NovelToon NovelToon
MY IDOL MY SUGAR DADDY

MY IDOL MY SUGAR DADDY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~TATAPAN YANG MEMBUNUH

Malam semakin larut, langkah kaki Jack terdengar tergesa-gesa memasuki lorong apartemen tua Disya. Ia belum tahu alamat tempat tinggal barunya, jadi satu-satunya tujuan yang ia ingat hanyalah unit kecil yang dulu sering ia datangi. Tangan kirinya gemetar saat ia mencoba memasukkan kode sandi yang dulu pernah diberitahukan Disya kepadanya—namun layar pintu digital hanya menampilkan tulisan merah: Kode Salah.

Denyut cemas di dadanya semakin kuat. Ia mencoba sekali lagi, dua kali, hingga berkali-kali namun tetap tidak berhasil. Rasa takut menyelimuti pikirannya, membuatnya tak sadar memukul-mukul pintu kayu itu dengan kepalan tangan. Bunyi gedoran yang keras memecah keheningan lorong, hingga akhirnya pintu sebelah terbuka dengan kasar.

Seorang wanita paruh baya keluar dengan wajah kesal, menatap tajam ke arah Jack. "Hei! Kamu siapa malam-malam berisik sekali?! Ingin mengusir penghuni lain ya? Pergi sana cari tempat lain buat cari masalah!"

Jack berbalik, terkejut namun segera menenangkan diri. "Maaf Bu, saya mencari adik perempuan saya. Namanya Disya Putri, apakah dia masih tinggal di unit ini?"

Wanita itu mendengus, lalu memandang Jack sekilas dari ujung kepala hingga kaki tanpa mengenali wajah yang sering muncul di layar televisi itu. "Disya? Gadis cantik yang dulu sering lewat sambil membawa tas sekolah? Dia sudah pindah hampir sebulan yang lalu, Nak. Tidak tinggal di sini lagi."

Mendengar itu, kaki Jack rasanya seketika lemas. Ia bertanya-tanya ke mana gadis itu pergi, kenapa tidak memberitahunya, dan siapa yang memindahkannya. Frustrasi bercampur kekhawatiran membuatnya ingin berteriak memanggil seluruh kota Seoul untuk mencari Disya. Ia berjalan keluar dari gedung itu dengan kepala pening, akhirnya memutuskan pergi ke sebuah bar eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh kalangan tertentu saja. Di sana ia meneguk beberapa gelas minuman keras, berharap bisa menenangkan pikiran yang kacau, namun tak kunjung berhasil. Akhirnya ia pulang ke apartemennya dengan tekad: besok pagi ia akan mencari tahu keberadaan Disya sampai dapat.

 

Sementara itu, pagi hari mulai menyingsing. Disya terbangun dengan tubuh terasa kaku dan mata yang berat. Hal pertama yang ia lakukan adalah meraih ponselnya—layarnya gelap total, baterai benar-benar habis. Ia segera menyambungkan kabel pengisian daya, lalu berjalan ke kamar mandi membersihkan diri. Air dingin yang membasuh wajahnya perlahan membuatnya merasa lebih segar, meski rasa sakit di dadanya masih tersisa.

Setelah berganti pakaian, ia menyalakan kembali ponselnya. Jantungnya berdebar berharap ada satu pesan pun dari Min Jae. Namun layar notifikasi bersih, kosong melompong. Tak ada satu pun sapaan, tak ada penjelasan, tak ada kabar. Yang ada hanyalah puluhan pesan belum dibaca dan panggilan tak terjawab—semuanya dari Jack.

Membaca deretan pesan yang penuh kegelisahan, Disya bisa membayangkan betapa paniknya sahabatnya itu. Ia tak tega membiarkan Jack cemas lebih lama lagi, lalu segera menekan tombol panggil balik. Hingga dering ketiga, panggilan itu baru tersambung.

"AKHIRNYA KAMU MENJAWAB!"

