NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:99.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Sistem Check-in Dokter Dewa

Ia berlari ke arah UGD, sementara kata sampah yang barusan dilemparkan Bimo masih terbakar di dadanya.

Pintu otomatis UGD terbuka sebelum Rangga sempat menyentuhnya.

Di dalam, suasana sudah berubah menjadi medan perang kecil. Perawat menarik troli obat. Petugas ambulans mengenakan rompi oranye. Seorang dokter perempuan dengan rambut terikat rapi berdiri di depan papan koordinasi, membaca laporan dari telepon dengan suara cepat tapi terkendali.

"Lokasi tepat di Jalan Cahaya Bangsa, depan minimarket Sinar Jaya. Pelaku membawa pisau. Satu sandera perempuan, usia sekitar tujuh belas sampai dua puluh tahun. Ada luka leher. Perdarahan aktif."

Rangga langsung mengenali kartu namanya.

dr. Alya Ratnasari, Sp.EM.

Di sebelahnya, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun mengenakan jas dokter yang lengannya sudah digulung. Sorot matanya tajam, tubuhnya bergerak tanpa ragu.

"Dua ambulans berangkat sekarang," kata pria itu. "Alya, kamu ikut mobil pertama. Yoga, bawa kit trauma. Suster, siapkan cairan, kasa tekan, klem hemostat, dan suction portable."

dr. Yoga mengangkat tas trauma. "Siap, Pak Bambang."

Pak Bambang.

dr. Bambang Sutrisno, Sp.EM(K). Kepala UGD RSUD Harapan Bangsa.

Rangga baru setengah langkah masuk ketika dr. Yoga melihatnya.

"Kamu lagi?" dr. Yoga mengernyit. "Ini bukan orientasi."

"Saya bisa bantu, Dok."

"Bantu di sini saja. Jangan ikut ke lapangan kalau belum diperintah."

Pak Bambang menoleh. Tatapannya menyapu Rangga dalam satu detik, dari sepatu murah sampai kartu dokter muda yang masih baru.

"Nama?"

"Rangga Aditya Wijaya, Pak. Dokter muda baru di UGD."

"Pernah menangani trauma leher?"

Jujur atau sok tahu.

Rangga memilih yang pertama.

"Belum pernah langsung, Pak. Tapi saya tahu prosedur dasar kompresi, stabilisasi jalan napas, dan rujukan operasi."

dr. Yoga mendengus kecil.

Pak Bambang tidak ikut mengejek. Ia hanya menunjuk ambulans pertama. "Naik. Pegang tas cairan dan jangan menghalangi. Di lapangan, kalau saya bilang mundur, kamu mundur."

"Siap, Pak."

Rangga naik ke ambulans.

Mesin meraung.

Sirene menjerit membelah jalan Kota Cakrawala.

Dari jendela kecil ambulans, gedung-gedung dan warung kaki lima melesat mundur. Panas di luar bercampur debu jalanan. Motor-motor menepi dengan panik. Di depan, mobil polisi membuka jalan, lampu birunya memantul di kaca toko dan helm pengendara ojol.

dr. Alya duduk di hadapan Rangga, memeriksa isi tas trauma sekali lagi.

"Pertama kali ikut respons lapangan?" tanyanya.

"Iya, Dokter."

"Kalau panik, tarik napas. Jangan pegang pasien tanpa instruksi."

"Baik."

Nada suaranya lembut, tapi matanya tidak main-main.

Pak Bambang, yang duduk di dekat pintu belakang, menerima laporan dari radio polisi.

"Pelaku tidak kooperatif. Tim taktis sedang negosiasi. Korban masih berdiri, tapi perdarahan makin banyak."

Rangga merasakan telapak tangannya dingin.

Leher. Perdarahan aktif. Sandera.

Di kampus, semua itu pernah muncul di buku dan simulasi. Di layar presentasi, darah selalu berupa diagram merah yang rapi. Di dunia nyata, satu arteri yang robek bisa mengosongkan hidup seseorang dalam hitungan menit.

