NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:46.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Bukan Ibu Kami

Kereta kuda sederhana itu akhirnya memasuki gerbang megah Kekaisaran Tianxia, kontras dengan kemewahan istana yang menjulang tinggi.

Para pelayan yang melihat kedatangan itu segera berbaris rapi di kedua sisi jalan, menundukkan kepala dengan sikap hormat.

Xia Lu yang melihatnya langsung berbalik dan berlari secepat mungkin ke dalam istana. “Yang Mulia! Ketiga pangeran telah tiba!” serunya dengan napas terengah saat sampai di hadapan Permaisuri Mo Yuuran.

Tanpa menunggu lebih lama, Mo Yuuran segera bergegas keluar, bahkan hampir berlari menuju gerbang. Jantungnya berdegup cepat, campuran antara rindu dan harap yang tak bisa ia tahan lagi.

Saat pintu kereta dibuka, tiga anak laki-laki kecil turun satu per satu. Zi Cheng, Zi Xin, dan Zi Rui berdiri sejajar, wajah mereka dingin dan tanpa ekspresi.

Namun langkah mereka sedikit terhenti ketika melihat barisan pelayan yang begitu rapi, sesuatu yang tidak biasa mereka terima.

Ada apa ini? Kenapa mereka berbaris di sini? Batin ketiga anak kembar itu saling pandang.

Tapi mereka menggeleng mengira sambutan itu bukan untuk mereka. Karena mereka terbiasa diacuhkan dan ditatap dingin.

Tapi keterkejutan mereka semakin besar saat melihat sosok Permaisuri Mo Yuuran berjalan cepat ke arah mereka, napasnya sedikit tersengal seolah benar-benar berlari.

Mo Yuuran berhenti tepat di depan mereka, matanya langsung melembut. Senyum tulus terukir di wajahnya saat menatap ketiga putranya.

“Akhirnya, kalian tiba juga,” ucapnya lembut.

Namun ketiga pangeran itu hanya tertegun sesaat. Wajah mereka kembali dingin, lalu secara bersamaan mereka membungkuk singkat dengan hormat formal.

“Salam, Yang Mulia Permaisuri,” ucap mereka datar.

Tanpa menunggu respons, mereka langsung berjalan melewati Mo Yuuran begitu saja. Langkah kecil mereka tegas, seolah tidak ingin berhenti lebih lama.

Mo Yuuran terdiam sejenak, sedikit tertegun dengan sikap itu. Namun ia segera berbalik, tidak ingin menyerah begitu saja.

“Kalian sudah makan?” tanyanya, suaranya tetap lembut. “Ayo, kita makan bersama,” ajak Mo Yuuran menghalangi langkah mereka.

Zi Cheng yang berjalan paling depan berhenti dan mendongak sedikit. Tatapannya dingin, jauh dari usia seorang anak.

“Tidak perlu,” jawabnya singkat. “Kami tidak ingin makan sesuatu yang mungkin sudah dipersiapkan untuk melukai kami.”

Nada sarkas itu membuat Mo Yuuran langsung menggeleng cepat. “Tidak bukan begitu,” katanya, matanya mulai berkaca-kaca.

Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Zi Rui, yang tampak paling rapuh di antara mereka. Mo Yuuran berjongkok sedikit agar sejajar dengannya.

“Ayo, kita makan,” ujarnya lembut. “Ibu yakin kalian belum makan sejak dari akademi.”

Zi Xin langsung memotong dengan dingin. “Ibu? Heh! Anda bukan ibu kami,” katanya tegas. “Jangan bertingkah seolah kita ini keluarga.”

Ucapan itu membuat Mo Yuuran tertegun. Senyumnya sempat memudar, namun ia memaksanya kembali, meski terasa berat. Ia tahu perbuatannya di masa lalu memang sangat menyakitkan.

“Baiklah … terserah kalian,” ucapnya pelan. “Tapi tetap saja, ayo kita makan dulu.”

“Kami tidak lapar!” seru Zi Rui cepat, meski suaranya sedikit goyah.

Krryyuukk!

Namun di saat yang sama, perutnya berbunyi cukup keras di tengah keheningan itu.

Semua orang terdiam sesaat. Zi Rui langsung menunduk malu, sementara Mo Yuuran tak bisa menahan tawa kecilnya.

Ia lalu dengan lembut meraih tangan kecil Zi Rui. “Ayo,” katanya hangat, menariknya perlahan.

Zi Rui sempat mencoba menahan, namun akhirnya tetap mengikuti. Zi Cheng dan Zi Xin saling pandang sejenak, lalu tanpa berkata apa-apa, mereka ikut berjalan di belakang.

Saat memasuki ruang makan, langkah ketiga anak itu seketika terhenti. Mata mereka membelalak melihat meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan mewah, ayam bakar, daging panggang berkilau, sup hangat yang mengepul, serta aneka kue dan buah yang tersusun rapi.

Itu semua adalah makanan yang hanya pernah mereka lihat dari kejauhan saat pesta istana. Bagi mereka, hidangan seperti ini terasa asing hampir tidak nyata. Dulu, mereka hanya makan nasi sisa dari para pelayan.

Zi Rui menelan ludah tanpa sadar. Zi Xin dan Zi Cheng tetap diam, namun sorot mata mereka tak bisa menyembunyikan keterkejutan.

Mo Yuuran yang berdiri di dekat meja tersenyum lembut melihat reaksi mereka. “Kenapa kalian diam saja?” tanyanya hangat. “Ayo, sini duduk. Kita makan bersama.”

