Arfan Malik Adyatma di hadapkan dengan sebuah kenyataan atas kepergian sang Ayah dan perusahaan milik keluarganya yang harus collap. Di usia 23 tahun dia harus mengemban tanggung jawab untuk Bunda dan adiknya serta memperjuangkan perusahaan agar tetap menjadi milik keluarganya.
Di tengah kepelikan cobaan yang dia hadapi, seseorang yang mengaku sahabat sang Ayah mengulurkan tangan bersedia membantu dia menyelesaikan kuliah dan memperjuangkan perusahaan milik sang Ayah namun dengan persyaratan yang membuat dirinya galau untuk menerimanya.
Keputusan apa yang akan Arfan ambil, berjuang dengan tangannya sendiri atau menerima bantuan dari sahabat Ayahnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deutzyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Cahaya dari lampu membuat Nasha harus mengerjapkan matanya, dia melihat langit putih dan aroma khas yang dia yakini adalah rumah sakit, tangan kanannya terasa kebas karena ada berat yang di rasakan. Suami tampannya itu nampak tertidur sambil bersandar pada punggung tangannya.
“ Pa..pa.” panggilnya lirih sambil menggerakkan tangannya.
Arfan yang merasakan pergerakan tangan langsung bangun dari tidurnya, dia melihat istrinya sudah sadar.
“ Alhamdulillah kamu udah sadar.. Masih sakit perutnya..?” Nasha menggeleng.
Arfan pun langsung menekan tombol di samping ranjang Nasha.
“ Ha..us.” Arfan bangun dari duduknya lalu mengambilkan botol mineral dan memasukan straw agar istrinya mudah untuk meminum.
Dokter datang dan segera melakukan pengecekan. Tangan Arfan terus menggenggam jemari Nasha yang terasa dingin.
“ Saat ini kondisi istri anda sudah membaik, perutnya pun sudah tidak sekencang waktu pertama datang, saya cek tadi juga belum ada pembukaan namun untuk memastikan kondisi bayinya akan di lakukan pengecekan USG.”
“ Baik dokter.. Terima kasih.” ucap Arfan.
Dokter keluar dari ruang rawat Nasha, tak lama Dad datang dengan kedua ajudannya.
“ Bagaimana kondisimu..?” ucap Dad to the point
“ Daddy..?” ucap Nasha kaget.
“ Aku yang kasih tau Dad..”
“ Sudah membaik Dad, tapi nanti akan di cek USG untuk melihat kondisi baby.”
“ Kita pindah rumah sakit saja.. Dad sudah hubungi dokter Olif, kamu urus kepulangannya.” ucap Dad pada Arfan.
“ Baik Dad..” Arfan hanya bisa menurut permintaan Dad.
“ Benar kamu udah tidak sakit…?” tanya Dad pada putrinya.
Nasha mengangguk, sebenarnya perutnya masih sedikit sakit.
“ Apa di vila kamu melakukan aktifitas berat..?”
“ Tidak Dad, aku terlalu senang bisa liburan.. Jadi di sana aku sedikit aktif.”
Dad menghembuskan nafasnya, dia sangat tau sekali putrinya itu selalu semangat jika sudah liburan, aktif bergerak tidak kenal lelah tapi sekarang kondisinya berbeda, dia sedang hamil di mana rentan lelah dan perut yang tiba-tiba kencang seperti saat ini.
“ Dad minta setelah ini kamu tidak melakukan aktifitas apapun, atau kalau perlu kamu diam saja di atas tempat tidur.”
“ Dadddyy…” rengek Nasha.
“ Tidak ada protes.. Jika itu untuk keselamatan kamu dan cucu Dad, akan Dad lakukan.”
Nasha akhirnya di izinkan untuk pulang, Dad meminta Nasha dan Arfan satu mobil dengannya menuju vila.
