Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlawanan Marwa
PLAAAK!
Tamparan itu terdengar sangat lantang diruang rawat itu. Kepala Marwa langsung tertoleh kesamping karena tamparan tersebut.
Rasa panas dan kebas dipipinya sungguh sangat terasa. Marwa menyentuh pipinya, Kemungkinan saat ini pipinya yang mulus itu memerah.
Seketika Marwa langsung menatap orang tersebut. Tatapan tak percaya langsung tergambar diraut wajah gadis itu.
Bukan Haris atau Dartik yang menamparnya. Tapi seorang pria yang sangat ia percaya sekali. Pria itu adalah Raski.
Pria yang selama hampir setahun ini begitu baik padanya. Pria yang selalu peduli dan begitu perhatian padanya. Tapi sekarang, Pria itu dengan tega menamparnya.
Pengakuan Tania yang secara langsung mengatakan kalau Marwa lah yang mendorongnya membuat tiga orang yang berada disana langsung melayangkan tatapan tajam ke arahnya termasuk Raski.
Tak disangka, Kalau Tania akan berkata bohong seperti itu. Padahal jelas-jelas Tania jatuh sendiri, Dimana letak awalnya dia yang mendorong Tania.
"Kamu tampar aku?" Tanya Marwa dengan nada lirih dan bergetar. Pria yang dulu sok melindunginya kini justru menamparnya demi wanita yang mencoba berbuat sebuah kebohongan.
Marwa tahu tentang hubungan Raski dan Tania. Marwa tahu kalau Raski mencintai wanita itu. Tapi apakah harus Marwa dihakimi seperti ini.
"Iya.. Kamu memang pantas ditampar.." Jawab Raski seolah tak ada tanda rasa sesal sama sekali.
Bayangkan saja, Kita diratukan oleh seorang pria. Kita dicintai, Kita disayangi namun ujungnya semua hanyalah sebuah sandiwara yang telah disusun dengan rapi.
Kita diajak melayang diangkasa lalu tiba-tiba dibuang kedasar jurang yang begitu dalam. Sungguh sangat menyakitkan bukan..
"Aku gak nyangka ya? Kamu bisa berbuat seperti itu sama kakak kamu. Kalau kamu mau pincang, Pincang sendiri aja gak usah ngajak orang lain buat pincang juga seperti kamu!!
PLAAAK!!!
Tamparan keras itu menghantam pipi Raski. Marwa dengan sekuat tenaga membalas perlakuan pria itu. Marwa tampar pipi Raski membuat pria itu terkejut.
Tak ada tangisan, Tak ada air mata yang merembes ataupun keluar. Mata Marwa benar-benar kering sekarang. Dadanya naik turun menahan emosi yang mungkin sebentar lagi akan meluap-luap itu.
Kurang apa dia selama bertahun-tahun ini. Dia dihina, Dia caci, Dia diperlakuan kurang baik selama ini oleh Paman dan Bibinya ia tetap diam. Marwa tidak melawan sama sekali.
Dibilang numpang, Tidak tahu diri, Tidak tahu malu ia tetap diam.
Bahkan saat Paman dan Bibinya enggan merawatnya pun Marwa diam saja. Tapi jangan bilang dia akan diam saat dia difitnah seperti ini.
Dituduh melakukan sesuatu yang tidak sama sekali ia lakukan. Marwa juga akan melawan mulai hari ini.
"Memangnya kamu siapa berhak menampar aku? Kamu gak berhak Raski! Jangankan untuk menampar.. Menyakiti ku seujung rambutku saja kau tidak berhak..." Ucap Marwa penuh dengan penekanan. Tatapan gadis itu juga berubah, Tak ada tatapan lembut disana. Tatapan Marwa kali ini sungguh sangat menusuk.
"Kamu bukan siapa-siapa Raski.. Kamu itu cuma budak cinta yang dengan mudah diperdaya.. Cuma pria bo-doh yang gampang ditipu. Jangan mentang-mentang kamu cinta dan sayang sama wanita itu kamu percaya dengan semua yang dia katakan.." Marwa menunjuk Tania yang masih terbaring diatas brangkar itu.
Jangankan Raski, Tania pun juga agak terkejut dengan ucapan Marwa yang menurutnya berbeda.
"Dan kamu!" Marwa kembali menunjuk Tania.
"Puas sekarang? Puas karena telah berhasil menuduhku? Sayangnya tuduhan itu tanpa adanya bukti..
"Kata siapa tidak ada bukti?" Sahut Dartik.
"Kami melihat dengan mata kepala kita sendiri kalau saat Tania terjatuh kau ada diatas.. Jelas kan kalau..
"Lalu setelah itu Bibi menyimpulkan bahwa akulah yang telah mendorongnya anak bibi itu? Kalian semua hanya melihat saat dia jatuh tanpa tahu sebabnya.. Dan hanya karena dia berkata aku yang mendorongnya kalian langsung percaya? " Marwa menggelengkan kepalanya.
"Lalu kalau bukan kau siapa lagi? Sudah lebih kau jujur saja.. Mengaku kalau kau memang mendorong Tania.." Haris memaksa Marwa untuk mengaku. Namun, Marwa adalah Marwa.. Sampai mati pun dia tidak akan mengaku.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui kesalahan yang tak pernah aku lakukan.. " Marwa kembali menatap Tania tajam.
