"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Gendongan Darurat
Jarum jam dinding di ruang tengah sudah menunjuk tepat di angka sepuluh malam ketika pintu depan rumah keluarga Farrel terbuka. Suasana luar rumah sudah sangat sepi, hanya menyisakan suara jangkrik dan embusan angin malam yang dingin. Satria melangkah masuk terlebih dahulu sambil menggendong Rafka yang sudah tertidur pulas di pundaknya. Bocah itu tampaknya benar-benar kelelahan setelah puas bermain dan berburu mainan baru di mal tadi.
Ibu Dania yang memang belum tidur langsung menyambut mereka di dekat ruang tengah. "Aduh, cucu Ibu sampai pingsan begini tidurnya. Sini, Satria, biar Ibu pindahin ke kamar."
"Biar Satria saja yang antar ke kamar bawah, Ibu. Rafka lumayan berat," jawab Satria dengan suara yang dikecilkan agar tidak mengusik tidur anaknya.
Tepat di belakang Satria, Keisha melangkah masuk dengan wajah yang sudah tertekuk menyedihkan. Begitu pintu mobil ditutup tadi, seluruh tubuhnya mendadak terasa rontok. Rasa perih di lututnya yang sempat terlupakan kini kembali menyengat, ditambah dengan rasa pegal dan linu di area pinggang serta pergelangan kaki. Sepertinya, efek benturan akibat insiden nyusruk ke dalam got tadi siang baru benar-benar bereaksi sekarang setelah sisa-sisa adrenalinnya habis.
"Aduh, badanku kayak habis digebukin massa se-kecamatan," rintih Keisha dalam hati.
Sambil memegangi pinggangnya yang terasa encok, Keisha mengambil langkah seribu. Ia tidak mau tertangkap basah sedang meringis di depan Satria, apalagi setelah seharian ini merasa diintimidasi oleh perhatian misterius kakak iparnya itu. Keisha langsung ngacir melewati ruang tengah, berniat buru-buru naik ke kamarnya di lantai atas untuk segera menenggelamkan diri di bawah selimut.
Satria yang baru saja meletakkan Rafka di kasur kamar bawah dan keluar kembali ke ruang tengah, langsung menangkap gerakan mencurigakan dari adik iparnya. Mata tajam sang Mayor melirik ke arah tangga, tempat di mana Keisha sedang mencoba berlari naik dengan langkah yang dipaksakan.
"Keisha, hati-hati naik tangganya. Jangan lari, nanti jatuh," tegur Satria tegas. Suaranya yang berat bergema di ruangan yang sunyi itu, terdengar seperti sebuah instruksi komando yang mutlak.
"Iya, Kak! Aman! Tenang aja—"
Sreeet!
"Eh, eh! Ibuuuuu!"
Baru saja kalimat bernada meremehkan itu keluar dari mulutnya, kaki kanan Keisha yang masih linu mendadak kehilangan tumpuan di anak tangga keempat. Sandal rumahnya terpeleset di permukaan kayu tangga yang licin. Tubuh Keisha langsung kehilangan keseimbangan dan meluncur jatuh ke belakang dengan kecepatan tinggi. Keisha refleks memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap pasrah merasakan hantaman keras lantai keramik yang pasti akan membuat badannya semakin remuk.
Namun, rasa sakit yang ia bayangkan tidak pernah datang.
Set!
Bugh!
Seperti kilat di malam hari, refleks militer yang tertanam di dalam tubuh Satria bekerja dalam hitungan milidetik. Pria itu langsung berlari cepat dan melompat, merentangkan kedua tangannya yang kokoh tepat di bawah jalur jatuhnya Keisha. Dalam sekali gerakan tangkas, Satria berhasil menangkap tubuh Keisha sebelum punggung gadis itu sempat menyentuh anak tangga terbawah.
Keisha tersentak, perlahan membuka matanya yang bergetar. Wajahnya kini berada hanya berjarak beberapa sentimeter dari dada bidang Satria. Kedua lengan besar Satria mencengkeram erat pinggang dan punggungnya, menahan bobot tubuhnya dengan sangat stabil tanpa gogokan sedikit pun.
