NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

paksaan 1

Sendok yang berada di depan bibir Aleta tetap bergeming. Gadis itu menutup rapat mulutnya, mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga terlihat menegang. Ia memalingkan wajah ke arah berlawanan, menolak mentah-mentah suapan dari Alden. Itu adalah satu-satunya bentuk perlawanan kecil yang bisa ia lakukan saat ini.

Melihat keras kepalanya Aleta, helaan napas berat keluar dari hidung Alden. Kesabarannya yang setipis tisu mulai terkikis. Tatapannya yang tadi datar kini berubah menggelap, menatap profil samping wajah Aleta yang tampak pucat namun penuh penolakan.

"Aleta," panggil Alden, suaranya merendah, memberi peringatan yang teramat kentara.

tapi Aleta tetap bergeming. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, bersikeras menulikan telinga.

Alden menurunkan kembali sendok itu ke atas piring dengan denting yang cukup nyaring. Tangan kirinya bergerak cepat, mencengkeram kedua rahang Aleta dari samping dengan satu tekanan kuat, memaksa wajah gadis itu kembali berputar menghadapnya. Ibu jari dan telunjuknya menekan sudut pipi Aleta, memaksa bibir gadis itu terbuka sedikit akibat tekanan yang ia berikan.

"Gue bilang buka," desis Alden, jarak wajah mereka kini begitu dekat hingga embusan napasnya yang memburu terasa di kulit Aleta.

"Jangan pancing emosi gue siang-siang begini, Aleta. Lo tahu sendiri akibatnya kalau gue udah kehilangan kesabaran."

Aleta tetap menutup matanya rapat-rapat, mengabaikan cengkeraman pada rahangnya dan ancaman yang mendesis di depan wajahnya. Tubuhnya gemetar, namun keras kepalanya tidak luntur. Ia lebih memilih terluka daripada harus tunduk pada perintah Alden.

Melihat penolakan mutlak itu, Alden justru mendengus pelan. Kilat di matanya berubah dari amarah murni menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan penuh tipu daya.

"Oke," bisik Alden rendah.

"Kalau cara biasa nggak bisa."

Alden melepaskan cengkeramannya di rahang Aleta. Ia mengambil kembali sendok yang tadi tergeletak, menyendok nasi beserta lauknya, lalu tanpa ragu memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya sendiri. Ia mengunyahnya beberapa kali dengan santai, tatapannya tidak sedetik pun lepas dari wajah Aleta yang perlahan membuka mata karena bingung dengan perubahan sikap cowok itu.

Aleta mengira Alden menyerah dan memilih memakan makanan itu sendiri. Namun, sedetik kemudian, rasa ngeri yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya saat melihat tatapan Alden turun ke arah bibirnya yang terluka.

Sebelum Aleta sempat memproses apa yang akan terjadi, tangan besar Alden kembali bergerak cepat, mencengkeram tengkuk Aleta dengan kuat dan menariknya maju. Alden memangkas jarak di antara mereka, membungkam bibir Aleta dengan paksa, menyatukan belahan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang menuntut dan mengunci gerakan gadis itu total.

🌍🌍🌍

Aleta membelalakkan matanya lebar, didera rasa panik yang luar biasa yang membuat seluruh tubuhnya dingin seketika. Siasat gila Alden benar-benar di luar nalar sehatnya.

Rasa muak dan syok bergejolak di dalam dadanya, membuatnya langsung menggerakkan kedua tangan untuk memukul dada Alden sekuat tenaga.

Bugh! Bugh!

Ia memukul, mendorong, dan mencakar kain seragam abu-abu yang dikenakan Alden, berusaha melepaskan diri dari kukungan yang menjijikkan ini. Namun, dada cowok itu terasa sekeras batu. Pukulan Aleta yang tidak bertenaga karena belum makan seharian sama sekali tidak membuat pertahanan Alden goyah.

