NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.

Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Kekuatan Tanpa Sadar

Matahari baru saja menyembul di ufuk timur saat Bobon terbangun. Perutnya keroncongan seperti biasa. Dia menggeliat di tempat tidurnya, mengucek mata, dan berjalan keluar kamar dengan langkah berat. Udara pagi yang segar menyapanya saat dia membuka pintu rumah.

Di teras, tepat di depan pagar, ada sebuah benda kecil yang menarik perhatiannya. Bobon mengerutkan kening dan berjalan mendekat. Itu adalah gulungan kecil yang diikat tali merah. Dia memungutnya dan membalikkan benda itu di tangannya.

"Ini apa, ya?" gumam Bobon.

Dia membuka gulungan itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada sehelai kertas tua dengan tulisan yang rumit. Bobon tidak bisa membaca sebagian besar tulisannya. Huruf-huruf itu meliuk-liuk seperti ular, sulit dipahami. Tapi ada satu kalimat yang dia mengerti.

"Kau bukan siapa-siapa. Kau adalah seseorang."

Bobon menggaruk kepalanya. "Aku Bobon. Tentu aku seseorang."

Dia tidak mengerti maksud tulisan itu. Tapi dia menyimpan gulungan itu di sakunya. Mungkin Nenek Mira bisa membacakan untuknya.

"Bobon, kenapa kau sudah bangun?" suara Nenek Mira terdengar dari dalam rumah.

"Aku menemukan sesuatu, Nek. Gulungan kertas di depan pagar."

Nenek Mira keluar dengan wajah serius. Dia mengambil gulungan itu dari tangan Bobon dan membacanya. Wajahnya berubah pucat. Dia segera menyembunyikan gulungan itu di balik bajunya.

"Bobon, jangan beritahu siapa pun tentang ini. Kau dengar?"

"Kenapa, Nek?"

"Karena ini berbahaya. Nenek akan menjelaskan nanti. Sekarang sarapan dulu."

Bobon mengangguk meskipun bingung. Mereka sarapan dalam keheningan yang tidak biasa. Nenek Mira tampak gelisah. Matanya terus melirik ke arah pintu dan jendela.

Setelah sarapan, Nenek Mira menyuruh Bobon pergi ke sekolah. Tapi Bobon melihat neneknya sedang sibuk mengunci semua pintu dan jendela. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Sesuatu yang membuat perut Bobon terasa tidak enak, bukan karena lapar.

Di sekolah, Guru Mulya mengajarkan tentang ilmu alam. Bobon mencoba mendengarkan, tapi pikirannya melayang ke gulungan kertas tadi. Siapa yang meninggalkannya? Mengapa Nenek Mira begitu takut?

Saat istirahat, Tono mendekati Bobon dengan senyum cerah.

"Bobon! Aku bawa bekal dari ibu. Mau berbagi?"

Bobon tersenyum lebar. "Mau. Aku lapar."

Mereka duduk di bawah pohon dan berbagi nasi dengan lauk sederhana. Tono menceritakan tentang ibunya yang mendapat pesanan sayuran lebih banyak hari ini. Bobon mendengarkan sambil mengunyah.

"Bobon, kenapa kemarin kau bisa menangkis pukulan Darman?" tanya Tono tiba-tiba.

Bobon berhenti mengunyah. "Entahlah. Aku tidak merasa sakit."

"Tapi Darman memukul keras sekali. Aku lihat. Biasanya orang bisa pingsan."

"Tapi aku tidak pingsan. Hanya lapar."

Tono tertawa. "Kau selalu lapar."

"Iya. Karena aku Bobon."

Mere berdua tertawa bersama. Tono adalah satu-satunya teman yang Bobon miliki di sekolah. Anak-anak lain masih menjaga jarak setelah kejadian kemarin. Mereka takut pada Bobon. Ada yang menyebutnya iblis, ada yang menyebutnya makhluk aneh. Bobon tidak peduli. Yang penting Tono masih mau berteman.

Setelah sekolah, Bobon berjalan pulang sendirian. Jalan setapak yang biasa dia lalui terasa sepi hari ini. Tidak ada anak-anak bermain, tidak ada orang tua duduk di teras. Semua orang sepertinya menghilang.

Di kejauhan, Bobon mendengar suara berisik. Suara orang berteriak dan benda jatuh. Dia mempercepat langkahnya. Dari balik pepohonan, dia melihat sekelompok orang berkumpul di lapangan desa.

Mereka sedang melihat dua orang bertarung.

