Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Sang ular mulai menampakkan diri
Rasa curiga adalah racun yang paling sunyi. Dia tidak membunuhmu seketika, melainkan menggerogoti kewarasanmu dari dalam, helai demi helai.
Sepanjang malam setelah menemukan struk perhiasan itu, Larissa tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali dia melihat wajah Bram yang tertidur pulas di sampingnya, dadanya terasa dihantam godam.
Pria yang dilindunginya dengan mengorbankan harga diri sendiri ternyata sedang merajut kebohongan di belakang punggungnya.
Pukul sebelas siang, Larissa berdiri di dapur rumahnya. Dia baru saja selesai memasak sup ayam herbal dan beberapa lauk kesukaan Bram, lalu menatanya ke dalam kotak makan tiga susun.
Ini adalah keputusan nekat yang diambilnya setelah merenung berjam-jam. Dia tidak bisa lagi diam berspekulasi di dalam rumah.
Larissa mengenakan dress bunga berwarna pastel yang sederhana namun anggun, memoles wajah pucatnya dengan riasan tipis agar tidak terlihat seperti wanita yang sedang menderita akibat dicekoki jamu pahit.
Dengan menggenggam tas rajut berisi kotak makan dan struk perhiasan yang dia selipkan di saku terdalam tasnya, Larissa melangkah keluar rumah menuju kantor pusat Baskoro Konstruksi.
Perjalanan ke kantor suaminya memakan waktu tiga puluh menit. Gedung perkantoran berlantai tujuh itu tampak kokoh dari luar, simbol kejayaan keluarga besar Baskoro.
Dia melangkah masuk melewati lobi utama, beberapa staf administrasi dan resepsionis yang mengenalnya segera membungkuk hormat dan menyapanya.
"Selamat siang, Ibu Larissa."
Namun Larissa bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mereka. Ada kilat canggung dan bisik-bisik samar yang tertinggal begitu dia melewati meja resepsionis.
Isu tentang dirinya yang tak kunjung memberikan penerus bagi keluarga besar ini tampaknya sudah menjadi rahasia umum di kalangan karyawan kantor.
Dia mencoba mengabaikannya, memperkuat langkah kakinya menuju lift khusus direksi yang mengarah langsung ke lantai paling atas—lantai di mana ruangan Bram berada.
Begitu pintu lift terbuka di lantai tujuh, suasana terasa lebih sunyi. Larissa melangkah menyusuri koridor berlantai karpet tebal menuju kubikel sekretaris di depan ruangan suaminya.
Biasanya di sana duduk Mbak Ratih, sekretaris senior paruh baya yang sudah bekerja sejak zaman ayah Bram memimpin perusahaan. Namun hari ini kubikel itu kosong.
Samar-samar, dari arah dalam ruangan kerja Bram yang berpintu kaca buram setengah terbuka, terdengar suara tawa yang sangat lepas.
Larissa menghentikan langkahnya, dadanya mendadak sesak. Itu suara tawa Bram, sudah sangat lama dia tidak pernah lagi mendengar suaminya tertawa selepas itu di rumah.
Di rumah Bram selalu menampilkan wajah masam, lelah, dan penuh beban. Namun di dalam sana, pria itu terdengar begitu bahagia, seolah beban dunia yang sering dikeluhkannya mendadak sirna.
Larissa melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara di atas karpet. Melalui celah pintu kaca yang sedikit terbuka, pandangan matanya langsung tertuju pada pemandangan yang membuat dunianya runtuh dalam satu detik.
Bram sedang duduk di kursi kebesarannya, namun tubuhnya condong ke depan. Di hadapannya, setengah duduk di pinggiran meja kerja yang mewah, ada seorang wanita muda.
Wanita itu mengenakan rok pensil ketat dan blus tanpa lengan berwarna merah marun yang mengekspos kulit leher dan bahunya yang putih mulus. Rambutnya yang bergelombang hitam dibiarkan tergerai, dan wajahnya dipenuhi riasan yang glamor dan tajam.
"Kamu ini bisa saja, Vera. Kalau tidak ada kamu, proyek ini pasti sudah berantakan sejak awal," kata Bram dengan nada suara yang begitu lembut, matanya menatap wanita bernama Vera itu dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan.
