NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Mobil berhenti di depan sebuah gedung perkantoran modern di kawasan pusat kota Palu. Pencahayaannya minim, hanya menyisakan lampu sorot di atas pintu masuk yang menyoroti nama kantor hukum terpandang di Sulawesi Tengah: Kantor Hukum Surya & Rekan. Tidak ada keramaian, tidak ada undangan, bahkan tidak ada satu pun kerabat yang hadir. Hanya Lukas, Kirana, dan pengacara pribadi Kirana yang sudah menunggu di dalam ruangan tertutup lantai dua.

Lukas melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. Di tangannya masih tergenggam tas ransel usang—satu-satunya barang yang ia miliki di dunia ini. Ruangan itu dingin, berbau kertas tua dan kayu cendana, dindingnya dilapisi rak penuh berkas hukum tebal yang tampak tak tersentuh bertahun-tahun. Di tengah ruangan terdapat meja panjang berwarna gelap, di atasnya sudah tersusun rapi dokumen-dokumen dengan segel resmi negara.

Pengacara itu, Pak Surya, pria paruh baya berkacamata dengan wajah tenang namun tajam, menyambut mereka dengan anggukan singkat. Ia tidak terkejut melihat penampilan Lukas yang masih memakai pakaian basah kuyup dan lusuh—seolah ia sudah mengetahui segalanya dan tidak menghakimi penampilan luar.

“Silakan duduk,” ucapnya pelan, menunjuk kursi di sisi meja. “Saya sudah menyiapkan semua berkas sesuai instruksi Nona Kirana. Sebelum kalian menandatangani, saya akan membacakan poin-poin utamanya sekali lagi, agar tidak ada kesalahpahaman sedikit pun.”

Lukas duduk di sebelah Kirana. Jantungnya berdegup kencang saat matanya melirik judul dokumen di depannya: Perjanjian Pernikahan Bersyarat & Kesepakatan Kerahasiaan. Kata-kata itu terasa asing sekaligus berat. Ia tahu ini bukan pernikahan yang biasa ia bayangkan—bukan tentang janji setia sehidup semati, bukan tentang cinta yang menyatukan dua hati. Ini adalah kontrak, sebuah topeng yang akan mereka pakai selama satu tahun penuh.

Pak Surya mulai membacakan dengan suara tegas dan jelas. Poin demi poin terurai satu per satu: pernikahan sah secara hukum negara dan agama, berlaku selama satu tahun terhitung sejak hari ini; selama masa berlaku, Lukas berhak atas status suami Kirana, tempat tinggal di kediaman pribadinya, akses ke fasilitas dan perlindungan Grup Kirana; sebagai gantinya, Lukas wajib membantu Kirana dalam penyelidikan, menghadiri acara resmi sebagai pasangannya, dan menjaga kerahasiaan seluruh isi perjanjian ini dari siapa pun—termasuk keluarga Chandra maupun kerabat jauhnya.

Poin yang paling membuat Lukas tertegun adalah klausul tentang kerahasiaan: “Kedua pihak sepakat bahwa pernikahan ini semata-mata untuk tujuan penyelidikan dan pemulihan hak aset, tidak didasari perasaan romantis apa pun. Setelah masa perjanjian berakhir, kedua pihak berpisah tanpa tuntutan apa pun satu sama lain.”

Kirana menyadari keheningan Lukas, lalu menoleh sedikit ke arahnya.

“Kamu boleh bertanya apa saja, Lukas. Tidak ada paksaan di sini. Jika ada poin yang tidak kamu setujui, kita bisa ubah sekarang juga,” bisiknya pelan, agar hanya terdengar oleh mereka berdua.

Lukas menggeleng perlahan, meski hatinya masih ragu. Ia membayangkan bagaimana rasanya terikat status suami istri dengan wanita yang baru ia kenal beberapa jam lalu. Orang lain akan melihat mereka sebagai pasangan bahagia, padahal di balik pintu tertutup mereka hanyalah dua orang yang saling membutuhkan bantuan satu sama lain. Namun apa lagi pilihan yang tersisa baginya? Jika ia menolak, ia kembali ke jalanan—tanpa jawaban, tanpa perlindungan, tanpa harapan mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

“Saya mengerti semua poinnya,” jawabnya akhirnya, suaranya mantap meski tangan sedikit gemetar saat memegang pena yang disodorkan Pak Surya. “Saya setuju.”

