Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.
Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAKET KEREN
Pagi harinya, bunker kimchi tidak berbau seperti tempat persembunyian buronan kelas dunia. Baunya lebih mirip seperti kulkas yang lupa dibersihkan selama satu dekade di kutub utara.
Lina bangun dengan rambut berdiri seperti sapu ijuk bekas dipakai nyapu halaman neraka. Di sebelahnya, Arka tidur terlentang di atas tumpukan karung beras kosong, mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan suara dengkuran yang ritmis—ngorok... hiks... ngorok. Sementara Ibu Tuti sudah duduk tegak di kursi goyang, sedang mengasah pisau dapur dengan batu asah sambil mendengarkan radio dangdut dari HP-nya yang volumenya maksimal.
"Bangun!" teriak Ibu Tuti, melempar sepotong kimchi ke arah wajah Lina. Potongan itu mendarat tepat di pipi Lina dengan bunyi plek.
Lina tersentak bangun, mengusap wajahnya. "Bu! Itu asam! Pedas! Dan lengket!"
"Itu vitamin C alami," jawab Ibu Tuti santai. "Cepat mandi. Airnya ada di ember biru. Sabunnya pakai deterjen bubuk kalau mau bersih maksimal. Kita punya jadwal padat hari ini."
"Jadwal apa?" tanya Lina sambil mengelap sisa-sisa cabai dari wajahnya. "Mencuci baju? Atau menyelamatkan dunia lagi?"
"Lebih penting dari itu," kata Ibu Tuti serius. "Kita harus pergi ke kantor polisi. Tapi sebelum itu, kamu harus tampil memukau. Ingat, jaket bomber itu bukan sekadar baju. Itu adalah pernyataan politik. Itu adalah tameng psikologis. Kalau kamu kelihatan keren, polisi akan segan, wartawan akan naksir, dan mantan suamimu akan menyesal seumur hidup karena kehilangan wanita secakep itu."
Arka akhirnya bangun, menggosok matanya yang masih belekan. "Saya setuju soal wartawan naksir. Tapi soal sabun deterjen... Bu, itu bisa bikin kulit gatal-gatal sampai seminggu."
"Gatal itu tanda kulit sedang berevolusi," bantah Ibu Tuti. "Sekarang, ganti baju. Kita berangkat dalam 15 menit. Saya sudah pesan ojek online. Driver-nya Pak Bambang, rating 4.9 bintang. Dia janji nggak bakal ngoceh soal politik."
Tiga puluh menit kemudian, mereka bertiga naik motor Honda Beat tua milik Pak Bambang. Lina duduk di tengah, terjepit antara Arka di depan dan Ibu Tuti di belakang yang memegang pinggang Lina dengan cengkeraman besi baja.
"Pegang erat-erat, Nak!" teriak Ibu Tuti di telinga Lina, suaranya bersaing dengan angin dan knalpot motor yang berisik. "Kalau jatuh, saya nggak tanggung jawab! Asuransi motor ini cuma cover kerusakan mesin, bukan kerusakan ego!"
"Bu, tolong jangan teriak!" balas Lina, rambutnya berkibar liar seperti bendera negara yang baru merdeka. "Saya takut!"
"Takut itu bagus! Adrenalin membuat kulit kencang!" seru Ibu Tuti.
Arka di depan hanya bisa menggelengkan kepala, pasrah pada nasib. Dia memegang setir motor Pak Bambang dengan erat, berharap roh leluhur mereka melindungi perjalanan gila ini.
Sesampainya di depan kantor polisi, suasana langsung berubah. Wartawan sudah menumpuk seperti semut di sekitar gula. Kamera-kamera menyala, mikrofon dijulurkan.
Pak Bambang menghentikan motor dengan gaya dramatis, mengerem mendadak hingga ban belakang terangkat sedikit. Ngeenggg!
"Woah! Gaya banget, Pak!" puji Ibu Tuti sambil turun dari motor dengan anggun, meski kakinya sedikit gemetar karena saking tuanya.
Lina turun, mengenakan jaket bomber hitamnya. Tulisan "I Survived My Family Drama" terpampang jelas di punggungnya. Dia menurunkan kacamata hitamnya (pinjaman Arka), menatap kerumunan wartawan dengan tatapan dingin ala selebriti Hollywood yang baru saja bercerai dari aktor ternama.
