Jogja jadi pilihan Seti setelah kelulusan SMAnya bersama Joe, dan Asri. Hening memilih Jakarta. Lalu Bening dan Joko menikah. Sementara Seto masih dengan pelayarannya. Terlintas persinggungan cerita-cerita hidup yang melintas dan membekas di benak Seti. Seperti roda pedati. Waktu terus berputar, dan Seti masih dengan kedekatan Joe, Asri, dan Hening. Bersama mereka cerita itu terus mengalir...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Tentang Kejujuran dan Kepercayaan
Kereta Purbaya tiba di stasiun Purwokerto sekitar jam tujuh malam.
Hening dan Yuni berjalan menuju pintu keluar tepat keika rangkaian kereta itu meninggalkan stasiun.
Sudut kedai minuman yang pernah disinggahinya saat berangkat pertama kali ke Jakarta terlihat saat Hening mendekati pintu keluar stasiun. Memaksanya berhenti sejenak di depannya.
Mengingatkan suatu cerita indah tentang rasa kepercayan pada seseorang yang sangat membekas di hatinya.
Rasa percaya kepada seseorang yang bertanggung jawab yang konon akan berakhir dengan dua akhir cerita.
Cerita tentang teman hidup, dan cerita tentang pelajaran hidup. Jalinan cerita tentang kepercayaan mudah diucapkan dengan kata-kata indah, apalagi ketika ada gairah percintaan yang mengatapinya.
Persinggungan dengan Seti dan Asri membuat Hening belajar dari kisah masa lalunya untuk membuatnya semakin mengerti tentang rasa kepercayaan kepada seseorang.
Bagaimana jarak Jakarta-Jogja mengajarkannya tentang kejujuran dalam kerapuhan sebuah kepercayaan.
Rumah Wirobrajan membuatnya semakin percaya kepada Seti, dan justru membuatnya tak akan meninggalkan kedekatan keduanya begitu saja, saat akhirnya Seti mengungkap tentang hubungan lebih jauhnya dengan Asri.
Betapa akhirnya Seti lebih memilih Asri sebagai tambatan hati, tidaklah menjadi persoalan lagi buat Hening.
Baginya, ungkapkan kejujuran Seti itu sudah lebih dari cukup. Ketegasan Seti pada pilihan terbaik hatinya menunjukkan bahwa Seti mempercayainya, ... seperti dirinya juga mempercayai Seti.
Bahwa kejujuran itu justru akan menguatkan rasa saling percaya masing-masing diyakini betul oleh Hening.
Dirinya tak mau mengulang kisah cinta Bening yang terombang ambing dalam ketidakpastian percintaan karena ketidakberdayaan dan keraguan.
Kisah hubungan kakaknya dan Seto yang menjadi rapuh karena ego untuk mengungkapkan suatu kejujuran pilihan dalam hubungan saling percaya yang terganggu paksaan kehendak.
***
Melanjutkan langkahnya ke koridor stasiun, sapaan halus tukang ojek yang menawarkan jasa mengalihkan kenangan Hening tentang sudut kedai minuman itu.
Tak mau berlama tawar menawar harga, Hening meminta diantar ke rumah jengki.
Tadi sebelum berangkat dari Jogja, dia sudah menelpon Bening. untuk langsung ke rumah jengki.
Besok pagi baru dia ke Rumah Sakit bersama Yuni menemui Bening sekaligus menengok Joko.
...***...
Rumah jengki terlihat muram menyambut kedatangan Hening dan Yuni.
Seperti tahu kesulitan yang sedang dihadapi penghuninya. Hanya lampu teras yang menyala redup saat Hening dan Yuni memasuki halamannya.
"Tidak ada orang di rumah sebesar ini Hen ?" tanya Yuni sambil meletakkan kardus besar berisi contoh dagangan lapak Malioboro di teras.
"Tidak ada .... Mbak Ning hanya berdua dengan mas Joko di rumah ini. Selama mas Joko sakit, rumah ini kosong." Hening mulai membuka kunci pintu depan.
Kunci duplikat rumah sudah diberikan Bening kepadanya saat dirinya pulang menengok Joko ketika pertama kali dirawat di Rumah Sakit.
Lampu-lampu yang dinyalakan Hening setelah masuk menghilangkan kemuraman rumah itu.
Yuni yang menyusul masuk lalu duduk di ruang tamu. Membiarkan Hening membuka kamar setelah keduanya memasuki rumah jengki.
Lukisan besar sepasang laki-laki dan perempuan dengan pakaian jawa terpajang di dinding di atas buffet yang penuh dengan pernak pernik kerajinan gerabah dari berbagai daerah.
Dari gaya goresan cat dan kuas lukisan itu, Yuni mudah menebak lukisan itu pasti dibuat oleh Hening.
"Duduklah dulu Yun sambil istirahat, aku siapkan kamar tidur sebentar," suara Hening dari dalam kamar mengalihkan perhatian Yuni dari setiap sudut ruang tamu yang sedang diamatinya.
"Gak usah merepotkan Hen, kamu juga masih capek," jawab Yuni.
"Ah cuma sebentar, lagian kamu kan tamuku sekarang." Sepertinya Hening ingin membuat nyaman dan betah Yuni di rumah itu.
Sama seperti dirinya merasa nyaman dan betah di rumah Wirobrajan selama dua hari di Jogja menemani Yuni.
