NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:221.8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

"Mas, kayaknya... Kamu sama Bu Anggun sudah lama kenal ya?"

DEG!

"Kok tiba-tiba nanya itu?"

"Iya, soalnya Mas kayak biasa aja tadi Bu Anggun di rumah. Waktu pertama kali Bu Anggun datang ke rumah juga, Mas kayak... Aneh gitu wajahnya... Apa ya..."

"Mas cuma sayang sama kamu, Ning. Mas enggak bakal berpaling ke Bu Anggun."

"Iihh! Apa sih, Mas!" Ning memukul dada Yuda yang terbuka. Malam ini, suaminya sudah ngajak ninu-ninu lagi.

"Bukan gitu maksud Ning."

Yuda tertawa kecil. "Jadi, apa?"

"Tau ah!" Ning memalingkan wajahnya, ngambek.

"Eh, udah bisa ngambek sekarang," goda Yuda mencolek pipi istrinya.

Hening sebentar, Ning masih melihat ke arah lain. Yuda tersenyum, menyentuh wajah Ning, agar melihat ke arahnya.

"Mas tuh, sebenarnya agak kaget juga. Kan Mas udah bilang sebelumnya, kalau... Bu Anggun itu salah satu yang pernah jadi customer Mas. Makanya, Mas agak gimana waktu itu. Akhir-akhir ini dia juga sepertinya suka datengin kamu, ya?" kata Yuda. "Apa kalian jadi dekat sekarang?"

"Entahlah."

"Loh, masih ngambek istri cantiknya Mas ini?" Yuda gemas, menunduk sampai wajah mereka hanya sejengkal. Ia tidak mencium, hanya menggesekkan ujung hidungnya ke hidung Ning, pindah ke pipi. Kali ini bibirnya ikut digesekkan di sana.

"Udah dong ngambeknya, Sayang..."

"Ning enggak ngambek kok."

"Kok suaranya ketus gitu?" goda Yuda lagi.

"Ning enggak ketus..."

Yuda tertawa tanpa menjauhkan wajahnya dari wajah Ning. "Iya, enggak ketus..." ucapnya, seraya mengecup sudut bibir Ning.

Wajah Yuda terlalu dekat, reflek mata Ning jadi sayu.

Cup.

Kecupan kecil di bawah bibir.

Cup.

Kecupan lain di atas bibir.

Cup.

Dan satu lagi di hidung.

"Mass... Mmmppp...."

Yuda sudah membungkamnya dengan hisapan dalam di bibir istrinya. Ning memukul ringan lengan Yuda, lalu mencubit pinggangnya.

"Hoosshh, hosh, hosh!"

Ning kehabisan napas. Yuda menghisapnya dengan rakus.

"Mas mau bunuh Ning ya?"

Yuda tertawa. "Enggak!" elaknya. "Mas mau kamu semalaman ini!"

Malam itu... Ning tidur nyenyak sekali, setelah Yuda membuatnya tepar dengan beberapa kali mengeluarkan cairan.

####

Esok paginya.

"Loh... Sudah bersih semua?"

Yuda nyengir. Sebelum subuh, dia sudah memanggil para pelayan khususnya untuk berberes rumah. Hanya tinggal masak saja yang dia sisakan untuk Ning.

"Tadi Mas kebangun, eh, enggak bisa lanjut tidur. Jadi, ya udahlah, dari pada ngalamun, atau gangguin kamu tidur. Mas beberes deh."

"Yah, terus Ning ngapain?" tanya Ning yang memang sudah biasa berberes dan masak selepas subuh.

Yuda menggosok dagunya pura-pura mikir. "Mmm, Mas belum masak. Enggak sempat tadi. Hehehe. Gimana kalau... Sekarang giliran Ning yang masak?" katanya sambil menyentuh bahu Ning.

"Mmm, iya... Tapi, Ning belum belanja."

"Ya ayok belanja ke pasar pagi!"

Pagi masih muda ketika Ning dan Yuda berjalan berdampingan menyusuri pasar. Udara lembap bercampur aroma tanah basah, daun pisang, dan ikan segar. Ning melangkah pelan dengan kruknya, jilbab kremnya terikat rapi, wajahnya cerah meski langkahnya kaku.

“Hati-hati, Ning. Jalan licin,” ujar Yuda refleks, tangannya sigap menahan siku istrinya.

“Iya, Mas. Ning udah biasa kok,” jawab Ning sambil tersenyum. “Pasar pagi gini malah bikin Ning semangat.”

