Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Mobil Alphard hitam milik Hanum melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang. Di dalam kabin yang senyap, Hanum menyandarkan punggungnya pada kursi kulit yang nyaman. Sepasang matanya menatap lurus ke depan, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk pelan tas Chanel di pangkuannya. Kejadian di masjid tadi sama sekali tidak menguras emosinya, melainkan justru memicu adrenalinnya untuk segera memulai langkah berikutnya.
Hanum sengaja memilih langsung pulang ke rumah setelah akad nikah siri itu selesai. Dia menolak ikut serta dalam jamuan makan siang yang diadakan keluarga Sarah. Baginya, waktunya terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk menonton kepalsuan mereka. Lagipula, Hanum tahu betul, sebuah drama baru yang jauh lebih besar sedang dipersiapkan oleh Hanif dan ibunya. Mereka berencana merongrong istananya, dan Hanum tidak akan membiarkan benteng pertahanannya tidak siap.
Begitu mobil mewahnya berbelok memasuki kawasan residensial elit, gerbang besi hitam menjulang tinggi setinggi tiga meter yang membatasi rumah mewahnya mulai terlihat. Rumah bergaya klasik modern tiga lantai itu berdiri dengan megah, menjadi bukti nyata dari tetesan keringat dan kerja keras Hanum membesarkan Amara Modest.
Mobil berhenti tepat di depan pos penjagaan. Sebelum sang sopir sempat menekan tombol otomatis untuk membuka pagar, Hanum membuka kaca jendela belakang.
"Pak joko, panggil semua personel satpam yang bertugas hari ini. Saya mau bicara sekarang juga di depan gerbang," perintah Hanum, suaranya terdengar begitu dingin dan tegas.
Pak Joko, kepala sekuriti rumah yang sudah bekerja selama lima tahun, langsung sigap. Dalam waktu kurang dari tiga menit, empat orang satpam berbadan tegap dengan seragam safari hitam sudah berbaris rapi di samping mobil Hanum. Mereka menunduk takzim, merasakan aura intimidasi yang kuat dari sang nyonya besar.
Hanum turun dari mobil, berdiri tegak dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Dia menatap satu per satu wajah para penjaga keamanan itu.
"Dengarkan saya baik-baik," Hanum membuka briefing dengan nada tanpa kompromi. "Mulai hari ini, detik ini juga, posisi Mas Hanif di rumah ini bukan lagi sebagai tuan rumah. Secara hukum asal, seluruh kepemilikan rumah ini telah beralih. Jadi, kalian harus memperlakukan Mas Hanif layaknya seorang tamu."
Para satpam itu saling melirik sekilas, terkejut namun tidak berani menyela.
"Penjagaan gerbang depan harus diperketat dua kali lipat," lanjut Hanum, matanya menyipit tajam di balik kacamata hitam. "Dalam waktu dekat, beberapa hari ke depan, rumah ini akan kedatangan tamu yang sama sekali tidak penting. Mas Hanif kemungkinan besar akan nekat membawa perempuan simpanannya madu barunya dan ibunya untuk masuk ke sini. Aturan mainnya jelas jika mereka datang tanpa ada Mas Hanif di dalam mobil, dilarang keras membuka gerbang. Jika Mas Hanif yang membawa mereka, biarkan mereka masuk, tapi catat setiap gerak-gerik mereka. Jangan biarkan mereka membawa barang-barang aneh ke dalam pekarangan saya. Paham?!"
"Paham, Ibu Hanum!" jawab keempat satpam itu serempak dengan nada tegas.
"Bagus. Kembali ke pos kalian," ucap Hanum pendek sebelum kembali masuk ke dalam mobil. Mobil pun bergerak pelan memutari air mancur di halaman depan lalu berhenti tepat di bawah drop-off teras utama.
Melangkah masuk ke dalam rumah lantai tiga yang teramat luas itu, Hanum langsung disambut oleh keheningan yang megah. Namun, keheningan itu tidak akan bertahan lama. Hanum tidak mau menunda waktu. Dia langsung memanggil Bi Ani, kepala asisten rumah tangga yang paling senior di sana.
"Bi Ani, kumpulkan semua pekerja yang ada di rumah ini sekarang juga di ruang tengah lantai satu. Semuanya tanpa terkecuali. Saya beri waktu lima menit," ujar Hanum sambil menyerahkan tasnya kepada asisten pribadinya.
