"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
"Kita sebagai orang tua jangan suka memaksakan kehendak. Anak bungsu kita itu tipe perempuan yang sangat berbeda dengan almarhumah Vania. Vania dulu penurut, lembut, dan selalu mengikuti aturan. Sedangkan Keisha? Keisha itu barbar, apa adanya, dan tidak bisa diatur-atur seperti prajurit di lapangan."
Ayah Farrel menurunkan kacamatanya, lalu menatap istrinya dengan sorot mata bijak khas pensiunan perwira tentara. Ia justru menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis yang penuh keyakinan.
"Karena itulah Ayah langsung menyetujuinya saat Satria mengutarakan keinginannya kemarin malam, Bu," jawab Ayah Farrel dengan suara beratnya yang tenang. "Justru karena Keisha tidak bisa diatur dan terlalu absurd jalan pikirannya, Ayah yakin hanya laki-laki seperti Satria yang bisa membimbing anak kita dengan ketegasannya. Satria itu kaku tapi bertanggung jawab penuh. Dan yang paling penting, cucu kita, Rafka, akan jauh lebih aman dan terurus dengan tantenya sendiri ketimbang jika Satria menikah dengan perempuan asing lain yang belum tentu tulus menyayangi darah daging Vania."
Ibu Dania terdiam sejenak, merenungi kalimat suaminya yang memang masuk akal di satu sisi. Namun, ganjalan di hatinya sebagai seorang ibu tidak berhenti di situ saja. Ia memajukan tubuhnya, menatap suaminya lebih lekat dengan dahi yang berkerut cemas.
"Iya, Ayah benar soal Rafka. Tapi ... apakah orang tua Satria sendiri akan setuju kalau anaknya menikah lagi dengan adik iparnya sendiri?" tanya Ibu Dania kembali, menyuarakan kekhawatiran terbesar yang sejak semalam mengusik tidurnya. "Bagaimana kalau keluarga besar Satria tidak setuju, Yah? Bagaimana kalau mereka menganggap ini hal yang tabu atau tidak pantas setelah Vania tidak ada?"
Mendengar pertanyaan beruntun dari istrinya, Ayah Farrel mendesah berat. Ketegangan yang semula ia sembunyikan di balik ketenangannya kini tampak runtuh sedikit. Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu mengangkat tangan kanannya untuk memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Masalah restu dari pihak keluarga menantunya memang menjadi variabel besar yang belum sempat mereka diskusikan.
***
Sementara itu, di dalam kabin SUV hitam yang membelah jalanan pagi, suasana sunyi menyelimuti perjalanan Satria mengantarkan putranya menuju sekolah TK. Rafka duduk di kursi belakang, masih dengan bibir yang mengerucut sebal dan membuang muka ke arah jendela kaca luar, menolak untuk mengajak papanya mengobrol akibat kalimat Keisha di meja makan tadi.
Satria hanya melirik anaknya sesekali melalui kaca spion tengah tanpa berniat memecah keheningan dengan kalimat penghibur yang muluk. Ia tahu betul watak anaknya yang keras kepala, persis seperti dirinya.
Begitu mobil berhenti di depan gerbang sekolah, Satria turun dan membukakan pintu untuk Rafka. Ia berlutut di depan anaknya, membetulkan letak kerah seragam kotak-kotak bocah itu dengan telaten. "Belajar yang baik di dalam. Jangan cemberut terus, anak Papa harus kuat," ucap Satria pendek.
Rafka menatap papanya dengan mata bulatnya yang masih sedikit sembap. "Papa ... Tante Kei beneran suka sama Om Rendra ya? Papa kalah ganteng sama Om jaket biru?" tanya bocah itu dengan kepolosan yang menusuk.
Rahang Satria mengetat samar mendengar pertanyaan anaknya. Namun, ia tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar dan tenang. "Tidak ada yang kalah atau menang, Rafka. Sudah, masuk ke kelas. Nanti siang Eyang Putri yang akan menjemputmu."