Bobon mendekat untuk melihat. Dua pria dewasa saling berhadapan dengan tongkat di tangan masing-masing. Salah satunya adalah kepala desa, Pak Karta, pria tua berbadan kekar. Lawannya adalah seorang asing dengan jubah hitam dan wajah tertutup topeng.

"Serahkan tanah itu atau kau akan celaka!" teriak pria asing itu.

Pak Karta mengangkat tongkatnya. "Tanah desa ini tidak akan aku serahkan pada bajingan seperti kau. Aku lebih baik mati."

Pria asing itu tertawa. "Mati? Dengan senang hati aku penuhi permintaanmu."

Pria asing itu melompat dan menghantamkan tongkatnya ke arah Pak Karta. Pak Karta menangkis dengan susah payah. Tubuhnya yang sudah tua gemetar menahan serangan. Warga desa berteriak ketakutan.

Bobon melihat semua ini dari belakang kerumunan. Dia melihat Pak Karta hampir jatuh. Dia melihat pria asing itu mengangkat tongkatnya untuk pukulan mematikan.

Tidak ada yang bergerak. Semua orang terlalu takut.

Tapi Bobon bergerak.

Tanpa berpikir, Bobon berlari ke tengah lapangan. Tubuhnya yang gemuk bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dalam sekejap, dia sudah berada di antara Pak Karta dan pria asing itu.

"Jangan pukul dia," kata Bobon dengan suara datar.

Pria asing itu terkejut. "Siapa kau, bocah?"

"Aku Bobon. Jangan pukul Pak Karta."

Pria asing itu tertawa. "Bocah gendut mau jadi pahlawan? Enyah!"

Dia mengayunkan tongkatnya ke arah Bobon. Pukulan itu keras, cukup untuk menghancurkan tengkorak orang dewasa. Tapi Bobon menangkap tongkat itu dengan tangannya. Tanpa ekspresi, tanpa usaha. Hanya memegangnya seperti memegang ranting.

Pria asing itu terkejut. Dia mencoba menarik tongkatnya, tapi tidak bisa bergerak. Bobon menggenggamnya terlalu erat.

"Lepaskan!" teriak pria asing.

"Kau janji tidak akan memukul Pak Karta."

"Aku janji! Lepaskan!"

Bobon melepaskan tongkatnya. Pria asing itu mundur dengan wajah pucat. Dia menatap Bobon dengan mata campuran ketakutan dan kemarahan.

"Kau... kau bukan anak biasa. Siapa gurumu?"

"Guru? Aku punya Guru Mulya di sekolah."

Pria asing itu menggeleng. "Bukan guru sekolah. Guru bela dirimu. Siapa yang mengajarimu?"

"Aku tidak belajar bela diri. Aku hanya Bobon."

Pria asing itu tidak percaya. Tapi dia melihat kerumunan warga yang mulai berani mendekat. Dia memutuskan mundur.

"Ini belum selesai, bocah. Aku akan kembali. Dan kali ini aku tidak akan sendirian."

Pria asing itu melompat dan menghilang di balik pepohonan. Warga desa bersorak. Mereka mengelilingi Bobon dan Pak Karta.

"Bobon! Kau menyelamatkan kita!"

"Kau hebat, Bobon!"

"Bagaimana kau bisa melakukan itu?"

Bobon menggaruk kepalanya. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Dia hanya ingin membantu Pak Karta. Itu saja.

Pak Karta menepuk pundak Bobon. "Anak muda, kau memiliki kekuatan yang luar biasa. Kau sadar?"

"Aku tidak sadar, Pak. Aku hanya tidak suka melihat orang dipukul."

Pak Karta tersenyum. "Kau baik hati, Bobon. Tapi kau harus berhati-hati. Orang asing itu pasti akan kembali dengan bala bantuan. Kau harus pergi dari desa ini."

"Pergi? Tapi Nenek Mira di rumah."

"Bawa nenekmu. Pergi ke kota besar. Cari perlindungan. Desa ini tidak aman lagi."

Bobon bingung. Dia tidak mengerti mengapa harus pergi. Tapi melihat wajah serius Pak Karta, dia mengangguk.

Malam harinya, Bobon menceritakan semua yang terjadi pada Nenek Mira. Nenek Mira mendengarkan dengan wajah pucat. Dia memegang gulungan kertas di sakunya dan menggenggamnya erat.

"Bobon, kita harus pergi," kata Nenek Mira. "Nenek sudah tahu ini akan terjadi."

"Ke mana, Nek?"

"Ke Kerajaan Kencana. Di sana kita akan aman."