Hening sejenak. Lalu, flash kamera meledak-ledak.
"Lina! Lina! Apa benar ayah Anda koruptor?"
"Lina! Bagaimana perasaan Anda dikhianati adik sendiri?"
"Lina! Apakah jaket itu desain terbaru Gucci?"
Lina tersenyum tipis. Dia tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dia hanya berjalan pelan menuju pintu masuk kantor polisi, diikuti oleh Arka yang bertindak sebagai bodyguard amatir (dengan membawa payung lipat sebagai senjata) dan Ibu Tuti yang berjalan di belakang sambil membagi-bagikan brosur usaha pijat refleksinya kepada para wartawan.
"Silakan dicoba, Mas! Kaki pegal karena nunggu berita? Pijat Ibu Tuti solusinya! Diskon 50% untuk wartawan yang belum menikah!" teriak Ibu Tuti lantang.
Para wartawan bingung, tapi beberapa dari mereka mengambil brosur itu karena penasaran.
Di dalam ruang interogasi, seorang detektif senior bernama Pak Broto (bukan tupai, tapi manusia asli yang kebetulan namanya sama) menunggu mereka. Wajahnya lelah, kopi di depannya sudah dingin.
"Ibu Lina," kata Pak Broto sopan. "Kami sudah menerima bukti audio dan dokumen dari Anda. Kasus ini Sangat besar. Ayah Anda, Victor, dan jaringan bisnis mereka..."
"Saya tahu," potong Lina tenang. "Saya di sini untuk memberikan kesaksian lengkap. Tapi ada satu syarat."
Pak Broto mengangkat alis. "Syarat?"
"Saya ingin jaminan perlindungan saksi. Dan... saya ingin hak eksklusif untuk menjual kisah hidup saya ke platform streaming nanti. Judulnya: 'The Kimchi Chronicles: How I Destroyed My Toxic Family with Fermented Vegetables'."
Pak Broto terdiam. Arka menahan tawa di sudut ruangan. Ibu Tuti mengacungkan jempol dari balik kaca satu arah.
"Itu... bukan wewenang kami, Bu," kata Pak Broto canggung. "Tapi kami bisa jamin keamanan Anda."
"Cukup," kata Lina. "Mulai sekarang, saya siap bicara. Tapi tolong, sediakan kimchi. Saya butuh energi."
Pak Broto mengangguk bingung, lalu keluar ruangan untuk memesan makanan.
Saat pintu tertutup, Arka mendekati Lina. "Kamu benar-benar gila, Lin. Menjual hak cerita ke streaming service di tengah penyelidikan kriminal?"
Lina tersenyum, kali ini senyuman yang nakal dan penuh semangat. "Kenapa tidak? Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani dengan serius terus-menerus. Kalau kita bisa tertawa di atas puing-puing kehidupan, kenapa tidak monetisasi tawa itu?"
Ibu Tuti masuk kembali, membawa tiga bungkus nasi kucing dari warung sebelah. "Makan! Nanti lemas kalau cuma makan omongan doang. Dan ingat, Lin... setelah ini, kamu bebas. Benar-benar bebas. Nggak ada lagi Raka. Nggak ada lagi Dinda. Nggak ada lagi Ayah yang manipulatif."
Lina membuka bungkus nasinya. Aroma ikan asin dan sambal terasi menyeruak. Wangi surga bagi orang lapar.
"Terima kasih, Bu Tuti. Terima kasih, Rak," kata Lina lembut. "Karena kalian, saya nggak sendirian."
Arka tersenyum, matanya berbinar. "Selalu, Lin. Sampai akhir waktu. Atau sampai kimchi tahun 1998-nya habis."
Mereka makan bersama di ruang interogasi yang dingin, sementara di luar, dunia terus bergosip tentang skandal terbesar tahun ini. Tapi bagi Lina, itu bukan skandal. Itu adalah bab penutup dari buku lama.
Dan dia sudah siap menulis buku baru. Buku yang judulnya belum ditentukan, tapi isinya pasti penuh dengan petualangan, cinta (mungkin), dan tentu saja... banyak sekali kimchi.
TAMAT?
(Atau mungkin... ada babak bonus di mana Dinda balik dari Swiss karena bangkrut dan minta nginap di bunker kimchi? Who knows!) 😂