NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Saat Ia Berhenti Memohon

Pandangan Alden tertuju pada Belvina tanpa berpindah, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak ia ucapkan.

“Bukan soal berani atau tidak,” katanya akhirnya.

Ia melangkah mendekat, cukup untuk memangkas jarak yang tadi sempat terbentuk.

“Kau belum tahu apa yang terjadi… kalau kau benar-benar pergi.”

Ia membiarkan satu detik berlalu, lalu melanjutkan,

“Dan kau tetap ingin mencobanya?”

Belvina tertawa pendek. Tidak ada hangat di sana.

“Memangnya apa yang akan terjadi?” ucapnya ringan, nyaris meremehkan. “Egomu terluka karena tidak bisa lagi mengontrolku… atau harga dirimu jatuh karena aku tidak mencintaimu lagi?”

Rahang Alden mengeras. Garisnya terlihat jelas di bawah cahaya.

“Jangan menguji kesabaranku, Belvina.” Suaranya rendah, ditekan.

Belvina memiringkan kepala, seolah benar-benar mempertimbangkan.

“Apa tidak kebalik?” balasnya tenang. “Bukannya selama ini kamu yang menguji kesabaranku?”

Ia melangkah sedikit, memperkecil jarak tanpa terlihat menyerang.

“Menikahiku… tapi tidak pernah memperlakukanku seperti istri. Mengabaikanku. Membela wanita lain.” Sudut bibirnya terangkat tipis. “Kamu memperlakukanku seperti sesuatu yang tidak berharga.”

Napas Alden tertahan sejenak.

“Apa kamu pikir aku tidak punya batas?” lanjutnya dengan suara rendah. “Atau tidak punya harga diri?”

Alden menarik napas dalam, lebih panjang kali ini. Seolah menahan sesuatu yang mulai keluar dari jalurnya.

“Baik.” Suaranya lebih datar sekarang. Terlalu datar. “Aku akan berubah.”

Belvina tidak langsung menjawab. Ia memerhatikan tanpa berkedip, lalu, tersenyum kecil.

“Tidak,” katanya ringan. Satu kata. Tapi final. “Kamu terlambat.”

Kalimat itu jatuh tanpa emosi, justru karena itu terasa lebih tegas.

“Aku tidak mengharapkan apa pun lagi darimu.” Ia menatap lurus. “Aku hanya ingin kita selesai.”

Sunyi menegang di antara mereka.

“Kita tidak akan bercerai.” Jawaban Alden datang cepat. Tidak keras, tapi mutlak.

“Kita harus cerai,” balas Belvina tanpa ragu. “Kita jalani hidup masing-masing.”

Ia mengangkat bahu kecil.

“Kamu dengan wanita pilihanmu. Aku dengan kebebasanku.”

Fokusnya menjadi lebih tajam dari sebelumnya.

“Wanita pilihan?” ulangnya.

“Bukannya itu yang kamu mau?” sahut Belvina santai. “Aku tidak akan menghalangi lagi.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan—

“Lagipula… aku tidak peduli lagi hubungan kalian apa.”

Nada suaranya ringan, tapi tajam.

“Rekan bisnis…” bahunya terangkat. “Atau lebih dari itu.”

Mata Alden menyempit.

“Kau cemburu.”

Belvina tertawa. Kali ini lebih pendek.

“Cemburu?” Ia menggeleng pelan. “Jangan terlalu percaya diri.”

Ia memandangnya dari atas ke bawah. Sekilas. Cukup.

“Aku tidak butuh pria sepertimu.” Langkahnya bergeser sedikit, mencoba melewati.

Namun Alden tidak bergerak. “Belvina—”

Belvina mendecak pelan.

“Kenapa kamu tidak mau melepasku?” tanyanya tiba-tiba. Kali ini bukan menyerang, lebih seperti benar-benar penasaran.

Alden berdiri tanpa kata.

Dan di sanalah Belvina menyipitkan mata sedikit. Lalu—

“Jangan-jangan…” ujarnya pelan.

Matanya turun sekilas. Lalu kembali naik, dengan kilat nakal yang berbahaya.

“Kamu memang tidak tertarik padaku.”

Alden membiarkan kalimat itu menggantung.

Itu cukup.

Sudut bibir Belvina terangkat lebih tinggi.

“Atau…” ia sengaja memberi jeda, “...bukan soal tidak tertarik.”