Setelah memastikan Rafka berjalan masuk ke dalam area sekolah dengan aman di bawah pengawasan guru piket, Satria kembali berjalan tegap menuju mobilnya. Ia membuka pintu kemudi, melangkah masuk ke dalam kabin yang sejuk oleh embusan AC, lalu mendudukkan diri di balik kemudi dengan tatapan lurus ke depan jalan raya. Pikirannya mendadak melayang kembali pada penolakan tegas Keisha pagi tadi yang membawa-bawa nama Rendra di depan ayahnya. Ada rasa panas yang tidak nyaman kembali membakar di dalam dadanya.
Baru saja ia bersiap untuk memindahkan tuas transmisi dan mengendarai mobilnya menuju markas dinas, ponsel pintar miliknya yang diletakkan di dasbor tengah mendadak berdering nyaring. Layarnya menyala menampilkan nama kontak yang sangat ia hormati.
Rupanya Bu Reni—ibu kandungnya sendiri—yang menghubunginya sepagi ini dari kota asal mereka.
Satria menggeser tombol hijau pada layar, lalu menempelkan ponsel tersebut ke telinganya dengan posisi duduk yang tegak sempurna secara refleks. "Halo, Assalamualaikum, Ibu."
"Waalaikumsalam, Satria," suara lembut nan keibuan dari Bu Reni mengalun hangat dari seberang saluran telepon, memecah ketegangan tak kasat mata yang sejak tadi mengunci pikiran Satria. "Bagaimana kabarmu di Jakarta, Nak? Rafka sehat?"
"Kabar saya baik, Ibu. Rafka juga sehat, sekarang baru saja masuk ke kelas sekolahnya," jawab Satria dengan nada suaranya yang formal namun tetap santun penuh hormat.
"Alhamdulillah kalau kalian berdua sehat," sahut Bu Reni diiringi tawa kecil yang terdengar sangat bersemangat di seberang sana. "Oh iya, Satria ... Ibu menelepon sepagi ini karena ada kabar penting. Ibu sama Bapakmu kemungkinan nanti sore sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Tiket pesawatnya baru dikonfirmasi tadi malam sama adikmu."
Satria merajut alisnya tegap sejenak. "Ibu dan Bapak ke Jakarta sore ini? Ada keperluan mendadak?"
"Keperluan apa lagi kalau bukan karena Ibu sama Bapak sudah kangen sekali sama kamu dan cucu kami, Rafka," jawab Bu Reni dengan nada manja khas seorang nenek yang merindukan cucu tunggalnya. "Sudah lama sekali kan kita tidak kumpul. Makanya, nanti sore jangan lupa dijemput ya, Satria. Jangan sampai Ibu sama Bapak telantar di bandara gara-gara kamu sibuk latihan menembak."
"Baik, Ibu. Nanti sore jam empat saya sudah akan bersiap di area kedatangan bandara untuk menjemput Ibu dan Bapak," jawab Satria pasti, memberikan konfirmasi mutlak tanpa keraguan.
"Iya, Nak, terima kasih ya. Ya sudah, Ibu mau lanjut berbenah pakaian dulu ke dalam koper. Sampai ketemu sore nanti di Jakarta. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Ibu," jawab Satria pendek, sebelum akhirnya sambungan telepon tersebut diputuskan sepihak oleh ibunya.
Satria menurunkan ponselnya perlahan, meletakkannya kembali di atas dasbor dengan gerakan yang kaku. Pria itu menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahannya selama beberapa detik di dalam dada sebelum mengembuskannya perlahan.
Kedatangan orang tuanya yang mendadak sore ini seolah menjadi babak baru yang tidak terduga di tengah rumitnya siasat pertarungan hati yang sedang ia lancarkan untuk mendapatkan adik iparnya. Teka-teki mengenai restu dan penerimaan orang tuanya terhadap niat pinangannya pada Keisha kini menggantung besar di dalam kepalanya, mengalir lambat bersama laju mobil SUV hitamnya yang mulai bergerak membelah kemacetan jalanan kota menuju markas dinas.
Bersambung...
Gimana yaaa sikap ayah ibunya satria 🤭
Semangat terus author sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