Ini yang kedua kalinya dia ke pasar. Walau tak terbiasa, tapi demi Ning, akan dia lakukan. Mereka berhenti di lapak sayur. Ning membungkuk sedikit, memilih kangkung dan bayam dengan teliti.

“Mas, sayurnya masih segar,” katanya.

Yuda mengangguk, lalu menoleh ke lapak ikan keranjang di sebelah. “Ikan kembungnya bagus. Mas ambil, ya.”

Belum sempat Ning menjawab—

“Eh?”

Suara itu datang dari samping.

Ning menoleh. Senyumnya refleks muncul.

“Ibu… Mbak Dewi.”

Dewi hanya melirik sekilas, datar. Bu Sumi malah mendengus, sorot matanya menyapu Ning dari kepala sampai kaki.

“Ke pasar juga kamu sekarang,” gumam Bu Sumi ketus. “Pantesan.”

Ning tetap ramah. “Iya, Bu. Masak di rumah.”

Ia meraih seikat sawi yang tadi sudah ia pegang. Namun sebelum dimasukkan ke kantong—

“Yang itu buat saya,” kata Bu Sumi sambil langsung menarik sawi yang sama.

Ning terdiam sebentar. “Bu… tadi Ning yang ambil dulu.”

“Ah, sama aja,” sahut Bu Sumi. “Kamu kan bisa ambil yang lain.”

Yuda yang sejak tadi diam, rahangnya mengeras. Ia melihat Ning menahan diri—dan itu membuat dadanya panas.

Dengan gerakan cepat, Yuda meraih kembali sawi itu dan menyerahkannya ke Ning.

“Maaf, Bu. Istri saya yang ambil dulu.”

Bu Sumi terbelalak. “Eh! Kamu apa-apaan?!”

“Cari yang lain saja, Bu,” jawab Yuda dingin. “Masih banyak.”

“Berani-beraninya kamu!” suara Bu Sumi meninggi. “Nggak sopan sama orang tua, main rebut-rebut aja!”

Ning langsung menyentuh lengan Yuda. “Mas… sudah,” katanya pelan tapi tegas. Ia lalu menoleh ke Bu Sumi. “Enggak apa-apa, Bu. Ini buat Ibu saja.”

Ia menyerahkan sawi itu.

"Iya, ambil saja! Kami juga tak mau masak sawi yang udah kena sentuh Mak lampir! Bisa mencret kami!" sambung Yuda keras yang membuat Ning sedikit kaget.

Cepat-cepat Ia menarik Yuda menjauh sebelum emosi suaminya benar-benar lepas dan keributan makin besar.

"Kenapa Mas kamu tarik-tarik sih, dek?" protes Yuda mengikuti langkah Ning yang terseog.

"Mas kalau ngamuk serem." Ning berdalih.

"Hah? Ngamuk apaan?"

"Ya tadi, sampai ngatain Mak Lampir segala."

Yuda tertawa. "Iya, iya. pagi lucu banget ketemu Mak lampir sama grandong."

Ning menatapnya, tapi dia ikut tersenyum juga. "Dasar, Mas Yuda."

"Tuh, kamu ketawa juga. Jadi setuju kan, kalau mereka tuh Mak Lampir sama grandong?"

"Udah ah," Ning mengibaskan tangannya.

Mereka berjalan ke lapak lain, lebih sepi. Seorang ibu penjual tersenyum ramah.

“Pakis hutan, Mbak. Baru turun subuh tadi.”

Mata Ning berbinar. “Mas… pakis!”

Yuda ikut melihat. “Segar banget.”

“Masak pakis aja, ya?” Ning tampak bersemangat lagi, seolah kejadian barusan menguap begitu saja.

Yuda mengangguk, lalu tersenyum kecil. "Kamu bisa masak pakis?"

"Bisa dong. Ning mah bisa masak apa aja."

Di rumah, dapur kembali hidup. Ning mencuci pakis, Yuda mengiris bawang. Sesekali, Yuda mencondongkan tubuh, mengecup ringan pipi Ning.

“Mas,” protes Ning malu-malu. “Masak dulu.”

“Iya, iya,” jawab Yuda, tapi tetap tersenyum puas.

Wajan kembali beradu, aroma tumisan memenuhi rumah.

*****

Sementara itu, di rumah Pak Hasto.

Bu Sumi melempar tas belanja ke meja. “Percuma belanja! Nafsu masak hilang!”

