Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Demam Maya
Tiga minggu setelah pengiriman seragam, Bu Sari datang ke rumah Dimas untuk mengantar beras.
Pintu tidak terkunci. Dari dalam, ia mendengar tangis Maya yang serak dan terputus-putus.
Siska duduk di ruang tengah sambil mengipasi bayi itu dengan selembar karton. Sebaskom air berada di lantai.
“Kenapa Maya?” tanya Bu Sari.
“Demam biasa.”
Bu Sari menyentuh dahi Maya dengan punggung tangan. Panasnya membuat ia segera menarik napas.
“Sudah diukur?”
“Termometernya rusak.”
“Sejak kapan?”
“Tadi malam.”
Maya tampak lemas. Bibirnya kering dan popoknya masih sama sejak pagi, menurut jawaban Siska.
“Kita ke Puskesmas Bergas sekarang.”
Siska menggeleng. “Tunggu Dimas pulang. Kalau ke sana, pasti disuruh beli obat lagi.”
“Biaya dipikirkan setelah anak diperiksa.”
“Ibu mudah bicara karena bukan Ibu yang membayar.”
Bu Sari menelepon Dimas dari telepon rumah. Ia menjelaskan suhu belum terukur, Maya lemas, dan sudah demam sejak malam. Dimas meminta mereka pergi lebih dulu dan berkata akan menyusul.
Siska masih menolak berdiri.
“Berapa uang yang kamu punya sekarang?” tanya Bu Sari.
Siska menyebut jumlah yang tidak cukup untuk kendaraan dan obat.
“Baik. Ibu bawa sisanya. Itu bukan utang. Tapi kita tidak menunggu.”
Bu Sari memasukkan dua baju ganti, popok, kartu kesehatan, dan botol ke tas. Ia meminta Siska memeriksa sendiri isinya agar tidak ada obat atau susu yang keliru. Maya kembali merengek ketika dipindahkan, lalu menjadi terlalu diam.
Keheningan itu membuat Siska akhirnya berdiri.
Bu Sari tidak merampas Maya dari lengannya. Ia meletakkan tas bayi di meja dan berkata, “Kamu ibunya. Kamu ikut dan mendaftarkan. Kalau tidak ada kendaraan, Ibu cari sekarang.”
Ia lalu menghubungi Nara karena sepeda motor bukan pilihan aman untuk bayi demam. Nara datang dengan kendaraan sewaan kurang dari dua puluh menit kemudian.
“Bawa kartu kesehatannya,” kata Nara.
Siska menatapnya. “Kamu senang melihat aku gagal?”
“Tidak. Kita berangkat.”
Di Puskesmas Bergas, petugas triase mengukur suhu Maya dan segera membawanya ke ruang pemeriksaan. Siska diminta menjelaskan kapan demam mulai, berapa kali Maya minum, serta jumlah popok basah.
Jawaban tentang waktu berubah-ubah. Bu Sari menyampaikan hanya apa yang ia lihat sejak tiba. Nara mengatakan ia tidak berada di rumah itu dan tidak mengetahui keadaan sebelum panggilan.
Tenaga kesehatan memeriksa napas, kesadaran, tanda kekurangan cairan, dan sumber demam. Siska memberikan persetujuan untuk tindakan yang dijelaskan. Maya menerima penanganan awal dan pemantauan sesuai hasil pemeriksaan.
Nara menunggu di sisi ruangan dan tidak menjawab ketika petugas bertanya kepada orang tua. Saat Siska lupa jam minum terakhir, Nara tidak menebak. Bu Sari hanya menyebut botol yang masih penuh ketika ia tiba.
Petugas menimbang Maya dan membandingkan hasil dengan kunjungan sebelumnya. Angka tersebut dicatat sebagai bagian dari penilaian, bukan diumumkan kepada ruang tunggu. Ia juga menanyakan obat apa pun yang sudah diberikan di rumah. Siska mengaku hanya mengompres dengan air dan belum memberi obat.
Setiap jawaban diulang kembali agar tidak terjadi salah catat. Dimas yang datang kemudian diminta membaca ringkasan dan menambahkan informasi bila mengetahui hal berbeda.
“Mengapa baru dibawa sekarang?” tanya petugas.
Siska menunduk. “Saya kira demam biasa.”
“Apakah ada kendala kendaraan?”
“Biayanya.”
