Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Tubuh Rebeca menegang saat jemari Elgar mulai mengusap kain segitiga yang menutupi area intimnya. Gadis itu ingin berkata "jangan" tapi mulutnya masih sibuk dilumat oleh Elgar. "Tidak! Kenapa Elgar berani sekali menyentuh area intimku?" batinnya.
Namun tak bisa dipungkiri, jika sentuhan itu membuat Rebeca merasakan sensasi yang asing. "Rasanya geli, tapi ... enak." Ia mengakui dalam hati. "Tapi ini nggak boleh. Perbuatan ini sudah melanggar norma dan agama." Akal sehat Rebeca mengingatkan. "Aku harus mendorong Elgar," lanjutnya masih dalam hati.
"Lo nggak usah ngata-ngatain gue, Beca. Nanti juga kalau lo udah punya pacar, dan lo cinta banget sama dia ... lo juga bakal pasrah aja diapa-apain sama dia. Persis kayak gue yang selalu pasrah mau diapain juga sama Putra. Lagian enak tahu. Gue juga pas awal mah rada malu, tapi makin ke sini ... ya enjoy aja. Malah gue yang sering minta duluan."
Perkataan Mili mendadak memenuhi kepala Rebeca, membuat gadis itu yang awalnya ingin mendorong Elgar ... kini malah jadi pasrah. Membiarkan Elgar terus menaik-turunkan jarinya di permukaan belahan vertikal miliknya.
"Aahh ... enak banget," desah Rebeca masih dalam hati. Bibirnya tak bisa mengeluarkan suara karena sibuk membalas lumatan bibir Elgar yang makin menggila.
Menggigit, menghisap, dan menarik. Lidah mereka pun sudah saling menyapa. Menari-nari di dalam rongga mulut.
***
"Ya Tuhan!" Robinson memekik seraya melirik gelas yang baru saja terjun bebas ke lantai.
Bi Nunik sigap menghampiri. "Kenapa, Tuan?"
"Ah, itu, Nik. Saya tidak sengaja menyenggol gelas," jawab Robinson.
"Biar saya bereskan, Tuan." Nunik berlari ke belakang, dan tak lama kembali lagi membawa sapu dan pengki. Ia segera membereskan pecahan gelas itu.
Robinson tertegun sambil memegangi dadanya. "Kenapa tiba-tiba aku jadi kepikiran Beca?" gumamnya lirih. Sejak di kantor tadi, ia merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Padahal putrinya hanya sedang berlibur. Namun sebagai seorang ayah, firasatnya terasa begitu kuat.
Robinson segera meraih ponselnya dan mengirim pesan. "Beca, kamu sedang aap? Jangan lupa istirahat. Kalau tidak sibuk, kabari Papa." Pesan itu terkirim, tetapi hanya centang satu. Robinson menghela napas panjang. "Semoga kamu baik-baik saja di sana," bisiknya, sebelum kembali menatap layar ponsel yang masih belum menunjukkan tanda-tanda balasan. "Apa aku tanyakan saja ya, pada Giselle?" Ia memijit pelipis. "Ya, aku akan menghubungi Giselle." Lelaki berkaus hitam polos itu akhirnya mencari nomor mantan istrinya. Setelah ketemu, ia segera mengetik pesan.
"Giselle ... Beca sedang apa sekarang? Kenapa WA-nya tidak aktif?"
Pesan itu centang dua dan langsung dibaca.
Balasan datang dengan cepat. "Dia sedang jalan-jalan. Sudah lah, Robin. Kamu tak usah khawatir. Ada aku di sini. Kenapa sih kamu selalu saja bawel kalau Beca sedang liburan ke sini? Terakhir waktu dia liburan dua tahun lalu ... kamu terus-terusan mengirimkan spam chat ke nomornya, sampai Beca muak dan membanting ponselnya. Seolah di sini, dia tidak berada di tempat yang aman. Rebeca itu anakku, darah dagingku. Aku tak mungkin membiarkan dia dalam bahaya. Jadi ... stop overthinking! Biarkan dia menikmati liburannya dengan nyaman!"
"Ya Tuhan ..." Robinson membuang napas kasar. "Seharusnya aku tak menghubungi Giselle. Karena pada akhirnya ... setiap aku mencoba berkomunikasi dengannya, wanita itu selalu saja membalas dengan ketus. Dan ... selalu berakhir dengan pertengkaran." Ponsel di tangannya ia taruh masukan ke dalam saku celana trainingnya, tanpa membalas pesan dari sang mantan istri. "Tuhan ... tolong lindungi putriku." Robinson pun beranjak dari sofa ruang kelurga.
***
"Ahh ... S-Sayang ..." Rebeca menjambak rambut Elgar dengan erat. "J-Jangan digigit,"desahnya.
