Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman baru
"Mbak, maaf, bisa saya bantu..." sapa Halimah ramah, menghampiri wanita itu.
"Aduh, maaf, ini anak-anak saya gak mau nyebrang. Malah jongkok di tengah jalan," ucapnya bingung bercampur malu.
Halimah melirik dua anak berseragam sekolah dasar itu. Lalu Halimah ikut berjongkok, "Adek-adek, kok malah diam di tengah jalan. Memangnya gak takut di tabrak mobil?" tanya Halimah dengan nada anak kecil.
Dua anak itu menggeleng cepat, "Sepatu aku udah bolong. Mama gak mau belikan sepatu baru," jawab si cantik merengek sedih.
"Mama bohong. Katanya hari ini mau belikan sepatu baru. Tapi kok gak ada," sahut si kecil ganteng.
"Oh ya?" Halimah berdiri, lalu mengulurkan kedua tangannya pada masing masing anak-anak itu, "Mau Tante belikan sepatu baru?" Bujuknya.
Tanpa pikir panjang, dua anak itu menyambut uluran tangan Halimah, "Mau, aku mau beli sepatu baru."
"Aku juga mau sepatu baru. Teman-teman mengejek sepatuku yang udah bolong."
Dua anak itu mengungkapkan apa yang ada di kepala mereka tanpa peduli apapun.
"Ya sudah, kalau gitu kita nyebrang jalan dulu ya..."
Halimah menggenggam erat satu-satu tangan mungil itu. Mereka pun melangkah bersama Halimah. Mbok Ayu dan wanita itu ikut mengekor di belakang.
"Aduh, maaf ya, Mbak. Maaf ya, Udah merepotkan," ucap wanita itu merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa kok Mbak," Jawab Halimah ramah.
"Tante, kita jadikan beli sepatu barunya?" Tanya mereka merengek sambil menarik-narik tangan Halimah.
"Adek, kakak, gak boleh gitu!" Wanita itu langsung menarik kedua anaknya menjauh dari Halimah.
"Aduh maaf ya, Mbak. Anak-anak saya memang begitu. Mereka suka asal ngomong," ucapnya malu.
Halimah hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Ia ingin membelikan sepatu, tapi tidak punya uang. Halimah menoleh kearah Mbok Ayu yang berdiri di pinggir jalan.
Mbok Ayu yang peka pun mendekat ke arah majikannya itu, "Ada apa Non."
Halimah berbisik pelan pada Mbok Ayu, "Mbok, boleh pinjam uang gak, buat belikan anak-anak itu sepatu. Saya tidak punya uang," akunya jujur.
"Tentu boleh Non," jawab Mbok Ayu yang langsung mengeluarkan kartu credit dari dalam dompetnya, "ini kartu milik Tuan Muda. Non boleh pakai sepuasnya," ucap Mbok Ayu.
Halimah tersenyum lebar, mengambil kartu itu lalu memperlihatkan pada anak-anak itu yang masih merengek pada ibunya.
"Adek-adek, siapa yang mau beli sepatu... angkat tangan!"
"Aku, aku, aku...." jawab mereka serentak sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Mbak tidak usah. Saya tidak punya uang buat ganti..."
"Udah gak apa-apa, Mbak. Kebetulan suami saya kaya raya," bisik Halimah dengan nada bercanda.
"Oh iya, nama Mbak siapa?" tanya Halimah.
"Saya Tasya. Nama Mbaknya?" tanya Tasya ragu dengan wajah merah menahan malu akibat ulah anak-anaknya.
"Saya Halimah," Mereka berjabat tangan saling berkenalan.
Lalu, Halimah mengajak Tasya mengobrol. Sampai akhirnya mereka tau bahwa Tasya lebih tua dari Halimah.
Halimah juga bertanya tentang Tasya yang terlihat seperti baru pulang kerja dengan pakaiannya yang semi formal itu.
"Mbak baru pulang kerja ya?"
Tasya menghela napas, wajah lelahnya semakin terlihat jelas. "Itu... tadi saya baru memasukkan lamaran kerja."
"Oh begitu. Kalau boleh tau di kantor mana, Mbak?"
"Eem, Surya Holding," jawab Tasya agak ragu.
Mulut Halimah terbuka, tapi kemudian ia tersenyum. "Di Surya Holding, ya," ulang Halimah sedikit terkejut.
