Kisah petualangan seorang pemuda yang dipilih semesta untuk pergi bersama para roh pendampingnya ke dunia lain. Disana mereka akan membantu membereskan semua kekacauan yang di sebabkan oleh para pasukan Iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ya'purmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kembali Penyelamat Desa Puruk Antas
Sembari menunggu sang elang kembali, Ipul terus berpikir benarkah tentang semua yang di cerita gadis itu. Tak lama setelah itu sang elang pun datang, dan mereka berdua pun langsung bergegas kembali ke istana.
Di sepanjang perjalanan pulang mereka pun berbincang mengenai lokasi gadis itu berada, dan apa saja yang ada di sekitar markas mereka.
Setelah mereka sampai di istana, Ipul pun menceritakan semua informasi yang di berikan gadis tersebut kepada Bangkui.
Mereka pun berencana untuk mengawasi pergerakan komplotan gadis tadi mulai malam ini.
Karna malam ini akan di adakan ritual pemanggilan roh Usang oleh Raja dan yang lainnya, Bangkui pun meminta sang elang dan Nyaring untuk mengawasi pergerakan mereka malam ini.
Di saat malam tiba, sang elang dan Nyaring pun mulai bergerak berangkat untuk melaksanakan tugas mereka.
Setelah mereka berdua berangkat, yang lain pun mulai berkumpul untuk bersiap melakukan ritual yang sudah direncanakan malam ini.
Sembari menunggu di mulainya ritual tersebut, Bangkui pun memberitahukan kepada ke dua sang raja yang ada di situ tentang rencana sebuah kelompok yang akan bergerak besok malam.
Lalu mereka bersama-sama pun menyusun berbagai rencana untuk mencegahnya. Sang Raja pun memerintahkan untuk memperkuat pengamanan Mustika yang terletak di ruang kendali.
Dan setelah selesai mengadakan ritual pemanggilan roh, nantinya raja akan membawa Bangkui dan yang lain ke ruang tersebut.
Setelah selesai membahas semua rencana pencegah penyerangan itu, mereka pun mulai bersiap melakukan ritual pemanggilan roh leluhur bangsa gaib di kota itu.
Ritual itu dipimpin langsung oleh kedua raja kota tersebut yaitu Balaos dan Mazqur sebagai pembaca mantranya.
Seusai mereka berdua melafalkan mantra pemanggilan, seketika suasa di tempat ritual itu berubah seperti memberi tanda akan datang sesuatu.
Tak lama setelah itu terlihat seekor burung yang lumayan besar terbang menuju ke arah tempat ritual berlangsung. Burung itu pun berputar-putar di atas tempat ritual di adakan sebelum turun menghampiri mereka.
Lalu dengan perlahan burung tersebut turun dari udara menuju tempat yang sudah disediakan dalam ritual tersebut.
Burung itu memiliki paruh yang besar dan panjang berwarna kuning dengan jambul di kepalanya, berbulu hitam dengan kombinasi warna putih dan kuning di tubuhnya.
Sebelum kaki burung itu menyentuh permukaan tanah, perlahan burung tersebut berubah menjadi sosok lelaki muda yang gagah memegang sebuah pedang pendek berkepala burung elang.
Lelaki itu berambut panjang terurai berwarna merah dengan ikat kepala kulit hewan serta terdapat beberapa bulu burung di kepalanya.
Setelah sudah dalam bentuk manusia sempurna barulah Balaos mulai memberitahu niatnya memanggil leluhurnya itu.
Karna mendengar dari Balaos ada seseorang yang ia kenal ingin bertemu, Usang pun terkejut.
Karna semua yang di kenalnya pasti sudah tiada lagi saat ini, kecuali mereka yang pernah menyelamatkan dirinya dulu. Tapi ia mengira mereka semua telah tiada dan ia tidak bisa bertemu lagi.
Setelah Usang mendengar nama mereka di sebutkan oleh Balaos, wajahnya pun terlihat sangat bahagia.
