Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Jalan yang benar.
"Kalau kamu ingin bersamanya, kamu harus menikahinya. Saya tidak mau adik saya menjadi korban untuk kesekian kalinya." Ucap tegas Bang Reigar.
Namun kali ini bukan hanya Bang Reigar yang menatapnya tajam, tapi juga Bang Rakit.
Bang Putra menepuk bahu keponakannya. Tatapan yang mengarahkan agar Bang Hernando segera mengambil keputusan.
...
Siang itu saat Phia sedang tidur, Bang Hernando duduk menyendiri di sebuah cafe tepat di samping rumah sakit. Isi kepalanya terus berputar. Dirinya yang sama sekali tidak pernah berurusan dengan wanita mulai bingung mencari cara untuk meluluhkan hati Phia. Asap rokok mengepul menemani siangnya.
"Kenapa disaat seperti ini, isi otak ku kosong melompong. Aku harus bagaimana?? Ini harus bawa balon??? Atau aku bawakan es krim??" Gumam Bang Hernando pusing sendiri sampai mengurut pelipisnya.
"Bawakan kembang." Kata pria bernama lengkap Lettu Janaka Alit.
"Kembang???" Kening Bang Hernando berkerut. Ia yang malas tau dunia wanita sampai tak habis pikir membayangkan betapa rumitnya wanita menyukai benda yang 'tidak berguna'.
"Iyaa.. Kembang, masa kau nggak tau kembang. Yang pasti membuat hatinya meledak-ledak." Kata Bang Jan.
Bang Hernando menghisap rokoknya dengan wajah datar. "Oke.. Saya paham."
"Kau ini paham betul atau tidak, wajahmu ini tidak meyakinkan." Ujar Bang Jan cemas.
"Apa selama ini misiku pernah gagal??" Bang Hernando balik bertanya.
"Yo wes, aku percaya sakarepmu..!!!!" Bang Jan lalu ikut menghisap rokoknya.
Tak lama ada seorang waitress menghampiri. "Mau pesan apa, Pak."
"Masa ganteng begini di panggil Bapak?? Mas, donk..!! Saya titip PESAN saja ke bapakmu, kalau pengen menantu ganteng, saya bersedia." Kata Bang Jan.
Baru selesai mulutnya bicara, ada seorang pria bertubuh tambun mendekati Bang Jan. "Jangan membuat lelucon untuk mempermainkan anak saya..!!"
Bang Jan kaget mendengarnya, tapi kemudian gadis itu tertawa. "Papaaa.. Jangan galak begitu, Mas Jan ini memang pacarnya Lintang."
Seketika wajah pria setengah baya itu berubah seratus delapan puluh derajat. "Oohh.. Ini toh pacarmu yang pengusaha itu??"
Bang Hernando semakin kaget mendengarnya. Ia tidak tau sejak kapan sahabatnya itu menjadi seorang pengusaha.
Lintang tersenyum geli kemudian meninggalkan Bang Jan. "Nanti Lintang antar ya Mas." Katanya sambil berlalu.
"Okeey."
"Kauu.... Bukannya kau punya pacar di Jawa. Bagaimana sih??" Bang Hernando tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya.
Bang Jan membalasnya dengan senyum tipis. "Hehehe.. Laki-laki harus punya prinsip. Kalau yang satu tidak cocok.. Kau harus punya cadangan yang lain."
"Oohh.. Itu prinsipmu???" Jawaban Bang Hernando tetap tenang. "Saya tidak tau apa yang terjadi sama kamu. Bagi saya, satu wanita saja sudah cukup."
Tawa Bang Jan seketika terlepas, ia tau betul sahabatnya itu kuat memegang teguh prinsip hidup dengan kuat. Kerasnya namun bijaksana membuat seorang Hernando menjadi sosok yang di segani sekalian dalam persaudaraan satu letting.
"Aku sudah pisah dengan pacarku. Orang tuanya tidak setuju dengan gajiku. Jadi yaa.. Sudahlah, aku pun ingin dia hidup bahagia. Sekarang aku pun sudah bahagia dengan pilihanku."
Mendengar jawaban sahabatnya, Bang Hernando langsung terdiam.
"Pot ku, kita berjalan pada satu tujuan yang sama. Menikah.. Sakinah Mawadah Warahmah.. Hanya jalan yang kita tempuh berbeda. Apa yang kau alami saat ini, memang tidak mudah. Riegan pergi dari Phia dan membatalkan pernikahan karena alasan pengobatan dan tidak ingin gadis itu menderita, tapi Riegan juga meninggalkan anak......"
deg..
