Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pintu kamar terbuka perlahan. Gavin melangkah masuk sambil mengusap tengkuknya yang terasa pegal setelah seharian bekerja di kantor.
"Aku mau sikat gigi dulu," gumamnya pelan. Ucapan itu lebih terdengar seperti kebiasaan berbicara pada diri sendiri daripada ditujukan kepada orang lain.
Tanpa menaruh curiga apa pun, Gavin berjalan ke arah kamar mandi. Ia mengulurkan tangan, lalu menekan gagang pintu.
Pintu terbuka perlahan. Di saat yang bersamaan, Dara yang baru selesai berganti pakaian langsung membeku di depan cermin. Ia sudah mengenakan lingerie berwarna merah yang dibelikan Sherly siang tadi. Namun, kimono tipis sebagai penutup luarnya masih menggantung di kedua lengannya. Ia bahkan belum sempat mengikat talinya.
Begitu mengangkat kepala, tatapan mereka langsung bertemu. Waktu seolah berhenti.
Gavin mematung di ambang pintu. Matanya refleks tertuju pada sosok istrinya. Rambut panjang Dara masih sedikit basah sehabis mandi. Beberapa helai menempel di pipinya yang merona. Wajahnya bersih tanpa riasan, justru membuat kecantikannya terlihat semakin alami.
Sementara, pakaian tidur berwarna merah yang dikenakan Dara membalut tubuhnya yang selama ini tertutupi, kini terlihat seksi dan anggun.
Tidak berlebihan, tetapi cukup membuat Gavin kehilangan kata-kata dan aliran darah di sekujur tubuhnya berdesir lembut. Pria itu sampai lupa berkedip.
Di sisi lain, Dara baru menyadari kesalahan yang dibuatnya. Matanya membelalak.
"Astaga, pintunya!" Ia baru ingat kalau sejak tadi lupa mengunci pintu kamar mandi.
Panas langsung menjalar ke seluruh wajahnya. Dengan gerakan refleks, Dara segera menarik kimono tipis itu menutupi tubuhnya. Jemarinya gemetar saat berusaha mengikat talinya.
"A-Aa ...," ucapnya terbata-bata.
Bibir Dara bergerak, tetapi tidak ada kalimat yang berhasil keluar. Rasa malu membuat pikirannya kosong.
Sementara itu, Gavin masih berdiri di tempatnya. Baru beberapa detik kemudian ia seperti tersadar dari lamunannya. Pria itu langsung berdeham pelan.
"Maaf. Aku tidak sengaja," kata Gavin canggung.
Nada suara Gavin terdengar tenang, tetapi telinganya mulai memerah. Ia segera memalingkan wajah ke arah lain.
Dara menggigit bibir bawahnya pelan. "I-iya, Aa."
Perempuan itu menundukkan kepala dalam-dalam sambil terus merapikan kimono yang kini berhasil menutupi tubuhnya. Jantungnya berdegup sangat kencang.
"Bagaimana ini?" batin Dara panik. "Pasti Aa Gavin menganggap aku perempuan aneh."
Ucapan ibu mertuanya siang tadi kembali terngiang di kepalanya. Namun, Dara sama sekali tidak membayangkan keadaan akan menjadi seperti ini. Bukannya tampil manis, ia justru membuat dirinya sendiri hampir pingsan karena malu. Rasanya ia ingin menghilang saat itu juga.
Sementara itu, Gavin masih berdiri membelakangi Dara. Ia mengusap wajahnya pelan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba menjadi tidak beraturan. Entah mengapa bayangan Dara beberapa detik yang lalu terus muncul di benaknya.
Pria itu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata pelan. "Kalau kamu sudah selesai, aku mau masuk."
"I-iya, Aa." Dara buru-buru bergeser ke samping, memberi jalan.
Tanpa berani menoleh sedikit pun, Gavin melangkah masuk ke kamar mandi. Namun, tepat sebelum menutup pintu, langkahnya kembali terhenti.
"Dara."
"Iya?" jawab Dara lirih.
Gavin masih membelakangi istrinya. Beberapa detik ia terdiam, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu. Lalu, dengan suara pelan yang terdengar begitu tulus, ia berkata, "Kamu cantik."
Kalimat itu sederhana. Hanya dua kata, namun rasanya cukup membuat seluruh tubuh Dara membeku. Belum sempat ia memberikan jawaban, pintu kamar mandi sudah lebih dulu tertutup.
Dara masih berdiri mematung di tempatnya. Tatapannya kosong mengarah ke pintu yang kini telah tertutup rapat. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat kedua tangannya menutupi wajah yang sudah semerah tomat.
"Kenapa Aa memuji saya lagi?" bisiknya lirih.
Dara menggeleng pelan sambil tersenyum malu. Jantungnya masih berdegup kencang, tetapi kini bukan hanya karena rasa gugup. Ada perasaan hangat yang perlahan memenuhi hatinya.
Di balik pintu kamar mandi, keadaan Gavin ternyata tidak jauh berbeda. Pria itu menyandarkan punggungnya ke daun pintu sambil mengembuskan napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak mencoba menenangkan dirinya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dirinya benar-benar merasa gugup menghadapi seorang perempuan. Bahkan saat rapat penting dengan klien besar pun ia tidak pernah segugup ini. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Ternyata, Mama memang sengaja," gumamnya pelan sambil menggeleng kecil.
Sementara itu, di luar kamar mandi, Dara berjalan pelan menuju ranjang. Ia memeluk bantal di dadanya, lalu duduk di tepi tempat tidur dengan senyum yang tak kunjung hilang. Rasa malu memang masih memenuhi hatinya. Namun, di balik kecanggungan itu, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Hubungan yang awalnya dibangun karena perjodohan kini perlahan berubah menjadi kebersamaan yang hangat. Bukan karena kata-kata manis yang berlebihan. Melainkan melalui perhatian-perhatian kecil, pujian yang tulus, dan momen-momen sederhana yang tanpa mereka sadari membuat hati keduanya semakin dekat.