Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Setelah piring wagyu steak yang dimasak Arlan tandas tak bersisa, kehangatan mulai menjalar kembali ke ujung-ujung jemari Amara. Tenaganya pulih, namun rasa kenyang itu segera digantikan oleh ketegangan lain saat ia menyadari sepasang mata elang Arlan tak pernah lepas memperhatikannya sejak suapan terakhir. Arlan bangkit dari duduknya dengan gerakan anggun namun penuh wibawa, tidak memberikan kesempatan bagi Amara untuk membereskan piring.
"Makanannya sudah habis, tenagamu sudah kembali," bisik Arlan dengan suara yang lebih dalam dari sebelumnya, menyisakan getaran intonasi yang membuat debar jantung Amara berpacu lebih cepat.
Ia menarik lembut jemari Amara, menggenggamnya dengan kehangatan telapak tangannya yang kokoh, lalu menuntunnya menjauh dari meja makan menuju ruang tengah yang luas. Di sana, sebuah dinding kaca raksasa memamerkan jutaan lampu London yang berkelap-kelip seperti hamparan permata, kontras dengan kegelapan malam dan guyuran salju yang semakin lebat di luar sana. Di bawah temaram lampu penthouse yang redup dan dramatis, atmosfer di antara mereka berubah menjadi begitu intim dan sarat akan emosi yang tertahan.
Arlan berdiri tepat di belakang Amara, melingkarkan kedua lengannya yang kekar di sekeliling pinggang gadis itu. Kehangatan tubuh Arlan segera menyelimuti punggung Amara, melindunginya dari hawa dingin yang seolah menembus dari balik kaca. Arlan mendekatkan wajahnya, membiarkan napasnya yang hangat menerpa tengkuk Amara, membuat bulu kuduk gadis itu meremang oleh sensasi romantis yang begitu kuat.
"T-Tuan..." lirih Amara, suaranya hampir menyerupai bisikan, sementara jemarinya menyentuh permukaan kaca jendela yang dingin dan sedikit berembun, mencari tumpuan atas rasa debar yang kian membuncah di dadanya. Di luar sana, salju turun dengan anggun, namun di dalam sini, sebuah kedekatan yang intens sedang tercipta.
Arlan tidak menjawab dengan kata-kata. Pria yang biasanya begitu angkuh dan selalu memerintah itu kini menyandarkan dagunya di bahu Amara, mengagumi pantulan wajah gadis itu yang tercetak jelas di balik pendar lampu kota. Dengan perlahan dan penuh kelembutan, Arlan merapikan beberapa helai rambut Amara yang menghalangi leher jenjangnya, menyampirkannya ke sisi lain. Sentuhan jemarinya begitu halus, bergerak menelusuri garis rahang hingga berhenti di dagu Amara, menengadahkan wajah gadis itu sedikit agar menatap pantulan mereka di kaca.
Amara membelalakkan mata, jantungnya berpacu liar. "Tuan... Apa yang Tuan lakukan?"
"Diam, Amara. Nikmati saja ketenangan malam ini," bisik Arlan, suaranya melembut, menyiratkan sisi protektif yang jarang ia tunjukkan.
Arlan mengeratkan pelukannya, membawa tubuh Amara semakin menempel pada dada bidangnya. Ia menuntun tangan Amara untuk menyentuh kaca yang berembun, lalu di atas punggung tangan gadis itu, Arlan menangkupkan tangannya yang lebih besar, mengunci jemari mereka bersama. Arlan mulai mengecup lembut pundak Amara yang terbalut pakaian hangatnya, memberikan ciuman-ciuman ringan yang menenangkan namun sarat akan rasa kepemilikan. Setiap kecupan itu seolah menyalurkan seluruh rasa peduli dan kehangatan yang selama ini disembunyikannya di balik sikap dinginnya.
Sensasi kontras antara dinginnya pemandangan salju di balik kaca dan panasnya dekapan Arlan menghancurkan seluruh kekakuan emosi Amara. Ia meremas jemari Arlan yang berada di atas tangannya, merasakan debaran dada Arlan yang berdegup selaras dengan miliknya. Lututnya terasa sedikit lemas bukan karena takut, melainkan karena besarnya pesona dan ketulusan terselubung yang dialirkan oleh pria di belakangnya. Arlan yang menyadari perubahan ritme tubuh Amara, menopang pinggul gadis itu dengan mantap, memastikan Amara tetap berdiri kokoh dalam kuasanya.