Suara Jack meledak begitu keras hingga Disya refleks menjauhkan ponsel dari telinganya, telinganya terasa berdenging. Belum sempat ia menyapa, layar berubah menjadi tampilan panggilan video. Wajah Jack terlihat jelas di sana—pucat, berantakan, dan penuh kekhawatiran yang memuncak.

"Kamu dari mana saja?! Kenapa ponselmu baru aktif sekarang?! Apa kamu ingin membunuhku karena terlalu cemas memikirkanmu?!" bentaknya.

"Oppa... maafkan aku," jawab Disya pelan. "Aku pulang langsung ke apartemen baru, lalu tertidur. Ternyata baterai ponselku habis total semalaman."

Jack mengamati wajah gadis itu lekat-lekat, lalu alisnya bertaut erat. "Tunggu... kenapa matamu merah dan bengkak begitu? Apa kamu baru saja menangis?"

Disya menepuk jidatnya sendiri dalam hati. Ia lupa bekas tangis semalam belum hilang sama sekali. "Bukan... ini efek baru bangun tidur saja Oppa, mataku memang begini kalau kurang tidur."

"Kamu pikir aku anak kecil yang bisa dibohongi begitu saja?" nada Jack berubah tegas dan dingin. "Serlok sekarang juga ke tempatmu sebelum aku benar-benar marah dan mencari tahu sendiri lewat cara kasarku."

"Baiklah, baiklah!" Disya menyerah. "Tunggu saja sebentar, aku kirimkan lokasinya."

Kurang dari satu jam kemudian, suara deru mesin besar terdengar mendekat ke halaman parkir apartemen. Jack datang mengendarai motor besar Harley-Davidson Fat Boy, motor yang gagah dan berkarisma, sangat cocok dengan gaya bad boy-nya yang penuh tato dan tindik di wajah. Ia memarkirkan motornya dengan cepat, lalu berlari masuk menuju lantai tempat Disya tinggal.

Bel pintu berbunyi berkali-kali. Begitu pintu terbuka, mata Jack membelalak melihat kondisi Disya—bukan hanya mata yang bengkak, tapi hidungnya pun memerah seolah terserang flu berat. Tanpa bertanya lebih jauh, Jack langsung menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya yang erat dan hangat. Ia mencium puncak kepala Disya berulang kali.

Disya yang sudah lama mendambakan kehangatan dan rasa aman seperti itu akhirnya runtuh. Ia menangis tanpa suara, memeluk pinggang Jack sekuat tenaga, seolah takut ditinggalkan lagi. Jack hanya diam membiarkannya, mengusap punggung dan kepala gadis itu dengan lembut hingga isak tangisnya mereda.

"Sudah tenang?" tanyanya pelan.

Disya mengangguk, tapi bukannya bercerita ia justru mendongak dengan mata berbinar lapar. "Oppa... aku lapar sekali. Boleh kita makan di luar saja?"

Jack tersenyum tipis sambil mencubit pelan pipi gembil Disya. "Dasar perut kosong. Sana siap-siap, aku tunggu di sini."

Saat Disya masuk ke kamar berganti pakaian, Jack berjalan perlahan menyusuri ruangan. Matanya menyapu setiap sudut, berharap menemukan sekilas foto atau jejak identitas kekasih rahasia Disya. Namun dinding-dindingnya polos, lemari pajangan hanya berisi barang-barang baru. Tak ada satu pun foto pria yang menjadi pacarnya.

Setelah makan bersama di restoran privat, Jack mengantar Disya pulang kembali ke apartemennya. Waktunya sudah tidak banyak karena sebentar lagi ia harus bersiap untuk sesi pemotretan. Ia memarkirkan motornya di area antar-jemput, lalu menunggu Disya turun.

Disya melompat turun dari jok belakang motor dengan lincah. Ia menyisir rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, lalu tersenyum lebar menatap Jack. Pria itu tersenyum balik, lalu mengusap kepala Disya dengan penuh kasih sayang sebelum meluruskan jaket kulitnya.