Alden justru semakin memperdalam kunciannya di tengkuk Aleta, menekan bagian belakang kepala gadis itu agar tidak bisa menjauh seinci pun. Tangan Alden yang bebas meraba pinggang Aleta, mencengkeramnya kuat hingga gadis itu tidak memiliki ruang untuk berkelit.

Dengan sengaja, Alden memanfaatkan celah dari kepanikan Aleta, memaksa gadis itu untuk menerima suapan paksa melalu pagutan yang menyesakkan tersebut. Aleta terus memberontak, air matanya menetes melewati pipi, membasahi sela-sela penyatuan paksa yang egois itu.

Dengan paksaan yang begitu mendominasi, Aleta akhirnya terpaksa menelan makanan tersebut dengan bersusah payah.

Tenggorokannya terasa begitu sakit dan sempit, bergolak antara rasa lapar yang menyiksa dan rasa mual yang hebat akibat penolakan batinnya. Setiap kunyahan dan telanan itu terasa seperti duri yang menyiksa, mengalirkan rasa perih ke dadanya.

Setelah memastikan makanan itu tertelan, Alden perlahan menjauhkan wajahnya. Ia menyeka bibirnya sendiri dengan ibu jari, lalu menatap Aleta yang kini terengah-engah dengan wajah yang memerah padam dan air mata yang mengalir deras.

Aleta langsung terbatuk kecil, memegangi lehernya yang terasa panas. Pandangannya yang buram oleh air mata menatap Alden dengan campuran rasa benci yang teramat sangat dan ketakutan yang mendalam.

"Gitu lebih mudah, kan?" ucap Alden tanpa dosa, suaranya kembali tenang seolah tidak baru saja melakukan tindakan yang merenggut paksa harga diri gadis di depannya. Ia kembali mengambil sendok di atas nampan, menatap Aleta dengan kilatan mengancam yang samar.

"Sekarang, mau lo telan sendiri, atau mau gue suapin pake cara tadi lagi sampai abis?"

Melihat tatapan Alden yang tidak main-main—dan mengingat betapa mengerikan rasa ciuman paksa tadi—tubuh Aleta gemetar hebat. Rasa takut yang menguasai jiwanya kini jauh lebih besar daripada harga dirinya. Ia tidak sanggup lagi jika harus merasakan perlakuan kasar itu berulang kali.

Dengan tangan yang masih gemetar di atas pangkuannya, Aleta akhirnya perlahan membuka mulutnya. Matanya yang sembap terus menatap ke arah lantai, menghindari kontak mata dengan Alden. Ia tidak punya pilihan lain selain menyerah.

Alden menyadari perubahan sikap itu. Ada rasa puas yang dingin di matanya saat melihat Aleta akhirnya tunduk. Tanpa kata, ia menyendok nasi kembali, kali ini lebih tenang.

"Pintar," bisik Alden dengan nada yang terdengar seperti pujian, namun justru membuat Aleta semakin merasa terhina.

Ia menyuapkan nasi tersebut ke mulut Aleta dengan perlahan. Kali ini, tidak ada lagi perlawanan. Aleta mengunyah dengan kaku, air matanya jatuh satu per satu ke atas karpet. Ia menelan makanannya di sela-sela isakan tertahan, merasa dunianya

benar-benar telah runtuh dan dikuasai sepenuhnya oleh cowok di hadapannya.

🌍🌍🌍

Baru setengah porsi makanan di piring itu habis, tenggorokan Aleta sudah terasa benar-benar menyempit. Rasa mual yang sedari tadi ia tahan kini bergejolak hebat di perutnya. Ia tidak sanggup lagi menelan satu butir nasi pun. Setiap suapan terasa seperti racun yang dipaksakan masuk ke tubuhnya.

Saat Alden kembali menyodorkan sendok berikutnya, Aleta perlahan memalingkan wajahnya.

