NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Adelina menahan napasnya sejenak. Ia tidak langsung berbalik, namun raut wajahnya yang tadinya dingin dan penuh percaya diri kini mengeras.

Tuan Besar Gandhi menyandarkan punggungnya di kursi utama. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya terkunci pada cucu perempuannya itu.

"Kau pikir, keputusan mengenai masa depan Keluarga Atmadja bisa kau batalkan hanya karena keegoisanmu?" tanya Tuan Besar Gandhi dengan nada yang sarat akan ancaman.

Argani Atmadja, ayah Adelina, langsung menundukkan kepala. Ia tahu betul jika sang Tuan Besar sudah mengeluarkan nada seperti itu, tidak ada satu pun yang berani membantah.

Adelina perlahan membalikkan badannya, lalu menatap kakeknya. "Kakek, ini sama sekali bukan keegoisan. Perjodohan seperti ini..."

"Cukup!" pangkas Tuan Besar Gandhi dengan dingin, memotong kalimat Adelina tanpa ragu.

"Kau bisa memang Direktur Eksekutif di Atmadja Holdings..." ujar Tuan Besar Gandhi pelan. "Tapi jangan lupa, Adelina. Siapa yang memberikan semua fasilitas dan otoritas itu padamu."

Suasana ruangan menjadi sangat hening. Bahkan Tuan Besar Hardiman dari Keluarga Adhitama hanya diam menyimak, menyaksikan bagaimana Tuan Besar Gandhi menegakkan otoritasnya.

"Jika kau melangkah keluar dari pintu itu," lanjut Tuan Besar Gandhi dengan nada yang sangat lugas, "Seluruh hak atas jabatanmu akan dicabut secara tidak hormat."

Mendengar hal itu, Adelina mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih.

"Bukan hanya itu," ancam Tuan Besar Gandhi lebih jauh. "Seluruh aset pribadi milikmu akan aku alihkan kepada Rendra. Kau akan keluar dari rumah utama tanpa membawa nama Atmadja."

Rendra Atmadja, hanya melirik adiknya dengan tatapan dingin tanpa berniat membela. Di keluarga mereka, kekuasaan dan kepatuhan adalah hukum tertinggi.

"Kakek mengancamku?" suara Adelina terdengar bergetar, menahan emosi yang mendadak berkecamuk di dalam dadanya.

"Aku tidak sedang mengancam, Adelina," tegas Tuan Besar Gandhi tanpa sedikit pun riak rasa kasihan di matanya. "Aku sedang memberikanmu pilihan."

Miranti Adhitama yang menyaksikan kejadian itu menyunggingkan senyum licik. Hatinya merasa puas melihat keangkuhan Adelina yang dihancurkan oleh kakeknya sendiri.

Adelina kini berdiri mematung di tengah ruangan. Harga dirinya melarangnya untuk menyerah, namun ancaman kakeknya adalah pukulan mematikan bagi karier dan pengaruhnya.

Napas Adelina berembus pelan, mencoba menahan gejolak amarah yang membara di dadanya. Matanya yang jernih dan tajam menatap Tuan Besar Gandhi.

"Baik, Kakek," ucap Adelina dengan suara yang sangat pelan dan tenang. "Aku mengerti."

Adelina melangkah kembali ke meja perjamuan, memegang sandaran kursi sejenak sebelum akhirnya duduk kembali dengan postur tegap sempurna.

Melihat kepatuhan cucunya itu, raut kaku di wajah Tuan Besar Gandhi sedikit mengendur. Pria tua itu lalu mengangguk pelan, merasa puas karena otoritasnya tetap tak tergoyahkan.

"Pilihan yang bijak, Adelina," ujar Tuan Besar Gandhi datar. Tatapan matanya yang dingin menghunjam lurus ke arah cucunya.

Miranti Adhitama tersenyum sangat puas, sementara Kiara dan Savina melirik Adelina dengan tatapan mengejek yang terselubung.

Tuan Besar Gandhi lalu mengetukkan tongkatnya ke lantai. Tatapannya berganti menatap Tuan Besar Hardiman dengan sikap tegas yang tak bisa diganggu gugat.

"Sesuai kesepakatan kita, Hardiman," ucap Tuan Besar Gandhi dengan nada tegas. "Pernikahan Darius dan Adelina akan dilangsungkan 4 hari lagi."

Mendengar pengumuman tersebut, reaksi yang berbeda terlihat di wajah semua orang yang hadir di ruangan VIP The Imperial Hotel.

Miranti Adhitama menyunggingkan senyuman yang penuh makna. Kiara dan Savina pun saling bertukar lirik mengejek ke arah Adelina yang kini duduk membisu.