Elgar tak menghiraukan. Ia fokus memainkan dua gunung kenyal milik Rebeca, sesekali ia menarik puncak gunung itu, menggigitnya kecil.
"S-Sayang ..." geram Rebeca tertahan. Sungguh ia merasakan seluruh tubuhnya meremang karena Elgar memainkan dua area sensitifnya secara bersamaan. "Ak-aku ... m-mau ... pi-pis."
Mendengar ucapan itu, Elgar menyeringai. Ia mengangkat wajah dari dada Rebeca. Bibirnya basah oleh saliva. "Kamu bukan mau pipis, Sayang. Tapi ... mau orgasme," kekehnya yang membuat wajah Rebeca bak tomat masak. "Aku lanjut lagi ya?" Suara Elgar terdengar serak.
"J-Jangan, Kak," cicit Rebeca.
"Kenapa?" Kening Elgar mengkerut.
"Ak-aku ... malu."
"Haha ... kenapa harus malu, Sweety?" Elgar merunduk dan mencuri satu ciuman singkat di bibir Rebeca.
"Malu aja. Masa harus orgasme di sini. Aku maunya di kamar yang nyaman. Bukan di sofa kafe kayak gini." Dengan wajah memerah sepenuhnya, Rebeca mengatakan keinginannya.
"Hahahaha!" Elga tertawa kencang. "Kamu ini ya, nakal juga ternyata," lanjutnya sambil menarik puncak gunung Rebeca yang sudah menegang.
"Ahhhh ...!" Gadis itu sampai mengeluarkan desahan kencang.
"Kalau begitu ... kita pindah ke hotel yuk?" ajak Elgar sambil mengerling nakal.
Rebeca tertawa canggung. "Ayo. Tapi aku mau yang mahal. Hotel bintang lima."
"Oke, Sayangku. Up to you!"
"Aaa ... makasih." Rebeca menjerit kecil.
"Aku dong yang harus bilang makasih," ralat Elgar.
"Kenapa?"
"Karena kamu sudah mau memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu," bisik Elgar sensual seraya menggigit daun telinga Rebeca. "Kita pergi sekarang ya?"
"Iya."
Elgar bangkit dari atas Rebeca, membantu gadis itu memakai kembali blouse-nya. Merapikan rambut, lalu mengecup kening kekasihnya dengan penuh cinta. "Aku beruntung punya pacar seperti kamu."
Kedua pipi Rebeca merona. "Aku jauh lebih beruntung," balas Rebeca.
"Yuk kita check in!" Elgar mengulang ajakannya.
"Oke, tapi tunggu sebentar. Aku mau ke toilet dulu. Pengen pipis beneran, hehe ..." Gadis berambut panjang itu menyengir.
Elgar mengangguk. "Jangan lama-lama ya?"
"Iya, Sayangku." Rebeca berlari kecil menuju toilet yang ada di ruang VIP kafe mewah itu.
"Yess!" Elgar bersorak gembira setelah Rebeca masuk ke toilet. Tawa lebarnya menghiasi bibir. "Akhirnya ... sebentar lagi aku akan mendapatkan apa yang kumau. Ternyata tidak perlu bujuk rayu ekstra. Si Princess Alexander itu sungguh murahan. Disentuh sedikit dan dibuai dengan rayuan gombal secuil ... sudah membuat dia tergila-gila sampai rela mengangkang." Geleng-geleng kepala Elgar. "Gampang banget sih dapetin dia. Bentar lagi aku bakal dapat uang dan mobil dari hadiah taruhan." Ia bertepuk tangan sendiri. "Tapi aku harus buat dia bungkam. Jangan sampai dia bilang kejadian malam ini kepada siapa pun. Kalau sampai dia buka rahasia ... tamat sudah karierku. Imej-ku yang selama ini dikenal sebagai seorang artis muda berperilaku baik, sopan dan taat agama bisa hancur dalam sekejap mata. Tidak! Tidak! Aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak ingin semua kemewahan dan ketenaran yang kudapatkan porak-poranda." Elgar memijit batang hidungnya pelan. Ia terdiam sejenak, memejamkan mata. Lalu detik berikutnya, seulas seringai tipis muncul di bibirnya. "Hm, sepertinya aku harus berbagi kenikmatan ini dengan anggota Golden Faces. Jika suatu saat nanti Rebeca buka mulut dan menuntut ini dan itu ... aku bisa tunjukan bukti kalau Rebeca bukanlah gadis baik-baik."
gimana kl tahu mama kebanggaanmu itu gk lbh dr jalang kelakuannya+ lo dah jd korban taruhan jg berbagi cinta selingkuhan mamamu...🤫🙉