NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

***

Rona jingga di ufuk barat perlahan melebur menjadi keemasan yang teduh. Setelah keriuhan pelayanan medis masal bersama tim kabupaten usai, Pustu kembali tenang. Bau alkohol dan antiseptik yang seharian memenuhi ruangan seolah terbilas oleh embun sore yang mulai turun menetes dari dedaunan.

Melani melangkah keluar dari mess kecilnya setelah membasuh muka dan berganti pakaian. Bidan muda itu mengenakan gaun sederhana selutut bermotif bunga lavender lembut. Rambut hitam lurusnya diikat rendah menggunakan kain tenun dengan warna senada, membiarkan beberapa helai anak rambut membingkai wajah ayunya. Penampilannya sore itu tampak begitu segar, cantik, dan memberikan pendar kedamaian yang teramat sangat bagi siapa saja yang memandangnya.

Di bawah naungan pohon beringin dekat Pustu, sosok tegap Rangga Wira sudah berdiri menanti. Sang Ketua Adat telah melepas jubah kebesarannya, kini hanya mengenakan kemeja kain kasar berwarna gelap dengan lengan digulung hingga siku.

"Ayo," ajak Rangga lembut, suara baritonnya terasa hangat membelah keheningan sore. "Hari ini sangat melelahkan untukmu. Kamu butuh menghirup udara segar."

Melani menyunggingkan senyum manisnya, mengangguk pelan. "Iya, Pak Rangga. Rasanya kepala saya sedikit pening setelah memegang begitu banyak rekam medis seharian."

Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak kecil yang biasa—melangkah menjauhi pemukiman menuju hulu sungai. Gemericik air jernih yang menabrak batuan kali serta aroma dedaunan basah menyambut kehadiran mereka.

Di tepi hulu sungai yang tenang, terhampar batu kali besar yang dinaungi pohon rindang. Rangga memberi isyarat agar Melani duduk di sana, sementara ia sendiri berdiri menyandarkan tubuh tegapnya pada batang pohon di sebelah gadis itu.

Melani meluruskan kakinya yang dibalut gaun lavender, membiarkan jemari kakinya menyentuh permukaan air sungai yang dingin dan jernih. Ia menghela napas panjang, menatap sekeliling dengan binar mata mengagumi alam.

"Tempat ini selalu berhasil membuat rasa lelah saya sirnah," gumam Melani pelan, suaranya tenang harmonis dengan gemericik air.

Rangga Wira menatap wajah ayu Melani dari samping. Pendar cahaya senja memantul di kulit mulus sang bidan, mempertegas kecantikan alaminya yang memikat hati. Pria tegap itu tersenyum tipis—seulas senyum yang hanya ia simpan khusus untuk Melani.

"Tempat ini adalah saksi bisu perjalanan hidup saya, Melani," tutur Rangga pelan, memandangi aliran air di bawah sana. "Di batu inilah, dulu ayah saya menanamkan prinsip bahwa seorang Ketua Adat lahir bukan untuk memerintah, melainkan untuk menjadi tameng paling depan bagi warganya."

Melani mendongak, menatap garis rahang tegas pria di sebelahnya. "Menjadi Ketua Adat di usia yang masih muda... apakah itu impian Pak Rangga sejak kecil?"

Rangga tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang amat jarang terdengar. "Impian? Tidak, Melani. Di tanah ini, jabatan Ketua Adat bukanlah pilihan atau cita-cita yang ditulis di lembar kertas. Itu adalah garis keturunan yang diwariskan turun-temurun melalui darah. Sejak napas pertama saya ditiupkan, takdir saya sudah terikat untuk menjaga suku ini."

Rangga terdiam sejenak, sorot matanya yang sehitam malam menyimpan secercah nostalgia. "Dulu saya sempat merasa beban ini terlalu berat, terutama saat melihat dunia luar bergerak maju sementara desa kita memilih menutup diri. Namun, setelah melihat pengorbanan mendiang ayah dan ibu saya, saya paham... ada hal-hal luhur yang harus dipertahankan dari ketakusan dunia luar."

Melani menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Rangga tanpa memotong sedikit pun. Ada simpati dan ketakjuban yang makin mekar di dadanya terhadap kepemimpinan pria tegap tersebut.

