Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 9.
Ballroom masih diselimuti keheningan.
Tak seorang pun menyangka Direktur Utama Wiranata Corp turun tangan dalam percakapan yang semula dianggap hanya perselisihan pribadi.
Kayla berusaha mempertahankan senyumnya, meski wajahnya mulai kaku. "Pak Revan, sepertinya Anda salah paham. Saya hanya bercanda dengan Mbak Zahira."
"Bercanda?" Revan mengulang satu kata itu dengan nada datar.
"Iya, kami sudah saling mengenal. Jadi... tidak perlu dianggap serius."
Revan menatap Kayla tanpa berkedip. "Kalau menurut Anda menyebut seseorang mandul di depan banyak orang adalah candaan, berarti pemahaman kita tentang etika sangat berbeda."
Ucapan pria itu terdengar tenang, namun cukup membuat beberapa tamu saling berpandangan.
Kayla menelan ludah, Ia tidak menyangka pria setenang Revan justru mampu menekan lawan bicaranya hanya dengan beberapa kalimat. "Aku... tidak bermaksud seperti itu."
"Tidak penting apa maksud Anda, yang lebih penting adalah dampak dari ucapan tersebut." Suara Revan tetap rendah, Ia kembali bicara dengan tatapan tajam. "Dalam dunia profesional, seseorang dinilai dari integritas-nya. Orang yang terbiasa merendahkan orang lain demi meninggikan dirinya sendiri, justru memperlihatkan kualitas pribadinya."
Wajah Kayla benar-benar kehilangan warna, Ia spontan menoleh kepada Deris. Wanita itu berharap pria itu akan membelanya. "Mas...."
Deris mengepalkan kedua tangannya, tatapannya bergantian melihat Kayla, Zahira, lalu Revan. Akhirnya ia melangkah maju. "Pak Revan..."
Revan mengalihkan pandangannya pada Deris, wajahnya masih tampak tenang dan dingin.
"Ini masalah pribadi kami."
"Benar, saya juga tidak berniat mencampurinya." Jawab Revan tegas.
"Lalu kenapa Anda ikut berbicara?"
"Karena yang dihina adalah salah satu manajer perusahaan saya."
Seketika Deris terdiam, wajahnya berubah menjadi tegang.
"Selama acara ini berlangsung, setiap karyawan Wiranata Corp membawa nama perusahaan." Revan melanjutkan dengan nada tetap tenang. "Ketika ada pihak yang berusaha merendahkan mereka tanpa alasan yang pantas, saya memiliki tanggung jawab untuk meluruskan keadaan."
Tak ada satu pun kalimat bernada emosi. Namun, justru itu yang membuat ucapan Revan semakin berbobot. Dan Deris, tak mampu membalas.
Di sudut lain ballroom, beberapa pengusaha mulai berbisik.
"Itu wanita yang tadi dibela Pak Revan?"
"Katanya General Manager baru."
"Kalau Direktur Utama sampai berbicara seperti itu, berarti kemampuannya memang bukan sembarangan."
"Aku pernah mendengar perusahaan Adikara berkembang sangat cepat beberapa tahun terakhir."
"Iya."
"Ternyata perempuan itu yang mengelola operasionalnya, jadi dia mantan istrinya?"
Bisikan demi bisikan mulai terdengar. Deris mendengarnya dengan jelas, dadanya terasa semakin sesak. Dulu, semua keberhasilan itu selalu dianggap hasil kerja kerasnya seorang diri. Kini perlahan orang-orang akan mulai mengetahui bahwa ada Zahira yang selama ini bekerja di belakang layar.
Kayla masih berusaha menyelamatkan harga dirinya, Ia lalu tertawa kecil. "Pak Revan terlalu melebih-lebihkan kemampuan Mbak Zahira."
"Saya hanya menyampaikan fakta."
"Tapi tetap saja...." Kayla mengangkat dagunya. "Perempuan sehebat apa pun, kalau rumah tangganya gagal, berarti ada yang salah dengan dirinya."
Beberapa orang langsung mengernyit, ucapan itu terdengar semakin berlebihan.