Petugas mencatat jawaban tersebut, termasuk waktu gejala menurut wali dan waktu anak tiba. Ia menjelaskan bahwa demam pada bayi disertai lemas atau berkurangnya minum tidak boleh ditunda. Fasilitas dapat membantu menjelaskan pilihan layanan dan pembiayaan, tetapi pemeriksaan awal harus dicari segera.
Nara membayar biaya darurat yang belum dapat ditanggung saat itu. Ia meminta tanda terima atas nama pelayanan Maya, bukan kuitansi pinjaman kepada Siska.
“Aku akan mengganti,” kata Dimas ketika akhirnya tiba.
“Simpan uangmu untuk tindak lanjut yang dijelaskan petugas,” jawab Nara. “Ini bukan harga untuk hak apa pun atas Maya.”
Siska tertawa pahit. “Kamu selalu harus mengatakan itu.”
“Karena kamu selalu mengira bantuan adalah pertukaran.”
Bu Sari berdiri di samping ranjang pemeriksaan. Ia melihat tubuh kecil Maya yang berkeringat dan teringat bagaimana Siska menyebut biaya sebelum menyebut gejala.
“Dimas,” katanya, “kamu harus tahu jadwal minum, kontrol, dan tanda bahaya anakmu. Jangan pulang kerja lalu menyerahkan semua kepada Siska.”
Dimas memandang lantai. “Aku kira dia mengurus.”
“Mengira bukan mengurus.”
Setelah suhu Maya mulai turun dan ia dapat minum sedikit, petugas menjelaskan rencana pemantauan. Jika keadaan memburuk, mereka harus menuju layanan lanjutan tanpa menunggu pagi. Jadwal kontrol ditulis dan diterangkan kepada kedua orang tua.
Siska membubuhkan tanda tangan penerimaan penjelasan. Dimas mengambil salinan.
Bu Sari meminta Dimas menyebut kembali siapa yang akan berjaga malam itu. Dimas berjanji mengambil cuti satu hari, sedangkan Bu Sari akan datang pagi untuk membantu. Siska tidak menyukai pengaturan tersebut, tetapi petugas menekankan bahwa jadwal pengasuh harus jelas selama pemantauan.
Nara menawarkan mengirim makanan untuk orang dewasa agar mereka tidak memakai alasan memasak untuk meninggalkan Maya. Ia tidak menawarkan membawa bayi ke rumahnya.
“Kalau suhu naik atau Maya sulit minum, telepon layanan, bukan aku,” katanya kepada Dimas. “Aku bisa membantu kendaraan, tetapi keputusan medis datang dari tenaga kesehatan.”
Dimas menyimpan nomor puskesmas dan layanan darurat di ponselnya. Untuk pertama kali, ia menulis jadwal kontrol dengan tangannya sendiri.
Nara tidak meminta membawa Maya pulang. Ia tidak memiliki keputusan hukum untuk itu, dan keadaan klinis saat itu ditangani bersama wali yang hadir. Namun ia meminta petugas mencatat nomor telepon kedua orang tua serta Bu Sari sebagai kontak keluarga tambahan dengan persetujuan Dimas.
“Mengapa nomor Nara tidak dimasukkan?” tanya Siska.
“Karena ini anak kalian,” jawab Nara. “Aku bukan pengganti orang tuanya.”
Kalimat itu tidak menghapus tanggung jawabnya sebagai orang dewasa yang melihat bahaya. Ia tetap menyimpan tanda terima dan waktu panggilan dalam catatan keluarga, tanpa mengambil salinan rekam medis yang bukan haknya.
Yang ia miliki hanyalah catatan tindakan dirinya sendiri, bukan hak atas rahasia klinis Maya. Ia menyerahkan salinan jadwal kontrol kepada Dimas, menyimpan kuitansi pembayarannya sendiri, dan membiarkan berkas pemeriksaan tetap berada di tangan wali serta petugas.
Sebelum mereka meninggalkan ruangan, seorang tenaga kesehatan meminta Dimas dan Siska tetap duduk.
“Kami perlu membicarakan keterlambatan membawa Maya,” katanya. “Ini bukan penetapan kesalahan, tetapi kami harus menilai dukungan yang tersedia di rumah.”
Siska langsung menegang. “Saya sudah membawanya.”
“Setelah demam sejak tadi malam dan ada tanda minum berkurang. Kami ingin mencegah kejadian berulang.”
Petugas melihat kepada kedua orang tua, lalu kepada Bu Sari sebagai anggota keluarga yang menemukan keadaan bayi.
“Apakah keluarga bersedia jika kami membuat rujukan kepada pekerja sosial untuk penilaian dan dukungan?”