Jika dirinya tidak mengenal dekat Yuni tentu perpisahan kisah masa lalunya dengan Seti akan meninggalkan luka.
Untungnya Yuni bukan tipe perempuan cengeng dengan kisah masa lalu percintaannya. Menjadikannya ikut kuat menghadapi kisah percintaannya yang kandas.
Persinggungannya kembali dengan Seti di rumah Wirobrajan membuat cerita baru tentang kedekatannya dengan Seti dan tentu saja Asri.
Kali ini dengan perasaan dan kedekatan yang berbeda.
"Kurebuskan air buat mandi sebentar, sekalian buat kopi dan mie. Taruh barangmu di kamarku." Lalu Hening keluar dari kamar yang dibersihkannya.
"Ah kamu bikin repot saja." Yuni mengikuti kata-kata Hening. Beranjak ke kamar yang ditunjuk tadi.
"Nanti setelah mandi kita duduk duduk di teras belakang sambil ngopi!" seru Hening dari arah dapur.
...***...
Lampu teras belakang menyoroti dua perempuan beranjak dewasa yang duduk bersebelahan.
Terlihat segar dengan kecantikan masing-masing setelah mandi, Hening dan Yuni menikmati mie panas di atas meja.
Lelah perjalanan Jogja Purwokerto tampaknya sudah hilang dan tergantikan rasa lapar dari keduanya.
"Enak juga rumah ini Hen," kata Yuni di sela-sela suapan kuah mie panasnya.
"Rumah peninggalan Bapak dan Ibu," jawab Yuni pelan.
"Maaf ...."
Yuni merasa tak enak mendengar sahabatnya menyinggung kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
"Ah gak masalah, aku baik-baik saja." Hening tersenyum ke arah Yuni, menghilangkan rasa sungkan Yuni.
"Apalagi sejak mengenalmu, aku tak terbelenggu masa lalu itu," ujarnya lagi.
"Aku paham dirimu ... Perempuan kuat .... Yang bahkan kulihat tetap baik-baik saja setelah bertemu Seti." Yuni mengalihkan pembicaraan tentang Bapak dan Ibu Hening.
"Kan aku belajar banyak dari kisah cintamu, .. hihihi ...."
Hening tertawa lepas menanggapi kata-kata Yuni yang sepertinya ingin tahu lebih lagi tentang dirinya, Seti dan tentu saja Asri selama masa SMA mereka.
"Asri yang kamu ceritakan itu seperti apa ?" Seperti dugaan Hening, Yuni kini ingin tahu tentang Asri.
"Baik, ... dan sangat cantik anaknya. Dia adik mas Joko suami mbak Ning kakak perempuanku," jawab Hening, "Kami tetap dekat sampai sekarang. Besok kita akan ketemu dengannya," lanjutnya lagi.
"Kira-kira dia mau jujur kepadamu tidak ?"
"Jujur tentang apa ?"
"Tentang hubungannya dengan Seti." Yuni menjawab sambil menghabiskan sisa mie di mangkoknya.
"Entahlah, ... Menurutku, dia pasti akan berterus terang jika nanti kuceritakan pertemuanku dengan Seti di Jogja," kata Hening sambil membereskan mangkok mie yang baru dihabiskannya.
Yuni memandang Hening sambil menyalakan rokok. "Jadi sebelum bertemu Seti di Jogja kamu belum tahu keseriusan hubungan mereka ?"
"Hihihi ... kamu kayak mbak Ning saja." Tertawa kecil, Hening lalu ikut menyalakan rokok, ... menghisapnya dalam-dalam.
"Dari surat-surat Seti aku sudah merasakannya. Kurasa dia lebih menganggapku sebagai adik. Mas Seto kakak Seti dulu kekasih mbak Ning."
"Ah yang benar Hen ?!" Mata Yuni terbelalak mendengar kata-kata itu.
"Mereka lama tak bertemu, lalu berpisah baik-baik setelah mbak Ning menerima mas Joko."
"Sekarang kakak Seti sudah menikah juga ?"
"Belum, ... masih berlayar."
"Oh jadi kakak Seti pelaut."
"Yups ... kata Seti, mas Seto akan menengok mas Joko secepatnya."
"Kok bisa mereka saling kenal ?"' Yuni semakin penasaran ingin tahu lagi.
"Mereka pernah sama-sama di Semarang dulu saat kursus pelayaran."
"Kok bisa ya kalian kakak beradik ada keterkaitan asmara tanpa pernah tahu hubungan masing-masing."
"Hihihi ... nyatanya seperti itu. Akupun tak percaya," jawab Hening
"Lalu tentang Doni ?"
Kali ini Hening berbalik ingin tahu sejauh mana kedekatan Doni dan Yuni.
Yuni sedikit gagap menanggapi pertanyaan Hening yang sekarang ingin tahu cerita kedekatannya dengan Doni.
"Ah perlukah kujawab sekarang ?"
Keduanya tertawa bersama setelah saling berpandangan. Teras belakang rumah jengki terasa hangat dengan perbincangan tentang laki-laki. Hening dengan masa lalunya bersama Seti, sementara Yuni dengan cerita tentang Doni yang tak tahu akan bagaimana akhir ceritanya ...
...***...
koyoe podo halusinasi ne 😄