NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Tamparan untuk Pengkhianat

Polis asuransi jiwa Rp 5 miliar itu masih mencantumkan Nadia Kusuma sebagai penerima manfaat.

Surya tidak tidur malam itu.

Di kamar Hotel Mulia yang dingin, ia duduk di dekat jendela sampai langit Jakarta berubah pucat. Panggilan dari Nadia masuk lagi dan lagi. Kadang hanya dering. Kadang pesan pendek penuh tangis. Kadang makian yang kehilangan bentuk.

Kamu puas sekarang?

Papa meninggal gara-gara kamu.

Pulang. Kita harus urus pemakaman.

Surya membaca semuanya tanpa membalas.

Pemakaman Pak Kusuma berlangsung dua hari kemudian. Rumah keluarga Kusuma penuh karangan bunga, kursi plastik, kerabat yang datang membawa wajah duka, dan bisik-bisik yang menusuk. Nadia memakai baju hitam, matanya sembap. Ia menangis di depan tamu, memeluk foto ayahnya, menerima ucapan belasungkawa seperti anak berbakti yang hancur.

Namun ketika ia menyelinap ke samping garasi, suaranya berubah.

Surya berdiri di balik pintu dapur, membawa nampan gelas untuk tamu. Ia tidak berniat menguping. Nadia hanya terlalu yakin rumah itu masih miliknya.

"Mas, jangan datang dulu," bisik Nadia di telepon. "Banyak keluarga. Surya juga ada."

Ada jeda.

"Aku tahu. Tapi sekarang belum bisa. Polis itu masih atas namaku. Setelah semua tenang, baru kita urus langkah berikutnya."

Surya menatap gelas-gelas di nampan.

Jadi bahkan di hari pemakaman ayahnya, perempuan itu masih menghitung uang kematiannya.

Malamnya, saat rumah mulai sepi dan Nadia tertidur karena obat penenang, Surya masuk ke ruang kerja kecil Pak Kusuma. Ia tahu tempat map-map penting disimpan. Selama tiga tahun, ia yang membersihkan ruangan itu, mengelap rak, menyusun arsip pajak, dan mendengar Pak Kusuma berkata, "Jangan sentuh apa pun dengan tangan miskinmu."

Tangan miskin itu kini membuka laci kedua.

Di dalam map biru, polis asli itu ada.

Surya mengambilnya.

Ia juga memotret halaman penerima manfaat, nomor polis, dan salinan KTP yang terlampir. Setiap foto disimpan ke cloud baru yang ia buat malam itu juga. Setelah itu ia mengembalikan map lain ke posisi semula, meninggalkan ruang kerja tanpa suara.

Pagi berikutnya, ia menemui Dewi di kos kecil daerah Tebet. Kakaknya baru menyewa kamar itu untuk beberapa hari, dindingnya tipis, kipas anginnya berdecit, dan di lantai hanya ada kasur lipat serta tas kain dari Solo.

Dewi membuka pintu dengan wajah lelah. "Kamu pucat."

"Aku harus ke kantor asuransi," kata Surya.

Ia meletakkan polis itu di atas kasur.

Dewi membaca nama penerima manfaat. Wajahnya mengeras.

"Dia masih mau uang setelah semua ini?"

"Dia mau aku mati sejak awal." Surya menunjuk nama Nadia di kertas. "Selama nama ini belum berubah, aku masih target berjalan."

Dewi menatapnya. "Kenapa bawa Kakak?"

"Karena mulai hari ini, kalau sesuatu terjadi padaku, dia tidak dapat apa pun." Surya berhenti sebentar. "Kakak yang jadi penerima manfaat."

Dewi mundur setengah langkah. "Dik, jangan bicara begitu."

"Ini bukan doa buruk. Ini pengaman."

"Kakak nggak butuh uang itu."

"Aku tahu." Suara Surya melunak. "Justru karena itu."

Dewi menggenggam ujung polis. Matanya basah. Namun, ia tidak menangis. Ia sudah terlalu lama belajar menahan diri di depan mesin pabrik, mandor kasar, dan hidup yang tidak pernah bertanya apakah ia lelah.

"Baik," katanya. "Kakak ikut."