Helikopter sikorsky s-92 VVIP sudah siap di landasan. Yang ikut dengan Nasha dan Arfan hanya Eve dan Matt. Sementara semua barang-barang akan di urus oleh Mateo dan Felix.
“ Gue pamit duluan ya guys..” ucap Nasha pada teman-temannya.
“ Iya Sha, kita ketemu di Jakarta..” jawab Eunbie.
“ Teo, Felix.. Kalian urus semua.”
“ Baik Bos..”
Helikopter sudah terbang meninggalkan vila menyisakan keterdiaman 6 orang di sana.
“ Hei, kok kamu nangis..?” ucap Zayan saat melihat Ayana menitikan air mata.
“ Aku takut banget waktu liat Nasha kesakitan tadi.. Aku juga takut kalau baby nya kenapa-napa?”
Zayan menarik tubuh Ayana dalam pelukannya, “ dokter bilang kalau kondisi Nasha sudah membaik, semoga baby ny juga baik-baik saja.”
“ Sepertinya setelah ini Nasha akan di larang buat beraktifitas di luar rumah, kamu liat sendiri kan Arfan harus beberapa kali hampir jantungan karena bumil terlalu aktif.” Ayana mengangguk.
“ Kita sekarang juga harus siap-siap buat pulang..” ucap Fattan.
Liburan mereka harus berakhir, kejadian yang menimpa Nasha tadi di luar kendali mereka. Meskipun begitu mereka lega karena Nasha baik-baik saja.
Helikopter sudah tiba di landasan rumah sakit, dokter Olif dan perawat sudah menunggu mereka. Nasha di gendong dan di letakkan di brankar.
Setelah tiba di ruangan dokter, pengecekan pun langsung di lakukan.
“ Baby nya sehat, detak jantungnya pun normal..” Nasha dan Arfan melihat ke layar hitam di depannya.. “ Sebelumnya apa yang Nona lakukan sebelum perutnya terasa kencang..?”
“ Saya sempat berlari dokter tapi tidak kencang tidak lama setelah itu perutnya sakit.”
“ Untuk saat ini kondisi Nona dan baby baik-baik saja, namun mohon lebih hati-hati.”
“ Baik dokter..” ucap Nasha.
“ Istri saya harus di rawat inap atau bisa langsung pulang dokter..?”
“ Saya sarankan untuk rawat inap dua hari agar Nona bisa benar-benar istirahat..” jawab dokter Olif.
Dad meminta ruang VVIP untuk putrinya itu, Dad juga sudah menghubungi Mom dan keluarga Arfan.
“ Daddy harus pergi lagi.. Kamu baik-baik di sini, ingat jangan banyak bergerak.” ucap Dad mengecup kening Nasha.
“ Iya Dad.. take care.” ucap Nasha.
“ Pastikan ponsel kalian selalu aktif agar Dad bisa telepon kapan pun.” Arfan mengangguk.
“ Sayanggg…” Arfan memeluk tubuh Nasha.
“ Papa, maafin aku..” ucap sambil terisak.
Arfan melepas pelukannya lalu mengusap air mata di pipi chubby Nasha.
“ Aku minta sama kamu mulai hari ini lebih hati-hati, aku nggak mau kamu dan baby kita kenapa-napa.”
“ Iya Papa..”
“ Sekarang kamu bobo ya, biar badan kamu nggak lemas lagi.. Makasih sayang, kamu udah kuat bertahan.” ucap Arfan mengusap dan menciumi perut Nasha.
Beberapa jam kemudian, Zayan dan yang lain tiba di rumah sakit. Saat mereka tiba Nasha masih tertidur, mereka pun memutuskan menunggu sambil mengobrol di sofa ruang rawat Nasha.
“ Papa…” panggil Nasha.
“ Iya sayang..” Arfan menghampiri Nasha.
“ Aku lapar.. Mau makan chicken katsu.”
“ Iya, aku pesenin.. Mau apa lagi?”
