Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tegang
"Berdiri di belakang Onty, Kai." titah Callie pada keponakannya itu.
"Takut, Onty Callie. Kenapa itu tembak dol dol dol benelan?" rengek Kai yang baru kali ini berada dalam keadaan menegangkan. Entah siapa yang kali ini mengincar Callie.
Apalagi ada tiga mobil yang langsung menghadang keduanya. Sembilan orang keluar dari mobil tersebut membuat Callie waspada. Dia belum pernah melihat orang-orang di depannya ini. Logo pada kaos orang-orang itu pun sangat asing baginya. Seperti hanya logo palsu. Adanya Kai di sini, membuat Callie sedikit khawatir kalau tak bisa menjaganya. Apalagi Kai saat ini berada di belakangnya sambil memeluk kakinya dengan erat. Pergerakan Callie tidak bisa bebas untuk meladeni orang-orang di depannya. Callie mengeluarkan robot cicak buatannya diam-diam untuk membantunya. Tidak mungkin dia melawan 9 orang sendiri dan harus menjaga Kai juga.
"Sabar, jangan berisik. Biar Onty nggak panik," peringat Callie mencoba menenangkan Kai yang menangis ketakutan.
"Ikut kami menemui Bos," ucap salah satu di antara mereka dengan tatapan datarnya.
"Siapa Bos kalian?" tanya Callie sambil mencoba mengulur waktu.
"Nanti juga kamu tahu sendiri. Ikut kami secara sukarela atau seret paksa?" Orang-orang itu memberikan pilihan pada Callie. Apakah dia akan ikut atau dipaksa mengikuti mereka.
"Meleka mau culik kita, Onty Callie. Ayo pulang aja, kabul." rengek Kai yang tidak mau ikut.
"Jika kamu tidak mau ikut, tinggal saja di sini sendiri." sentak orang itu terlihat kesal pada Kai.
"Jangan bentak-bentak keponakanku," teriak Callie tak terima.
Haaaaaaaa...
Aaaaa...
Duarrr... Duarr...
Panas...
Api...
Walaupun sering berdebat dengan Kai, tapi Callie memikirkan keselamatan dari keponakannya itu. Dia sangat menyayangi Kai dan khawatir dengan keadaan keponakannya. Callie dengan cepat mengaktifkan sistem pada robot cicak yang sudah disebarnya. Robot itu langsung mengeluarkan petasan dan api hingga membakar celana sembilan orang di depan Callie.
Dor... Dor... Dor...
Argh...
Saat lawannya lengah, Callie segera saja menembakkan pistolnya ke tangan dan kaki sembilan orang itu. Dia sangat penasaran dengan tujuan orang-orang itu ingin membawanya pergi. Namun dia tak mau jika rasa penasarannya itu malah membuat Kai dalam bahaya. Sedangkan Kai yang melihat aksi dari Callie hanya bisa melongo tak percaya. Seharusnya Callie tak memperlihatkan adegan kekerasan ini di depan Kai, tapi situasi tidak mendukung.
"Onty Callie lual biasa. Bisa tembak dol dol dol benelan. Telus tadi mainannya bisa kelual petasan dan api kaya di film-film," gumam Kai sambil terus memperhatikan robot cicak yang dipikirnya adalah mainan.
Brumm...
Cittt...
"Amankan mereka semua," seru seorang laki-laki memberi perintah pada anak buahnya untuk mengamankan orang-orang yang tadi mengepung Callie dan Kai.
"Tu... Tuan Ricko," seru Callie saat mengenal siapa orang yang baru saja datang. Sedangkan anak buah Ricko langsung mengamankan sembilan orang yang tadi mengepung Callie dan Kai. Tak peduli jika mereka akan kena api.
"Jangan-jangan itu anak buahmu yang mau culik aku ya?" lanjutnya menuduh Ricko.
Pletakkk...
"Jangan jitak dahinya Onty Callie. Nanti tambah lebal malah dibuat lapangan sepak bola sama Onty," seru Kai tiba-tiba saat melihat apa yang dilakukan oleh Ricko.
Ha?
