NovelToon NovelToon
Jalan Dewa Kehampaan

Jalan Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
​Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
​Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Hukum Rimba di Lembah Abu Berdarah

​Udara di dalam Lembah Abu Berdarah tidak hanya membakar kulit, tetapi juga meracuni paru-paru. Kabut tebal berwarna abu-abu kemerahan yang melayang di udara mengandung racun belerang tingkat tinggi. Kultivator biasa yang memasuki tempat ini harus terus-menerus membakar Qi mereka untuk membentuk perisai pelindung, atau menelan Pil Penawar Racun setiap beberapa jam.

​Namun, Lin Tian berjalan melenggang seolah sedang menikmati angin musim semi di taman bunga.

​Setiap kali ia menarik napas, kabut beracun itu masuk ke dalam tubuhnya, namun pusaran Tubuh Penelan Kehampaan di Dantiannya langsung menggiling racun tersebut hingga musnah, menyisakan energi spiritual murni ber-elemen api yang kemudian menetes ke dalam Lautan Qi Kehampaan miliknya.

​"Lingkungan ekstrem ini justru mempercepat kultivasiku," Lin Tian menyeringai tipis. Suhu panas yang menyengat meresap ke dalam pori-porinya, terus-menerus menempa kekuatan fisiknya.

​Namun, di tempat tanpa hukum seperti ini, bahaya paling besar bukanlah alam, melainkan manusia.

​Sring! Wush!

​Saat Lin Tian sedang berjalan melewati celah di antara dua tebing batu hitam, tiga sinar senjata spiritual tiba-tiba melesat dari bayang-bayang di atasnya. Sebuah tombak, sebuah kapak besar, dan sebuah rantai berduri beracun mengarah tepat ke titik-titik vitalnya.

​Tiga kultivator liar berwajah beringas melompat turun dari tebing. Mereka semua memancarkan fluktuasi tahap Pondasi Bumi tingkat menengah. Pakaian mereka kotor dan penuh noda darah, menandakan bahwa mereka adalah perampok veteran yang hidup dari menjarah para kultivator sekte yang ceroboh.

​"Hahaha! Murid Inti dari sekte besar jalan kebenaran!" tawa pria botak yang memegang kapak. "Bocah ingusan, tinggalkan cincin penyimpananmu dan kami mungkin akan menyisakan mayatmu secara utuh!"

​Serangan mereka terkoordinasi dengan sangat baik. Di mata mereka, pemuda di tahap Pondasi Bumi awal ini pasti akan panik dan mati dalam satu tarikan napas.

​Namun, Lin Tian bahkan tidak menghentikan langkahnya. Matanya yang hitam legam memancarkan kilatan ungu yang sedingin es.

​Tiga Langkah Hantu Kehampaan!

​Sosok Lin Tian memudar bagaikan asap tertiup angin tepat sepersekian detik sebelum ketiga senjata itu menghantam tempatnya berdiri.

​Brak! Tombak, kapak, dan rantai itu hanya menghantam tanah kosong, menciptakan kawah kecil berbatu.

​"Di mana dia?!" teriak kultivator bertombak dengan panik. Insting membunuhnya yang terlatih bertahun-tahun tiba-tiba menjeritkan bahaya kematian.

​"Aku di sini."

​Suara sedingin pedang algojo terdengar tepat di telinga si pemegang tombak. Sebelum ia sempat menoleh, tangan Lin Tian yang diselimuti Qi hitam keunguan meluncur seperti kilat, mencengkeram tenggorokan pria itu.

​KRAK!

​Dengan satu remasan yang menggunakan kekuatan fisik murni tingkat Pondasi Bumi, leher kultivator itu patah layaknya ranting kering. Lin Tian melempar mayatnya ke samping dengan santai.

​"Kakak Kedua!" raung si botak pemegang kapak. Matanya memerah. "Mati kau, Bocah Sialan! Kapak Pembelah Gunung!"

​Pria botak itu mengayunkan kapaknya dengan kekuatan penuh, menciptakan gelombang Qi yang buas. Namun, Lin Tian hanya mendengus dingin. Ia tidak mencabut pedangnya. Ia hanya mengepalkan tangan kirinya dan meninju tepat ke arah mata kapak raksasa tersebut.

