NovelToon NovelToon
Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Menikahi tentara
Popularitas:96.9k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.

Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Kejutan Ulang Tahun Bu Karina

     "Cepat datang, kami menunggu kalian." Suara Bu Karina kembali mengaung di daun telinganya, mendesak. Membuat Ardana semakin dilanda bingung.

     "Memangnya kejutan apa, Ma? Katakan saja. Nayra sepertinya malas untuk keluar. Dia sedang di ruangan favoritnya." Ardana membuat alasan.

    "Tidak bisa, pokoknya sekarang Mama tungguin. Kalian jangan buat orang-orang yang sudah menunggu kecewa lho."

     Bersamaan dengan itu bunyi klik terdengar, pertanda Bu Karina langsung menutup panggilan telpon.

     "Ya ampun, aku harus bagaimana? Alasan apa lagi supaya membuat Mama bisa melupakan kedatangan kami?"

     Setengah jam kemudian, panggilan di ponsel Ardana kembali berdering. Nama Mama Karina muncul di layar. Terpaksa Ardana berbohong kalau ia saat ini sedang dalam perjalanan.

     "Arda sedang dalam perjalanan. Mama tunggu saja."

     "Cepat, Mama tidak mau menunggu lebih lama lagi," tegas Mama Karina dalam telpon.

     Dengan langkah gontai, Ardana melangkah menuju mobil, lalu mobil itu melaju menuju kediaman orang tuanya yang jaraknya hanya bisa ditempuh kurang lebih lima belas menit saja.

     Akhirnya mobil Ardana tiba di depan halaman rumah Bu Karina dan Pak Idris. Saat Ardana menuruni mobil, tubuhnya tiba-tiba keringat dingin. Ia mengalami rasa panik yang lumayan hebat.

     "Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku jelaskan saja yang sejujurnya?" gumamnya bertanya di dalam hati.

     "Assalamualaikum."

     Ardana mengucap salam, kakinya mulai menapaki lantai ruang tamu orang tuanya, namun ia seakan tidak menapak. Sementara tatapan kedua orang tuanya dan orang tua Nayra, seperti sedang menatapnya tajam dan siap menerkam.

     "Waalaikumsalam. Akhirnya yang kita tunggu datang juga. Eh...di mana mantu Mama, kenapa dia belakangan? Kamu ini ya, kenapa membiarkan Nayra belakangan? Harusnya kalian jalan barengan, lho," sambut Bu Karina sembari berjalan mendekati Ardana dan melewatinya, bermaksud menyambut Nayra sang menantu.

     "Nay, Sayang, kamu ngapain? Masih di dalam mobil?" heran Bu Karina mencari, sampai tiba di mobil Ardana.

     Ardana terpaku, gelagatnya mengundang penasaran Pak Idris maupun kedua orang tua Nayra, Bu Lila dan Pak Kemal saling lempar tatap. Namun tidak lama, Ardana melangkah dan mendekati kedua mertuanya, meraih tangan mereka lalu menciumnya.

     "Bapak dan Ibu sehat?" sapa Ardana sedikit gugup, mukanya memerah. Tidak bisa dibohongi kalau kini ia sedang mengalami rasa takut yang hebat.

     "Alhamdulilah sehat. Kamu gimana? Pekerjaan kamu lancar-lancar saja?" Pak Kemal balik bertanya sambil menatap Ardana penuh perhatian.

     "Alhamdulillah Arda sehat, Pak, Bu. Pekerjaan juga lancar, hanya akhir-akhir ini memang sangat sibuk, sering jaga malam."

     "Ohhh...." respon Pak Kemal tidak berkepanjangan.

     "Arda, di mana menantuku? Dia tidak ada di mobil?" Bu Karina masuk rumah, dengan wajah yang heran. Matanya menatap Arda lekat, seakan sedang mencari sebuah jawaban yang jujur dari Ardana.