Sementara itu, Surya Adhitama menghela napas lega. Sedangkan Tuan Besar Hardiman mengangguk pelan, menerima kesepakatan itu.

Adelina Atmadja tetap duduk tegak, namun tangannya yang terkepal rapat di bawah meja menunjukkan betapa hebatnya gejolak amarah yang ia tahan.

Ia melirik tajam ke arah Darius, berharap melihat raut wajah kepanikan atau keputusasaan di wajah calon suaminya itu. Namun, harapan itu sirna.

Darius tetap duduk dengan tenang sambil menyandarkan punggungnya. Tak sedikit pun raut wajahnya menunjukkan keputusasaan atas keputusan sepihak yang baru saja dijatuhkan padanya

Tuan Besar Gandhi lalu memberikan isyarat kepada para pelayan hotel yang bersiaga di sudut ruangan. "Pelayan, sajikan hidangan utamanya sekarang."

"Baik, Tuan," sahut sang manajer perjamuan yang langsung membungkuk penuh hormat.

Pintu samping ruangan VIP terbuka, dan belasan pramusaji melangkah masuk secara berurutan. Mereka membawakan deretan hidangan kelas atas, lalu menatanya di atas meja.

"Marilah kita nikmati makan malam ini," ujar Tuan Besar Gandhi dengan tenang seraya mengangkat sendok dan garpunya, memulaikan perjamuan secara formal.

Mendengar hal itu, Tuan Besar Hardiman segera mengangguk pelan. "Terima kasih, Gandhi."

Seluruh anggota Keluarga Adhitama dan Keluarga Atmadja mulai menggerakkan alat makan mereka. Suara dentingan halus antara sendok, garpu, dan piring menjadi satu-satunya suara yang terdengar.

Adelina Atmadja memotong daging wagyu di piringnya dengan sangat perlahan. Selera makannya telah hilang sepenuhnya sejak penolakannya dipatahkan oleh kakeknya sendiri.

Setiap gigitan terasa hambar di lidahnya. Namun, sebagai wanita berpendidikan dan berkelas, ia tetap mempertahankan gestur tubuh yang sempurna, tidak menunjukkan sedikit pun kelemahan di depan umum.

Sementara itu, Darius makan dengan sangat tenang, rapi, dan teratur, tanpa ada sedikit pun keraguan ataupun rasa canggung.

Melihat cara makan Darius, tatapan skeptis keluarga Atmadja yang tadinya berniat mencari celah perlahan berubah menjadi heran dan sangat terkejut

Wisnu Atmadja yang semula bersiap melontarkan sindiran tajam mengenai latar belakang Darius seketika terdiam dengan pisau menggantung di udara.

'Bagaimana mungkin?' batin Wisnu Atmadja penuh kebingungan. 'Dari cara makannya... seolah-olah dia terbiasa menghadiri jamuan makan malam seperti ini.'

Di sebelah Wisnu Atmadja, Shinta dan Yudha saling bertukar pandang dengan ekspresi kaget. Tatapan meremehkan di wajah mereka perlahan luntur, berganti dengan rasa sungkan.

Bahkan Tuan Besar Gandhi dan Argani Atmadja tak sanggup menyembunyikan keterkejutan halus di balik sorot mata mereka yang kaku.

Darius menutup makan malamnya dengan tenang. Ia meletakkan pisau dan garpu sejajar di atas piring, memperlihatkan etiket makan yang sempurna.

Sorot mata Darius yang begitu dingin, menyapu satu per satu wajah anggota Keluarga Atmadja yang masih terpaku dalam keheranan.

"Kenapa, Tuan-Tuan?" ucap Darius dengan nada yang datar. "Apakah ada yang salah dengan hidangannya... atau ada hal lain pada diriku yang membuat kalian mendadak kehilangan selera makan?"

Pertanyaan Darius yang mengalun datar namun tajam itu bagaikan tebasan pedang tak kasat mata. Suasana di dalam ruang VIP The Imperial Hotel seketika membeku.

"Tak ada yang salah dengan hidangannya, Darius," sahut Tuan Besar Gandhi seraya menyapu pandangannya. "Kami hanya sedikit terkejut... ketenangan dan tata kramamu cukup mengagumkan."

"Ketenangan bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dari kemewahan, Tuan Besar Gandhi," balas Darius dengan singkat. "Melainkan dari pengalaman hidup."

Adelina yang duduk di seberang Darius memandangnya dengan tatapan yang makin dalam dan penuh tanda tanya. Rasa benci dan muak akan perjodohan ini belum sepenuhnya hilang dari benaknya.

Namun pikirannya kini di penuhi rasa ingin tahu yang sangat besar. Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa sikapnya begitu tenang dan percaya diri?

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!