"Hati-hati di atas motor, Oppa. Dan semoga pemotretannya lancar ya," ucap Disya lembut, lalu mencium pipi Jack sekilas sebagai tanda perpisahan, sebelum melambaikan tangan dan berjalan masuk ke lobi apartemen.

Jack menatap punggungnya sebentar sambil tersenyum lega, lalu segera menyalakan mesin motornya kembali dan melaju pergi menuju lokasi syuting.

 

Sementara itu, tidak jauh dari sana, mobil hitam Min Jae baru saja berhenti di pinggir jalan menghadap gedung apartemen itu. Ia tidak pulang ke rumahnya, tidak juga ke agensi setelah mendarat dari Paris. Ia langsung mengambil alih setir mobilnya dari sopir, menyuruh manajer dan Seo Jun pulang duluan, lalu melajukan mobilnya menuju alamat ini—alamat tempat Disya tinggal sekarang. Di kursi penumpang tergeletak kotak berisi coklat premium dan sebuah kalung berlian yang ia beli khusus di Paris untuk Disya. Ia berniat memberikan ini sebagai tanda maaf karena tak sempat memberi kabar.

Namun sebelum ia sempat turun, matanya menangkap pemandangan di halaman depan. Pemandangan yang menghantam dadanya sekeras pukulan benda tumpul.

Ia melihat Disya turun dari motor besar milik pria bertato yang ia kenal—Jack. Ia melihat senyum lebar Disya, melihat usapan lembut tangan Jack di kepala gadis itu, dan melihat ciuman perpisahan di pipi yang diberikan Disya pada pria lain.

Udara di dalam mobil terasa mendadak panas dan menyesakkan. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Ia ingin sekali berlari keluar dan meninju wajah pria itu sampai babak belur, tapi kakinya tak bergerak. Ia sadar... ia tidak punya hak apa pun.

Pantas saja teleponku tidak dijawab. Ternyata dia sibuk dengan pria lain, batinnya menyakitkan. Senyum sinis penuh kepahitan terukir di bibirnya. Apakah uang yang kuberikan tidak cukup baginya? Hingga dia masih harus mencari perhatian pria lain?

Pikiran buruk mulai merajai kepalanya. Ia membayangkan Disya menjual dirinya pada siapa saja demi keuntungan, membayangkan senyum manis yang tadi ia lihat adalah senyum pelayan bagi pelanggan baru. Selama aku di Paris sibuk bekerja dan memikirkannya, dia tidak pernah sekalipun mencariku. Ternyata dia sibuk melayani orang lain.

Melihat pintu lobi tertutup rapat membawa Disya masuk ke dalam, Min Jae membuang muka dengan kasar. Ia menyambar kotak hadiah itu, lalu melemparkannya ke kursi belakang dengan kasar. Ia menekan gas mobilnya dalam-dalam, melesat pergi meninggalkan tempat itu menuju apartemennya sendiri dengan hati yang terbakar rasa cemburu dan kecewa yang salah tempat.

Keduanya saling menyimpan luka, saling menyakiti bayang-bayang yang tak nyata, dan menjauh semakin jauh tanpa pernah berniat untuk berpisah.

1
Eomma'Drakor 01
Alice😡
Eomma'Drakor 01
disya kenapa ga pacaran Ama Jack aj sih?
Eomma'Drakor 01
langkah yang bagus disya nikmatilah semua fasilitas dari min jae oppa😍
Eomma'Drakor 01
langkah yang bagus disya, nikmatilah semua fasilitas dari min jae oppa😍
Tere Rere
keren
Flm Rendom
kisah cinta yg Berawal dari transaksi..
Flm Rendom
kira2 siapa nih yang bakalan melanggar aturan transaksi...
Wae
suka dengan persahabatan Jack dan disya😍 ceritanya bikin baper
Wae
my idol may sugar Daddy 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!