Bobon mengangguk. Dia tidak mengerti apa itu Kerajaan Kencana. Tapi dia percaya pada Nenek Mira.

Mereka mulai mengemasi barang-barang mereka. Hanya barang penting yang dibawa. Nenek Mira menyembunyikan gulungan kertas dan lukisan tua di dalam bungkusan.

Saat mereka akan pergi, Bobon melihat ke luar jendela. Di kejauhan, ada api berkobar. Desa Windu Sari sedang terbakar.

"Bobon, cepat! Kita harus lari!" teriak Nenek Mira.

Mereka berlari ke arah hutan di belakang rumah. Di belakang mereka, suara teriakan dan jeritan memecah keheningan malam. Desa yang damai itu berubah menjadi neraka.

Bobon berhenti sejenak. Dia mendengar suara anak kecil menangis. Tono.

"Nenek, Tono! Aku harus menolong Tono!"

"Bobon, jangan!"

Tapi Bobon sudah berlari. Dia berlari menuju rumah Tono yang mulai dilalap api. Dia mendengar teriakan Tono dari dalam rumah.

Tanpa berpikir, Bobon menerobos pintu yang terbakar. Api menjilat kulitnya. Tapi anehnya, Bobon tidak merasa sakit. Kulitnya seperti tidak terbakar.

Dia menemukan Tono di sudut ruangan, ketakutan. Bobon menggendong Tono dan berlari keluar. Tepat saat mereka keluar, rumah itu runtuh.

"Tono! Kau selamat!" suara ibu Tono berteriak histeris.

Bobon meletakkan Tono di pelukan ibunya. Tono menangis dan memeluk Bobon.

"Terima kasih, Bobon. Kau menyelamatkan anakku," kata ibu Tono sambil menangis.

Bobon tersenyum. "Tono temanku. Aku tidak mau dia mati."

Tapi di balik senyum itu, ada rasa sakit di dadanya. Api yang menjilat tubuhnya tadi tidak terasa. Tapi sekarang ada rasa panas yang aneh di dadanya. Seperti ada sesuatu yang terbakar di dalam.

Nenek Mira tiba dengan nafas terengah-engah. Dia memeriksa tubuh Bobon. Tidak ada luka bakar. Tidak ada bekas api. Hanya kulit yang sedikit merah.

"Bobon, kau... kau kebal terhadap api," bisik Nenek Mira.

"Aku tidak tahu, Nek. Aku hanya ingin menolong Tono."

Mereka berlari ke hutan bersama warga desa lainnya. Di belakang mereka, Desa Windu Sari terbakar habis. Rumah-rumah yang dulu indah kini menjadi abu.

Di dalam hutan, Bobon duduk di bawah pohon dan menangis. Dia menangis untuk desanya. Dia menangis untuk rumahnya. Tapi dia juga menangis untuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak dia mengerti.

Di dadanya, segel kedua mulai retak. Rasa sakit itu menusuk, tapi Bobon tidak tahu bahwa itu adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Nenek Mira memeluknya dan membisikkan kata-kata penghibur. Tapi di dalam hatinya, Nenek Mira tahu bahwa perjalanan Bobon baru saja dimulai. Dan perjalanan itu akan membawanya pada takdir yang telah lama menunggu.

Di kejauhan, di atas bukit, pria asing tadi berdiri bersama beberapa orang lainnya. Mereka menatap ke arah hutan tempat warga desa berlindung.

"Kita kehilangan dia," kata salah satu dari mereka.

"Tidak," jawab pria asing itu. "Kita hanya menunda. Dia akan ke Kerajaan Kencana. Dan di sana, kita akan menangkapnya."

Malam semakin gelap. Api masih berkobar di kejauhan. Dan Bobon, di pelukan Nenek Mira, mulai tertidur dengan air mata yang masih menetes.

Dalam tidurnya, dia bermimpi tentang seorang pria dengan tongkat kayu. Pria itu tersenyum dan berkata, "Selamat datang di dunia persilatan, Bobon. Kau telah memulai perjalananmu."

Bobon menggeliat dan merapat ke neneknya. Dia tidak mengerti mimpi itu. Yang dia tahu, dia kehilangan rumahnya. Tapi dia masih memiliki Nenek Mira. Dan dia masih memiliki rasa lapar.

"Besok... aku akan makan banyak," gumam Bobon dalam tidurnya.

Di kejauhan, burung malam terbang melintasi langit. Membawa pesan ke seluruh penjuru benua.

Pendekar Dewata telah bangkit.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!