Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
Keesokan paginya, suasana di kediaman keluarga Baskara terasa berbeda. Rumah yang biasanya dipenuhi tangisan bayi sejak matahari terbit, kini justru diselimuti ketenangan. Beberapa pelayan saling berpandangan dengan heran.
"Baby belum menangis sama sekali?" Bisik salah seorang pelayan.
Pelayan lain menggeleng pelan. "Sejak bangun tadi, tidak. Padahal biasanya jam segini rumah sudah ramai. Sepertinya Nona Laras benar-benar tahu cara merawat bayi."
Percakapan itu berhenti ketika salah seorang dari mereka melintas di depan kamar yang kini ditempati Aurora.
Pintu kamar sedikit terbuka.
Dari celah pintu, tampak Laras sedang menggendong Aurora dengan penuh kehati-hatian. Sejak subuh tadi, ketika Aurora terbangun dan mulai merengek pelan, Laras sudah berada di sisinya.
Ia mengangkat tubuh mungil putrinya dengan gerakan yang begitu terlatih. Kemudian mengganti popoknya. Membersihkan tubuh kecil itu dengan air hangat. Lalu memakaikan pakaian baru yang lembut dan nyaman.
Semua ia lakukan dengan telaten. Seolah-olah telah melakukan pekerjaan itu berkali-kali. Padahal, ini baru hari keduanya berada di rumah itu.
Aurora yang kini hampir berusia tiga bulan tampak jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Namun, setiap kali Laras memandangi wajah kecil putrinya, dadanya terasa sesak.
Tubuh Aurora masih terlihat kurus. Pipinya belum seberisi bayi seusianya. Lingkar lengannya pun tampak kecil. Hati Laras terasa nyeri. Dua bulan, selama dua bulan, putrinya tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya.
Bukan karena tidak ada orang yang merawat. Melainkan karena tidak ada yang benar-benar memahami kebutuhannya. Laras menggendong Aurora ke kursi menyusui yang berada di dekat jendela. Perlahan ia menyusui putrinya. Begitu bibir mungil Aurora mulai menyusu dengan lahap, tubuh Laras seketika menegang.
Ia menundukkan kepala. Memandangi wajah kecil yang sedang menikmati setiap tetes ASI darinya. Tanpa sadar, kedua matanya mulai dipenuhi air mata. Ia cepat-cepat mengedipkannya.
Tidak, dia tidak boleh menangis. Namun, semakin lama Aurora menyusu, semakin sulit pula Laras menahan gejolak di dalam dadanya.
Seolah semua mengembalikan seluruh kenangan saat pertama kali memeluk putrinya setelah melahirkan. Laras mengusap lembut kepala Aurora.
"Pelan-pelan, Sayang..." Bisiknya lirih.
Aurora sama sekali tidak melepaskan hisapannya. Justru tubuh kecil itu semakin merapat ke pelukan Laras. Seakan menemukan kembali tempat yang selama ini ia cari. Setetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Laras.
Ia segera menghapusnya sebelum sempat mengenai wajah Aurora.
"Maafkan Ibu..." Suara itu hampir tidak terdengar. "Ibu terlambat datang menjemputmu." Laras mengecup pelan pucuk kepala putrinya.
Aroma tubuh bayi itu membuat hatinya semakin hancur. Andai saja hari itu ia tidak ditipu. Andai saja Evan tidak merampas semuanya. Mungkin pagi ini mereka sedang menikmati kebahagiaan di rumah mereka sendiri. Bukan seperti sekarang, seorang ibu yang harus menyamar hanya untuk bisa menyusui anak kandungnya.
Beberapa menit kemudian, Aurora selesai menyusu. Laras mengangkat tubuh mungil itu ke bahunya. Ia menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut hingga terdengar sendawa kecil. Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Laras.
"Nah ... anak pintar."
Aurora menatap wajah Laras dengan mata bulatnya. Lalu tanpa diduga, bibir mungil itu perlahan membentuk senyum kecil.
Meskipun hanya sesaat. Namun, cukup membuat hati Laras terasa hangat. Ia kembali memeluk putrinya.
Pukul tujuh pagi, seluruh anggota keluarga Baskara telah berkumpul di ruang makan.
Aroma roti panggang dan kopi hangat memenuhi ruangan yang didominasi warna putih dan emas itu.
