Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Berkilat Serakah
"Waktunya habis, Ti. Serahkan lima belas ribu sekarang, atau angkat kaki dari tanah pinggir hutan siang ini juga!"
Suara Paman Supri memantul di tiang kayu pendopo balai desa. Pria itu berdiri berkacak pinggang, dada membusung di depan puluhan warga yang berjejal. Asap rokok kretek mengepul dari bibirnya yang tersenyum culas. Di sebelahnya Broto Kancil mengelus tas kulit, memamerkan gigi emas palsu. Sementara Carik desa duduk santai di kursi jati, memangku buku tebal catatan aset warga.
Hari ketiga. Sidang adat digelar terbuka. Warga berkerumun, meninggalkan ladang mereka yang mati dimakan wereng, menjadikan tragedi keluarga janda Siti tontonan pagi itu.
Siti menunduk di bangku panjang pesakitan, tangannya meremas ujung selendang batik usang. Jemarinya sedingin es, tubuhnya bergetar menghadapi tekanan aparatur desa yang bersekongkol merampas satu-satunya tempat bernaung mereka. Di belakangnya Danu berdiri kaku, rahang mengeras. Matanya menyala, siap mematahkan tangan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya.
"Kami tidak punya uang tunai sebanyak itu, Kang Supri," jawab Siti lirih. Suaranya pecah menahan tangis, nyaris tenggelam bisik-bisik tetangga.
Broto Kancil tertawa nyaring, menepuk paha. "Sudah kuduga! Orang miskin pinggir hutan malah pelihara gengsi setinggi langit. Pak Carik, catat hari ini. Tanah kapur beserta gubuknya resmi disita untuk melunasi utang almarhum Kakek Hadi!"
Carik mengangguk pelan. Ia membuka tinta, mencelupkan pena besi, siap mencoret nama Siti dari daftar kepemilikan tanah secara sepihak.
"Tahan penamu, Pak Carik."
Seroja melangkah maju, membelah ketegangan dengan langkah tenang. Gadis delapan belas tahun itu memakai kebaya lurik bersih, rambut hitamnya disisir rapi terikat di belakang. Wajahnya datar, tidak menunduk, tidak memohon belas kasihan, cukup wibawa sunyi yang membuat puluhan pasang mata terpaku padanya.
"Ibu saya bilang kami tidak bawa uang tunai, bukan berarti keluarga kami tidak bisa melunasi utang rekayasa ini," ucapnya lugas. Suaranya jernih, menyapu setiap sudut pendopo.
Supri mendengus kasar, membuang puntung rokok lalu menginjaknya keras. "Jangan banyak omong kosong, Nduk. Dari mana anak buangan sepertimu dapat lima belas ribu dalam tiga hari? Menjual harga diri ke kota?"
Tuduhan kotor itu menyulut Danu. Pemuda itu menggeram, siap menerjang, tapi Seroja mengangkat tangan, menahan dada sepupunya agar tetap di tempat. Ini pertarungan akal, bukan otot.
Tiba-tiba deru mesin berat merobek perhatian semua orang. Sebuah jip Toyota Land Cruiser FJ40 berwarna hijau tua memasuki halaman balai desa, menggilas kerikil dengan gagah. Kendaraan mewah itu berhenti tepat di depan anak tangga pendopo, menerbangkan debu tipis.
Pintu kiri terbuka. Pak Subroto turun melangkah. Pengusaha kota kabupaten itu memakai kemeja safari rapi dan celana kain berwiru tegas. Wibawanya seketika menekan ego para perangkat desa, Supri dan Carik terperanjat, refleks berdiri tegak dari sikap santai mereka.
"Maaf datang terlambat, Seroja," sapa Pak Subroto ramah. Ia menaiki tangga pendopo, sengaja mengabaikan senyum kaku sapaan Paman Supri.
"Tidak masalah, Pak," balas Seroja dengan anggukan hormat.
Pak Subroto berbalik, menatap lurus barisan perangkat desa dan kerumunan warga.
"Saya datang jadi penjamin mitra bisnis utama saya," suaranya berat, bergema mendominasi ruang sidang. "Tadi malam syukuran pernikahan putri Bupati berjalan lancar. Hidangan penutup melon madu tanaman Seroja dapat pujian langsung dari Bapak Bupati dan tamu pejabat tinggi provinsi. Buahnya manis, padat, ukurannya pas. Bapak Bupati titip apresiasi tinggi buat petani muda yang berhasil panen melon di tanah kapur, di tengah musim kemarau krisis ini."