Kantor asuransi itu berada di gedung kaca daerah Sudirman. Di meja layanan nasabah, seorang petugas perempuan memeriksa KTP Surya, polis asli, dan formulir perubahan penerima manfaat.

"Bapak Surya sebagai tertanggung mengajukan perubahan penerima manfaat dari Ibu Nadia Kusuma menjadi Ibu Dewi Prasetyo, benar?"

"Benar."

"Kami perlu memastikan pengajuan ini dilakukan atas kehendak Bapak sendiri."

"Atas kehendak saya sendiri."

Petugas itu mengangguk, lalu menunjuk bagian tanda tangan. "Proses administrasi biasanya tiga sampai tujuh hari kerja. Namun sesuai ketentuan internal dan pengawasan OJK, pemegang polis akan menerima notifikasi perubahan."

Dewi menegang.

Surya tidak.

"Kirimkan sesuai prosedur," katanya. "Saya hanya ingin perubahan ini tercatat hari ini."

Petugas menstempel formulir.

TOK.

Suara stempel itu kecil. Namun, bagi Surya, bunyinya seperti pintu besi yang tertutup di depan Nadia.

Ketika mereka keluar dari gedung, Dewi masih menggenggam salinan tanda terima.

"Mulai sekarang," kata Surya, "dia tidak punya alasan untuk membunuhku lagi."

"Dia masih punya alasan untuk membencimu."

"Bagus." Surya menatap lalu lintas Sudirman. "Orang yang benci sering bergerak ceroboh."

Sore itu, mereka kembali ke kos Dewi. Surya baru sempat duduk ketika suara ketukan keras menghantam pintu.

BUK! BUK! BUK!

"Surya! Keluar!"

Dewi berdiri. "Nadia."

Surya membuka pintu.

Nadia berdiri di lorong kos dengan wajah merah, rambut berantakan, dan mata yang tidak lagi pura-pura berduka. Beberapa penghuni kamar lain membuka pintu sedikit, mengintip.

"Kamu ambil polis Papa dari rumah?" Nadia mendesis.

"Polis itu atas namaku."

"Itu dibayar pakai uang keluargaku!"

"Untuk membunuhku?"

Nadia membeku sepersekian detik.

Cukup.

Surya melihatnya. Celah kecil di wajahnya. Ketakutan yang langsung ditutup dengan amarah.

"Jangan ngarang!" Nadia berteriak. "Kamu bikin Papa mati, sekarang kamu mau fitnah aku?"

Dewi maju. "Jaga mulutmu."

Nadia menoleh tajam. "Kamu diam! Ini urusan rumah tangga kami. Kamu cuma kakak miskin yang dari dulu numpang bangga sama adik sarjana!"

PLAK!

Tamparan itu bukan dari Dewi.

Tangan Surya mendarat di pipi Nadia.

Lorong kos langsung sunyi.

Nadia terhuyung, satu tangannya menyentuh pipi. Matanya melebar oleh sakit dan oleh kenyataan yang selama tiga tahun tidak pernah ia bayangkan: Surya berani mengangkat tangan.

Surya berdiri di depannya, napasnya tenang.

"PEREMPUAN BRENGSEK."

Setiap kata keluar pendek dan berat.

"Kamu bawa laki-laki lain ke kamar kita. Kamu siapkan kecelakaan untuk membunuhku. Kamu beli polis lima miliar atas namaku. Kamu bahkan mau mengambil ginjalku untuk ayahmu. Dan sekarang kamu berani menghina Kakakku?"

Wajah Nadia berubah pucat.

Beberapa penghuni kos saling berpandangan. Dewi menutup mulut, bukan untuk menghentikan Surya, karena akhirnya semua luka itu keluar sebagai suara.

Nadia mencoba tertawa. "Kamu nggak punya bukti."

"Belum lengkap," kata Surya. "Tapi cukup untuk membuatmu takut."

"Surya..."

"Kamu mau bunuh aku?" Surya mendekat satu langkah. "Silakan. Tapi uangnya sekarang milik Kakakku."

Nadia seperti ditampar untuk kedua kali.

"Apa?"

"Penerima manfaat sudah berubah. Formulirnya masuk hari ini. Kalau notifikasi belum sampai ke tanganmu, tunggu saja. Mungkin besok pagi."

Bibir Nadia bergerak tanpa suara.