Jantung Bang Hernando serasa berhenti berdetak. Ia teringat bahwa calon anak yang ada dalam rahim Phia sudah tidak ada lagi. Batinnya semakin terasa tertekan, bukan hanya karena sebuah janji saja, tapi Phia masih terus meratapi janin tersebut.
"Saya duluan ya..!!" Bang Hernando mengambil uang dari dompetnya lalu meninggalkannya di atas meja.
:
Phia masih menangisi kepergian Bang Riegan. Ia merasa di khianati, merasa di tinggalkan oleh pria yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya.
"Kenapa tidak katakan apapun?? Beginikah caramu menghukum wanita tidak baik ini??? Beginikah caramu membalas aku yang sempat berkali-kali berniat menghilangkan anakmu?? Sekarang anakmu benar-benar hilang. Aku benci kamu... Riegan..!!!" Gumamnya sampai sesenggukan.
Dari luar pintu kamar rawat, Bang Hernando memegang gagang pintu dengan ragu, tapi... Bang Reigar dan Bang Putra menepuk bahunya seakan menyalurkan seluruh kekuatan untuk mendukungnya.
"Masuklah.. Sekarang Phia tanggung jawabmu..!!" Kata Bang Putra.
Sejenak Bang Hernando menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. "Bismillah..!!" Ia pun membuka pintu kamar rawat Phia. "Assalamu'alaikum, cantik." Sapanya.
"Wa'alaikumsalam." Phia menghapus air matanya.
Dengan tinggi badan di atas rata-rata, Bang Hernando duduk di atas ranjang dan mengecup kening Phia dengan mudahnya.
"Siapa yang memberi ijin Abang cium Phia?" Tanya Phia saat mendapatkan satu kecupan di keningnya.
"Abangmu." Jawab Bang Hernando dengan santainya.
"Kenapa tiba-tiba Abangku memberikan ijinnya?? Apa Abang mengancamnya?? Apa Abang pakai dukun?? Apa semua ini ada hubungannya dengan uang?? Apaa......."
"Jangan terlalu banyak menebak. Yang jelas Abang ataupun Riegan tidak sepenuhnya salah meskipun ada kebenaran juga dari keputusan mereka. Sekarang.. Tanyakan lagi pada hatimu, kamu ingin melanjutkan hidupmu dengan menunggunya atau.. Memulai hidup baru bersama saya??" Tanya Bang Hernando.
Pertanyaan serasa menggantung, suaranya nyaris tenggelam bersamaan dengan tangis. Phia terus menatap mata Bang Hernando, mata yang ia rasa tak pernah menyembunyikan apa pun darinya mata yang menatapnya dengan ketulusan dan tidak pernah membenci sahabatnya yang sudah membuat situasi serumit ini.
Lidah Phia terasa kaku, ribuan keraguan bergantian membingungkan akal pikirnya, namun satu hal yang paling ingin ia tanyakan.
"Kalau Phia memilih...... memilih untuk melangkah bersama Abang, apakah berarti Phia melupakan Bang Riegan? Apakah ganti Phia jahat karena berhenti menunggu hadirnya??"
Bang Hernando mengusap lembut rambut Phia.
"Saya tidak pernah ingin memaksamu, saya menghormati keputusanmu. Memulai langkah baru, bukan berarti melupakannya, dek. Riegan pergi bukan karena dia membencimu, dia pergi karena dia ingin kamu hidup. Dia berharap kamu tidak berhenti di sini, berharap kamu punya masa depan yang aman dan bahagia. Dan menunggunya bukan berarti kamu harus berhenti bernafas, bukan berarti kamu harus menghukum dirimu sendiri selamanya. "
Tatapan mata Bang Hernando jauh lebih lekat dari sebelumnya. Suaranya rendah namun tegas.
"Kamu boleh tetap menyimpan namanya di ruang hatimu yang paling dalam. Tapi biarkan saya yang mengisi hari-harimu. Biarkan sayya yang menjadi alasanmu tersenyum lagi, alasanmu bangun pagi dengan harapan yang baru. Saya tidak akan pernah menggantikan tempatnya di masa lalumu, apalagi dia pernah memberimu kesempatan menjadi seorang ibu. Saya hanya ingin ada di sini, untuk detik ini dan masa depanmu."
"Phia takut perasaan Phia akan menyakiti Abang." Kata Phia.
"Asal kamu bahagia, saya akan menahan semua rasa sakit itu."
"Alasan apa Abang yang membuat Abang sampai seperti ini??" Phia tak habis pikir dengan jalan pikiran Bang Hernando.
Bang Hernando menarik kilas senyum sebelum menariknya kembali. "Ta'aruf dan khitbah, insya Allah halal. Jika belum saya lakukan, saya tidak berani mengecup keningmu."
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