NovelToon NovelToon
The Bastard Duke'S Son

The Bastard Duke'S Son

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Barat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: mawangsyah

Ini adalah kisah tentang Fredrick Von Heisenberg. Sejarah mencatat namanya dengan banyak julukan dan gelar. Sang penakluk, yang agung, si penjagal, tiran, bahkan pahlawan. Kejahatan apa yang membuat Fredrick mendapat julukan sang penjagal dan tirani? Kebaikan hati macam apa yang membuat Fredrick dijuluki sebagai pahlawan. Sekali lagi, ini adalah kisah Fredrick dan perjalanan hidupnya. Mari kita ikuti petualangannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawangsyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fredrick dan Rafaela

Malam itu, setelah menghabiskan waktu dan merapihkan sisa-sisa camilan, Rafaela tidak langsung beristirahat. Gadis itu berjalan seorang diri menuju taman yang berada dalam lingkungan mansion. Menikmati segarnya angin malam dan indahnya bunga-bunga yang tertanam di sana. Nafasnya terasa lebih ringan. Tubuhnya yang kaku kini mulai melemas. Pikirannya juga sudah segar.

Dia duduk di salah satu bangku panjang yang ada di sana. Kepalanya mengadah ke langit, menganggumi bintang-bintang yang bertebaran dan bulan yang bersinar dengan terang. Walaupun musim dingin, entah bagaimana udara malam ini terasa sangat hangat. Dan Rafaela sangat mensyukuri hal tersebut.

Dia tidak pernah berpikir kalau dirinya bisa melangkah sejauh ini. Dia yang awalnya tidak lebih dari anak perempuan di sebuah desa yang kecil. Orang tuanya berprofesi sebagai petani. Rafaela tidak merasa dirinya tidak berkecukupan. Namun sedari dulu, dia telah memiliki sebuah kesadaran yang membuat dirinya merasa rendah diri. Sebagai seorang perempuan yang lahir dan besar di desa, dia telah ditakdirkan untuk tidak pernah pergi kemana pun. Ia akan besar, menikah, memiliki anak, dan membantu suaminya di ladang dan mengurus anaknya sampai ia dewasa kelak. Begitu lah kehidupan yang akan ia jalani di desa sampai matanya tertutup untuk selama-lamanya.

Namun dia beruntung. Tidak, mengatakan itu beruntung sama seperti dia merayakan kematian orang tua dan seluruh penduduk desa. Entah bagaimana, sekelompok monster memporak-porandakan desanya. Membantai seluruh penghuninya, dan hanya menyisakan dia dan teman masa kecilnya, Eric.

Rasa bersalah mulai merayap dalam hatinya. Air matanya mulai tumpah. Wajah ayah dan ibunya terlintas di benaknya. Senyum, marah, bahagia, sedih, dan semua emosi mereka yang pernah dia lihat, sama sekali tidak bisa dia lupakan. Rafela menahan tangisnya.

Eric, teman masa kecilnya, juga menghilang. Belakangan, dia mengetahui bahwa Eric adalah dalang di balik penyergapan para bandit yang menyerang rombongan dirinya, Louise, dan Frederick. Tidak lama setelah kejadian itu, Eric menghilang. Keberadaannya tidak diketahui lagi. Seolah-olah tertelan bumi.

Dia memang sedih karena menghilangnya Eric. Tetapi itu tidak lebih besar daripada kesedihan yang disebabkan oleh pengkhianatan teman masa kecilnya. Selama ini, keluarga Heisenberg memperlakukan mereka dengan sangat baik. Sebagian orang menganggap kalau mereka pilih kasih. Carla memperlakukan dirinya dengan penuh kasih sayang. Sementara itu, para ksatria memberikan pelatihan dan fasilitas terbaik untuk Eric.

Alasan Rafaela tidak begitu dekat dengan Frederick, meskipun dia adalah pelayan pribadinya, bukanlah karena kebencian. Sebaliknya, itu adalah rasa bersalah yang selama ini belum bisa dia lepaskan. Awalnya dia tidak menyukai Frederick karena perlakuan anak itu pada Eric pada sesi latihan. Dia merasa Frederick membully Eric karena terlalu berlebihan saat bertarung. Bahkan Frederick tidak menahan diri untuk menghajar Eric.

