"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatiannya
***
"Selamat datang di rumah barumu, Zia. Mulai hari ini, kamu tidak perlu menempuh perjalanan jauh lagi untuk bekerja,"
Suara hangat Rayyan menyambut Zia begitu pintu gerbang otomatis sebuah rumah dua lantai bergaya modern tropis di kawasan Orchard, Singapura, terbuka lebar.
Rumah itu tampak asri, dikelilingi pagar tanaman hijau yang tinggi, memberikan privasi mutlak yang selama ini Zia dambakan. Namun, yang membuat kedua mata Zia membelak sempurna adalah bangunan megah tepat di sebelah rumah tersebut, sebuah butik mode eksklusif milik Rayyan yang terhubung langsung melalui sebuah pintu taman rahasia.
"Rayyan... ini rumah di sebelah butik utama?"
"Benar," Rayyan tersenyum puas melihat binar terkejut di wajah Zia. Dia mengambil alih tas perlengkapan bayi dari pundak Zia.
"Aku sengaja menyiapkan rumah ini setelah kalian kembali dari Paris. Di sini, kamu masih punya waktu tiga bulan penuh untuk mempersiapkan diri menyambut Paris Fashion Week. Jaraknya yang bersebelahan dengan butik akan membuatmu menghemat waktu,"
Zia melangkah masuk ke dalam rumah yang beraroma kayu cendana yang menenangkan. Ruang tamunya luas, dengan jendela kaca besar yang menghadap ke taman.
"Tapi Ray, bagaimana dengan Sabrina? Dia masih terlalu kecil untuk kutinggal bekerja," bisik Zia, menatap wajah putrinya yang sedang tertidur lelap dengan dot di mulutnya.
"Kamu tidak perlu meninggalkan dia, Zia. Tiga bulan lagi saat kita berangkat ke Paris, Sabrina sudah cukup besar untuk ikut terbang bersama kita. Dan untuk di rumah ini..." Rayyan menjentikkan jarinya ke arah koridor dalam, di mana seorang wanita paruh baya berwajah ramah dengan seragam rapi sudah berdiri menyambut mereka.
"Aku sudah mencarikan seorang baby sitter berpengalaman. Namanya Bibi Maria. Dia yang akan membantu menjaga Sabrina kalau kamu sedang menggambar,"
"Aku harap kamu tetap fokus pada Sabrina dan kesehatanmu sendiri, sambil pelan-pelan membuat desain yang akan kita perlombakan di Paris nanti. Jangan membebani dirimu, mengerti?"
Zia merasakan matanya memanas oleh luapan rasa syukur.
"Terima kasih, Ray. Kamu memikirkan semuanya sampai sedetail ini,"
"Ini investasiku untuk desainer terbaikku," gurau Rayyan, meski sepasang matanya tidak bisa menyembunyikan rasa sayang yang mendalam.
Dua minggu berlalu di rumah baru mereka di Singapura. Kehidupan Zia kini memiliki ritme yang jauh lebih tenang, meskipun status sebagai ibu baru tetap mendatangkan tantangan tersendiri.
Sore itu, langit Singapura sedang mendung. Di dalam ruang kerja barunya yang dipenuhi gulungan kain sutra dan kertas sketsa, Zia sedang duduk di depan meja gambar dengan pensil di tangannya.
Namun, konsentrasinya buyar seketika saat suara tangisan melengking terdengar dari arah boks bayi di sudut ruangan.
Oeeekk... Oeeekk... Oeeekk...
Sabrina terbangun, wajah bayi kecil itu memerah, dan kedua tangan mungilnya menggapai-gapai udara. Dia sedang rewel akibat perutnya yang kembung sore itu. Zia langsung meletakkan pensilnya dengan panik, hendak berdiri dari kursinya.
"Biar aku saja, Zia. Kamu lanjutkan gambarmu," ucap Rayyan yang entah sejak kapan sudah berada di dalam ruangan, lengkap dengan kemeja kerjanya yang lengannya sudah digulung hingga siku.
Zia tertegun.
"Tapi, Kamu baru pulang dari pertemuan bisnis, kan? Biar aku saja..."
"Zia, gambar saja. Biar aku yang menjaga Sabrina," potong Rayyan dengan nada tegas yang menenangkan, tidak menerima penolakan.
Rayyan melangkah menuju boks bayi dengan gerakan yang kini sudah jauh lebih luwes dibanding beberapa minggu lalu di Paris. Dia mengangkat Sabrina ke dalam dekapannya, menyandarkan kepala kecil bayi itu di pundaknya, lalu mulai menepuk-nepuk punggung Sabrina dengan lembut sambil menggumamkan senandung kecil.
"Sstt... Sabrina, anak pintar, ini Papa Rayyan... jangan menangis sayang..." bisik Rayyan lembut.
Ajaibnya, tangisan Sabrina perlahan-lahan mereda menjadi isakan kecil. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama ketika aroma tajam tiba-tiba menguar di udara. Sabrina baru saja buang air besar.
Zia yang melihat hal itu langsung terkekeh geli.
"Ray, dia pup. Sini, biar aku ganti popoknya,"
"Tidak usah, aku bisa," jawab Rayyan santai, seolah mengganti popok adalah bagian dari tugas hariannya sebagai CEO.