"Ah, Pak Bram terlalu memuji. Saya kan hanya melakukan tugas sebagai asisten dan rekan bisnis baru," jawab Vera dengan suara yang sengaja dibuat mendayu, jemari lentiknya yang berkutek merah bergerak merapikan helai rambutnya, sebuah gerakan menggoda yang sengaja dipamerkan di depan Bram.
Tapi bukan kedekatan mereka yang membuat napas Larissa tercekat di tenggorokan. Matanya terpaku pada leher jenjang Vera.
Di sana, di bawah sorotan lampu kristal ruang kerja yang terang, melingkar sebuah kalung berlian model solitaire yang sangat indah. Sebuah mata berlian tunggal berukuran sedang berkilau dengan sangat mewah, diikat oleh untaian emas putih 18 karat yang berkilau sempurna.
Itu adalah kalung berlian yang persis sama dengan yang tertera di struk pembelian yang Larissa temukan di saku kemeja Bram semalam. Kalung seharga delapan puluh lima juta rupiah yang dibeli menggunakan kartu kredit suaminya.
Brak!
Tanpa sadar tangannya yang gemetar hebat menyenggol vas bunga kecil yang berada di meja luar, membuat vas itu bergeser dan menimbulkan bunyi benturan yang cukup keras.
Dua orang di dalam ruangan itu tersentak dan langsung menoleh ke arah pintu. Wajah Bram seketika berubah pucat pasi saat melihat Larissa berdiri di sana dengan wajah yang seputih kapas dan air mata yang sudah menggenang di sudut kelopak matanya.
Sementara Vera, wanita itu hanya menaikkan satu alisnya, tidak menunjukkan rasa panik sedikit pun, malah tersenyum tipis yang sarat akan kemenangan terselubung.
"Larissa? Kenapa kamu ada di sini?!" Bram berdiri dengan tergesa-gesa, melangkah lebar keluar ruangan dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi sangat masam dan penuh amarah.
Larissa menatap suaminya, lalu beralih menatap Vera yang kini ikut berdiri dengan tenang di belakang meja. "Aku... aku hanya ingin mengantarkan makan siang untukmu, Mas. Tapi sepertinya aku mengganggu waktumu bersama asisten barumu."
Bram langsung mencengkeram pergelangan tangan istrinya dengan kasar, menariknya menjauh dari pintu ruangan agar suaranya tidak terdengar oleh karyawan lain di lantai bawah. "Ikut aku!"
Bram membawa Larissa masuk ke dalam ruang rapat kecil yang kosong di sudut koridor, lalu membanting pintunya dengan keras.
"Apa-apaan kamu ini, Ris?! Datang ke kantor tanpa memberi tahu dulu, memata-matai aku seperti ini! Kamu mau mempermalukan aku di depan karyawanku sendiri, iya?!" bentak Bram dengan urat-urat leher yang menegang.
"Mempermalukanmu?" Larissa tertawa lirih di antara air matanya yang mulai luruh. "Siapa yang mempermalukan siapa, Mas? Wanita di dalam ruanganmu itu, Vera, kan? Nama yang kamu sebut-sebut saat kamu mabuk beberapa hari yang lalu!"
Bram tertegun sejenak, matanya berkilat panik, namun dengan cepat dia menguasai diri kembali. "Iya dia Vera, rekan bisnis baru sekaligus asisten yang membantuku mengurus tender luar kota kemarin! Kamu jangan mulai menuduh yang tidak-tidak dengan otakmu yang sempit itu!"
"Lalu kalung di lehernya? Kalung berlian seharga delapan puluh lima juta yang kamu beli dengan kartu kreditmu saat kamu mengaku rapat di luar kota?!" Larissa mengeluarkan struk yang sudah diremasnya dari dalam tas, melemparkannya tepat ke dada Bram.
Bram menangkap kertas itu, melihatnya sekilas lalu merobeknya menjadi serpihan kecil dengan wajah yang mengeras.
"Itu bonus perusahaan! Dia berhasil memenangkan tender besar untuk Baskoro Konstruksi, wajar kalau aku memberikan apresiasi mewah sebagai pimpinan! Kamu tidak tahu apa-apa tentang bisnis! Kamu hanya wanita rumahan yang tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini, jangan berani-berani mendikte caraku memimpin perusahaan!"
Kata-kata Bram kali ini benar-benar menusuk hingga ke jantung Larissa. Pria itu kembali menggunakan senjata "mandul" untuk membungkam kebenaran.