Ia tidak menyangka jika takdir membawa mereka untuk bertemu lagi setelah begitu lama hilang tanpa sebab waktu itu.
Tanpa membuang waktu ia pun di hantarkan untuk bertemu mereka di sebuah ruangan khusus yang telah di sediakan oleh sang raja.
Begitu melihat Ipul yang sedang berdiri menyambut kedatangannya, Usang pun dengan cepat melompat ke arah pria muda itu dan langsung memeluk orang yang begitu berjasa baginya.
Melihat Usang yang telah berubah menjadi seorang lelaki yang kuat lagi sakti, Ipul pun sangat senang.
Tak lupa Usang memeluk kakek dan nenek buyutnya yaitu Bangkui dan Ishah. Usang sangat bahagia saat itu, karna ia benar-benar bisa bertemu mereka lagi setelah lama berpisah tanpa mengucapkan salam perpisahan.
Setelah momen pertemuan selesai, mereka pun duduk untuk memulai perjamuan yang sudah di siapkan oleh istana untuk mereka semua yang ada di sana.
Sambil menikmati perjamuan malam itu, mereka pun bercerita semua yang mereka lalui satu sama lain hingga bisa bertemu seperti sekarang ini.
Tak lupa Usang menceritakan tentang Kambang yang juga memutuskan mengikuti jejaknya untuk menjaga keturunannya juga.
Sama sepertinya, Kambang juga bisa di minta datang jika di butuh kan dengan ritual pemanggilan oleh keturunannya saja. Bahkan dia sendiri tidak bisa memanggil adiknya tersebut untuk datang ke hadapannya.
Kambang meminta jika Usang bertemu mereka lagi nantinya, Tolong berikan kalung itu kepada nek Ishah. Karna kalung itu bisa di gunakan nek Ishah untuk memanggilnya kapan saja.
Setelah mereka selesai bercerita tentang kisah mereka masing-masing, mereka semua pun mulai membahas tentang penyerangan dari kelompok yang tidak di kenal itu.
Mereka ingin merebut Mustika Zamrudas yang Usang pakai dulu untuk melindungi kota ini. Usang mengatakan jika Mustika itu sampai hancur atau hilang, maka kota ini dalam bahaya besar.
Sembari menunggu Nyaring dan Sang Elang kembali dari tempat pengintai dan memberi informasi yang mereka dapatkan dari sana.
Setelah selesai perjamuan makan malam itu, semua para petinggi yang ada di istana di minta berkumpul di ruang kendali untuk mulai menyusun rencana serius demi mencegah hilangnya Mustika pelindung kota mereka.
Sementara itu Nyaring dan Sang Elang yang sudah berada di lokasi pengintaian nya mulai bergerak mencari tempat di mana para komplotan pencuri itu berkumpul.
Dengan menelusuri satu persatu ruangan yang ada di gedung itu, Nyaring pun berhasil menemukan ruangan tempat mereka berkumpul Untuk menyusun rencana penyerangan istana besok malam.
Karna Nyaring bukan roh gaib dari dunia itu dengan mudah ia bisa masuk ke ruangan tersebut tanpa terlihat seluruh orang yang ada di situ.
Nyaring pun dengan tenang duduk untuk mendengarkan semua rencana mereka dari awal hingga akhir.
Setelah mereka selesai mengadakan rapat penyusunan rencana penyerangan istana besok, mereka pun membubarkan diri dari ruangan tersebut satu persatu.
Di ruangan yang sudah kosong itu hanya tinggal Nyaring dan sebuah alat proyeksi berukuran kecil di atas meja rapat yang mereka pakai untuk acuan rencana penyerangan besok.
Karena sudah tidak ada lagi yang harus Nyaring lakukan di situ, ia pun keluar dari ruangan tersebut dengan membawa alat yang terletak di atas meja tadi.
Lalu ia pun pulang ke istana bersama Sang Elang untuk melaporkan hasil pengintainya kepada tuannya.