Dewi menghela napas kesal. “Terus mau makan apa kalau Ibu enggak masak?”

“Entahlah!” Bu Sumi mendengus. “Lihat tuh Yuda. Tukang ojek sok-sokan belagu!”

Dewi menekan bibirnya, jengkel, perutnya keroncongan.

“Kalau bukan Ibu yang masak… siapa lagi?”

Bu Sumi terdiam, tapi wajahnya tetap masam.

1
Agunk Setyawan
suami dan orang tua bego
Arin
Itulah resiko yang akan terjadi. Menyodorkan Ning demi kesembuhan Ranu.... Mau apa lagi??? Maju atau mundur
delis armelia
engga sabar lanjutannya
Meliandriyani Sumardi
lanjut kak
Ariany Sudjana
katanya keluarga konglomerat, tapi buat terapi Ranu, kok harus sama Ning? kan bisa bawa ke rumah sakit, dan terapi sama dokter. kalau gini jangan salah kalau Yuda bercerai dengan Ning, karena kehadiran Ranu
Yensi Juniarti
caba tor sesekali kasih paham ranunya biar GK selalu bergantung sama bini orang...
jengkelin saya bacanya 🙏🙏🙏
Yensi Juniarti
hati hati yud...
sipat egois itu bisa menghancurkan segalanya...
hanya karena kakak mu Ranu km mengorbankan kebahagiaan km sendiri dan istrimu...
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ceritanya kok smakin gak asik gini, knp hrs ning yg terapis kan banyak d9kter dkk nya, kok kesanya ning yg hrs dikorbankan, cerita apa ini, kok rmh tangga yuda dan ning yg hrs dirahasiakan in knp, aneh in cerita, mulek udh mulai gak asik, mau hapus ae
muthia
ibunya egois😭
nunik rahyuni
knp smasih saja di jadikan umpan...kasiankau ning...
klo tentang yuda apkh bukan ank kandung ya kok katanya pewaris sesungguhnya sdh sadar🤔🤔🤔🤔
dan apa yg di lakukan ortunya seolah2 g terlalu memikirkan perasaan kening dan yuda...🤔🤔🤔jd seolah olah yuda balas budi betul g ya
Arin
Nah kan semangat Ranu buat sembuh makin besar itu bagus.....
Tapi semangat dia itu karena jatuh cinta ke Ning yang mendorong untuk segera bangkit lagi. Mending kasih tau sekarang, daripada semakin dalam dia jatuh cinta ke Ning....
Sri Rahayu
wah gawat kl Ranu jatuh cinta sama Ning...nanti bisa berantem sama Yuda 🤩🤩🤩...tp cinta nya Ning kan buat Yuda😍😍😍...lanjut Thorr😘😘😘
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kasian yuda
nunik rahyuni
rasa rasanya kok sebel aq sm yuda sekelg..
ning ayo pulang kermh q saja jgn mqu sam yuda lg kli yuda g bisa tegas dan jujur
Agunk Setyawan
anggun ini orang tua egois
mama
sumpah,..aq berharap setengah kebohongan terungkapkan ning pergi jauh biar anggun dan Yuda kelimpungan nyari.. klu perlu yg jauuuh sekalian ning..biar Yuda kepook,greget sm author ny juga dari kmrin gantung ajj ni cerita gk ndang sat set,.kmrin aj soal pk tio sat set sekarang makin kesini mkin greget
Sri Rahayu
kamu hrs ngomong ma mama mu Yuda...Ning istri mu tdk bisa terus menerus mengurus Ranu....mama nya jg gitu....uda saatnya kshtau Ranu kl Ning istrinya Yuda 🙃🙃🙃...lanjut Thorr😘😘😘
Ma Em
Mama Anggun juga Yuda lbh baik bilang terus terang sama Ranu bahwa Ning adalah salah strinya Yuda ,daripada ditutupi malah nanti Nanti malah jadi ribet .
sutiasih kasih
mm anggun... gmn sih... kn ning sdh mnikah... dan suami ning jg ankmu...
jujurlah mulai skrg mm anghun n yuda... jgn lah kalian jdikn ning umpan...
ranu jga jdi manusia kok g tau diri... klo mau smbuh kn g harus sll ning yg mndampingi terapi...🙄🙄
Nana Geulise
mama anggun salah kalau tetap menyembunyikan semuanya terhadap ning..jgn muntang2 ranu br bangun dr koma yuda dan ning yg menderita.yuda juga harus jujur kalau g mau kehilangan ning..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!