“ Mau eskrim, roti bakar keju sama banana roll cake eh tambah kentang goreng.”
Arfan terkekeh mendengar request makanan yang di pinta istrinya, sedangkan yang lain saling memandang takjub.
“ Ya ampun bumil, makannya nggak kira-kira.. Sanggup ngabisin semua?” tanya Zayan.
“ Gue kan makan buat berdua, nanti juga Ayana pas hamil lebih maruk dari gue..”
“ Ehh, belum tentu juga..” protes Ayana.
“ Tenang sayang, aku siap kalau kamu hamil terus minta banyak makanan.”
“ Mantap Ay, calon ayah siaga..” kekeh Nasha.
Ayana hanya bisa merona, dia tidak bisa berkata apa-apa kalau Zayan sudah mulai berbicara soal masa depan.
“ Kalian rencana mau balik ke Jepang hari apa Bie, Ay..?” tanya Nasha.
“ Lusa kami pulang biar bisa istirahat sebelum masuk kuliah lagi.” jawab Ayana.
Dering ponsel di tas selempang Eunbie menarik perhatian mereka, Eunbie pun mengambil ponsel dan nama Dave tertera di sana.
“ Gue angkat telepon bentar..” Eunbie keluar dari ruangan Nasha menuju bangku taman di depan ruang rawat Nasha.
“ Iya Dave..”
“ Gue lagi di rumah sakit.. Kenapa?”
“ Bukan gue, tapi Nasha..”
“ Ohh, jadi setelah dari Ayana sekarang sok ngerayu gue.. Ckck.”
“ Ihh ogah banget, eh tapi gapapa deh.. Yakin lo sanggup jadi cowok gue? wkwk.”
“ Gue bilangin sama Ayana ya kalau Dave sudah berpaling ke gue..haha.
Fattan berdiri tidak jauh dari tempat Eunbie menerima telepon, dan dia mendengar semua. Dia pun langsung pergi karena tidak mau mendengar percakapan Eunbie dan Dave.
“ Semua aja lo rayu Dav, pertama Nasha, terus Ayana sekarang gue..”
“ Gue udah ada seseorang yang gue sayang tapi nggak tau deh hubungan gue sama dia kaya diam di tempat.”
“ Gue tau lo cuma becanda, gue juga nanggepinnya becanda.. Udah ahh, gue mau masuk ke dalam lagi.”
Eunbie pun memutuskan teleponnya, dia melangkah masuk kembali ke dalam.
“ Telepon dari siapa Bie..?” tanya Nasha.
“ Dari gebetannya Ayana..” ucap Eunbie asal membuat Zayan menoleh pada gadis itu.
“ Bukan sayang, dia itu teman kita bertiga.” ucap Ayana menjelaskan.
“ Namanya Dave, dia itu deket sama kita dari SMA.. emang dasar playboy semua di tembakin sama dia, pertama Nasha, terus Ayana sekarang ke gue..” cerita Eunbie.
“ Dia nembak lo Bie..?” tanya Nasha dan Ayana berbarengan.
“ Kalian kan udah tau dia gimana..?”
“ Dasar kadal burik, semuanya aja di tembak sama dia..”
“ Cieee, yang pernah jadi friendzone nya sewot..” ledek Eunbie.
“ Sayang, kalau kamu nuduh macem-macem sama aku, aku beneran marah ya..” ancam Ayana. “ Kalau mau jelas tanya langsung sama aku.”
“ Iya..” jawab Zayan, alamat sama nasib nih kaya Arfan tapi kayanya cewek gue lebih sangar.. Gumamnya.
“ Ehh, Fattan kemana..?” Tanya Eunbie.
“ Tadi dia ikut keluar waktu lo terima telepon dari Dave, emang nggak nyamperin lo Bie..?” ucap Ayana.
Eunbie menggeleng, apa jangan-jangan cowok itu mendengar semua percakapan dia sama Dave..?
TBC..!!
penasaran aku