Ambulans berhenti mendadak.

"Turun!"

Begitu pintu dibuka, suara kota menghantam wajah Rangga.

Jeritan.

Sirene.

Perintah polisi melalui pengeras suara.

Kerumunan warga tertahan di belakang garis kuning. Beberapa orang mengangkat ponsel, merekam dengan tangan gemetar. Di depan minimarket, seorang pria kurus dengan rambut acak-acakan memegang pisau dapur di tangan kanan. Tangan kirinya mencengkeram leher seorang gadis muda.

Seragam sekolah gadis itu basah merah.

"Jangan dekat!" pria itu berteriak parau. Matanya liar, tubuhnya bergetar. "Kalian semua mau bunuh saya!"

Seorang polisi mengangkat kedua tangan. "Tenang, Pak. Kami tidak akan menyakiti Anda. Lepaskan pisaunya."

Gadis itu menangis tanpa suara. Bibirnya pucat. Setiap kali ia mencoba bernapas, darah merembes lebih deras dari sisi lehernya.

Rangga berhenti di belakang Pak Bambang.

Panas aspal dan penghinaan Bimo lenyap dari pikirannya. Seluruh fokusnya tertuju pada darah.

Pak Bambang mengamati cepat. "Luka di sisi kiri leher. Kalau pisau masuk lebih dalam, carotis bisa kena."

dr. Alya berbisik, "Tekanan darahnya pasti sudah jatuh."

"Kita butuh korban lepas dalam tiga menit."

Tiga menit itu tidak pernah sampai.

Pria itu tiba-tiba berteriak, pisaunya bergerak. Gadis itu menjerit. Pada saat yang sama, dua anggota tim taktis menyergap dari samping. Satu tembakan terdengar pendek, disusul tubuh pelaku roboh ke aspal.

Gadis itu jatuh.

Darah menyembur dari lehernya mengikuti denyut nadi.

Merah terang, berdenyut mengikuti detak jantung yang makin kacau.

"Masuk!" Pak Bambang berlari lebih dulu.

dr. Alya menekan kasa tebal ke leher korban. Darah langsung merembes menembus sarung tangannya.

"Nadi cepat, lemah!" teriak dr. Yoga. "Pasien mulai tidak sadar!"

"Klem!"

Rangga membuka tas trauma dan menyerahkan klem hemostat. Pak Bambang mengambilnya, menyingkap kasa sesaat, mencoba mencari ujung pembuluh yang robek.

Darah menyembur mengenai pipinya.

"Suction!"

dr. Alya memasukkan selang suction. Suaranya bergetar halus meski tangannya tetap bekerja.

"Lapangan terlalu kotor. Saya tidak bisa lihat jelas."

Pak Bambang menggerakkan klem lagi.

Gagal.

Darah kembali menyemprot.

"Kompresi lebih kuat!"

dr. Yoga menekan, tapi tekanan itu hampir membuat jalan napas korban tercekik.

"Jangan sampai trakea tertekan!" Pak Bambang membentak.

"Pak, saturasi turun!"

Kerumunan di belakang garis polisi mulai gelisah. Seseorang menangis. Seorang perempuan setengah baya, mungkin ibu korban, berusaha menerobos sambil berteriak, "Anak saya! Tolong anak saya!"

Polisi menahannya.

Rangga berlutut di aspal, tas trauma terbuka di sampingnya. Lutut celananya basah oleh darah yang mulai mengalir ke selokan kecil.

Ia melihat Pak Bambang mencoba lagi.

Gagal lagi.

Hanya ada terlalu banyak darah. Terlalu cepat. Terlalu kacau.

"Kalau tidak bisa dikontrol di sini, dia tidak akan sampai rumah sakit," kata dr. Alya pelan.

Kalimat itu bukan keluhan.

Itu vonis.

Rangga merasakan sesuatu menghantam kepalanya.

Suara.