Dengan telaten, Rayyan membawa Sabrina ke atas changing table. Dia membuka perekat popok sekali pakai yang kotor, membersihkan kulit sensitif bayi itu dengan tisu basah khusus bayi dengan sangat hati-hati, lalu membalurkan minyak telon ke perut Sabrina agar rasa kembungnya hilang.
Gerakan jemari Rayyan yang besar namun sangat lembut saat memasangkan popok baru memperlihatkan betapa seringnya pria itu melatih diri demi membantu Zia.
Setelah selesai dan memastikan Sabrina kembali tenang dan tertidur di dalam dekapannya, Rayyan berjalan mendekati meja gambar Zia sambil terus mengayun-ayunkan bayi perempuan itu dalam gendongannya.
"Bagaimana progres sketsamu hari ini, Zia?" tanya Rayyan, melongokkan kepalanya untuk melihat kertas gambar di atas meja.
Zia menghela napas panjang, menunjukkan tiga lembar kertas sketsa yang sudah selesai digambarnya sejak pagi.
"Aku sudah membuat beberapa pilihan, Ray. Ini tema klasik Eropa dengan potongan A-line, yang ini lebih ke arah gaun malam modern dengan detail manik-manik beruntun, dan yang terakhir ini gaun struktural,"
Rayyan mengamati ketiga gambar itu satu per satu dengan cermat. Sebagai seorang pengusaha mode internasional, matanya sangat jeli dalam menilai sebuah karya.
Dia memandangi garis-garis pensil Zia, lalu beralih menatap wajah Zia yang tampak tegang menunggu penilaiannya.
Rayyan menggelengkan kepalanya pelan.
"Gambar-gambar ini bagus, Zia. Sangat rapi, teknik anatominya sempurna, dan potongannya pasti disukai oleh pasar komersial,"
"Tapi?" tanya Zia, menangkap ada nada ketidakpuasan dari suara Rayyan.
"Tapi belum ada yang cocok menurutku untuk dibawa ke Paris Fashion Week," ujar Rayyan jujur, menatap Zia dengan tatapan yang dalam.
"Desain-desain ini terasa hambar. Maaf kalau aku harus jujur, Zia... tapi gambar-gambarmu ini kurang menunjukkan jati diri seorang Zia Anastasia,"
Zia tertegun, bahunya sedikit merosot.
"Kurang menunjukkan jati diriku? Maksud kamu bagaimana?"
Rayyan meletakkan lembaran kertas itu kembali ke atas meja, lalu mengusap kepala Sabrina yang sudah terlelap di dadanya sebelum kembali menatap Zia.
"Saat aku melihat gaun rasi bintangmu di Marina Bay dulu, aku bisa merasakan emosi yang kuat. Ada rasa sakit, ada harapan, dan ada jiwa di dalamnya. Tapi di tiga gambar ini, aku hanya melihat desainer yang sedang mencoba menyenangkan juri internasional. Kamu terlalu fokus pada tren, hingga kamu menyembunyikan jiwamu sendiri,"
Kata-kata Rayyan menghantam telak kesadaran Zia. Dia menunduk, menatap ujung pensilnya dengan batin yang berkecamuk.
Rayyan benar. Sejak melahirkan Sabrina, ketakutan terbesar Zia adalah masa lalu yang mungkin akan mengejarnya. Di dalam hatinya, dia terus mencoba membangun dinding pertahanan yang tebal, dan tanpa sadar, dinding itu juga mengurung kreativitas dan kejujuran seninya di atas kertas.
"Aku... aku tidak tahu harus menggambar apa lagi, Ray," bisik Zia, suaranya terdengar frustrasi.
"Aku merasa kehilangan arah setelah semua yang terjadi di Jakarta,"
Rayyan melangkah lebih dekat, membungkuk sedikit agar wajahnya sejajar dengan Zia tanpa membangunkan Sabrina dalam gendongannya.
"Jangan mencari arah di luar, Zia. Cari di dalam sini," Rayyan menyentuh dada kiri Zia dengan jari telunjuknya yang bebas dengan sangat lembut.
"Gali kembali rasa sakitmu, gali kembali kekuatanmu saat melahirkan Sabrina sendirian di Paris, gali rasa syukurmu saat melihat anak ini bernapas. Biarkan lembaran kain di Paris nanti menceritakan kisah tentang seorang wanita yang bangkit dari abu kehancuran. Itulah jati dirimu, Zia. Desainer yang menciptakan pakaian bukan hanya untuk mata, tapi untuk hati,"
Zia menatap mata teduh Rayyan, merasakan gelombang motivasi dan kehangatan baru yang perlahan membakar dadanya. Di tengah kebingungannya, Rayyan selalu tahu bagaimana cara mengembalikan jiwanya yang sempat hilang.
"Sekarang, istirahatlah dulu. Biarkan kepalamu jernih," ucap Rayyan dengan senyum manis, berbalik untuk membawa Sabrina ke kamar bayi di sebelah.
"Besok, mulailah menggambar lagi dengan hatimu, bukan dengan kepalamu. Aku akan selalu ada di sini untuk menjagamu,"
Zia memandangi punggung Rayyan yang menjauh. Di dalam ruangan yang sunyi itu, dia mengambil selembar kertas sketsa baru yang masih kosong. Tangannya perlahan bergerak, coretan pensil pertamanya malam itu tidak lagi mengikuti pola tren Paris, melainkan sebuah garis abstrak.