Nada suaranya turun. Lebih pelan. Lebih menusuk.

“Mungkin kamu memang tidak bisa.”

Sejenak waktu berlalu tanpa suara. Udara di ruangan itu berubah.

Ini pertama kalinya, Alden tidak langsung membalas. Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena sesuatu di dalam dirinya… tersentuh terlalu tepat.

Garis wajahnya berubah kaku. Tangannya yang semula santai, kini perlahan mengepal.

Dan saat ia akhirnya bergerak, langkahnya maju satu. Lebih dekat.

Mengikis jarak diantara mereka.

“Kau…” suaranya turun, nyaris berbisik, “…benar-benar tidak tahu sedang bermain dengan apa.”

Alden bergerak maju. Satu langkah. Lalu satu lagi. Jarak yang sudah tipis… hilang sepenuhnya.

Belvina refleks mundur. Punggungnya kembali menyentuh meja. Tidak ada ruang lagi.

“Apa kamu pikir aku tidak tertarik?” suara Alden rendah. Bukan marah, lebih seperti sesuatu yang ditahan terlalu lama.

Belvina menelan ludah, tapi tetap mengangkat dagu.

“Kamu sendiri yang menunjukkannya,” balasnya.

Tidak ada respons dari Alden.

Tapi, tangannya terangkat. Kali ini tidak berhenti di udara. Ujung jarinya menyentuh lengan Belvina, ringan, tapi cukup untuk membuat tubuh itu menegang.

“Kalau itu yang kamu mau,” katanya tanpa suara keras, “aku bisa memperbaikinya.”

Belvina langsung menggeleng. Cepat.

“Aku tidak mau ‘hak’ itu.” Satu kalimat. Tegas.

Gerakan Alden berhenti beberapa saat.

“Tidak?” ulangnya, lebih rendah.

Belvina menggeleng lagi. Napasnya mulai tidak teratur, tapi ia tetap bertahan.

“Aku tidak butuh itu darimu.”

Sudut bibir Alden terangkat tipis, tapi sampai ke mata.

“Kalau begitu…” suaranya turun, “…aku yang akan mengambil bagianku.”

Ia melangkah lagi. Lebih dekat. Terlalu dekat.

Belvina spontan mendorong dadanya. Tidak kuat, tapi cukup menunjukkan penolakan.

“Kau tidak tertarik padaku,” katanya cepat, mencoba menahan jarak yang terus dipangkas. “Bahkan aku—” ia berhenti sejenak, lalu asal melontarkan, “aku jarang mandi.”

Alasan konyol. Tidak masuk akal. Namun keluar begitu saja.

Alden berhenti sepersekian detik. Lalu… hampir tak terdengar, ia menghembuskan napas pendek.

“Aku tidak peduli.”

Jawaban itu jatuh datar. Dan langkahnya tidak berhenti.

Belvina benar-benar terdesak. Dadanya naik turun lebih cepat Tangannya kembali mendorong dada Alden, kali ini tidak lagi sekadar menahan, lebih ke arah mencoba lepas.

“Aku serius—”

Kalimatnya terpotong. Karena dalam satu gerakan cepat, Alden menariknya.

Dunia seperti berputar sesaat saat tubuh Belvina terangkat begitu saja.

“Hei—!”

Refleks, tangannya langsung mencengkeram bahu pria itu. Jantungnya melonjak.

“Alden, turunkan aku—!”

Tidak ada jawaban. Langkahnya panjang. Pasti.

Beberapa saat kemudian, punggung Belvina menyentuh kasur. Lembut. Tapi situasinya tidak.

Alden langsung menahan di atasnya. Satu tangan di samping kepala, satu lagi menahan pergerakan tubuhnya. Tidak kasar, tapi cukup untuk membuatnya tidak punya ruang.

"Lepas!" Belvina meronta.

“Sekarang?” suara Alden rendah, lebih dekat dari sebelumnya.

Belvina membeku. Benar-benar membeku. Ini bukan lagi sekadar adu kata. Ini nyata.

"Menjauh dariku!"

Tangannya mendorong lagi. Lebih kuat. Tapi posisi itu membuat tenaganya tidak seimbang.

“Alden—”

Nada suaranya mulai goyah.

Alden tidak bergerak, mengunci Belvina dengan tubuhnya.

“Bukannya ini yang kamu mau dulu?” ucapnya nyaris seperti bisikan. “Berkali-kali kamu datang sendiri.”