Puncaknya, sebuah gelombang keharuan dan kenyamanan yang sangat dahsyat dihantarkan oleh pelukan erat Arlan. Perasaan dihargai, dilindungi, dan diinginkan menyatu, membuat pertahanan emosional Amara runtuh sepenuhnya.
"T-Tuan... saya..." Amara kehabisan kata-kata, matanya berkaca-kaca menatap betapa indahnya kota London di depan mereka, dan betapa hangatnya pelukan pria yang kini mendekapnya.
Amara mengembuskan napas panjang saat seluruh ketegangannya mencair, digantikan oleh rasa pasrah yang begitu damai. Tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada Arlan, melepaskan seluruh beban pikiran yang sempat menghimpitnya, menikmati kehangatan yang dialirkan Arlan ke dalam hatinya.
Arlan mendongak, menatap pantulan wajah Amara di kaca dengan seulas senyuman tipis yang sarat akan kepuasan—bukan karena menang, melainkan karena berhasil melunakkan hati gadis yang keras kepala itu. Ia memutar tubuh Amara dengan perlahan agar kini mereka saling berhadapan, menyudutkan gadis itu kembali dengan lembut ke arah kaca yang kini sudah berembun karena napas mereka yang memburu berdekatan.
"Lihat dirimu, Amara," bisik Arlan, ibu jarinya bergerak lembut mengusap sudut bibir Amara. "Malam ini, kau sepenuhnya berada di duniaku."
Amara masih dalam kondisi terpaku, detak jantungnya belum juga normal setelah momen intim yang begitu menguras emosinya. Namun, Arlan tidak membiarkan keraguan kembali menyelimuti pikiran gadis itu. Dengan satu tangan yang kuat namun protektif, ia merangkul pinggang Amara, kemudian memutar tubuh gadis itu kembali hingga punggung Amara menempel erat pada dadanya, menghadap ke arah dinding kaca yang megah.
"Lihat ke depan, Amara," bisik Arlan dengan suara bariton yang serak tepat di telinganya. "Lihat pantulanmu di sana."
Amara membuka matanya yang sayu. Di balik kegelapan malam London yang bersalju, kaca jendela itu berfungsi seperti cermin temaram yang puitis. Ia melihat pantulan dirinya sendiri: seorang gadis yang kini tampak begitu terlindungi, pipinya merona merah akibat kehangatan yang membakar di dalam ruangan. Di belakangnya, berdiri Arlan Aditama—sosok yang tampak begitu gagah, dominan, namun menatapnya dengan sepasang mata yang memancarkan kelembutan tak terduga.
Arlan merapatkan jarak di antara mereka, menyatukan jemari tangan mereka kembali dan mengangkatnya, menempelkannya ke kaca di atas kepala Amara, mengunci posisi mereka dalam sebuah pelukan berdiri yang begitu megah.
"Buka matamu, Amara. Lihat bagaimana kita cocok berada bersama," bisik Arlan dengan ritme napas yang tenang namun tegas.
Setiap embusan napas Arlan di helai rambutnya membuat tubuh Amara bergetar halus. Di pantulan kaca, Amara menyaksikan bagaimana kedua pasang mata mereka bertemu dalam refleksi yang samar. Ia melihat bibirnya yang sedikit terbuka mencari udara, dan binar ketulusan di mata Arlan yang mengunci pandangannya. Di luar sana, salju turun dengan tenang menyelimuti kota, seolah-olah seluruh dunia sedang membeku, menyisakan hanya mereka berdua di dalam penthouse mewah itu yang dilingkupi api romansa yang menghangatkan.
Setiap kali Arlan mempererat dekapannya, uap panas dari napas mereka menciptakan embun tebal di permukaan kaca tepat di depan wajah mereka. Amara terpaksa mengakui dalam hati, bahwa di balik sikap posesif dan tegas sang Tuan Besar, ada kenyamanan luar biasa yang membuatnya ingin terus bersandar.
"Kau sangat menyukai momen ini, bukan? Berada di sisiku, menyaksikan keindahan kota ini bersama?" Arlan berbisik intens, menyandarkan keningnya di pelipis Amara, memberikan kecupan dalam yang lama di sana sebagai penutup malam yang penuh ketegangan romantis.
Amara memejamkan mata perlahan, menikmati kecupan tulus itu menjalar menjadi ketenangan di seluruh syarafnya. Di pantulan kaca yang buram oleh embun dan pendar lampu London, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang berhasil meleburkan ego masing-masing, mengakhiri malam yang dingin itu dengan sebuah kepasrahan dan kebersamaan yang sempurna.
papahmu memang harus diganggu 😁😁😁😁