Tetapi pada akhirnya, dia paham. Frederick tidak sedang membully nya. Itu murni perbedaan kemampuan yang amat jauh antara dirinya dan teman masa kecilnya. Eric juga seringkali memprovokasi Frederick. Mengatakan bahwa dirinya adalah produk gagal keluarga Heisenberg. Hinaan yang sama sekali tidak memiliki dasar.

Pada akhrinya, air mata Rafaela tidak bisa dibendung. Perasaan sedihnya tidak dapat lagi tertahan. Di tengah sunyinya malam, Rafaela menangis.

"Ini, seka air mata mu dengan ini." Rafaela yang mendengar suara Fredrick, bergidik. Dia langsung menoleh ke arah Fredrick dan menjauh karena terkejut. Itu membuat dia tertawa. Perasaan malu memenuhi diri Rafaela. Dia berusaha menyeka air matanya menggunakan tangan. Tetapi Fredrick tertawa dan memaksa Rafaela untuk menerima sapu tangannya.

"Tuan muda... Saya minta maaf." Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Rafaela setelah suasana penuh diam terjadi beberapa saat. Fredrick melihat Rafaela, sembari memasang ekspresi bingung. Seolah bertanya, untuk apa?

"Selama ini, saya berpikir bahwa anda telah membully Eric. Anda juga yang menyebabkan Eric menghilang setelah anda menghajarnya. Namun saya paham, Eric telah melakukan sesuatu yang buruk kepada anda. Saya benar-benar minta maaf." Rafaela tidak memiliki kata lagi untuk dia katakan. Meski begitu, tidak Rafaela sangka, Fredrick tertawa.

"Kau tidak perlu memikirkan itu, Rafaela. Kau dan Eric adalah teman. Bahkan kalian seperti adik dan kakak. Secara alami, kau pasti akan lebih mempercayai Eric. Sungguh, itu adalah pilihanmu untuk percaya Eric atau diriku.

"Tapi satu hal yang penting, Rafaela. Aku tidak pernah ragu untuk menyingkirkan siapa pun yang mengincar hidupku dan orang-orang terdekatku. Aku akan menghancurkan siapa pun yang datang untuk menghalangiku. Aku akan menghabisi semua yang ingin menghancurkanku dan mengkhianatiku. Tidak ada ampun bagi mereka yang berniat merebut semua hal yang menjadi milikku. Itu saja.

"Apa yang telah Eric lakukan nyaris membunuh dirimu, Louise, dan diriku sendiri. Kehadiran manusia seperti dia, sangat tidak dibutuhkan. Ngomong-ngomong, aku tidak mengusirnya karena itu adalah hak ayahanda untuk melakukannya. Dia pergi atas kehendaknya sendiri.

"Jadi Rafaela, apa pilihanmu?"

Tanpa ragu-ragu, Rafaela berdiri dan menundukkan tubuhnya di depan Fredrick. Keragu-raguan dia telah terjawab. Tuan yang loyal dan kokoh atas dirinya sendiri. "Saya, Rafaela, dengan sepenuh hati dan tanpa paksaan, mengabaikan hidupnya kepada tuan muda Fredrick von Heisenberg."

Fredrick tertawa kecil. Dia mengambil tangan Rafaela dan menciumnya. Malam itu, keduanya menghabiskan waktu bersama di taman, membicarakan banyak hal sebelum akhirnya berpisah.

1
Agus Mulyadi
cerita nya oke gan...
tinggal typo sama penempatan kata yg kadang masih ga sesuai...
overall mantabs...
Gustrik Swastika
ceritanya bagus, alur cerita bagus, tata bahasa nya juga bagus, harusnya bisa berlanjut ngga berenti disini
Gustrik Swastika
bagus bagus 👍👍👍
kanm
lanjut thor
kanm
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!