NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Kemurkaan Sang Kapten Langit

   ​Gemuruh pelindung energi biru safir yang terbentang di depan ruang kemudi The Sky Leviathan perlahan meredam getaran hebat yang sempat mengguncang seluruh instrumen navigasi.

   Kilatan sihir hitam yang dilepaskan oleh tiga kapal Dreadnought milik Sekte The Obsidian Dawn hancur berantakan, menyisakan percikan abu pekat yang langsung tersapu oleh pusaran angin badai.

   Di tengah kekacauan atmosfer utara terlarang itu, sekoci tempur cepat milik Kekaisaran meluncur dengan presisi militer tingkat tinggi, merapat secara otomatis pada dek pendaratan utama di bagian atas kapal induk.

   ​Sosok pria berjubah hitam militer dengan tanda pangkat Kapten Langit yang tersemat kokoh di atas kedua bahunya melangkah turun dengan aura intimidasi yang begitu kental. Langkah bot kulitnya yang berat berdentum di atas lantai besi dek, membelah kabut salju yang berserakan.

   Wajah Kapten Alden tampak mengeras layaknya pahatan batu obsidian, sepasang mata abu-abu badai miliknya memancarkan kilatan murka yang sanggup membuat prajurit paling tangguh sekalipun menundukkan kepala dalam ketakutan.

   ​"Amankan perimeter luar! Aktifkan Meriam Penghancur Badai di sayap kiri dan kanan!" perintah Alden, suaranya yang bariton dan penuh tekanan bergema melalui jaringan komunikasi internal kapal.

   ​"Siap, Kapten Alden! Perintah dilaksanakan!" sahut perwira dek dengan sikap hormat tertinggi. Kehadiran sang panglima tertinggi di atas dek seketika mengembalikan moral seluruh kru kapal yang sempat berada di ambang keputusasaan.

   ​Tanpa membuang waktu, Alden melangkah lebar menyusuri koridor menuju ruang kemudi utama. Setiap prajurit yang berpapasan dengannya langsung memberikan penghormatan militer dengan tubuh yang menegang, menyadari bahwa sang Kapten sedang berada dalam kondisi emosional yang sangat berbahaya akibat ancaman yang baru saja menimpa keluarganya.

   Begitu pintu ruang kemudi bergeser terbuka secara otomatis, pandangan mata Alden langsung menyapu ruangan dan mengunci satu sosok wanita yang berdiri di dekat meja marmer navigasi.

   ​Clara berdiri di sana, masih memegangi tongkat komando elang perak dengan tangan kirinya yang gemetar. Wajahnya yang manis tampak sangat pucat, dan pakaian musim dingin wol bulu beruang langit miliknya tampak sedikit koyak di bagian lengan kanan, memperlihatkan balutan sutra perak yang telah menghitam sebagian akibat menahan tolak balik (recoil) energi mistis sebelumnya.

   ​Dalam satu gerakan cepat yang mengabaikan seluruh formalitas di depan para perwira navigasi, Alden melangkah maju dan langsung menarik tubuh Clara ke dalam pelukan hangatnya. Ia mendekap pinggang istrinya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Clara sembari menghirup aroma ketenangan yang sangat ia rindukan selama tiga hari perpisahan mereka di dua belahan langit yang berbeda.

   ​"Maafkan aku... aku terlambat, Clara," bisik Alden, suaranya bergetar rendah dengan luapan emosi yang tidak lagi bisa ia sembunyikan di balik topeng militernya yang dingin. "Seharusnya aku menghancurkan serangga-serangga sekte itu lebih cepat di ibu kota."

   ​Clara menyandarkan kepalanya di dada bidang Alden, merasakan detak jantung suaminya yang berdegup kencang akibat rasa khawatir yang luar biasa. Tangan kirinya bergerak perlahan, mengelus punggung Alden demi menyalurkan ketenangan batin yang selalu menjadi penawar bagi sang Kapten. "Kau tiba tepat waktu, Alden. Anak-anak... Rin dan Toby sudah aman. Cairan Air Mata Phoenix Ice telah berhasil melumpuhkan akar kutukan di dalam tubuh mereka."

   ​Alden melepaskan pelukannya sedikit, lalu meraih tangan kanan Clara dengan sangat hati-hati. Begitu melihat kulit pergelangan tangan istrinya yang melepuh kemerahan akibat pengorbanan fisik tanpa kekuatan supranatural, rahang Alden mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang.

   Rasa bersalah dan kemarahan yang membara di dalam dadanya kini mencapai puncaknya. Seorang wanita tanpa sihir murni telah mempertaruhkan nyawa dan fisiknya demi melindungi anak-anak darah dagingnya, sementara dirinya tertahan oleh intrik politik para petinggi militer yang korup di ibu kota bawah.

   ​"Luka ini... mereka harus membayar setiap tetes darah dan rasa sakit yang kau rasakan hari ini, Clara," desis Alden dengan nada suara yang teramat dingin, memancarkan niat membunuh yang murni tertuju pada tiga kapal perang musuh di luar jendela kaca.

   ​Alden berbalik menatap layar monitor taktis yang menampilkan pergerakan tiga kapal Dreadnought musuh. Sekte The Obsidian Dawn tampaknya menyadari bahwa sang penguasa samudra langit telah kembali, mereka mulai mengubah formasi perang menjadi lingkaran kepungan defensif, mengumpulkan sisa-sisa energi sihir hitam untuk melakukan tembakan bersama demi menenggelamkan The Sky Leviathan ke dasar samudra langit beku.