Rumah mewah tiga lantai milik Hanum memang membutuhkan perawatan ekstra. Tidak heran jika jumlah pekerja di dalam rumah itu totalnya mencapai dua puluh orang, terdiri dari asisten rumah tangga, bagian dapur, penatu, tukang kebun, hingga pengurus keperluan khusus anak-anak kembar mereka, Kayla dan Kenzie.
Lima menit kemudian, dua puluh orang pekerja sudah berbaris rapi dengan wajah tegang di ruang tengah yang berlantai marmer Italia. Mereka jarang sekali dikumpulkan secara mendadak seperti ini, kecuali ada hal yang sangat krusial.
Hanum berdiri di depan mereka, melepaskan kacamata hitamnya, menampilkan tatapan mata seorang CEO yang siap melakukan restrukturisasi total.
"Selamat siang semuanya," sapa Hanum datar. "Saya mengumpulkan kalian di sini untuk menegaskan kembali siapa yang membayar gaji kalian setiap bulan di rumah ini. Siapa yang menandatangani kontrak kerja kalian?"
"Ibu Hanum," jawab mereka serentak, beberapa ART mulai meremas jemari mereka karena gugup.
"Benar. Saya yang mempekerjakan kalian, dan saya yang memiliki hak mutlak atas rumah tiga lantai ini," tegas Hanum. "Oleh karena itu, mulai hari ini, kiblat kepatuhan kalian hanya kepada saya. Dalam beberapa hari ke depan, Mas Hanif akan membawa seorang wanita baru ke rumah ini. Wanita itu mungkin akan bersikap sok berkuasa, atau mungkin berpura-pura manis untuk mengambil hati kalian."
Hanum menjeda kalimatnya, memberikan tatapan memperingatkan yang sangat tajam. "Saya instruksikan kepada seluruh dua puluh orang di sini: tidak ada satu pun dari kalian yang boleh melayani wanita itu, ibunya, atau siapa pun dari pihak mereka. Jangan buatkan mereka minum, jangan bersihkan kamar yang mereka tempati, dan jangan pernah mencuci pakaian mereka. Jika saya melihat ada satu saja di antara kalian yang melayani mereka meskipun hanya membuatkan segelas air, hari itu juga saya akan memutuskan kontrak kerja kalian tanpa pesangon sepeser pun. Apakah instruksi saya cukup jelas?"
"Jelas, Ibu," jawab Bi Ani mewakili yang lain dengan suara agak bergetar. Mereka semua tahu betul bahwa Hanum tidak pernah main-main dengan ucapannya. Bagi mereka, kehilangan pekerjaan di rumah ini adalah bencana, karena Hanum selalu menggaji mereka jauh di atas rata-rata pasar.
"Baik. Kebun dan area luar tetap diurus seperti biasa. Sekarang, kalian semua boleh kembali bekerja, kecuali Bi Ani. Bi, ikut saya ke lantai atas," perintah Hanum.
Hanum melangkah tegap menaiki tangga melingkar menuju lantai dua, diikuti oleh Bi Ani yang berjalan menunduk di belakangnya. Tujuan mereka adalah kamar tidur utama yang selama bertahun-tahun ini ditempati oleh Hanum dan Hanif.
Begitu pintu kamar jati yang besar itu terbuka, aroma maskulin milik Hanif masih terasa samar di udara. Hanum berjalan menuju lemari pakaian besar yang terbagi menjadi dua sisi.
"Bi Ani, ambilkan koper besar hitam milik Mas Hanif di gudang atas," titah Hanum sambil mulai membuka sisi lemari bagian Hanif.
Tanpa menunggu lama, Bi Ani kembali membawa koper yang diminta. Dengan gerakan yang sangat efisien dan dingin, Hanum mulai mengeluarkan seluruh pakaian kerja, jas-jas mahal, kaus oblong, hingga dasi-dasi koleksi Hanif. Dia tidak melemparkannya dengan kasar, melainkan melipatnya dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam koper satu per satu. Hanum tidak sedang mengamuk; dia sedang melakukan pembersihan secara sistematis.
"Semua barang-barang pribadi Mas Hanif, termasuk jam tangan cadangan, parfum, dan berkas-berkasnya yang ada di laci meja rias ini, masukkan semua ke dalam koper, Bi. Jangan ada yang tersisa satu piringan kecil pun di dalam kamar saya," kata Hanum datar.
