Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 4
Satria duduk di atas kursi plastik hijau yang salah satu kakinya sudah diganjal potongan kardus agar tidak goyang.
Di depannya, sebuah meja kayu murahan di dalam kamar kosnya yang sekarang secara teknis adalah kamar di dalam gedung miliknya sendiri penuh dengan tumpukan kertas formulir darurat.
Di luar pintu kamar, antrean manusia mengular sampai ke tangga lantai bawah.
Kabar tentang "Sultan Dadakan" yang membebaskan biaya kos selama satu tahun penuh telah menyebar secepat virus di media sosial kampus sebelah.
Namun, Satria tidak sedang membuka lowongan relawan sosial.
Dia sedang dalam kondisi darurat tingkat tinggi.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Baru: 'Mencari Kaki Tangan Pembuang Sial'.
Deskripsi: Seorang miliarder sejati tidak mengotori tangannya untuk menghitung recehan. Anda membutuhkan Asisten Pribadi.
Tugas: Rekrut seorang Asisten Pribadi dalam waktu 2 jam ke depan.
Aturan Khusus: Gaji bulanan asisten tidak boleh di bawah Rp 150.000.000,00 (Seratus Lima Puluh Juta Rupiah).
Calon asisten wajib memiliki kualifikasi yang paling tidak masuk akal atau tidak relevan dengan dunia bisnis.
Sisa Waktu: 01:15:22
Penalti Gagal: Pengurangan saldo ekstrem menjadi Rp 27 perak dan kebangkrutan total.
Satria memandangi jam digitalnya dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahi.
Menemukan asisten itu mudah.
Menemukan asisten yang mau digaji seratus lima puluh juta sebulan di daerah kos-kosan mahasiswa adalah hal yang bisa memicu kerusuhan massa jika tidak dilakukan dengan hati-hati.
"Mas Satria... eh, Bos Satria, ini kandidat pertama,"
Rian, mantan kasir minimarket semalam yang sengaja Satria sewa harian sebagai pengatur antrean dengan upah lima juta rupiah per jam, melongokkan kepalanya dari balik pintu.
Kandidat pertama masuk.
Seorang pemuda berkacamata tebal, mengenakan kemeja rapi yang disetrika licin, membawa map berisi sertifikat berlapis-lapis.
"Selamat pagi, Pak Satria."
"Nama saya Bambang."
"Saya lulusan terbaik S2 Manajemen Bisnis dari universitas ternama, memiliki sertifikasi analisis finansial internasional, dan berpengalaman mengelola portofolio investasi senilai puluhan miliar,"
ucap pemuda itu dengan penuh percaya diri dan diksi yang tertata rapi.
Satria menggelengkan kepalanya dengan lesu.
"Lulusan S2 Manajemen? Terlalu pintar."
"Dia pasti bakal protes kalau gua suruh bakar duit buat beli barang gak berguna, batin Satria.
"Kualifikasi Anda terlalu normal," ujar Satria tegas.
"Pertanyaan saya cuma satu: Kalau saya kasih uang sepuluh miliar hari ini, bagaimana cara Anda menghabiskannya dalam waktu dua puluh empat jam?"
Bambang tersenyum remeh.
"Mudah, Pak."
"Saya akan alokasikan 40% ke saham blue-chip, 30% ke instrumen reksa dana pendapatan tetap, dan sisanya untuk akuisisi aset properti yang memiliki capital gain tinggi sehingga uang Anda akan berkembang—"
"Ditolak!"
"Silakan keluar!"
"Saya tidak butuh orang yang bikin uang saya bertambah banyak!"
potong Satria panik.
Jika uangnya bertambah banyak, sistem akan mendeteksi itu sebagai kegagalan foya-foya dan saldonya terancam hangus.
Bambang melotot, keluar dari kamar dengan wajah linglung seolah baru saja diinterogasi oleh pimpinan sekte sesat.
Kandidat kedua, ketiga, hingga kesepuluh masuk dengan profil yang mirip: mantan bankir, manajer investasi, hingga konsultan hukum keuangan.
Semuanya ditolak mentah-mentah oleh Satria karena mereka terlalu waras untuk mengelola kegilaan Sistem Total Kekayaan.
Waktu di ponsel Satria terus merosot: 28 menit tersisa.
Satria mulai menjambak rambutnya sendiri.
"Rian! Apa tidak ada kandidat yang lebih... aneh di luar sana?!" teriaknya frustrasi.
Rian masuk dengan wajah ragu-ragu.
"Bos, sebenarnya ada satu orang lagi yang tersisa di bawah."