Callie pikir Kai akan membelanya karena dijitak oleh orang tak dikenal. Namun malah Kai sengaja meninggikan kemudian menjatuhkannya. Ricko menahan tawanya melihat Callie melongo tak percaya. Tadi saat hendak pulang ke rumah, Ricko tak sengaja melihat Callie dan Kai dikepung oleh orang-orang. Awalnya Ricko ingin langsung membantu tapi melihat cara Callie mengatasi hal ini membuat dia melihat terlebih dahulu. Jika nanti keadaannya tambah chaos, baru lah Ricko akan muncul.
"Mereka bukan anak buahku. Untungnya aku culik kamu juga buat apa? Kamu banyak makannya, yang ada malah boncos." ucap Ricko dengan ketus kemudian memilih masuk dalam mobilnya.
Sebental...
"Onty Callie, ayo minta mamap dulu sama Uncle itu. Kita halus pulang lho, sepedanya lusak. Masa Kai suluh jalan kaki. Bisa patah ini nanti tulang kaki Kai," ucap Kai yang meminta Callie agar minta maaf pada Ricko karena sudah menuduhnya sembarangan. Tujuannya agar mereka bisa diantar pulang tanpa jalan kaki.
"Onty nggak salah ya. Itu orang udah datang dari tadi tapi lihatin dari jauh. Siapa coba yang nggak curiga? Kalau dia itu yang menyuruh orang-orang tadi," ucap Callie dengan pemikirannya sendiri.
Eh...
Ricko tak menyangka kalau Callie ternyata mengetahui keberadaannya di sana. Siapapun pasti akan curiga kalau mengetahui ada orang yang kesusahan tapi hanya diam saja. Padahal sudah terlihat jelas kalau Callie sedang bersama Kai. Ben yang baru saja datang setelah membereskan orang-orang tadi pun menjelaskan. Bahwa mereka sengaja memantau dari jauh untuk melihat kemampuan Callie. Namun Callie masih tak percaya dan merasa bahwa itu hanya sebuah alasan semata.
"Kami benar tidak tahu tentang orang-orang tadi. Kami akan mencari ta..."
"Aku bisa mencari tahu sendiri. Ini alamat untuk kalian bawa orang-orang tadi. Aku yang akan memberikan hukuman sendiri pada mereka. Jadi tidak perlu ikut campur," sela Callie yang tak ingin punya hutang budi pada siapapun. Ben langsung melihat ke arah Ricko untuk meminta persetujuan. Ricko menganggukkan kepalanya.
"Baik, Nona Callie." Ben segera menerima alamat yang diberikan oleh Callie kemudian pergi menghubungi anak buah Ricko.
"Onty Callie tumben sekali mukanya selius. Lagi ngeljain ujian wawancala kali ya," gumam Kai yang tak berani bicara saat melihat wajah Callie.
"Biar aku antar pulang. Kasihan itu anak kecil, udah kaya mau pingsan." Ricko memberi kode pada Callie untuk melihat Kai.
Sebenarnya Callie tidak setuju diantar pulang oleh Ricko. Apalagi dia juga belum tahu tentang siapa sosok Ricko ini. Jika dilihat banyaknya pengawal yang mendampinginya saat datang dan pergi dari perusahaannya, Callie yakin kalau Ricko bukan orang biasa. Namun sampai sekarang Callie masih mencari tahu siapa sosok Ricko sebenarnya. Callie merasa bahwa Ricko ini bukan hanya pebisnis biasa. Pasalnya identitas Ricko dan keluarganya itu sama dengan dirinya. Sangat susah untuk dicari sehingga Callie perlu berhati-hati.
"Ya udah nih bawa aja si Kai. Jual aja juga nggak papa," Callie malah menarik tangan Kai agar segera mendekat pada Ricko.
"Lagian kita nggak sedekat itu sampai harus mengantarku pulang," ucap Callie membuat Ricko merasa tertantang sekaligus penasaran.
Hueeeee...
"Sembalangan Onty Callie ini. Kai yang tampan ini ndak bisa dijual. Kai ini milik kelualga lo.."
Hmph...
Keluarga lokal negara ini,
Kami pulang dulu,
Onty Callie bohongin Kai ya? Tadi bilang lantainya lusak lho, sekalang kok bisa.
Hehehe...
Dasar cewek aneh. Dengan pria tampan dan kaya sepertiku, tidak tertarik sama sekali.