Satu per satu tanda tangan mereka melengkapi setiap halaman dokumen. Tinta hitam itu menempel kertas, menandai dimulainya babak baru yang tak terduga dalam hidup mereka. Setelah tanda tangan terakhir selesai, Pak Surya menyegel berkas itu dengan segel resmi, lalu menyerahkan salinan pernikahan sah kepada mereka berdua.

“Selamat, Bapak dan Ibu Wijaya,” ucap Pak Surya dengan nada netral. “Secara hukum, kalian kini suami istri. Dokumen ini akan disimpan di tempat aman, dan tidak akan ada pihak lain yang mengetahuinya kecuali kita bertiga.”

Nama belakang itu—Wijaya—terdengar asing namun menyentuh hati Lukas. Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, ia dipanggil dengan nama keluarga aslinya. Bukan Lukas yang dibuang, bukan Lukas anak angkat, melainkan Lukas Wijaya—pewaris sah yang selama ini disembunyikan.

Setelah meninggalkan kantor pengacara, mereka menuju kantor urusan agama untuk menyelesaikan administrasi pernikahan secara resmi. Tidak ada saksi selain petugas yang bertugas, tidak ada ucapan selamat yang berlebihan, tidak ada senyum bahagia. Hanya dua orang yang berdiri berdampingan di depan meja pendaftaran, menyelesaikan prosedur yang bagi orang lain adalah momen paling sakral dalam hidup, namun bagi mereka adalah langkah awal menuju kebenaran yang berbahaya.

Saat keluar dari kantor itu, langit sudah mulai memutih di ufuk timur. Fajar menyingsing di atas kota Palu, menyinari jalanan yang masih sepi. Lukas berdiri sejenak di trotoar, menatap tangannya yang kini memegang kartu tanda pernikahan sah. Rasanya seperti mimpi yang belum selesai—kemarin sore ia masih berdiri di depan pintu rumah yang mengusirnya, dan pagi ini ia sudah terikat janji sehidup semati dengan wanita yang baru ia temui semalam.

Kirana berdiri di sampingnya, memandang ke arah matahari yang mulai naik.

“Aku tahu ini terasa aneh,” ucapnya pelan, memecah keheningan. “Bahkan mungkin terasa salah. Tapi percayalah, ini satu-satunya cara kita bisa melindungi diri sekaligus menembus tembok yang selama ini menghalangi kita. Mulai sekarang, di depan siapa pun—rekan bisnis, wartawan, bahkan musuh kita—kita adalah pasangan suami istri yang saling mencintai. Itu topeng yang harus kita pakai sampai kebenaran terungkap sepenuhnya.”

Lukas menoleh ke arahnya. Di bawah cahaya fajar, wajah Kirana tampak lelah namun tetap tegar. Ia menyadari bahwa wanita ini juga tidak menjalani jalan yang mudah—ia harus mempertaruhkan nama baiknya, reputasinya sebagai CEO yang dihormati, demi mencari keadilan bagi ayahnya.

“Saya mengerti,” jawab Lukas tulus. “Saya akan memakai topeng itu sebaik mungkin. Dan saya berjanji tidak akan mengecewakan Anda.”

Kirana tersenyum tipis, kali ini senyumnya terasa lebih hangat.

“Kita saling berjanji, Lukas. Tidak ada yang mengecewakan siapa pun. Kita berjuang bersama.”

Mereka kembali masuk ke dalam mobil. Kali ini suasana di dalamnya terasa berbeda—tidak lagi kaku dan penuh tanya, melainkan terjalin rasa saling percaya yang mulai tumbuh di antara dua orang asing yang kini terikat takdir yang sama. Mobil melaju menuju kediaman pribadi Kirana, tempat di mana mereka akan berbagi atap selama satu tahun ke depan—bukan sebagai pasangan yang saling mencintai, melainkan sebagai rekan yang berbagi rahasia terbesar dan berjuang untuk kebenaran yang selama ini dikubur.

Lukas menatap ke luar jendela, melihat kota yang perlahan bangun dari tidurnya. Ia tidak tahu apa yang akan dihadapi besok, minggu depan, atau bulan depan. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak lagi berjalan sendirian. Dan topeng yang baru saja mereka pasang, kelak akan menjadi perisai yang melindungi mereka berdua dari badai yang siap melanda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!