Di matanya, Surya melihat perhitungan yang runtuh. Mobil hitam. Polis. Rencana klaim. Hidup baru dengan laki-laki itu. Semua mendadak kehilangan angka.

"Kamu... kamu nggak bisa begitu."

"Aku tertanggungnya." Surya tersenyum dingin. "Aku bisa."

Nadia mengangkat tangan, mungkin ingin membalas tamparan. Surya menangkap pergelangan tangannya sebelum menyentuh wajahnya.

Tidak keras. Cukup untuk menghentikan.

"Pulang, Nadia. Urus masa berkabungmu. Jangan datang ke tempat Kakakku lagi."

Ia melepaskan tangan itu.

Nadia mundur. Amarahnya belum padam. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus menyerang dari mana.

Setelah Nadia pergi, Dewi menutup pintu pelan. Lorong masih berbisik. Namun, Surya sudah tidak peduli.

"Kamu baru saja menyatakan perang," kata Dewi.

"Bukan baru." Surya mengambil jaketnya. "Semalam mereka yang mulai. Hari ini aku hanya menjawab."

"Mau ke mana lagi?"

"Bintaro."

Dewi mengerutkan kening. "Sekarang?"

"Sebelum Nadia membersihkan jejak."

Satu jam kemudian, Surya berdiri di pos satpam kompleks keluarga Kusuma. Bang Joni, satpam yang sudah mengenalnya selama tiga tahun, menatapnya dengan ragu.

"Bang, saya perlu lihat rekaman CCTV parkiran dan lift beberapa hari terakhir."

Bang Joni menggaruk kepala. "Waduh, Bang Surya. Kalau tanpa izin Bu Nadia..."

Surya mengeluarkan amplop kecil berisi fotokopi KTP, bukti ia masih tercatat sebagai penghuni alamat itu, dan satu lembar surat permintaan tertulis sederhana.

"Saya masih suami sah Nadia dan tinggal di alamat ini. Saya tidak minta rekaman dibawa keluar dulu. Saya cuma mau lihat. Kalau nanti perlu resmi, saya ajukan lewat polisi atau pengacara."

Bang Joni melihat kertas itu, lalu melihat wajah Surya.

Mungkin ia mengingat semua malam saat Surya memberinya kopi dari dapur. Mungkin ia juga ingat mobil asing yang terlalu sering masuk ketika Surya tidak ada.

Akhirnya, Bang Joni menghela napas. "Sebentar saja, Bang."

Ruang monitor sempit itu berbau kopi sachet dan rokok lama. Beberapa layar menampilkan gerbang, parkiran, lift, dan lorong rumah. Bang Joni membuka arsip rekaman.

"Tanggal berapa?"

"Mulai tiga bulan terakhir. Cari mobil sport hitam atau Porsche."

Bang Joni berhenti mengetik.

"Oh," katanya pelan. "Yang itu."

Darah Surya menjadi dingin.

Rekaman pertama muncul. Sebuah Porsche Panamera hitam masuk lewat gerbang malam hari. Pengemudinya menurunkan kaca sebentar. Wajahnya tidak terlalu jelas, jam tangan mahal di pergelangan dan cara ia tersenyum kepada satpam terlihat sombong.

Rekaman berikutnya dari lift.

Nadia masuk bersama pria itu. Mereka berdiri terlalu dekat. Nadia tertawa, memukul dada pria itu manja, lalu pria itu merangkul pinggangnya. Di lantai yang sama dengan rumah keluarga Kusuma, mereka keluar bersama.

Bang Joni menunduk, tidak enak.

"Dia datang lebih dari sepuluh kali, Bang," katanya. "Kadang siang, kadang malam. Saya kira keluarga Bu Nadia."

Surya menatap layar.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada air mata.

Hanya rasa dingin yang makin padat.

"Plat nomornya bisa diperbesar?"

Bang Joni mengklik beberapa kali. Gambar parkiran membesar. Plat belakang Porsche itu tampak cukup jelas.

B 17 KTN.

Surya mengeluarkan handphone dan memotret layar.

Porsche Panamera.

Plat khusus.

Laki-laki itu bukan orang biasa.

Dan sekarang, Surya punya ujung benang pertama untuk menarik seluruh tubuh ular keluar dari sarangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!