"Saya punya kenalan di sana loh, Mbak. Kalau mbak tidak merasa keberatan, nanti saya coba tanya kenalan saya itu, siapa tahu Mbak Tasya bisa diterima kerja."
"Aduh, makasih banget Lo Halimah. Kamu baik banget. Mbak sama sekali gak merasa keberatan. Tapi, apa gak masalah seperti itu?"
"Semoga saja tidak Masalah ya, Mbak. Dan jangan memuji saya baik. Karena saya bukan orang baik, Mbak. saya hanya berusaha membantu saja. Maklum, saya kesepian. Saya gak punya keluarga di kota ini," bisiknya curhat colongan.
"Oh ya? Sama dong kita. Mbak juga sudah gak punya keluarga selain anak-anak. Kalau begitu, kita bisa jadi keluarga," kata Tasya dengan suara lembutnya.
"Benaran, Mbak?"
"Iya."
"Akhirnya aku punya kakak sekarang," Ucap Halimah kegirangan.
Sore itu Halimah akhirnya membelikan sepatu, pakaian sekolah dan atk untuk kedua anak Tasya. Ia juga membelikan Tasya seragam untuk ngantor lengkap dengan tas dan sepatu.
"Halimah, gak usah. Belum tau mbak diterima kerja. Nanti gantinya pakai apa," tolak Tasya merasa tidak enak.
"Udah gak apa-apa, Mbak. Gak usah di ganti. Tapi, aku yakin, Mbak Tasya pasti di terima kerja di Surya Holding."
"Halimah. Kamu baik banget. Semoga semua kebaikan kamu, berbalik kembali ke kamu," Tasya memeluk Halimah haru.
Sementara Halimah sendiri tidak berbelanja apapun, kecuali membeli ice cream bersama kedua anak Tasya. Bukan tidak ingin, hanya saja semua keperluannya sudah tersedia dengan lengkap di apartemen Daffa.
Pulangnya, Halimah memberi tumpangan pada Tasya. Meski Tasya menolak, Halimah terus memaksa.
Pak Jamal pun mengantarkan Tasya ke rumah kost yang sangat memprihatinkan. Gedung kos-kosan itu tampak sudah sangat tua dan juga lingkungannya jorok.
"Mbak Tasya tinggal di sini?" tanya Halimah prihatin.
"Iya, karena ini yang paling murah." jawab Tasya malu.
"Semoga Mbak diterima kerja. Terus uangnya bisa untuk menyewa tempat tinggal yang lebih bagus ya, Mbak."
"Sekali lagi, terimakasih Halimah."
Halimah tersenyum, mereka saling berpegangan tangan seperti dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
"Boleh aku minta nomor telepon kamu, Halimah?" tanya Tasya.
Halimah sempat diam, ia tidak punya ponsel. Tapi, kemudian Pak Jamal mengulurkan ponselnya pada Tasya.
"Masukkan saja nomor Mbak Tasya ke ponsel saya. Nanti sampai rumah Nyonya Halimah bisa salin. Ponsel Nyonya ketinggalan di rumah." ucap Pak Jamal sedikit berbohong.
Halimah tersenyum, lalu mengangguk setuju.
Setelah Tasya memasukkan nomor teleponnya ke ponsel pak Jamal, mereka pun pamit pulang.
Sepanjang perjalan, Halimah tampak senang. Wajahnya begitu cerita, karena merasa punya teman baik untuk pertama kalinya setelah lima tahun di kekang oleh mantan suaminya dulu.
Mbok Ayu dan Pak Jamal pun ikut merasa sangat senang melihat Halimah yang begitu ceria. Namun, mereka sesekali saling berbisik pelan.
Kali ini, Mbok Ayu duduk di depan, Halimah duduk sendiri di kursi belakang.
"Benar kan, Mas?" bisik Mbok Ayu dengan suara sangat kecil.
"Iya, Yu ... Itu Non Tasya mantan pacarnya Tuan Muda Daffa," pak Jamal balas berbisik.
"Aku sih nggak begitu ingat, Mas. Dulu cuma dikenalin sekali sama Tuan Muda. Tapi gimana ini, mas. Nyonya Halimah malah udah akrab sama non Tasya," bisik Mbok Ayu kebingungan.
Bersambung ..