     Ardana terhenyak, kakinya seakan terkunci di lantai yang ia tapaki. Sementara reaksi Pak Idris dan kedua orang tua Nayra, sama terhenyaknya. Mata mereka kompak melihat ke arah luar, mencari dan meyakinkan keberadaan Nayra.

     "Iya, ke mana istrimu? Kalian bukannya berangkat sama-sama, kan? Jangan katakan istrimu datang ke sini dengan menaiki motor listriknya itu. Gimana sih kamu ini?" omel Pak Idris sembari keluar dari rumah.

     "Iya, ih...jangan-jangan Nayra naik motor listrik. Dan kamu biarkan. Dia itu baru saja sembuh dari sakit dua hari yang lalu," ceplos Bu Karina tanpa sadar.

     "Nayra sakit? Kok aku nggak tahu, Jeng?" Bu Lila menatap Bu Karina kaget.

     "Iya, Lila. Anakmu Nayra sempat sakit selama dua hari. Dan dua hari yang lalu dia juga baru sembuh. Aku yang jaga dan rawat dia. Aku sengaja tidak beritahu kamu, karena aku tidak mau merepotkan kamu yang jauh. Selama ada aku, apa yang terjadi pada menantuku, seperti sakit, biar aku yang tangani," jelas Bu Karina terdengar tulus.

     "Ya ampun, Jeng Karin, tulus banget kamu. Aku terimakasih banyak, karena kamu sudah menyayangi anakku sedemikian rupa. Sampai kamu rela menjaga dan merawat anakku saat sakit."

     "Itu bukan masalah Lila. Dia sudah seperti putriku. Aku tidak merasa dia mantuku," balas Bu Karina diimbuhi senyum yang tulus.

     Pak Idris tiba-tiba masuk, wajahnya terlihat merah padam. Hal itu membuat Ardana ketar-ketir. Jantungnya seketika berdebar sangat kencang.

     "Arda, di mana istri kamu, kenapa dia tidak Papa temukan? Kamu biarkan dia menaiki motor listrik? Gimana kalau ada apa-apa? Kamu ini benar-benar tidak perhatian. Keterlaluan!" semprot Pak Idris sudah diliputi emosi.

     Semua mata kini beralih pada Arda yang gemetar dan bingung. Keadaan Arda nyaris bukan seorang tentara yang tangguh seperti biasanya di lapangan. Melihat semua mata menatapnya dan menghakiminya atas ketidakadaan Nayra di mobil, sudah membuat Ardana seakan nyawanya melayang, apalagi jika mereka mendengar Nayra pergi.

     "Arda, di mana Nayra?" sentak Bu Karina marah, diliputi perasaan was-was yang mulai menggelayuti dadanya.

     "A~anu, Ma. Nayra, per~gi," akunya terbata, suaranya bergetar.

     "Pergi? Pergi ke mana? Maksud kamu pergi ke sini pakai motor listrik atau gimana sih? Jelaskan yang tenang, jangan seperti orang takut seperti itu," sentak Pak Idris memperingatkan.

     Ardana mulai mengatur napas, lalu perlahan menguatkan hati untuk bicara yang sejujurnya. Meskipun resiko terpahit akan ia terima saat ini juga.

     "Nak Arda, tolong jelaskan ke mana Nayra pergi, kenapa dia belum sampai?" Pak Kemal menimpali dengan sikap dibuat tenang.

     Ardana seakan mendapat kekuatan, lalu ia menghampiri Pak Kemal dan tiba-tiba bersimpuh. "Pak, maafkan Arda. Nayra...Nayra pergi."

     Pak Kemal terkejut karena Ardana bersimpuh di hadapannya dengan wajah penuh dosa. Begitu juga yang lain, menatapnya keheranan. Selain itu, kalimat yang diucapkan Ardana mulai dicurigai oleh semua.

     "Pergi ke mana maksudnya?" tanya Pak Kemal masih tenang, sembari mengangkat tangan Ardana supaya berdiri kembali.

     "Maafkan Arda, Pak. Nayra pergi. Nayra pergi dari rumah," ulang Ardana lebih lengkap.

