NovelToon NovelToon
Kontrak Hamil Anak Bos

Kontrak Hamil Anak Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Sarapan Bersama dan Halte Bus

Pagi hari di mansion Samudra terasa sangat tenang. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar kamar Sarah, menerangi ruangan dengan warna keemasan. Sarah membuka matanya perlahan, merasa jauh lebih segar daripada semalam. Setelah makan pasta dan berbincang dengan Samudra, ia akhirnya bisa tidur dengan nyenyak.

Sarah bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi, dan mandi dengan air hangat. Ia mengenakan kemeja putih polos dan celana panjang berwarna navy, lalu merapikan rambutnya dengan sedikit hair serum. Penampilannya sederhana, tapi rapi.

Saat ia keluar dari kamar, ia mendengar suara langkah kaki di lorong. Seorang wanita muda dengan rambut diikat kuncir kuda, mengenakan celemek putih, sedang berjalan membawa nampan berisi bunga segar.

"Selamat pagi, Bu Sarah!" sapa wanita itu dengan ramah.

Sarah tersenyum. "Selamat pagi. Kamu Yola, ya?"

"Iya, Bu. Saya Yola, asisten rumah tangga di sini. Kemarin saya sempat berkenalan sebentar dengan Ibu," jawab Yola, yang umurnya memang tidak jauh dari Sarah, sekitar 25 tahun.

"Senang berkenalan, Yola. Panggil saya Sarah saja, tidak usah 'Bu'," ujar Sarah.

Yola tersenyum lebar. "Baik, Sarah. Sarapan sudah siap di ruang makan. Tadi saya sudah siapkan sup hangat seperti yang Ibu—eh, seperti yang Sarah bilang kemarin. Ada juga roti panggang dan jus jeruk segar."

Sarah merasa hangat mendengar perhatian itu. "Terima kasih, Yola. Kamu sangat baik."

Sarah berjalan menuruni tangga menuju ruang makan. Ruangan itu luas, dengan meja panjang kayu jati yang sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan. Ada sup, roti, buah-buahan, dan jus.

Namun, saat Sarah duduk di kursi, ia melihat Samudra sudah berada di ujung meja. Pria itu mengenakan kemeja hitam lengan panjang, dengan secangkir kopi hitam di tangannya. Ia sedang membaca tablet, tapi matanya langsung terangkat saat Sarah masuk.

"Selamat pagi, Sarah. Tidurmu nyenyak?" tanya Samudra.

"Selamat pagi, Pak. Sangat nyenyak," jawab Sarah.

"Makanlah. Yola sudah menyiapkan sarapanmu khusus," ujar Samudra.

Sarah mengambil sup hangat dan mulai menyeruputnya perlahan. Rasanya sangat lezat, dengan potongan ayam dan sayuran yang segar. Di sampingnya, ada roti panggang dengan selai buah. Sarah menikmati makanannya dengan tenang. Samudra juga makan dengan tenang, sesekali menyeruput kopinya.

Suasana sarapan terasa sangat tenang. Tidak ada pembicaraan yang berarti, hanya suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Dan untuk pertama kalinya, Sarah merasakan bahwa ia tidak lagi merasa seperti tamu asing. Ia mulai terbiasa dengan meja makan ini.

Setelah sarapan selesai, Samudra menatap Sarah. "Kita harus berangkat ke kantor sekarang. Aku ada rapat dengan tim Jerman pukul sepuluh. Kamu ikut denganku."

Sarah mengangguk. "Baik, Pak."

Namun, saat Sarah berdiri, ia mengingat sesuatu. "Aku tidak bisa terlihat berangkat bersama Samudra. Ada gosip di kantor. Orang-orang bisa bicara."

Mereka berdua berjalan menuju pintu utama, di mana mobil Samudra sudah diparkir. Felix, yang sudah datang pagi, membukakan pintu untuk mereka.

"Pak," ujar Sarah, berhenti di depan mobil. "Saya... saya ingin turun di halte bus dekat kantor."

Samudra mengerutkan kening. "Kenapa? Kita bisa langsung ke kantor."

"Pak, saya tidak ingin gosip," jawab Sarah jujur. "Orang-orang di kantor sudah mulai melirik saya. Mereka melihat perhatian Bapak. Jika mereka melihat saya naik mobil yang sama dengan Bapak, mereka akan berbicara."

Samudra menatap Sarah. "Kamu peduli dengan gosip?"

"Pak, saya tidak ingin posisi saya menjadi sulit," jawab Sarah. "Saya hanya asisten. Dan saya juga sedang hamil. Saya tidak ingin ada rumor yang menyakitkan."

Samudra menghela napas. Ia melihat wajah Sarah yang serius, dan ia tahu wanita ini tidak mau dianggap sebagai "simpanan" bosnya. Ia menghargai itu.

"Baik. Turun saja di halte bus dekat kantor. Tapi, janji: kamu langsung masuk kantor, tidak boleh jalan-jalan," ujar Samudra.

"Terima kasih, Pak," jawab Sarah lega.

Mereka pun masuk ke dalam mobil. Felix mengemudi, Samudra dan Sarah duduk di belakang. Perjalanan menuju kantor terasa hening. Samudra sesekali menatap Sarah, tapi ia tidak berbicara. Sarah memilih menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan kota Milan yang mulai ramai.

Setelah sekitar 30 menit, Felix menepi di sebuah halte bus yang tidak jauh dari kantor. Mobil berhenti dengan lembut.

"Terima kasih, Pak. Terima kasih, Felix," ujar Sarah, membuka pintu.

"Jangan lupa, nanti makan siang," ujar Samudra dari dalam mobil. "Dan minum susu hangat."

Sarah tersenyum. "Iya, Pak. Saya akan ingat."

Sarah turun, dan mobil Samudra melaju meninggalkan halte. Sarah berjalan perlahan menuju gedung kantor, merapikan blusnya, dan mengatur napasnya.

"Hari ini, aku hanya asisten Sarah. Tidak lebih," batinnya.

Ia berjalan memasuki gedung kantor. Saat ia melewati resepsionis, beberapa pegawai menyapanya. Sarah tersenyum ramah, lalu melangkah menuju lift. Saat pintu lift terbuka, ia melihat Luna sudah berada di dalam.

"Sar! Kamu datang pagi banget," sapa Luna.

"Iya, Lun. Aku agak cepat bangun," jawab Sarah.

Luna menatap Sarah. "Wajahmu segar banget. Padahal kemarin kamu habis kebakaran. Kok kamu bisa segini tegar?"

Sarah tersenyum tipis. "Aku bersyukur masih bisa hidup, Lun."

Luna mengangguk. "Iya. Yang penting kamu dan janinmu selamat. Harta bisa dicari lagi."

Mereka berdua turun di lantai kantor. Sarah menuju mejanya, dan Luna menuju meja kerjanya. Sarah duduk, membuka laptopnya, dan mulai bekerja. Namun, di dalam hatinya, ia merasakan ada kehangatan yang tidak bisa ia jelaskan.

"Aku tinggal di mansion Samudra. Aku sarapan bersamanya. Dan aku mulai merasa nyaman. Ini sangat berbahaya."

Sarah menggelengkan kepalanya, mencoba fokus pada pekerjaan. Tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa Samudra sudah mulai memasuki hidupnya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!