Benturan itu datang dari dalam kepalanya, menenggelamkan sirene, teriakan polisi, dan tangis ibu korban.

Suara itu muncul dari dalam pikirannya, dingin, jernih, dan sama sekali tidak manusiawi.

[Sistem Check-in Dokter Dewa telah aktif. Selamat datang, Host.]

Rangga membeku.

Waktu seolah berhenti setengah detik.

Di depannya, darah tetap menyembur. Pak Bambang tetap berjuang. dr. Alya tetap menekan kasa. Namun di dalam kesadaran Rangga, baris huruf asing muncul seperti layar transparan.

[Terdeteksi pasien kritis: carotis eksterna ruptur.]

[Risiko kematian sangat tinggi.]

[Aktifkan check-in?]

Rangga hampir lupa bernapas.

Apa ini?

Apakah ia pingsan? Apakah suara ini hanya akibat stres? Tapi setiap detail di hadapannya terlalu nyata: bau darah besi, panas aspal, suara monitor portable yang baru dipasang dr. Yoga.

"Rangga!" dr. Yoga membentak. "Kasa tambahan!"

Tangan Rangga bergerak otomatis mengambil kasa.

Sistem itu masih menunggu.

[Aktifkan check-in?]

Gadis itu membuka mata setengah. Tatapannya kosong, tapi bibirnya bergerak seperti meminta tolong.

Rangga tidak punya waktu untuk takut.

Di dalam pikirannya, ia menjawab satu kata.

Ya.

[Check-in berhasil.]

[Anda telah memperoleh: Teknik Hemostasis Kelas Dunia.]

[Paket pemula terbuka: penguatan pengetahuan dasar anatomi, fisiologi, farmakologi, dan prosedur kedaruratan.]

Rasa sakit tajam menembus pelipis Rangga.

Tubuhnya melemah seolah ribuan halaman buku dibakar dan abunya dituang langsung ke otak. Struktur leher manusia terbuka di benaknya: lapisan kulit, otot sternokleidomastoideus, posisi arteri, vena, saraf, trakea, sudut klem, tekanan jari, serta batas antara menyelamatkan dan membunuh.

Semua yang dulu ia baca dengan susah payah kini menjadi sesuatu yang bisa ia rasakan.

Tangannya berhenti gemetar.

Matanya berubah tenang.

"Pak Bambang," kata Rangga.

Di tengah kekacauan, suaranya terdengar anehnya stabil.

Pak Bambang tidak menoleh. "Apa?"

"Tekanan kompresinya terlalu medial. Kalau terus begitu, jalan napasnya kolaps."

dr. Yoga menatapnya tajam. "Kamu pikir kami tidak tahu?"

Rangga mengulurkan tangan.

"Berikan klemnya, Pak."

Udara mendadak sepi satu detik.

dr. Alya menatapnya seakan memastikan ia tidak salah dengar.

dr. Yoga langsung marah. "Kamu gila? Ini carotis! Dokter muda hari pertama mau pegang?"

Pak Bambang menatap Rangga.

Dalam mata dokter senior itu ada kemarahan, tekanan, dan satu hal lain: perhitungan. Ia tahu waktunya habis.

Darah korban menyembur lagi, lebih lemah dari sebelumnya. Itu bukan kabar baik. Itu tanda jantungnya mulai kalah.

Rangga tidak menarik tangannya.

"Saya bisa melihat jalurnya, Pak."

"Melihat?" dr. Yoga hampir tertawa karena tegang. "Di darah sebanyak ini?"

Rangga menatap Pak Bambang. "Kalau kita menunggu, dia mati sebelum masuk ambulans."

Kalimat itu menghantam semua orang.

Pak Bambang mengertakkan rahang.

Lalu ia menyerahkan klem.

"Sepuluh detik," katanya dingin. "Kalau gagal, mundur."

Rangga mengambil klem.

Logam dingin itu menyentuh sarung tangannya.