"Baik, Ibu. Lalu... koper ini nanti diletakkan di mana, Bu?" tanya Bi Ani hati-hati sambil tangan sibuk mengemas barang.
"Pindahkan seluruh koper dan barang-barang Mas Hanif ke paviliun samping lantai satu yang dekat dengan area jemuran. Kamar kosong di sana yang biasanya dipakai untuk gudang bersih, rapikan sedikit. Letakkan semua barangnya di sana," jawab Hanum tanpa beban.
Paviliun samping itu memang layak huni, namun lokasinya sangat jauh dari akses utama lantai dua dan langsung berbatasan dengan area kerja para ART. Dengan memindahkan barang-barang Hanif ke sana, Hanum secara tidak langsung telah mengusir suaminya dari area privasinya, menurunkan derajat suaminya dari pemilik kamar utama menjadi penghuni paviliun belakang.
Setelah memastikan kamar tidurnya bersih dari energi dan aroma Hanif, Hanum kembali turun ke lantai satu, menuju ruang tamu utama. Di sana, di dinding tengah yang berlapis backdrop kayu mewah, terpampang sebuah foto keluarga berukuran sangat besar dalam bingkai ukiran emas. Foto itu diambil dua tahun lalu, menampilkan Hanum yang tersenyum anggun, kedua anak kembarnya, dan Hanif yang merangkul pinggangnya dengan mesra.
Hanum menatap foto itu selama beberapa detik. Tidak ada air mata, tidak ada keraguan. Yang ada hanyalah rasa muak yang mendalam mengingat pria di dalam foto itu baru saja mencium tangan wanita lain beberapa jam yang lalu di masjid.
"Bi Ani, panggil tukang kebun di depan. Suruh mereka turunkan foto pernikahan dan foto keluarga ini sekarang juga," perintah Hanum tegas.
Dua orang tukang kebun segera masuk membawa tangga lipat. Dengan hati-hati, mereka menurunkan bingkai besar yang berat itu dari dinding.
"Ibu, ini fotonya mau disimpan di gudang atau bagaimana?" tanya salah satu tukang kebun.
"Bawa ke halaman belakang. Bakar sampai menjadi abu. Saya tidak mau melihat sepotong pun dari kertas itu tersisa di rumah ini," jawab Hanum dingin, membuat para pekerja yang mendengarnya bergidik ngeri. Hanum benar-benar sedang menghapus eksistensi Hanif dari hidupnya.
Sebagai gantinya, Hanum mengeluarkan sebuah bingkai baru berukuran sama yang sudah dia persiapkan sejak tiga hari lalu dari dalam ruang kerjanya. Itu adalah foto terbaru Hanum bersama Kayla dan Kenzie saat mereka berlibur di Bali sebulan yang lalu. Di foto itu, Hanum tampak begitu bercahaya, diapit oleh kedua anak kembarnya yang tertawa riang tanpa ada sosok Hanif di antara mereka.
"Pasang foto yang ini sebagai gantinya," tunjuk Hanum pada dinding yang kini telah kosong.
Para pekerja dengan sigap menaikkan bingkai baru itu. Begitu terpasang sempurna, ruang tamu mewah itu mendadak memancarkan atmosfer yang berbeda. Foto itu menegaskan sebuah pesan tersirat yang sangat kuat bagi siapa pun yang melangkah masuk ke dalam rumah ini bahwa istana megah ini hanya milik Hanum, Kayla, dan Kenzie.
Hanum mundur beberapa langkah, menatap foto dirinya bersama kedua anaknya dengan senyuman kepuasan yang tertahan. Meskipun di atas kertas hukum negara dia masih berstatus sebagai istri pertama yang sah dari Hanif, Hanum telah berhasil membuang dan membumihanguskan seluruh kenangan yang memperlihatkan sosok suaminya dari dalam rumahnya sendiri. Fondasi pertahanan sudah selesai dibangun, aturan main sudah ditetapkan dan kini Hanum hanya perlu duduk manis di atas takhtanya, menunggu kedatangan Hanif bersama madu murahan dan ibu tirinya masuk ke dalam jebakan neraka yang sesungguhnya.
Tusuk niiih 🤺🤺🤺🤺🤺 ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....