Keheningan pekat menyelimuti balai desa. Warga saling berpandangan tidak percaya. Melon madu? Apresiasi Bupati? Nama gadis yang seminggu lalu diusir dengan hina itu kini diakui penguasa tertinggi wilayah mereka.
Wajah Supri memucat. Rahangnya jatuh terbuka, tak berkata. Rencananya menjatuhkan Seroja berbalik menghantam dirinya sendiri. Anak perempuan Hardiman ini bukan cuma bertani sayur, ia menembus jaring birokrasi elite kabupaten lewat jalur pangan, hanya dalam hitungan hari.
Pak Subroto menatap Broto Kancil dengan pandangan merendahkan. Dari saku kemejanya ia mengeluarkan amplop cokelat tebal yang tersegel rapi.
"Saya dengar ada lintah darat lokal yang menagih utang lama pakai bunga mencekik," lanjutnya, melangkah mendekati meja Carik. "Saya tawarkan pinjaman modal usaha resmi berbunga rendah buat usaha tani Seroja. Di dalam amplop ini ada lima belas ribu tunai. Cukup melunasi utang itu secara sah, di depan perangkat desa dan seluruh warga, hari ini juga."
Broto Kancil menelan ludah kasar. Matanya berkilat serakah melihat ketebalan amplop itu. Ia tidak peduli asal uangnya, yang penting nominal fantastis itu masuk ke tangannya.
"Bagus! Bayar sekarang!" serunya bersemangat, mengulurkan tangan siap menyambar.
"Tahan, Pak Broto."
Seroja melangkah cepat memotong jalurnya. Ia berdiri tegak di depan amplop itu, jadi dinding pelindung bagi modal usahanya.
"Kita selesaikan sesuai hukum niaga yang benar," ucapnya dingin, menatap lurus mata pria kurus itu tanpa berkedip. "Bapak bawa tagihan, berhak terima pelunasan. Tapi aturan pasarnya jelas: ada uang tunai, ada barang bukti."
Broto Kancil mengerutkan dahi bingung. "Barang bukti apa, Nduk?"
"Surat Segel asli yang Bapak klaim ditandatangani almarhum Kakek Hadi," jawab Seroja tajam, perlahan menjerat leher musuhnya. "Keluarkan dari tas itu. Serahkan fisik surat utang asli ke tangan saya sekarang. Kita bakar bersama di depan Pak Carik dan warga sebagai bukti lunas, baru lima belas ribu ini berpindah ke tangan Bapak."
Tuntutan itu menghantam Broto Kancil bagai palu godam. Wajahnya mendadak pias, keringat dingin sebesar biji jagung merembes di pelipis. Tangan yang semula terulur rakus perlahan turun, bergetar tak terkendali di sisi tubuhnya.
Supri mengendus perubahan sikap anak buahnya. Ia menyikut rusuk Broto Kancil keras-keras. "Keluarkan suratnya, Broto! Cepat ambil uangnya sebelum mereka batalkan!" bisiknya mendesak lewat sela gigi.
Tapi Broto Kancil tidak bergerak merogoh tas kulitnya. Bibirnya bergetar hebat, matanya panik menyapu lantai pendopo.
Tiga hari lalu, pulang dengan dada terbakar amarah setelah gagal menggertak Seroja, gerimis mengguyur desanya. Atap rumahnya bocor, air menetes masuk ke tas kulit yang terbuka, merendam kertas usang buatannya sendiri semalaman. Tinta biru murahannya luntur, surat segel palsu itu berubah jadi gumpalan bubur kertas tak berbentuk.
Ia datang ke sidang hari ini cuma bermodalkan nyali gertakan kosong. Yakin Siti akan menyerahkan tanahnya karena malu ditagih paksa di depan publik. Ia tidak pernah membayangkan Seroja sanggup datangkan lima belas ribu tunai, dan lebih gila lagi, menuntut pertukaran bukti fisik.
"Mana surat aslinya, Pak Broto?" desak Seroja, menaikkan suaranya, memojokkan musuhnya sampai ke ujung tebing.