"Sudah... kumohon" bisik Aleta lirih, suaranya serak dan nyaris habis. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan tubuh yang masih bergetar, memohon agar Alden tidak memaksanya lagi.

"Perutku sakit... aku udah nggak bisa.

Alden menatap sendok di tangannya, lalu beralih menatap sisa makanan di nampan. Tatapannya kemudian naik, memperhatikan wajah Aleta yang tampak sangat pucat dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. Gadis itu terlihat benar-benar sudah berada di ambang batas kemampuannya.

Melihat kondisi Aleta yang tampak begitu ringkih, Alden akhirnya menurunkan sendok itu kembali ke atas piring. Ia tidak ingin gadis ini malah berakhir muntah atau pingsan di hadapannya.

"Oke, cukup untuk sekarang," ujar Alden dingin.

Ia meletakkan nampan itu di lantai, lalu mengambil segelas air putih yang ada di dekatnya dan menyodorkannya ke depan wajah Aleta.

"Minum ini sampai habis."

Aleta sempat ragu, tangannya diam di pangkuan dengan dorongan kuat di dalam hati untuk menolak gelas itu. Namun, begitu ia memberanikan diri melirik ke atas, ia langsung bersitatap dengan mata tajam Alden. Tatapan cowok itu begitu dingin, seolah siap memberikan hukuman instan jika Aleta berani menggelengkan kepala lagi.

Rasa takut yang mencekam itu seketika melumpuhkan ego Aleta.

Dengan tubuh yang masih gemetar, ia buru-buru mengulurkan tangan untuk mengambil alih gelas dari cengkeraman Alden. Jari-jarinya yang dingin bersentuhan sekilas dengan kulit hangat cowok itu, membuat Aleta refleks sedikit tersentak, namun ia mencoba mengabaikannya.

Ia membawa gelas itu ke bibirnya yang terluka dan meminum airnya. Tidak banyak—hanya beberapa tegukan kecil untuk membasahi tenggorokannya yang kering dan meredakan rasa mual yang bergejolak di dadanya, bagi Aleta, itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.

Aleta menurunkan gelas tersebut, memegangnya dengan kedua tangan di atas lutut, dan kembali menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Ia hanya berharap setelah ini Alden akan segera beranjak dan membiarkannya sendirian dalam keheningan.

Alden memicingkan mata, menatap gelas susu yang masih tersisa banyak di tangan Aleta. Rahangnya mengeras, menandakan bahwa ia tidak suka dibantah, apalagi untuk hal sepele seperti menghabiskan air minum.

"Gue bilang habiskan," tekan Alden, suaranya naik satu oktaf, dingin dan mutlak. Ia meraih pergelangan tangan Aleta yang memegang gelas, mencengkeramnya dengan tekanan yang membuat Aleta meringis tertahan.

"Engga... ini udah, ka Alden. Perutku beneran nggak bisa lagi," cicit Aleta, suaranya bergetar hebat. Ia menatap Alden dengan mata yang mulai berkaca-kaca, memohon agar cowok itu tidak memaksanya lagi.

Ia benar-benar merasa mual jika harus menelan cairan lagi sekarang.

Alden tidak melepaskan cengkeramannya. Ia justru menarik pergelangan tangan Aleta lebih dekat ke arahnya, memaksa gelas itu menempel kembali ke bibir Aleta.

"kamu pikir aku minta pendapat?" tanya Alden sarkas.

"Minum, Aleta. Sampai tetes terakhir. Gue nggak mau besok lo dehidrasi dan nggak bisa ngapa-ngapain. Habiskan atau lo tahu apa yang bakal gue lakuin."

Ancaman itu begitu nyata. Aleta bisa merasakan dominasi yang mencekik dari Alden yang tak memberinya celah untuk melawan, memaksanya untuk kembali menyesap air itu di bawah tatapan tajam dan penuh tekanan dari cowok di sampingnya.

🌍🌍🌍

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!