"Awh ... aduh ... aduuuh, sakit!" Keisha mulai meringis mengaduh kesakitan, memegangi pergelangan kaki kanannya yang terasa seperti baru saja diputar paksa. Rasa perih yang luar biasa langsung menjalar hingga ke ubun-ubun.
Suara kegaduhan di dekat tangga itu tak pelak membuat Ayah Farrel dan Ibu Dania yang berada di kamar bawah langsung berhamburan keluar dengan wajah panik. Mereka terbelalak melihat pemandangan di depan tangga, di mana Satria sudah dalam posisi mendekap erat tubuh anak bungsu mereka.
"Astaga! Ada apa ini? Suara apa yang parah banget tadi?" tanya Ibu Dania dengan tangan yang menepuk dada karena syok.
Satria perlahan menegakkan tubuhnya tanpa melepaskan dekapannya pada Keisha, memastikan posisi gadis itu aman di dalam dekapannya. "Keisha kepleset di tangga, Bu," kata Satria menjelaskan dengan nada suara yang terkontrol, meski napasnya terdengar sedikit lebih memburu dari biasanya.
Ibu Dania langsung berkacak pinggang, menarik napas panjang dengan raut wajah yang campur aduk antara panik dan gemas. "Keisha! Kamu itu ya, kebiasaan banget enggak pernah hati-hati kalau jalan! Baru aja siang tadi kamu bikin Ibu senam jantung gara-gara nyemplung got sama Rafka. Sekarang belum ada setengah hari, sudah kepleset lagi di tangga rumah sendiri! Mau kamu itu apa sih, Kei?"
"Aduh, Ibu ... jangan diomelin dulu dong," sahut Keisha dengan suara serak menahan tangis, air matanya sudah menggenang di sudut mata. "Kaki Keisha sakit banget ini! Beneran, kayaknya patah deh ini, Bu! Aduuh ..."
Melihat anak bungsunya yang biasanya barbar dan banyak tingkah kini sampai menangis kesakitan, guratan panik di wajah Ibu Dania semakin jelas. Dia melirik ke arah Satria. "Satria, tolong bawakan Keisha ke atas, ke kamarnya. Biar dia bisa selonjoran di kasur."
Sebenarnya, tanpa diminta oleh ibu mertuanya pun, Satria memang sudah berencana melakukan hal itu. Pria itu tidak memberikan jawaban verbal, melainkan langsung menyusupkan sebelah tangan kanannya ke bawah lipatan lutut Keisha, sementara tangan kirinya menopang punggung gadis itu dengan kokoh. Dengan satu sentakan mudah, Satria mengangkat tubuh Keisha ke dalam gendongannya—bridal style—seolah-olah bobot tubuh Keisha tidak ada berat-beratnya bagi sang Mayor.
Namun, sebelum melangkahkan kakinya naik ke anak tangga, Satria tiba-tiba menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Ibu Dania.
"Ibu, tolong ambilkan minyak urut dan handuk kecil di dapur. Bawa ke kamar atas, biar sekalian saya cek kondisi kakinya," ujar Satria dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.
Mendengar kalimat itu, mata Keisha yang semula terpejam menahan sakit langsung melotot lebar. Rasa panik mendadak menyergap pikirannya yang absurd. "Hah? Dicek sama Kak Satria? Mau diurut pakai tangan gedenya itu? Yang benar aja! Bisa-bisa kakiku beneran diamputasi!'
"Eh—eh? Enggak usah, Kak! Enggak usah pakai minyak urut segala!" protes Keisha dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan, tangannya refleks memukul pelan pundak tegap Satria. "Ibu aja yang urut, atau besok pagi panggil Mbak Sri tukang pijat komplek aja! Kak Satria enggak usah ikut campur!"
"Diam, Keisha. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau jatuh lagi," potong Satria pendek, tatapan matanya menunduk tajam mengunci protesan Keisha. Nadanya sangat dingin, namun genggaman tangannya pada tubuh Keisha justru terasa semakin erat dan protektif.
Bersambung...