Ia maju, berlutut tepat di samping kepala korban. Lututnya menekan aspal panas. Darah merendam ujung jas putihnya. Ia tidak peduli.

"Dokter Alya, kompresi sedikit ke lateral. Jangan tekan trakea. Dokter Yoga, suction dari arah bawah, jangan menutup bidang pandang."

dr. Yoga terdiam.

Karena nada itu bukan nada dokter muda yang meminta izin.

Itu nada seseorang yang tahu persis apa yang harus dilakukan.

dr. Alya bergerak lebih dulu. "Yoga."

dr. Yoga mengumpat pendek, tapi mengikuti instruksi.

Bidang luka terbuka sesaat.

Darah kembali menyembur.

Rangga tidak berkedip.

Di matanya, aliran merah itu bukan lagi kekacauan. Itu pola. Denyut. Arah. Ruang sempit di antara hidup dan mati.

Tangannya masuk.

Klem bergerak.

Cepat.

Tepat.

Klik.

Semburan darah berhenti sepenuhnya.

Seluruh jalan seperti kehilangan suara.

Pak Bambang, yang tiga puluh tahun hidup di ruang gawat darurat, menatap tangan Rangga dengan mata melebar.

dr. Alya menahan napas.

dr. Yoga lupa memaki.

Rangga tidak mengangkat wajah. "Tekanan tetap. Kita belum selesai. Ini hanya kontrol sementara."

Pak Bambang tersentak kembali.

"Brankar! Sekarang!"

Para petugas bergerak seperti baru dilepaskan dari ikatan. Korban diangkat ke brankar dengan hati-hati. Rangga tetap berlutut, satu tangan memegang posisi klem, tangan lain menjaga agar leher korban tidak bergerak.

"Jangan tarik tangan saya," katanya. "Kalau klem bergeser, perdarahan ulang."

"Dia ikut ambulans," kata Pak Bambang cepat. "Alya, pantau airway. Yoga, cairan dan monitor. Kita langsung ke ruang operasi."

Saat mereka mendorong brankar ke ambulans, perempuan yang tadi ditahan polisi jatuh berlutut di tepi jalan.

"Dokter! Tolong selamatkan anak saya!"

Rangga hanya sempat menoleh sedikit.

"Kami akan berusaha, Bu."

Itu bukan janji kosong.

Untuk pertama kalinya hari itu, kalimatnya memiliki bobot yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.

Pintu ambulans ditutup.

Sirene menyala lagi.

Di dalam ruang sempit yang bergetar, Rangga duduk miring di sisi brankar, kedua tangannya menjaga klem di leher korban. Darah mengering di pergelangan tangannya. Napas gadis itu dangkal. Monitor portable menunjukkan angka yang naik turun seperti benang tipis tertiup angin.

dr. Alya memasang oksigen. "Tekanan darah 70 per palpasi. Nadi 142."

dr. Yoga menggantung cairan. "Akses intravena masuk."

Pak Bambang menatap jam, lalu menatap Rangga.

Kali ini tidak ada lagi tatapan meremehkan.

Hanya keterkejutan yang belum sempat ia sembunyikan.

"Anak muda," katanya rendah, "siapa yang mengajarimu memegang klem seperti itu?"

Rangga tidak bisa menjawab.

Di dalam kepalanya, sistem telah diam. Seolah semua yang terjadi barusan hanyalah rahasia antara dirinya dan suara dingin itu.

Ia menatap monitor.

Angkanya turun lagi.

Pak Bambang menarik napas tajam.

"Kita punya waktu tiga puluh menit. Kalau tidak sampai ke ruang operasi dalam tiga puluh menit..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Tidak perlu.

Di layar monitor, angka tekanan darah berkedip lemah.

Rangga mengencangkan pegangan pada klem, tidak berani bergerak sedikit pun.

Ambulans melesat di tengah sirene, membawa mereka menuju ruang operasi yang terasa terlalu jauh.

1
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
Amiera Syaqilla
hello author🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!