“Ibu sudah mempersiapkan semuanya untuk kalian,” lanjutnya pelan.

Ekspresi Zi Xin langsung berubah. Ia menatap Mo Yuuran dengan tajam, penuh kecurigaan.

“Untuk kami?” ulangnya dingin. “Atau untuk sesuatu yang lain?”

Zi Cheng melangkah sedikit ke depan, berdiri di antara Mo Yuuran dan kedua adiknya. Sikapnya jelas melindungi.

“Kami tidak sebodoh itu,” ucapnya datar. “Tiba-tiba memberi kami semua ini siapa yang tahu apa yang Anda rencanakan? Heh! Semua orang tahu sikap licikmu itu.”

Zi Rui ikut mundur sedikit, meski matanya masih tak bisa lepas dari makanan di meja. Wajah kecilnya menunjukkan pergulatan antara rasa lapar dan ketakutan.

Xia Lu yang berdiri di samping tak tahan melihat situasi itu. Ia hendak maju. “Yang Mulia hanya—”

“Xia Lu,” potong Mo Yuuran lembut.

Pelayan itu langsung terdiam dan mundur, meski wajahnya masih menunjukkan ketidakrelaannya.

Mo Yuuran kembali menatap ketiga anak itu. Wajahnya tetap lembut, tanpa sedikit pun amarah.

“Kalian pikir aku akan menyakiti kalian?” tanyanya pelan.

Tak ada jawaban. Hanya keheningan dan tatapan waspada.

Tanpa berkata lagi, Mo Yuuran berjalan mendekati meja. Ia mengambil sumpit, lalu mencicipi satu per satu hidangan yang tersaji.

Sup, ayam, daging, sayur, hingga makanan penutup semuanya ia coba tanpa ragu.

Setelah itu, ia meletakkan sumpitnya dan kembali menatap mereka. “Jika ada racun, aku yang akan merasakannya lebih dulu,” ujarnya tenang.

Ketiga anak itu terdiam. Mata mereka mengikuti setiap gerakan Mo Yuuran tadi.

“Aku tidak akan melakukan apa pun yang bisa menyakiti kalian lagi,” lanjutnya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. “Kalian tidak perlu percaya sekarang tapi setidaknya, jangan menyiksa diri kalian dengan menahan lapar.”

Zi Rui menatap kakak-kakaknya ragu. Perutnya kembali berbunyi pelan, membuat wajahnya memerah.

Zi Cheng mengepalkan tangannya, jelas masih ragu. Namun ia juga melihat bagaimana Mo Yuuran tanpa ragu mencicipi semua makanan itu.

Zi Xin menghela napas pelan. “Jika terjadi sesuatu .…” gumamnya.

“Aku yang akan bertanggung jawab,” jawab Mo Yuuran cepat.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Hingga akhirnya, Zi Cheng melangkah perlahan ke meja.

“Duduk,” katanya singkat pada kedua adiknya.

Zi Rui langsung duduk tanpa menunggu lama, sementara Zi Xin menyusul dengan sikap tetap waspada.

Mo Yuuran tersenyum lembut saat ia mengambilkan makanan untuk ketiga anaknya satu per satu. Gerakannya hati-hati, seolah takut membuat mereka kembali menjauh.

Setelah itu, ia mengambil porsi untuk dirinya sendiri dan duduk dengan tenang. “Ayo, makan,” ujarnya pelan. “Selagi masih hangat.”

Zi Cheng dan Zi Xin masih diam, mata mereka tetap waspada meski hidangan di depan begitu menggoda. Namun Zi Rui tak mampu menahan diri lebih lama.

Anak bungsu itu perlahan mengambil makanan, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Seketika, matanya membulat sempurna.

“Enak,” gumamnya tanpa sadar, lalu mulai makan lebih cepat. Rasa lapar yang ia tahan seolah meledak begitu saja.

Melihat itu, Zi Xin dan Zi Cheng saling pandang. Keraguan masih ada, namun melihat adik mereka baik-baik saja membuat mereka akhirnya ikut mengambil makanan.

Zi Cheng mengangkat sumpitnya, sementara Zi Xin menarik napas pelan sebelum ikut mencoba. Namun baru saja makanan itu menyentuh bibir mereka.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”

Suara batuk keras tiba-tiba terdengar.

“Rui!” seru Zi Xin dan Zi Cheng panik.

1
tinie
ya lagian jadi pelayan aja
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar
RheaAdelya
😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ini siapa yg tak tau malu
mama_im
mantap👍👍🤣🤣🤣
FAISHAL GAMING
luar biasa
💟노르 아스마💟
whuuuhhhh...keren!!!👏👏👏👏
Allfa Rizky
suka sama cerita spt ini FL nya Badas keren banget gak menye-menye,, sar set eksekusi man taappp
Allfa Rizky
sadiiisss,, tpi kereenn Badas
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Uuuhhh mantaaapp itu baru Permaisuri /Applaud/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Drowsy//Scream/ Tumaaaann mang enak disiram aer nanaasss
SENJA
mantabs🔥
SENJA
yaelaaah kurang lah segitu😳
SENJA
lu yang mati 😤
SENJA
udah langsung hukum langsung siksa
SENJA
siksa udah buseh dah ga beres nih 😤
SENJA
emang ga ada ingatan yuran sebelumnya?
Vika Lestari
uf lagi kaka🙏
Sribundanya Gifran
lanjut
Maydian li Maydian
lanjut thor 😍
Atik Kiswati
mantap....🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!