Tiba-tiba, sebuah pertanyaan yang sejak lama terlintas di benak Melani meletup begitu saja di bibirnya tanpa sempat ia tahan.

"Pak Rangga..." panggil Melani pelan.

"Iya?" Rangga menoleh.

Melani menggaruk pelipisnya yang tak gatal, menatap Rangga dengan raut polos. "Kalau boleh tahu... kenapa Pak Rangga sampai sekarang belum menikah?"

Rangga sedikit tersentak, alis tebalnya terangkat tipis.

Melani yang sadar pertanyaannya agak lancang, mendadak salah tingkah namun bibirnya justru terus bergumam tanpa kontrol. "M-maksud saya... Pak Rangga kan pimpinan tertinggi di sini. Pasti banyak sekali gadis desa atau wanita di Hulu Rawa yang mau menikah sama Bapak. Lagipula... Bapak kan Ketua Suku, sudah begitu... tampan pula."

Aduh! Kenapa kalimat terakhir itu harus terucap dari mulutku?! batin Melani berteriak panik. Mulutnya yang terlalu jujur saat melihat pria tampan kembali membuatnya merutuki diri sendiri.

Rangga Wira terpaku mendengarnya. Seulas senyum amat tampan terukir jelas di bibir tegasnya. Matanya yang tajam memancar kelembutan yang sangat menggoda. Pria itu memutar tubuhnya, melangkah satu tapak mendekati batu tempat Melani duduk, lalu berlutut pelan hingga tinggi mata mereka kini sejajar.

Jarak mereka kini begitu dekat. Kehangatan tubuh Rangga dan aroma kayu cendana yang khas menguar kuat, membuat dada Melani berdesir hebat secara mendadak. Pipi mulus Bidan muda itu seketika merona merah padam—merah pekat seperti buah tomat yang matang.

"T-tampan?" bisik Rangga dengan suara baritonnya yang sangat berat dan dalam, menatap lekat pada sepasang mata jernih Melani.

Melani gugup setengah mati. Ia tidak berani bertatap mata dengan Rangga lebih lama lagi. Dengan gerakan patah-patah yang menggelikan, Melani buru-buru mengalihkan pandangannya ke bawah, menunjuk-nunjuk dasar sungai secara acak untuk mengalihkan topik.

"A-ah! Itu... lihat deh, Pak Rangga! Banyak sekali ikan-ikan kecil di dasar sungai! Airnya jernih sekali ya, banyak ikannya... wah, ikannya berenang-renang..." ceracau Melani cepat dengan napas memburu, berusaha keras menutupi rasa malu luar biasa yang membakar pipinya.

Rangga Wira tak sanggup menahan tawa halusnya melihat tingkah menggemaskan Bidan muda itu. Pria garang yang biasa ditakuti seluruh warga desa itu kini menatap Melani dengan binar kasih sayang yang amat murni.

"Melani..." panggil Rangga lembut, suaranya seperti bisikan angin senja yang menenangkan.

Melani menghentikan ceracauannya tentang ikan, namun masih enggan menoleh karena pipinya masih terasa panas. "I-iya, Pak Rangga?"

Rangga mengulurkan tangan kekarnya. Dengan sangat pelan dan penuh rasa hormat, jemari hangat Rangga menyentuh lembut dagu Melani, membimbing wajah cantik bernuansa lavender itu untuk kembali menatap lurus ke dalam matanya.

"Alasan saya belum menikah sampai detik ini sederhana," tutur Rangga tulus, matanya yang sehitam malam mengunci pandangan Melani. "Dulu, hati saya keras dan tertutup. Saya berpikir, wanita mana pun tidak akan sanggup hidup bersanding dengan pria yang seluruh hidupnya diabdikan untuk hukum adat yang kaku dan penuh risiko di dalam hutan ini."

Dada Melani berdebar kencang bagaikan tabuhan gendang. Ia menahan napasnya, menyimak setiap hela napas Rangga.

"Tapi belakangan ini..." lanjut Rangga dengan nada yang amat dalam dan jujur, "Seseorang datang menerobos benteng itu. Seorang wanita kota yang gigih, pemberani, berhati lembut, dan bersimbah darah demi menyelamatkan anak-anak warga saya."