Evan duduk di kursi utama sambil membaca berita di tablet miliknya. Sementara Carolin tampak sibuk mengoleskan selai pada sepotong roti, sesekali mengecek ponselnya yang terus berbunyi karena pesan dari manajernya. Seorang pelayan datang membawa teko kopi.
Evan mengangkat kepalanya. "Laras sudah bangun?"
Pelayan itu mengangguk hormat. "Sudah, Tuan."
"Sejak kapan?"
"Sejak subuh."
Evan tampak sedikit terkejut. "Subuh?"
"Iya, Tuan. Saat Baby Aurora terbangun, Nona Laras langsung memandikan, mengganti pakaiannya, lalu menyusuinya."
Pelayan itu tersenyum kecil. "Rumah juga sangat tenang pagi ini, Tuan. Kami bahkan tidak mendengar tangisan Baby sama sekali."
Mendengar laporan itu, sudut bibir Evan terangkat.
"Bagus." Ia meletakkan cangkir kopinya. "Berarti Aurora benar-benar cocok dengannya."
Ucapan itu justru membuat Carolin menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh ke arah suaminya.
"Mas, jangan terlalu cepat percaya."
Evan mengernyit. "Maksudmu?"
"Dia baru dua hari bekerja di sini." Carolin menatap seluruh pelayan yang berada di ruang makan.
"Kalian semua dengar baik-baik."
Para pelayan langsung berdiri lebih tegak.
"Aku ingin kalian mengawasi pengasuh baru itu. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan ... lapor langsung kepadaku."
"Iya, Nyonya."
Evan langsung menghela napas panjang. "Car..."
"Apa lagi?"
"Kau tidak perlu bersikap seperti itu."
Carolin menatap tajam. "Seperti apa?"
"Curiga kepada semua orang."
"Aku hanya berjaga-jaga."
"Kalau kau terus bersikap begitu, mana ada pengasuh yang betah bekerja di rumah ini?"
Carolin mendengus pelan. "Aku tidak peduli, yang penting Aurora aman."
Evan meletakkan sendoknya di atas meja. "Kalau memang kau begitu khawatir..."
Pria itu menatap istrinya dalam-dalam.
"Kenapa bukan kau saja yang merawat Aurora?"
Carolin langsung terdiam. Evan kembali melanjutkan, "Kenapa harus terus sibuk dengan pekerjaanmu? Anak itu juga butuh ibunya."
Suasana ruang makan mendadak sunyi. Para pelayan saling berpandangan, tetapi tidak ada satu pun yang berani bersuara.
Carolin menggenggam erat garpu di tangannya.
"Aku bukan ib..." Hampir saja kalimat itu keluar. Beruntung ia segera menggigit bibirnya dan menghentikan ucapannya.
Evan menatap Carolin lekat-lekat. Tatapannya dipenuhi rasa heran.
"Kenapa?"
"Tidak ada." Jawab Carolin cepat.
"Aku hanya sedang banyak pekerjaan."
Evan menggeleng pelan. "Itu selalu alasanmu."
Carolin merasa dadanya mulai sesak. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa ia memang tidak pernah memiliki ikatan batin dengan bayi itu. Karena Aurora bukan anak yang dikandungnya, anak itu kandung oh Amelia.
Dengan wajah kesal, Carolin mendorong kursinya hingga bergeser cukup keras.
"Aku sudah terlambat. Aku berangkat."
Tanpa menunggu jawaban Evan, ia meraih tasnya lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Evan hanya menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.
Entah mengapa, belakangan ini ia merasa Carolin berubah. Setiap kali pembicaraan menyangkut Aurora, istrinya selalu terlihat gelisah. Seolah sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Sementara itu, dari balik pintu dapur, sepasang mata diam-diam memperhatikan semua percakapan mereka, yaitu Laras.
Wanita itu menggenggam erat botol susu yang baru saja dicucinya. Dia berusaha akan menyetok susu untuk bayinya.
Hubungan Evan dan Carolin tidak sekuat yang terlihat dari luar. Dan celah sekecil apa pun, akan ia manfaatkan untuk menghancurkan mereka dari dalam.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,
kasih tau Ama dunia ini orang jadi ibu palsu
pencitraan aja
tapi emang.. jadi keinget dulu ada artis China yg nyari ibu pengganti buat ngelahirin ank ank nya karena dia ga mau badannya berubah
hadeeeh🫣🥹🥹.
ya..pas udah lahir,ga ada sama sekali ikatan batin nya sama anknya
akhirnya ga Deket...dan kyk orang asing