Sari Wulandari dibawa dari desa ke keluarga Pratama bukan sebagai putri yang disayangi, melainkan sebagai calon istri untuk Arga Pratama, pewaris kaya raya yang sudah dua tahun terbaring koma. Semua orang mengira ia hanya akan menjadi perawat di rumah megah itu.
Namun kamar Arga menyimpan rahasia yang tidak masuk akal: tirai bergerak tanpa angin, jimat tersembunyi di bawah seprai, dan sosok tak terlihat selalu mengawasi Sari. Setiap malam, pria koma itu datang ke dalam mimpinya dengan hasrat yang terlalu nyata.
Di balik pernikahan mendadak itu, keluarga elite lain menyembunyikan ritual penahan nasib yang mengorbankan hidup Arga. Sari yang polos hanya ingin merawat calon suaminya dengan baik, tanpa tahu bahwa sejak ia masuk ke rumah itu, sang hantu telah menganggapnya sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nguyệt Cầm Ỷ Mộng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
# Bab 03: Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Saat Merawat Calon Suami
Setelah mereka turun, Sari menyadari sikap Bu Pratama berubah sangat besar. Kali ini bukan lagi perasaan samar seperti sebelumnya.
"Kalau ada makanan yang tidak bisa kau makan, bilang pada Tante. Nanti Tante akan bicara pada koki. Jangan sungkan, jangan malu. Anggap saja seperti di rumah sendiri."
Bu Pratama menjadi lebih perhatian, suaranya lembut. Sari benar-benar tidak mengerti dari mana perubahan ini berasal. Namun mungkin karena tumbuh di desa, cara pikirnya sederhana. Jika tidak mengerti, ia tidak akan memikirkannya lagi. Baginya, hasil suatu hal lebih penting daripada prosesnya.
Setidaknya setelah sikap Bu Pratama berubah, ketika melihat hidangan halus yang tersaji di meja, semua makanan yang belum pernah ia makan, lengkap seperti gunung dan laut, Sari merasa keputusannya kali ini sangat tepat.
"Sepertinya saya tidak punya pantangan apa pun. Terima kasih, Bu."
"Jangan pakai bahasa terlalu resmi. Panggil Tante saja."
Usia Bu Pratama memang setara generasi orang tua Sari, tetapi karena hidup bertahun-tahun dalam kemewahan, penampilannya terawat sangat baik. Ia memang pantas dipanggil tante.
"Baik, Tante."
Sari tidak berbelit dan langsung mengganti panggilan.
Bu Pratama tersenyum tipis, lalu mendesaknya, "Cepat makan."
Sambil melihat Sari makan, Bu Pratama menoleh memberi perintah kepada pelayan. "Bawa barang Sari ke kamar tuan muda. Mulai sekarang dia tinggal di kamar Arga. Semua yang dibutuhkan siapkan dengan lengkap."
"Baik, Nyonya."
Pelayan segera melaksanakannya.
Setelah memberi perintah, Bu Pratama kembali memperhatikan Sari makan. Meski tumbuh di desa, gerak-gerik Sari cukup sopan. Tidak ada sikap kasar, rakus, atau rendah yang membuat orang tidak nyaman. Semakin Bu Pratama melihatnya, semakin puas ia.
"Makan yang banyak."
Ia bahkan mengambilkan makanan untuk Sari.
"Terima kasih, Tante."
Sari merasa sedikit tersanjung sampai takut. Namun sifatnya memang sederhana. Ia hanya menjadi semakin patuh di hadapan Bu Pratama, tanpa berpura-pura atau berusaha terlalu sopan.
Bisa dikatakan, makan pertamanya di keluarga Pratama adalah makanan paling mewah yang pernah ia santap.
Dengan harapan penuh terhadap masa depan, Sari kembali ke kamar Arga setelah makan.
Jika ingin tinggal di sini kelak, hal terpenting yang harus ia lakukan sekarang adalah merawat Arga dengan baik dan tampil baik di mata keluarga Pratama. Karena itu ia tidak beristirahat, melainkan langsung mulai bekerja.
Berdiri di sisi ranjang, memandangi pria tampan yang tidur tenang, Sari mengingat apa yang Bu Pratama katakan setelah makan.