"Aku tidak perlu mengatakan atau menjelaskan yang sebenarnya.. Aku tidak akan melakukan pembelaan apapun, Karena apa? Ya karena semua percuma.. Kak Tania adalah orang sehat, Kakinya juga baik.. Semuanya normal kan? Aku rasa butuh dua tangan untuk mendorongnya sampai dia benar-benar terjatuh dari tangga. " Marwa menoleh pada Raski yang sejak tadi hanya diam.
"Benarkan apa yang aku katakan?" Raski menimbang ucapan itu. Pria itu tak mampu berkata apapun.
"Tuduhan dan tamparan yang aku terima hari ini akan selalu aku ingat.. Tak akan aku lupakan apa yang telah kalian lakukan padaku.. Dan satu lagi, Akan aku buat kalian menyesal..
"Dasar anak tidak tahu diri!! Jelas salah tetap mengelak.." Hardik Haris seraya melayangkan tangannya hendak menampar Marwa, Namun tangan tersebut melayang di udara. Marwa tidak gentar sama sekali..
"Hanya itu kemampuan Paman? Paman tidak punya bakat lain selain menampar.. Selain merebut yang bukan hak nya, Apakah menampar juga jadi hobimu Paman?" Haris menelan salivanya dengan susah payah, Kenapa anak ini tiba-tiba bicara seperti itu? Pikirnya.
"Sudah! Kau! Kau.. Anak tidak tahu diri, Pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatmu lagi! Jangan tinggal dirumah lagi!!!" Hardik Dartik pada Marwa, Gadis itu tersenyum..
"Tanpa diusir pun aku akan pergi!!" Marwa tak kalah berteriak. Tak peduli ini rumah sakit atau bukan. Tatapan Marwa beralih pada Raski, Gadis itu melepas cincin tunangannya..
"Ini! Mulai saat ini, Hubungan kita putus.. Kita tidak ada hubungan apapun lagi." Marwa melempar cincin tersebut kedada Raski. Tak hanya itu saja, Marwa juga menarik paksa kalung yang masih melingkar dileher nya itu.
"Ini! Ambil barang imitasimu itu.. Dan ingat ini pria!! Hari ini, Bukan kau yang meninggalkan ku.. Tapi aku yang meninggalkanmu.. Aku mana mau pria menjijikkan sepertimu, Hanya wanita bodoh saja yang mau denganmu.." Marwa menatap tajam satu persatu yang ada disana sebelum akhirnya berbalik badan dan pergi.
"Pergi sana! Dasar pincang! Gak tahu diri, Gak tahu malu.. Pergi! Jangan balik lagi kalau perlu." Langkah kaki Marwa terhenti. Tanpa menoleh gadis itu berkata.
"Bukan aku yang tidak tidak tahu malu dan tidak tahu diri.. Tapi orang yang merampas milik orang lain dan mengaku bahwa barang itu adalah miliknya. Apalagi yang direbut adalah milik adiknya sendiri.. Dasar miskin!!" Haris dan Dartik saling pandang mendengar ucapan Marwa.
"Kamu!!
"Ingat! Paman dan Bibi.. Kalian selalu berkata akulah yang numpang. Tapi sebenarnya.. Bukan aku, Tapi kalian lah yang menumpang.. Sekarang aku akan pergi, Aku kalah.. Tapi suatu hari nanti.. Aku akan kembali dan merebut semuanya.." Setelah mengatakan itu, Marwa kembali menyeret kakinya keluar dari ruangan itu.
"Dasar pincang gak tahu diri!!!!
BRAAAK!
Marwa menutup pintu dengan kasar. Gadis itu pergi tanpa lagi menoleh kebelakang. Keputusannya pergi dari rumah orangtuanya sudah bulat.
Tapi ingat! Dia pergi bukan berarti ia kalah. Marwa pergi karena dia ingin bangkit dan mencari dukungan. Terlebih dalam kondisinya yang seperti ini.
Marwa keluar dari gerbang dari rumah sakit. Gadis cantik tersebut melangkah pelan menuju ke arah kursi panjang yang berada dibawah pohon yang rindang.
Gadis itu duduk dengan tatapan kosong. Ia menghela nafas panjang, Kepalanya medongak pada sinar rembulan yang terlihat begitu terang. Bintang kecilnya juga terlihat kerlap kerlip membuat Marwa tersenyum.
Waktu susah menunjukkan pukul tujuh malam. Malam ini ia sendiri lagi, Hingga seorang anak kecil laki-laki mendekat padanya.
"Kakak kakak.." Marwa cukup terkejut dengan panggilan anak usia delapan tahun itu.
"Hey.. Iya ada apa?" Bocah itu memberikan sebuah cokelat untuk Marwa.
"Ini untuk kakak.. Kakak lagi sedih kan? Kata Mama coklat bisa mengurangi rasa sedih dihati kita.." Ucap bocah itu dengan tersenyum.
"Makasih ya..." Marwa menerima coklat tersebut.
"Sama-sama kakak cantik.. Sampai jumpa lagi.." Marwa tersenyum melihat bocah itu.
"Anak yang baik.." Ucap Marwa seraya melihat coklat itu ditangannya.
Sementara bocah itu, Ia berlari kearah seorang pria yang telah menunggunya.
"Bagaimana?
"Berhasil Om...Kakak cantik itu menerima coklat nya.." Pria itu tersenyum lalu mengambil selembar uang merah.
" Ini untuk kamu.."
"Wah.. Buat aku Om?" Pria itu mengangguk.
"Makasih ya, Om.. Semoga pacar Om gak sedih lagi ya.." Setelah mengatakan itu, Bocah delapan tahun itu pergi.
"Pacar apa? Bisa digorok aku sama bos kalo pacari cewek incarannya..
•
•
•
TBC
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,