"Tapi... dia dari tadi cuma duduk di pojokan sambil ngajak ngobrol tanaman hias Bu Mimi."
"Dia ke sini cuma karena mau numpang wifi gratis, bukan buat ngelamar kerja."
"Bawa dia masuk sekarang!"
perintah Satria tanpa pikir panjang.
Pintu terbuka, dan masuklah seorang gadis dengan penampilan yang sangat kontras dengan kandidat sebelumnya.
Gadis itu mengenakan kaus oblong bergambar anime yang sudah agak pudar, celana jins longgar yang robek di bagian lutut, dan rambutnya diikat asal-asalan dengan jepit rambut berbentuk wortel.
Di tangannya, dia memegang sebuah konsol gim portabel tua.
"Nama?" tanya Satria,
matanya langsung tertuju pada jam hitung mundur sistem: 18 menit lagi.
Gadis itu mendongak, mengerjapkan matanya yang tampak kurang tidur.
"Hah? Nama saya Nisa."
"Saya alumni jurusan Sastra Mesir Kuno yang sekarang kerjaannya cuma jadi pengacara."
Satria mengernyitkan dahi.
"Pengacara? Wah, hebat dong."
"Pengangguran banyak acara, maksudnya,"
ralat Nisa dengan wajah polos tanpa dosa.
"Saya ke sini cuma mau minta kata sandi wifi kosan ini, kata anak-anak di bawah sekarang wifinya kencang semenjak dibeli Sultan."
Satria menahan napas."
"Lulusan Sastra Mesir Kuno? Pengangguran? Ini dia kualifikasi tidak relevan yang dicari sistem!"
"Nisa, kamu saya terima sebagai Asisten Pribadi saya,"
cetus Satria cepat.
Nisa menghentikan gamenya di konsol, menatap Satria dengan pandangan penuh kecurigaan.
"Mas... saya gak mau ikut skema MLM ya."
"Saya juga gak punya modal buat beli produk kesehatan atau kosmetik abal-abal."
"Nggak ada MLM."
"Tugas kamu cuma satu: bantu saya menghabiskan uang untuk hal-hal yang paling konyol, tidak masuk akal, dan tidak membawa keuntungan finansial sama sekali di dunia ini. Paham?"
Nisa terdiam selama lima detik, lalu meraba dahinya sendiri, memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.
"Mas, kerjaan macam apa itu? Berapa gajinya?"
Satria melirik ponselnya. Sisa waktu: 10 menit.
Dia harus segera mengunci kesepakatan kontrak ini sebelum penalti sistem menjatuhkannya kembali menjadi manusia dua puluh tujuh perak.
"Gaji kamu seratus lima puluh juta rupiah per bulan."
"Dibayar di muka untuk bulan pertama, sekarang juga!"
Satria langsung merebut ponselnya, mengetik nomor rekening Nisa yang tertera di kartu identitasnya yang tergeletak di tas kainnya, dan menekan tombol Transfer.
Ting!
Ponsel di saku celana Nisa bergetar.
Gadis itu mengambilnya dengan malas, namun begitu melihat layar notifikasi m-banking-nya, ekspresi wajahnya berubah drastis.
Konsol gim di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi prak yang cukup keras.
"S-seratus lima puluh juta... murni?"
"Ini bukan duit hasil ngepet kan, Mas?"
suara Nisa mendadak gemetar, wajahnya yang tadi santai kini pucat pasi.
Tepat pada detik itu, layar ponsel Satria berkedip hijau terang.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Rekrutmen: BERHASIL.
Evaluasi Kandidat: Sangat Tidak Relevan dan Berpotensi Merusak Logika Finansial (Luar Biasa).
Gaji Bulan Pertama Berhasil Dipotong dari Anggaran Sistem.
Saldo Efektif Anda Saat Ini: Rp 2.500.000.270,00.
Catatan: Asisten Anda telah aktif. Bersiaplah untuk misi luar ruangan pertama bersamanya dalam sepuluh menit.
Satria mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang hingga tubuhnya merosot di kursi plastik organiknya.
Dia menatap Nisa yang masih memandangi saldo HP-nya seperti orang yang baru saja melihat penampakan makhluk gaib.
"Selamat bergabung, Nisa."
"Mulai hari ini, tugas pertama kamu adalah memikirkan bagaimana cara kita membuang uang seratus juta rupiah sebelum jam makan siang nanti,"
ucap Satria sambil tersenyum misterius.
Nisa menelan ludah dengan susah payah, menyadari bahwa hidupnya sebagai pengangguran santai telah berakhir dan kini dia terjebak dalam pusaran kegilaan seorang miliarder paling absurd di kota ini.