     Pak Kemal dan semua saling lempar tatap satu sama lain. Tatapannya kini bukan lagi tatapan ketenangan, melainkan sebuah ketegangan.

     Pak Idris menghampiri Ardan, wajahnya sudah memerah sejak tadi dilengkapi urat-urat wajah yang mulai menegang. "Apa maksudmu? Jelaskan pergi ke mana dia. Pergi karena emosi atau pergi berlibur, jelaskan?" sentaknya.

    Semua tersentak kaget termasuk Pak Kemal yang berada tidak jauh dari Ardana.

     Bu Karina mendekat, tidak kalah emosi. "Katakan? Pergi ke mana, ke mana mantuku kau buat pergi?" Napas Bu Karina sudah turun naik.

     "Nayra...Nayra pergi entah ke mana? Arda sudah mencarinya ke semua biro perjalanan, tapi tidak ditemukan nama Nayra," sahutnya lemah, wajahnya menunduk.

     "Kurang ajar kamu, ini pasti karena kelakuanmu. Kamu yang sudah membuat dia pergi," tuduh Bu Karina sembari melayangkan telapak tangannya di wajah Ardana keras.

     Wajah Ardana terhempas saking kerasnya tamparan sang Mama.

     "Kamu sengaja memberi Mama kejutan di hari ulang tahun Mama? Ini kejutan terburuk sepanjang hidup Mama. Kamu kurang ajar, kamu keterlaluan," umpat Bu Karina lagi seraya melayangkan tangannya untuk yang kedua kali.

     Ardana tidak beranjak, hanya wajahnya yang bergerak karena tamparan Bu Karina. Ia sudah siap dengan semua resiko terpahit yang akan diterimanya. Ia mengaku salah.

     "Jadi, hari ini ulang tahun Mama? Maafkan Arda, Ma. Arda bahkan lupa dan sudah membuat hari ulang tahun Mama menjadi hari terburuk," gumamnya dalam hati penuh sesal.

1
Aditya hp/ bunda Lia
dan akhirnya Arkana yang menemukan Nayra ... ayo ajak ngobrol biar masalah clear dan nayra tau keadaan keluarganya dan bertemu Ardana
Yanti Gunawan
please jgn trll berlebihan 😫😭😭
Patrick Khan
waktunya ketemu..
.kasian Ardana jg si.. tp mw gimana lg..
Ita rahmawati
tidak Sudi setelah kmu tau kalo dia udah bekas laki2 lain kan coba kalo blm tau pasti masih punya niat tuh di otakmu utk jadiin dia istri kedua 😏🙄
Ita rahmawati
kuapok kamu Ardana
Sri Widiyarti
akhirnya ditemukan juga nayra
Ita rahmawati
dasar moyed
Ita rahmawati
wes mbuhlah Ardana Ardana 🙄🙄
Ita rahmawati
lanjutkan nay aku dukung online ya 🤭
Ita rahmawati
ogeb sih satu rumah sakit 🤣🤣
Ita rahmawati
kan gila
Ita rahmawati
mau blg Tiana pernah keguguran aja kok ya susah bgt toh 🤦
Ita rahmawati
lagian gimana sih ngeliat Arda ini kyk cinta tp kyk GK juga
Ita rahmawati
ngapain ngilangin kata2 yg SM terus nai padahal GK ngaruh SM lakimu 🤦
Ayudya
lah Uda ketemu ma dokter Arkana.
Ita rahmawati
arka SM Arda dokter tp bodoh 😂
Ita rahmawati
dasar tianot bentar LG pasti bukan cuma trauma dn stres tp gila 🤣
Ita rahmawati
ternyta kakaknya nepa,,baguslah krna nepanya GK seburuk si tianot
Nar Sih
ahir nya dr akana ketemu nayra awal titik terang mulai ada ,pasti dr arkana cerita semua soal suami ya nayra
Ita rahmawati
ternyata Ardana takut juga SM ortunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!