sudah lelah menyembunyikan hubunganku dan Mas Cakra, toh cepat atau lambat kamu pasti akan tau. Jadi kami memilih jujur."
Disa tidak percaya. Dia seperti mendengar dongeng yang mustahil dipercaya. Risa, sahabatnya, tega mengkhianatinya? Lebih sadis lagi, Cakra sampai membuatnya hamil. Hal yang sudah diusahakan Disa dan Cakra selama dua tahun dengan jatuh bangun.
Ia tersenggal. Tanpa Cakra sadari, Disa menyelipkan alat tes kehamilan di genggaman tangannya ke dalam saku dasternya.
Biar Disa sembunyikan kehamilannya ini.
"Jadi kalian mau apa?" tanya Disa berusaha tetap tegar, tetap berpijak tanpa goyah walaupun satu air mata sudah menetes di pipinya. Dia tidak mau membuang-buang tenaganya untuk bertanya mengapa mereka mengkhianati Disa dan sejak kapan mereka melakukan ini.
"Aku cuma mau kamu tau, Dis, dan aku mau kamu membiarkan Mas Cakra adil karena aku juga istrinya yang lagi hamil," tutur Risa.
Disa menghela napas pendek. Tak sangka, Risa yang biasa meminta barang pribadi milik Disa seperti tas, sepatu, dompet, aksesoris, ternyata pun tega mengambil sesuatu yang sangat berharga yang Disa miliki. Suami Disa.
Tubuh Disa diputar hingga kini berhadapan dengan wajah tampan Cakra. Ah sialnya, cinta Disa yang sangat membara di hatinya membuat luka yang mereka torehkan semakin terasa menjadi-jadi. Namun Disa masih saja mengakui dan terpesona dengan ketampanan Cakra walau pria itu sudah menyakiti sedemikian rupa.
"Sayang, dengerin aku," pinta Cakra, meremas lembut kedua bahu Disa. "Bukannya kamu merasa tertekan dengan permintaan mama yang terus menuntut kamu untuk hamil? Tapi sampai dua tahun kita menikah, kamu belum juga hamil. Aku janji, anak Risa akan menjadi anak kita juga. Kamu bisa memiliki anak tanpa repot-repot merasakan hamil dan melahirkan."
Apa maksud mereka? Apakah mereka ingin menjadikan Disa sebagai baby sitter gratisan untuk anak mereka kelak?
Cakra tersenyum puas, merasa idenya sangat cemerlang dan pasti akan diterima baik oleh Disa.
"Iya, Dis," sambung Risa. Disa menoleh ke arahnya.
"Kamu bisa mengakui anak aku nanti sebagai anak kamu juga. Jadi, kamu bisa memberikan cucu untuk orang tuanya Mas Cakra," imbuh Risa.
"Kamu setuju kan, Sayang?" Cakra bertanya, suaranya tetap terdengar lembut seperti biasanya.
"Aku minta maaf karena aku udah bohongin kamu selama ini, tapi aku melakukan semuanya juga demi kamu. Aku mau kita memiliki anak, aku nggak tega liat kamu terus terusan ditekan sama mama," Cakra mengusap sebelah pipi Disa. Segera, Disa menepis tangan pria itu dari pipinya.
Disa tersenyum. Cakra sempat bernapas lega, berpikir Disa akan menyetujui keputusannya.
"Ide kamu bagus, Mas. Aku akan punya anak tanpa repot-repot hamil, melahirkan, menyusui. Begitu, kan?"
"Ya ....." Cakra mengangguk mantap, senyumnya semakin lebar.
Disa menoleh ke arah Risa. Dia sudah bukan sahabatnya lagi, kini Risa adalah mantan sahabatnya.
"Kamu setuju dengan keputusan Mas Cakra, Ris?"
Risa mengangguk. "Aku setuju, Dis, karena aku sayang sama kamu."
Ya ampun.... Calon ibu macam apa Risa itu? Dia bersedia hamil dan melahirkan, namun dia tidak mau membesarkan anaknya. Hewan jauh lebih bernurani dibanding si pelakor itu.
"Tapi aku nggak setuju," Disa lekas menatap Cakra, yang senyumnya perlahan hilang.
"Maksud kamu apa, Dis?"
Buat apa Disa tetap bertahan dengan pria yang jelas-jelas sudah berkhianat di depan mata? Sampai menitipkan benihnya di rahim perempuan lain.
Disa sudah tidak lagi menjadi satu-satunya Ratu di hati pria itu. Disa tidak mau diduakan dengan perempuan mana pun. Apalagi itu adalah sahabatnya.
"Talak aku sekarang juga, Mas," pinta Disa disertai tatapan datarnya.
"Disa!"
...****************...
lanjut g pake lama
pokonya jngn sampe disa celaka
AYO TAKBIR
biarin kebalik ke risa
risa aja tuh ya dibikin keguguran
biar g ba punya anak
kalau berkenan follow ig aku ya @jalur_langitbiru13
makasih.
kritik, saran, dan ulasannya juga ditunggu 🫰