Kalimat itu menghantam. Dan kali ini, reaksi Belvina bukan melawan dengan kata. Melainkan… panik.

“Nggak—” kepalanya menggeleng cepat. “Itu bukan aku…”

Bisikan itu hampir tidak terdengar. Tangannya mencengkeram sprei di sampingnya. Udara terasa sulit masuk penuh.

Air mata jatuh. Kali ini tidak tertahan. Bukan dramatis. Bukan dibuat-buat. Refleks. Takut.

Belvina memalingkan wajah, berusaha menahan, tapi suaranya tetap pecah.

“Aku tidak mau…” bisiknya.

Tangannya berpindah mencengkeram ujung bajunya sendiri, seolah itu satu-satunya yang bisa ia pegang.

“Aku tidak mau memberikan diriku… ke seseorang yang tidak mencintaiku.”

Kata-kata itu lirih. Namun menghantam lebih keras dari apa pun sebelumnya.

“Aku tidak mau…” ulangnya lebih pelan, hampir seperti memohon, tapi bukan untuk Alden, lebih ke dirinya sendiri. “Aku tidak akan…”

Kalimatnya menggantung. Namun cukup jelas.

Dan di titik itu, Alden benar-benar berhenti. Bukan karena ia tidak bisa melanjutkan. Tapi karena… sesuatu terasa tidak pada tempatnya.

Wanita ini, yang dulu tanpa ragu mendekat, bahkan memaksakan, mustahil bereaksi seperti ini. Tidak mungkin gemetar seperti ini. Apalagi… menangis karena disentuh.

Tangannya yang semula menahan di sisi tubuh Belvina, perlahan mengendur. Ada sesuatu yang bergeser di ekspresinya. Bukan melembut, lebih seperti… menilai ulang. Mencari.

“Apa yang sebenarnya…”

Kalimat itu terhenti di bibirnya sendiri.

Karena untuk pertama kalinya, Alden tidak yakin… wanita di hadapannya masih orang yang sama.

 

...✨"Ia pikir kehilangan itu akan terjadi saat cinta habis....

...Ternyata tidak....

...Yang benar-benar mengganggu… adalah saat ia berhenti peduli."...

..."Bukan penolakan yang membuatnya goyah....

...Tapi kenyataan bahwa… ia tidak lagi diinginkan."✨...

.

To be continued

1
Anitha Ramto
waduh kasihan kamu Al....mobilmu di bajak sang istri,,dan kamu di tinggalin begitu saja🤣
Wardi's
menarik...
Wardi's
lucccuuu..
Dek Sri
lanjut
Yunita Sophi
🤣🤣🤣🤣🤣 Belvina ngerjain...
abimasta
belvina kereen
^ã^😉
lanjut bel
Puji Hastuti
lanjut kk
Puji Hastuti
makin seru
partini
wkwkkwkw lucu,,Thor Kunti bogel kemana ko ga muncul , munculin dong kalau lihat bel sama suami nya kaya gitu behhh auto Ngenes kangen kata" pedas bell buat dia
Puji Hastuti
belvina keren
Yunita Sophi
perempuan hebat Belvina... Alden makin meleleh terpesona melihat yg luar biasa dari diri mu Bel...
Yunita Sophi
semoga aja Alden datang tepat waktu... tp kemana tuh bodyguard yg tadi ngawasin Belvina...
asih
istrimu Jadi badas setelah kau abaikan al, DIA jiwanya Dina Si Anak yatim piatu yg serba bisa 😀😀😀
Anitha Ramto
wah Wanita Badas Belvina....
orang suruhan Alden saja melongo tidak percaya dengan Nonyanya.

Alden sendiri masih bertanya tanya siapa Belvina sebenarnya,,,ia adalah Dina wanita tangguh yang tidak bisa di tindas
Yunita Sophi
buat apa pakaian lama cuma di simpan... ya lebih baik di jual uang nya bisa qta sumbang
Ma Em
Hebat Belvina meskipun bkn Belvina yg asli tapi kelakuannya membuat Alden semakin terpesona pada Belvina yg versi sekarang .
Harun Gayam
ayo Thor LG.
partini
yg kau nikahi wanita biasa yg lovely kemau roh nya yg ganti ,,very good bel
kasih kejutan yg lainnya terutama untuk Kunti bogel biar mingkem dia
Dek Sri
wow kamu keren belvina
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!