"Merawat Arga sebenarnya tidak terlalu rumit. Kau lakukan saja sesuai keadaan. Tapi ada tiga hal yang harus kau ingat. Pertama, setiap tiga hari sekali, lap seluruh tubuhnya dengan air daun mugwort. Kedua, sering-sering pijat tubuhnya. Ketiga, jangan biarkan sinar matahari masuk ke kamarnya."
Hal pertama dan ketiga terdengar agak aneh, tetapi Sari tidak terlalu banyak berpikir. Hal kedua ia pahami. Orang yang lama berbaring mudah mengalami kaku otot karena kurang bergerak. Jika tidak dipijat, lama-lama ototnya bisa menyusut dan menyebabkan kelumpuhan.
Setelah memahami itu, Sari tidak langsung bekerja. Ia lebih dulu menjelajahi kamar.
Tadi saat masuk bersama Bu Pratama, ia takut membuat perempuan itu tidak senang, jadi tidak berani melihat-lihat. Baru sekarang ia menyadari latar kamar yang bahkan lebih besar dari rumah neneknya ini terasa cukup muram.
Ia bahkan melihat beberapa lembar kertas kuning ditempel di kamar. Ia mengenali benda itu. Itu jimat yang biasanya dijual para dukun atau pendeta palsu. Meski sudah abad dua puluh satu, masih ada orang seperti itu, dan sembilan dari sepuluh hanya menipu orang yang percaya hantu dan dewa.
"Tidak kusangka keluarga Pratama juga percaya hal seperti ini..."
Sesaat kemudian ia mengerti. Mungkin mereka sudah terdesak sampai jalan buntu. Demi membuat Arga sadar, apa pun rela dicoba.
Sari menghela napas, tetapi tidak menyentuh kertas-kertas itu maupun tulisan dan gambar aneh di dinding yang tampaknya punya tujuan tertentu yang tidak ia pahami.
Setelah melihat sekeliling, ia menyadari perabot di kamar ini sangat sedikit dibanding luasnya. Itu membuat kamar tampak kosong dan semakin dingin.
Setelah memeriksa secara umum, ia mulai meneliti lebih jauh, misalnya lemari pakaian.
Ternyata pelayan sudah memasukkan barang-barangnya ke dalam lemari.
Sari melihat barang-barangnya yang sedikit berada di sudut lemari, tampak sangat sederhana, miskin, dan sama sekali tidak selaras di antara pakaian Arga yang bergaya dan mahal.
Dari ucapan Hendra, ia tahu Arga sudah menjadi pasien koma lebih dari dua tahun. Sebelumnya, pria itu adalah sosok paling unggul di generasi muda Jakarta. Tahun ini usianya tiga puluh. Membayangkan dua tahun lalu ia masih mengenakan pakaian indah ini dan tampil tegap di hadapan banyak orang, sementara sekarang hanya bisa terbaring di ranjang tanpa tahu kapan akan bangun, membiarkan pakaian itu berdebu di lemari, Sari kembali menghela napas. Rasa iba muncul di hatinya.
Tiba-tiba, karena tersentuh, Sari berjalan ke sisi ranjang, duduk, dan menggenggam tangan pria itu. "Kamu harus bangun, ya."
Saat itu ia benar-benar berharap Arga bisa sadar.
Bukan demi dirinya sendiri, melainkan karena ia tidak ingin Arga ikut tertutup debu di kamar ini seperti pakaian-pakaian di lemari itu.
Setelah melakukan semua itu, Sari baru tersadar, lalu tertawa sendiri. Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba jadi sentimental? Padahal pria ini baru ia temui belum lama.
Akhirnya Sari menyimpulkan penyebabnya adalah Arga terlalu tampan.
Ketampanan adalah akar semua alasan. Masuk akal, bukan? Sari tersenyum kecil.
Flaap, flaap.
Tiba-tiba tirai kamar seperti diterpa angin dan berkibar.
Suara itu langsung membuat Sari terkejut.
Ia menoleh ke arah tirai yang perlahan jatuh kembali, tetapi tidak memasukkannya ke hati. Pandangannya kembali ke tubuh pria itu. Saat itulah sesuatu yang tadi terlewat karena perasaan iba tiba-tiba masuk ke kesadarannya. Sari menggenggam tangan pria itu dan berseru kaget, "Eh? Kenapa tangannya sedingin ini?"