"Kalau menurut Anda perceraian selalu menunjukkan kegagalan seorang perempuan, berarti Anda sedang merendahkan banyak wanita di ruangan ini." Zahira yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah dingin.
Ia berhenti sejenak, memberi kesempatan setiap orang mencerna ucapannya. "Di sini ada perempuan yang menjadi direktur, komisaris, pemilik perusahaan, bahkan pemimpin bisnis. Sebagian masih mempertahankan rumah tangganya, sebagian memilih berpisah karena tidak lagi dihargai. Status pernikahan tidak pernah menentukan nilai seseorang."
Tatapan Zahira kemudian lurus mengarah kepada Kayla. "Sebaliknya... saya justru penasaran. Menurut Anda, perempuan yang dengan sadar menjalin hubungan dengan pria yang masih memiliki istri, lalu ikut menjadi penyebab runtuhnya sebuah rumah tangga... pantas disebut perempuan seperti apa?"
Nada suaranya tetap lembut, tetapi setiap katanya terdengar semakin tajam.
Ballroom mendadak sunyi, tak seorang pun berani menyela.
"Kalau seorang istri yang bercerai dianggap gagal, lalu bagaimana dengan perempuan yang memilih menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang lain? Apakah itu sebuah prestasi... atau justru sesuatu yang seharusnya disesalkan?" Zahira melanjutkan tanpa sedikit pun meninggikan suara.
Wajah Kayla langsung memucat. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu kata pun berhasil keluar. Tatapan para tamu perlahan beralih kepadanya. Beberapa di antaranya bahkan menggeleng pelan, seolah baru menyadari siapa sebenarnya wanita yang berdiri di hadapan mereka.
Zahira mengulas senyum tipis. "Saya tidak sedang menghakimi siapa pun. Saya hanya percaya, seseorang tidak perlu menjatuhkan perempuan lain untuk merasa dirinya lebih tinggi."
Kata-kata Zahira terdengar tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat setiap katanya menghantam jauh lebih keras daripada bentakan.
Beberapa tamu menganggukkan kepala pelan.
Salah seorang direktur perempuan bahkan tersenyum tipis. "Setuju, ucapan Bu Zahira benar."
Mendengar dukungan itu, wajah Kayla semakin memerah. Ia tak menyangka situasi berbalik secepat ini.
Deris memandang Zahira tanpa berkedip, wanita itu masih orang yang sama. Tetap tenang ketika disudutkan, dan tetap menjaga tutur katanya meski disakiti. Lalu, bayangan tujuh tahun pernikahan mereka kembali memenuhi pikirannya.
Setiap kali ia pulang larut malam, Zahira selalu menunggu. Setiap kali ia kehilangan proyek besar, Zahira yang menyusun strategi baru. Setiap kali perusahaan kekurangan dana, Zahira yang mencari cara agar seluruh karyawan tetap menerima gaji tepat waktu. Semua kenangan itu muncul begitu saja, rasa sesak di dadanya semakin sulit dijelaskan.
Di tengah suasana yang masih hening, panitia acara naik ke atas panggung.
"Para tamu yang kami hormati, acara makan malam akan segera dimulai."
Perhatian para tamu perlahan kembali teralihkan, orang-orang mulai bergerak menuju meja masing-masing.
"Mas, kita duduk saja." Kayla menggenggam lengan Deris.
Namun, Deris tidak langsung menjawab. Tatapannya masih mengikuti Zahira yang berjalan bersama beberapa eksekutif Wiranata Corp.
Di sisi Zahira, Revan berjalan dengan langkah tenang sambil membahas agenda rapat esok pagi. Pembicaraan mereka murni soal pekerjaan, tak ada sikap berlebihan. Tetapi justru pemandangan itu membuat hati Deris semakin tidak nyaman.
Tanpa sadar, tangan Deris mengepal kuat. Ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Yang dirasakan Deris bukanlah kemarahan ataupun kebencian, melainkan rasa takut.
Pria itu takut jika suatu hari nanti, perempuan yang selama ini selalu berada di belakangnya benar-benar melangkah jauh... hingga tak lagi menoleh ke arahnya sedikit pun.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