​Ting! KRAAAK!

​Bentrokan antara tinju berdaging dan baja spiritual menghasilkan suara logam yang memekakkan telinga. Detik berikutnya, kapak spiritual itu hancur berkeping-keping. Tinju Lin Tian terus melaju tanpa hambatan, menembus pertahanan Qi si pria botak, dan menghantam tepat di dadanya.

​BUM! Pria botak itu memuntahkan darah yang bercampur dengan serpihan organ dalamnya, tewas seketika sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

​Kultivator ketiga, yang memegang rantai berduri, kehilangan seluruh keberaniannya. Ia berbalik dan menggunakan teknik melarikan diri yang membakar esensi darahnya, melesat pergi bagaikan anjing yang ketakutan.

​"Ingin lari dari kehampaan?" Lin Tian mencibir.

​Ia menjentikkan jarinya ke depan. Seutas benang Qi hitam pekat dari Seni Pedang Penelan Langit—kali ini tanpa menggunakan pedang, hanya murni kondensasi Qi—melesat membelah udara dengan kecepatan tak kasat mata.

​Zras!

​Benang hitam itu menembus punggung kultivator yang melarikan diri, membelah jantungnya, dan keluar dari dadanya. Pria itu ambruk ke tanah berbatu, nyawanya terenggut seketika.

​Hanya dalam waktu kurang dari lima tarikan napas, tiga perampok veteran tahap Pondasi Bumi menengah dibantai seolah mereka hanya rumput liar di pinggir jalan.

​Lin Tian berjalan mendekati ketiga mayat itu, mengambil kantong penyimpanan mereka, lalu mengulurkan tangannya. Pusaran Tubuh Penelan Kehampaan berputar lambat. Sisa-sisa energi Qi yang mulai memudar dari Dantian ketiga mayat itu tersedot paksa masuk ke telapak tangan Lin Tian, menjadi bahan bakar tambahan bagi Lautan Qi-nya.

​"Lumayan. Meski Qi mereka kotor, setelah disaring oleh Mutiara Kehampaan, masih cukup untuk mengisi sebagian kecil Dantianku," gumamnya puas.

​Jauh di atas tebing, di balik sebuah pilar batu hitam, sesosok bayangan putih berdiri mematung.

​Mu Qingxue menggunakan Jubah Es Ilusi, sebuah artefak tingkat tinggi yang mampu menyembunyikan hawa keberadaan dan suhu tubuhnya secara total. Bahkan kultivator tahap Inti Emas pun akan kesulitan mendeteksinya.

​Sejak Lin Tian memasuki lembah, ia terus membuntutinya. Ia berniat turun tangan menyelamatkan Lin Tian jika pemuda itu terdesak oleh para perampok tadi. Namun, apa yang baru saja ia saksikan membuat jantungnya yang sedingin es berdetak lebih cepat.

​Kejam, efisien, dan tanpa keraguan sedikit pun, batin Mu Qingxue, matanya menyipit. Dan Qi hitam yang ia gunakan... sangat aneh. Itu bisa memotong senjata spiritual dengan mudah, dan ia bahkan berani menyerap sisa Qi dari kultivator yang mati! Apakah dia mempraktikkan seni iblis sesat?

​Meski terkejut dengan kehebatan tempur Lin Tian, Mu Qingxue masih menggelengkan kepalanya.

​Membunuh kultivator liar Pondasi Bumi menengah memang mengesankan. Tapi Kobra Api Bersisik Besi berada di puncak Tingkat 2. Ketahanan fisiknya setara dengan besi suci. Tanpa serangan elemen es murni milikku, dia tidak akan bisa menembus pertahanannya.

​Mu Qingxue terus mengikuti jejak Lin Tian, bersiap untuk konfrontasi yang sesungguhnya.

​Setengah jam kemudian, suhu udara tiba-tiba melonjak drastis. Tanah berbatu di bawah kaki Lin Tian kini berwarna merah membara, dan retakan-retakannya mengalirkan cairan lava yang panas menyengat.

​Lin Tian tiba di tepi sebuah kawah vulkanik yang sangat luas—Reruntuhan Magma.