Jemari Rangga berpindah pelan dari dagu Melani, merapikan helai anak rambut di tepi pelipis sang bidan dengan kelembutan yang luar biasa.

"Saya tidak lagi melihatmu hanya sebagai Bidan desa yang bertugas di Pustu, Melani..." bisik Rangga, matanya memancarkan ketegasan dan pengakuan rasa yang tak tergoyahkan. "Di hadapan alam Hulu Rawa ini... saya melihatmu sebagai seorang wanita yang ingin saya jaga, saya lindungi, dan saya sandingkan di sisi saya... selamanya."

Pengakuan tersirat yang begitu jujur dan bernilai sakral itu menghantam kedalaman jiwa Melani. Kehangatan luar biasa merayap membasahi matanya yang berkaca-kaca. Rasa aman, dihormati, dan dicintai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kini membungkus rapat hatinya.

Melani memegang batu hitam pada kalung tenun di dadanya—kalung milik mendiang ibu Rangga yang kini melingkar di lehernya. Ia tidak lagi mengalihkan pandangan. Dengan senyum manis paling indah yang memancar dari bibir cantiknya, Melani menatap lurus ke dalam manik mata Rangga Wira.

"Rangga..." bisik Melani lembut, kali ini menyebut namanya tanpa embel-embel formalitas. "Terima kasih... karena sudah menjadi tempat pulang yang sangat aman untuk saya di tanah ini."

Rangga Wira tersenyum lega, sebuah senyuman tampan yang penuh kepuasan hati. Di tepi hulu sungai yang tenang, di bawah pendar senja yang perlahan berganti menjadi keemasan malam, dua jiwa yang berasal dari dunia bertolak belakang itu kini lebur dalam ketulusan cinta yang tumbuh mengakar kuat di tanah Hulu Rawa.

Bersambung..

Awww, pak ketua suku awwwww

1
Apis
knp g di jelasin jg kejahatan pramono lainya thor kaya ke Melani dendamnya karna Melani menolak di nikah sirih jd istri ke 2 biar tambah malu sekalian jd tambah seru biar di rujak sama istrinya 😄
neng ade
akhirnya di tindak tegas juga itu pak Pramono..
Nurul Boed
ceritanya beda dgn novel yang lain,, bagus kak,,, semangat up ya kak 😍😍
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
neng ade
up yang banyak dong thor 🙏
Apis
dramanya jngn berat" ya thor tipis" aj kalo manis"nya baru boleh bnyk 😄
nunik rahyuni
klo menikah aoa cuma di drsa hulu rawa sj...g ke kampung melani dlu baru di boyong je desa suami...masa melani di tinggal di hulu rawa
neng ade
menunggu acara upacara pelaminan adat Hulu Rawa
Kusii Yaati
pejabat Pramono harus di tindak lanjuti itu, laporkan saja biar di pecat 😡
neng ade
selamat untuk Rangga dan Melani karena udah dapat restu dari ayahnya Melani
neng ade
Sutan harus dihukum bersama orang yang menyuruh nya
dika edsel
keren ceritanya...,bintang lima untukmu thor🌟
Kusii Yaati
semangat pak ketua,raih restu keluarga calon Bu ketua suku...ku doa' kan lancar...💪😘
pasti lancar ya Thor 🤭
neng ade
Rangga dan Melani semoga keduanya mendapatkan restu dari kedua orang tua Melani ❤️
Kusii Yaati
dua duanya tapi yang paling berat akan berpisah dengan pak ketua suku 🤭
neng ade
Melani takut karena harus berpisah dengan mu Rangga 😊
Apis
duh pak rangga udah mulai ter ter Melaniku nich 🤣🤣🤣🤣
neng ade
manis dan romantis yang indah dan syahdu ❤️
neng ade
setelah itu akan ada pernikahan adat antara Rangga dan Melani
neng ade
Alhamdulillah.. ..🤲
neng ade
Rangga dan Melani berjodoh .. mereka berdua akhirnya bisa menangkap basah Sutan dengan barang bukti yang ada di tangan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!