   ​"Wakil Komandan, ambil alih kemudi sekunder. Seluruh kendali persenjataan utama kapal, sinkronisasikan langsung dengan inti energi The Zephyr Blade milikku," perintah Alden tegap, melangkah menuju podium kendali utama di tengah ruangan.

   ​"Siap, Kapten! Proses sinkronisasi energi dimulai!"

   ​Alden menghunus pedang legendarisnya, The Zephyr Blade, dari sarungnya. Bilah pedang yang ditenun dari baja langit kuno itu seketika memancarkan pendaran cahaya biru safir yang luar biasa pekat, berdesir dengan suara angin badai yang mengerikan.

   Alden menancapkan ujung pedangnya tepat pada lubang inti kendali di meja marmer, mengalirkan seluruh kekuatan supranatural tingkat tinggi miliknya ke dalam generator utama kapal terbang raksasa tersebut.

   ​WUZUUUUCH!

   ​Seluruh koridor dan dinding besi The Sky Leviathan mendadak memancarkan garis-garis sirkuit energi biru yang menyala terang. Dua pasang meriam penghancur utama di bagian moncong kapal berputar cepat, mengunci koordinat kapal perang musuh yang berada di sektor tengah.

   ​"Mereka mengincar masa depan keluargaku, dan hari ini, aku akan menghapus keberadaan mereka dari sejarah langit utara," ujar Alden dengan wibawa militer yang mutlak. Matanya berkilat tajam. "Tembak!"

   ​BLAAAAM! BLAAAAM!

   ​Dua tembakan salvo energi badai safir melesat dari moncong The Sky Leviathan, membelah atmosfer dingin wilayah beku dengan kecepatan yang melampaui kecepatan suara.

   Pancaran energi murni itu begitu besar hingga menciptakan tekanan angin bertekanan tinggi yang langsung mengoyak perisai sihir hitam milik kapal utama sekte hingga hancur berkeping-keping.

   Ledakan dahsyat meletus di udara, kapal Dreadnought tengah milik musuh seketika terbelah menjadi dua bagian dan meledak menjadi bola api raksasa sebelum tenggelam jatuh menembus lapisan awan bawah.

   ​Melihat kehancuran instan dari kapal utama mereka, dua kapal perang sekte yang tersisa mencoba untuk berputar arah dan melarikan diri kembali menuju kegelapan badai es. Namun, kemurkaan seorang Kapten Langit Kekaisaran tidak akan membiarkan sebutir debu musuh pun lolos dari medan pertempuran ini.

   ​"Leo! Masuk ke sistem kendali meriam sekunder sayap kanan!" seru Alden melalui pengeras suara internal, memanggil putra sulungnya yang baru saja menyelesaikan pemulihan energi di ruang medis.

   ​"Baik, Ayah! Perintah dimengerti!" sahut suara Leo dari interkom, dipenuhi semangat tempur yang kembali berkobar setelah melihat kedatangan ayahnya.

   ​Dari jendela samping, terlihat Leo mengaktifkan meriam bertenaga kristal api dengan menyalurkan energi Phoenix jingganya secara terarah. Kombinasi antara sihir badai safir milik Alden di sektor utama dan tembakan api murni Phoenix milik Leo di sektor sayap menciptakan jaring tembakan silang yang mengunci seluruh jalur pelarian musuh.

   ​BUMMMM! BUMMMM!

   ​Dua ledakan beruntun kembali menghiasi langit fajar Sektor Utara. Dua kapal perang sekte The Obsidian Dawn yang tersisa hancur total, hancur menjadi serpihan logam panas yang berjatuhan di atas permukaan tanah es Pulau Frostfire.

   Seluruh armada pengepung yang sempat mengancam nyawa keluarga Alden kini telah dibersihkan secara total dalam hitungan menit di bawah komando sang Kapten Langit.

   ​Keheningan yang damai akhirnya kembali menyelimuti wilayah udara Pulau Frostfire. Cahaya matahari fajar utara yang samar mulai menyembur dari balik celah badai, memantulkan keindahan keperakan di atas dek The Sky Leviathan yang kini telah bebas dari kuncian sihir hitam.

   ​Alden menarik kembali The Zephyr Blade dari podium kendali, lalu menyarungkannya dengan sentakan pelan yang penuh wibawa. Ia menghembuskan napas panjang, melonggarkan kerah kemeja militernya sebelum kembali melangkah mendekati Clara yang menatapnya dengan binar mata penuh rasa bangga dan kelegaan yang luar biasa.

   ​"Pertempuran di utara telah selesai, Clara. Kita akan segera memutar haluan kapal menuju jalur pelayaran selatan yang aman," kata Alden lembut, meraih jemari tangan kiri Clara yang tidak terluka dan mengecupnya dengan penuh rasa hormat di hadapan seluruh kru kemudi yang kini bersorak sorai merayakan kemenangan awal mereka.

   ​Fase darurat menembus wilayah udara terlarang telah berhasil dilalui dengan gemilang berkat ketulusan hati seorang ibu tiri dan kemurkaan perlindungan dari sang ayah sejati.

   Kini, perjalanan mereka untuk membawa pulang Rin dan Toby yang telah sembuh menuju masa depan keluarga utuh yang bahagia di ujung cakrawala telah resmi dimulai kembali tanpa ada lagi kegelapan yang mampu menghalangi.

Tolong kasih dukungannya ya, dan jangan lupa follow akun Author. Makasih...

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!