​Di tengah-tengah lautan lava yang menggelegak, terdapat sebuah pulau batu hitam kecil. Di atas pulau itulah, sebuah bunga teratai berukuran sebesar roda kereta kuda mekar dengan indahnya. Kelopaknya berwarna merah darah yang nyaris transparan, dan intinya memancarkan api ungu yang tidak pernah padam.

​Aroma manis yang luar biasa tercium dari bunga itu, seketika membuat pusaran Dantian Lin Tian bergejolak penuh kerinduan.

​"Teratai Api Neraka," mata Lin Tian berbinar. "Jika aku menyerap seluruh energi api dari teratai ini, aku pasti bisa langsung menerobos ke tahap Pondasi Bumi tingkat menengah, dan tubuh fisikku akan menembus batas baru!"

​Tanpa ragu, Lin Tian melompat dari tepi kawah, menggunakan batu-batu yang menonjol dari lautan lava sebagai pijakan, melesat ke arah pulau di tengah kawah.

​Namun, saat jaraknya tinggal sepuluh meter dari pulau tersebut...

​BLUB... BLUB... BUM!

​Lautan lava di sebelah kanan pulau tiba-tiba meledak ke udara setinggi dua puluh meter. Gelombang panas yang dahsyat menyapu ke segala arah, memaksa Lin Tian melompat mundur kembali ke salah satu pilar batu yang aman.

​Dari dalam lautan magma yang menyala terang, sesosok bayangan raksasa perlahan bangkit.

​Itu adalah seekor ular kobra raksasa dengan panjang lebih dari dua puluh meter. Tubuhnya tertutup sisik tebal berwarna hitam kemerahan yang memancarkan kilau logam yang kokoh—seolah-olah makhluk itu ditempa dari besi murni. Matanya yang sebesar lentera memancarkan kebuasan yang tak berujung, menatap Lin Tian seperti memandang semut yang berani mencuri hartanya.

​Hissss!

​Kobra Api Bersisik Besi mendesis marah. Gelombang suara yang bercampur dengan aura tahap Pondasi Bumi Puncak menghantam Lin Tian, menciptakan riak di udara yang memekakkan telinga.

​Binatang buas tingkat tinggi memiliki sedikit kecerdasan. Ia tahu teratai itu adalah tiketnya untuk berevolusi ke Tingkat 3 (tahap Inti Emas), dan siapa pun yang berani mendekat harus mati.

​Di atas tebing kawah yang tersembunyi, Mu Qingxue menahan napasnya. Tangannya perlahan menggenggam gagang pedang es kristal yang tergantung di pinggangnya. Aura dingin yang luar biasa mulai terkumpul di tubuhnya.

​Bodoh. Jarak sepuluh meter adalah zona mematikan Kobra Api. Dia tidak punya ruang untuk menghindar. Aku harus bergerak sekarang sebelum ia mati terbakar! pikir Mu Qingxue bersiap melompat.

​Namun, di bawah sana, apa yang dilakukan Lin Tian membuat Mu Qingxue menghentikan langkahnya.

​Alih-alih mundur atau mengeluarkan perisai energi untuk bertahan dari hawa panas Kobra Api, Lin Tian justru tertawa. Tawa yang arogan, dingin, dan penuh tantangan.

​Lin Tian mengangkat tangan kanannya perlahan, menggenggam gagang pedang besi hitam standarnya yang terikat di punggung.

​"Seekor cacing tanah bersisik berani mendesis padaku?" suara Lin Tian bergema, menenggelamkan suara gemuruh lava. Matanya berubah sepenuhnya menjadi ungu gelap, memancarkan kengerian kosmis yang membuat lava di sekitarnya seolah membeku sesaat karena ketakutan.

​Sring!

​Pedang besi hitam ditarik. Aura hitam legam dari Seni Pedang Penelan Langit seketika menyelimuti bilah pedang yang murah itu, mengubahnya menjadi artefak dewa kematian.

​"Akan kuubah kau menjadi sabuk, Cacing!"

​Dengan satu tolakan kuat yang menghancurkan pilar batu pijakannya, Lin Tian melesat lurus ke arah rahang raksasa Kobra Api Bersisik Besi.

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz
hadad fernandez khan
lanjut tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!