"Pulang sekarang! Jangan bikin kacau di kantorku lagi!" Bram membuka pintu ruang rapat dengan kasar, menunjuk ke arah lift dengan telunjuknya yang bergetar karena emosi. "Pulang dan renungkan kesalahanmu!"
Larissa tidak membalas, dengan hati yang telah hancur menjadi serpihan debu, dia berjalan gontai meninggalkan lantai tujuh itu. Kotak makan yang dia siapkan dengan cinta kini ditinggalkan begitu saja di atas meja koridor.
Malam harinya, rumah mereka kembali jatuh dalam keheningan yang mencekam. Larissa duduk di sudut ranjang kamar tidur utama dalam kegelapan, enggan menyalakan lampu.
Pikirannya kosong. Dia merasa bodoh, merasa menjadi wanita paling malang di dunia karena telah mengorbankan rahim dan reputasinya demi pria yang sekarang sedang memuja wanita lain.
Pukul sepuluh malam, suara pintu depan terbuka. Langkah kaki Bram terdengar menaiki tangga.
Larissa bersiap untuk menyambut bentakan atau kemarahan lanjutan dari suaminya. Namun ketika pintu kamar terbuka dan lampu dinyalakan, pemandangan yang tersaji justru sebaliknya.
Bram masuk tidak dengan wajah penuh amarah, melainkan dengan senyuman yang sangat ramah.
Bram meletakkan tas kerjanya, lalu berjalan mendekati ranjang. Dia duduk di tepi kasur, menatap Larissa dengan pandangan yang dibuat-buat lembut, seolah-olah pertengkaran hebat di kantor tadi siang tidak pernah terjadi.
"Sayang... maafkan aku soal tadi siang," kata Bram lembut, mencoba meraih jemari tangan Larissa yang terasa sedingin. "Aku tadi siang sangat stres karena urusan tender, makanya emosiku tidak terkontrol. Aku tidak bermaksud membentakmu seperti itu."
Larissa menarik tangannya perlahan dari genggaman Bram, menatap suaminya dengan tatapan menyelidik. "Kenapa tiba-tiba kamu berubah manis seperti ini?"
Bram tersenyum tipis, lalu berbalik mengambil sebuah map dokumen berwarna biru dari dalam tas kerjanya. Dia meletakkan map itu di atas pangkuan Larissa
"Aku memikirkan ucapan Ibu kemarin siang. Dan aku juga berdiskusi dengan Vera sebagai rekan bisnis yang punya banyak relasi medis kelas atas," kata Bram.
"Vera merekomendasikan sebuah rumah sakit bernama Medika Kirana. Di sana ada dokter spesialis kandungan terbaik yang baru pulang dari Jerman, namanya Dokter Hendra. Vera bilang, banyak temannya yang kasusnya sama sepertimu, bisa langsung hamil setelah ditangani di sana."
Larissa menatap map biru itu dengan dada yang kembali bergemuruh. "Rumah sakit lain? Rekomendasi dari Vera?"
"Iya, sayang," Bram bergeser lebih dekat, mengelus rambut istrinya dengan gerakan yang dipaksakan mesra.
"Aku melakukan ini demi kebaikan pernikahan kita, demi masa depan kita. Kamu mau kan, membuat Ibu berhenti marah-marah? Kamu mau kan, membuktikan pada dunia kalau kita bisa punya anak? Aku sudah mendaftarkan namamu di sana untuk jadwal tes kesuburan ulang besok pagi jam sembilan. Tolong lakukan ini demi aku, ya?"
Larissa menatap lekat-lekat ke dalam mata Bram. Di sana, dia tidak melihat adanya ketulusan seorang suami yang merindukan buah hati. Ada kilat kelicikan dan ketergesaan yang coba disembunyikan di balik binar matanya.
Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, sisa-sisa harapan bodoh seorang istri yang ingin suaminya berubah kembali berbisik. Dia berpikir, jika dia menuruti tes ini dan membiarkan dokter baru ini memeriksanya, mungkin Bram akan tersentuh oleh kepatuhannya dan kembali padanya, meninggalkan Vera.
Setelah keheningan yang panjang, Larissa akhirnya mengangguk perlahan. "Baiklah, aku akan pergi besok pagi."
Bram tampak bernapas lega yang sangat kentara. Dia mengecup kening Larissa sekilas lalu berdiri. "Baguslah. Kamu istirahat sekarang, biar besok kondisi fisikmu fit. Aku mau ke ruang kerja sebentar untuk menyelesaikan berkas."
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut